Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
bab 122


__ADS_3

Sinar mentari pagi masuk membuat Gloria yang sedang tertidur itu langsung terbangun dari tidurnya. Terlihat Gloria yang menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Setelah menyesuaikannya Gloria langsung turun dari ranjangnya lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci wajahnya dan membersihkan diri sekalian.


Di lantai bawah Luis sudah bangun pagi-pagi lalu pergi ke dapur itu. Sampai di dapur ternyata terdapat beberapa pelayan yang sedang menjalankan tugas mereka untuk memasak sarapan.


Luis hanya diam dan mulai mencari beberapa bahan yang dia butuhkan lalu mulai memasak hidangannya sendiri. Saat sedang memasak hidangan terakhir tiba-tiba muncul Fenia di dapur entah apa yang dia lakukan.


"Wah wah lihatlah siapa yang ada di dapur? Kau memasak? Apa kamu seorang koki? Ck ck aku berpikir kamu adalah seorang pengusaha tidak tahunya ternyata hanya tukan pegang sampah seperti ini. Aku tak menyangka jika saudari perempuanku itu akan menyukai manusia sampah seperti ini," ucap Fenia dengan lantang.


"Syukur aku tidak langsung bertindak semalam jika aku bertindak apa jadinya jika aku menikah dengan manusia sampah sepertinya," kata Fenia dalam hati dengan ekspresi jijik.


Sedangkan Luis hanya abai denga apa yang dikatakan oleh Fenia. Menurutnya selagi dia tidakmenghancurkan apa yang dia buat maka dia akan diam. Akan tetapi Fenia yang di abaikan tentu saja merasa tidak terima akan hal itu membuat wanita itu marah.


"Tapi kalian memang cocok sih, yang satunya si koki sampah dan satunya lagi si anak buangan," sinis Fenia.


Luis yang sedang menuangkan bumbu pada masakannya langsung terhenti di tempat. Dengan wajah datar Luis menoleh ke arah Fenia yang tengah tersenyum sinis ke arahnya.


"Coba ulangi..!" kata Luis dengan menakan setiap katanya.

__ADS_1


"Ada apa? Apa kamu tidak mendengar? Astaga aku tak menyangka selain seorang sampah kamu juga ternyata juga tuli syukur tidak buta. Tapi karena aku baik maka akan aku ulangi sekali lagi dengarkan ya,"


Luis semakin mendatarklan wajahnya saat melihat wajah menyebalkan Fenia yang sangat ingin dia cakar atau masukan di penggorengan.


"Kalian berdua itu sama alias sangat cocok yang satu seorang babu yang satunya lagi hanya anak buanan," ucap Fenia dengan suara lantang.


"Setidaknya kami bukan anak haram yang bahkan ayahnya tidak di ketahui siapa," balas Luis yang tak kalah menohok.


Deg


Fenia yang mendengarnya tentu merasa tertegun matanya menatap tajam Luis yang hanya berwajah datar lalu tersenyum miring ke arahnya.


"Kenapa? Bukankah itu benar kalau kamu hanyalah anak haram yang bahkan tidak tahu siapa ayahmu? Ah mungkin karena...,"


"CUKUP...! DASAR SAMPAH SIALAN BERNAINYA KAMU MENGHINAKU SEPERTI ITU," bentak Fenia yang menatap tajam Luis dengan sengit.


"Fenia ada apa?" Juana muncul dari belakang Fenia bersama Juliando.


"Lihat pria yang di bawah oleh Gloria ini, dia hanya seorang koki mom tapi berani sekali menghina Fenia Mom," Fenia merengek mengadu kepada Juana dan Juliando.

__ADS_1


"Seorang Koki? Jadi dia hanya seorang Koki?" Juana melirik Luis yang masih berdiri tenang.


"Benar Mom dia hanya seorang Koki coba lihat dia bahkan sampai memasak disini juga." kata Fenia dengan jijik.


"Cih hanya seorang koki berani menghina Putri mommy ini. Ayo katakan apa yang dia katakan padamu?"


Fenia baru saja membuka mulutnya langsung tertutup kembali saat menyadari apa yang akan dia katakan.


"Fenia ayo katakan apa yang dioa katakan?" Juana mendesak sang Putri untuk mengatakan apa yang dikatakan oleh Luis namun Fenia hanya diam menatap Juana dengan wajah yang susah di tebak.


Bagaimana bisa Fenia akan mengatakan jika dia di hina karena tidak tahu siapa ayah kandungnya sendiri.


"He babu apa yang kamu katakan pada putriku?" bentak Juana yang menatap tajam Luis.


"Aku hanya mengatakan jika dia hanya anak haram yang bahkan untuk ayah kandungnya saja dia tidak tahu," jawab Luis dengan tenang.


"KAU BERANINYA KAU MENGHINA PUTRIKU SEPERTI ITU HA...? APA KAMU MAU MATI?" teriak Juana yang murka karena putrinya di rendahkan seperti itu bahkan di dalam rumahnya sendiri.


"Bukankah itu kenyataannya," sahut Juliando yang tiba-tiba angkat suara.

__ADS_1


__ADS_2