Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Mandiri


__ADS_3

"Buka kamar itu dan keluarkan semua isinya…!" Titah Gloria


Ketiga pelayan itu langsung berjalan cepat menuju kamar yang biasa di tempati Fenia. Ke tiga pelayan itu langsung membuka pintu kamar masuk lalu mulai menjalankan apa yang di perintahkan Gloria.


Ketiga pelayan itu dengan gerakan cepat mengangkat dan mengangkut semua barang Fenia dari mulai sepatu, tas, skincare, pakaian, dan semua perhiasan yang harganya tidak main-main.


Bahkan ketiga pelayan itu sampai gemetar memegang perhiasan-perhiasan mahal itu. Gloria yang melihat itu hanya bisa tersenyum tipis. Gloria tahu kakak tirinya itu pasti membeli perhiasan-perhiasan ini menggunakan uang dari Pria bejat itu.


Oleh karena itu Gloria telah merencanakan sesuatu dan tentunya sesuatu yang akan membuat ibu anak itu histeris ketakutan.


"Semua barang berharga seperti tas, sepatu, perhiasan, dan lain-lain semuanya simpan disini." Ucap Gloria tiba-tiba membuat ketiga pelayan itu kaget.


"Baik Nona muda…" ke 3 pelayan itu langsung meletakkan perhiasan dan barang berharga lainnya di atas meja di depan Gloria.


"Bawah keluar lebih tepatnya simpan di ruang utama…!" Titah Gloria.


"Baik Nona muda…" Lagi lagi pelayan itu hanya bisa menarik satu persatu barang-barang Fenia yang super banyak.


Hingga beberapa menit setelah bolak balik mengangkut barang sang mantan nona muda. Akhirnya barang-barang Fenia bersih dari kamar itu.


"Jangan lupa di kamar Tuan Juliando juga bereskan semua itu angkut semua barang mereka. Untuk barang berharga seperti biasa simpan di atas meja." Ucap Gloria yang menghentikan langkah kaki ketiga pelayan itu.


Ke tiga pelayan itu langsung menghentikan langkah kaki mereka. Melirik saling pandang satu sama lain sebelum menghela napas. Mau gimana lagi ini tugas mereka sepertinya gadis kecil di depan mereka ini lebih menakutkan di banding dengan sang nyonya majikan yaitu Juana.


"Baik Nona muda…"


Gloria hanya berwajah datar menatap setiap sudut ruangan yang dulunya adalah tempatnya tidur dan bermain.


Sedangkan di tempat lain seorang pria paruh banyak mengamuk habis-habisan dalam ruangannya.


BRAKK


Srekk


Pecahan gelas dan vas berserakan di lantai itu, belum lagi kertas yang berhamburan dimana-mana membuat ruangan itu semakin terlihat berantakan.


Namun pria itu tidak peduli dengan kondisi ruangannya saat ini. Amarah pria itu sepertinya berada di level paling tertinggi. Wajahnya memerah karna menahan amarah, matanya melotot tajam entah menatap apa.

__ADS_1


Sedangkan di luar ruangan pria paruh baya itu telah berdiri beberapa orang yang mendengar kekacauan di dalam ruangan itu.


Kerumunan orang-orang itu tidak ada yang berani masuk kedalam karna takut akan terkena amukan dari pria paruh baya itu yang takl ain dan tak bukan adalah Fabian.


Tak


Tak


Tak


Suara langkah kaki terdengar nyaring di ruangan itu membela kerumunan orang-orang itu. Orang yang berlari itu adalah Regis putra dari Fabian.


“Ada Apa Ini?” tanya Regis pada orang-orang yang berkerumunan.


“Kami tidak tahu tuan Regis, Tuan Fabian tiba-tiba mengamuk seperti itu padahal pagi ini belum ada yang masuk kedalam ruangan beliau.” Jawab salah satu orang dalam kerumunan Itu.


Regis yang mendengar penuturan pria itu langsung mengernyitkan alis. Jika begitu kenapa ayahnya itu mengamuk lagi pikir Regis.


Dengan langkah ragu Regis berjalan memutar handle pintu hingga terbuka. Regis Segera Masuk Kedalam Ruangan Ayahnya itu. Regis membulatkan mata saat melihat bagaimana berantakannya ruangan daddynya.


Fabian yang mendengar suara dari sang putra langsung mengangkat kepalanya hingga bisa melihat wajah Regis sang putra.


"Syukurlah kamu datang.. Tutup pintunya…!" Ucap Fabian yang langsung menyuruh Regis untuk menutup pintu.


Regis yang mendengar perintah dari sang ayah langsung berbalik menutup pintu dan mengunci pintu. Setelah mengunci pintu Regis segera mendekati sang ayah yang sepertinya benar-benar pusing kali ini.


"Sebenarnya ada apa Dad…? Kenapa sampai Daddy mengamuk seperti ini?" Tanya Regis yang menatap penuh tanda tanya ke arah Fabian.


"Semua klub kita lagi lagi kena Razia polisi tapi kali ini benar-benar selesai. Klub kita di bakar massa hingga sekarang tidak ada satu pun yang tersisa." Ucap Fabian dengan memijit pelipisnya.


Sedangkan Regis yang mendengar ucapan dari Fabian sang ayah hanya bisa diam dengan mata yang melotot.


"Bagai…..mana bisa di bakar dad..? I…itu… Dad disana adalah pendapatan kita yang banyak..!" Histeris Regis dengan panik.


Di banding pendapatan atau hasil dari perusahaan pendapatan mereka di klub lebih banyak bahkan sampai 2 sampai 3 kali lipat lebih baik di banding penghasilan yang mereka peroleh dari perusahaan.


Sekarang bukan hanya Fabian yang pusing dan stres tapi Regis juga. Pria muda itu langsung memijit kepalanya yang terasa pening seketika.

__ADS_1


"Sudah aku katakan… Ini pasti ulah dari Luis Luis sialan itu..!" Umpat Regis yang langsung Mengumpati Luis.


"Yah… kamu benar, harusnya dari awal daddy sudah mencurigai dia." Timpal Fabian yang ikut membenarkan ucapan Dari Regis.


Harusnya dari awal Fabian mendengarkan apa yang di katakan oleh Regis. Jika saja Fabian mendengarkan perkataan Regis sedari awal pasti dia bisa mencegah akan hal ini terjadi.


Ting…


Fabian yang mendengar Notif di ponselnya langsung mengambil dan membuka benda persegi itu. Hingga matanya melotot saat melihat berita nomor satu di ponselnya.


"Sialan…."


"Ada apa Dad…?"


"Buka ponselmu dan lihat sendiri apa yang terjadi. Kita benar-benar tamat sekarang, Luis sialan…. Tunggu pembalasanku sialan…..!" Teriak Fabian murka.


Sedangkan Regis hanya bisa mengepalkan tangan menahan amarah.


Sedangkan di tempat Luis hanya tertawa sinis menatap wajah panik dan amarah yang tergambar di wajah Paman dan sepupunya.


Walaupun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tapi Luis tahu mereka pasti sedang membuat rencana untuk membalas dirinya.


"Bukankah wajah mereka terlihat sangat lucu Vier…?" Ucap Luis yang melirik Javier.


Javier yang mendengar apa yang dikatakan lulus hanya bisa mengerutkan dahi. Sejak kapan ekspresi orang yang marah menjadi lucu pikir Javier menatap horor Luis yang sedang tertawa.


"Vier…. Kamu tahu kenapa Luisa tidak meminta aku mengantarnya lagi ke kampus?" Tanya Luis tiba-tiba membuat Javier kaget.l dengan pertanyaan sahabat sekaligus bos nya itu.


"Bukankah itu bagus…? Artinya dia tidak merepotkan kamu lagi kan?" Balas Javier dengan santai.


"Tapi terlihat aneh… Aku sudah terbiasa dia merengek pagi-pagi memintaku untuk mengantarnya ke kampus sekarang sudah 1 bulan tidak lagi." Terang Luis yang tidak ingin adiknya berubah.


Javier yang mendengar itu langsung diam sebenarnya dirinya juga merasa ada perubahan dari dalam diri Luisa. Gadis kecil itu tidak seperti yang dulu. Sekarang gadis kecil itu terlihat lebih mandiri kemana-mana kini dia selalu bisa sendiri tanpa meminta di temani baik Luis ataupun Javier.


"Mungkin Luisa mulai berfikir untuk belajar mandiri apalagi setelah mengetahui jika kamu mempunyai wanita yang kamu cintai. Sebagai adik Luisa ingin tidak terlalu bergantungan padamu nanti. Agar nanti wanita yang kamu cintai. Walaupun manja dan selalu mencari masalah dengan setiap wanita yang mendekati kamu tapi bukan berarti Luisa tidak memikirkan kamu," jeda Javier yang menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ucapannya.


"Mungkin selama ini aku tidak sadar, tapi aku sadar. Luisa sengaja mencari masalah dengan para wanita itu karna ingin menunjukan sifat asli mereka padamu. Jika mereka tidak tulus padamu, jika mereka bukan wanita yang tepat untukmu. Mungkin cara Luisa sedikit kekanak-kanakan tapi yang ada di kepalanya hanya cara itu untuk melindungi kamu."

__ADS_1


__ADS_2