
"Bangunkan dia..!" Perintah Fabian pada anak buahnya.
"Baik Bos." Jawab sang anak buah yang langsung mengambil ember.
"Hey...."
Byurrrr
Luis membulatkan mata saat melihat dengan tidak perasaannya pria kekar d depannya itu membangunkan adiknya dengan menyiramkan air ke wajah sang adik.
"Uhuk uhuk"
Luisa yang di siram air pun langsung terbangun dan terbatuk-batuk dengan air yang masuk ke dalam hidungnya.
"Luisa..!"
Luisa yang mendengar suara sang kakak langsung mengerjap beberapa kali hingga pandangan matanya jelas dan melihat sang Kakak yang duduk di depannya sana.
"Kak Luis." Guman Luisa yang bergerak ingin berdiri tapi tidak bisa karena di ikat. Luisa menunduk dan melihat apa yang terjadi padanya ternyata keadaannya sekarang dalam keadaan terikat.
Luisa ingat jika sewaktu menuju ke salah satu tempat, tiba-tiba ada seseorang yang membekap mulutnya dari belakang setelah itu dia tidak ingat apalagi yang terjadi.
"Apa aku sedang di culik?" Guman Luisa dalam hati yang melirik sekitar.
Mata Luisa melotot melihat jika di ruangan itu juga ada paman dan sepupunya yaitu Fabian sebagai pamannya dan Regis sebagai sepupunya. Luisa mendengus kesal karena tidak salah lagi pasti mereka berdua yang menculik dirinya.
Sedangkan di sisi lain Luis mengerutkan dahi saat melihat jika tidak ada ketakutan di wajah sang adik walau sedikitpun. Gadis itu terlihat kesal di bandingkan ketakutan di matanya. Melihat itu Luis bisa bernapas lega. Kali ini pria itu akan mengikuti saran dan rencana yang telah di susun rapi oleh galang tadi.
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain Gloria di temani dengan Toni dan Gading beserta beberapa anggotanya segera menuju ke lokasi yang telah di kirimkan oleh Javier.
Yups..., Javier telah ada di lokasi Luis namun, pria itu di larang masuk oleh Galang karena mereka butuh mata-mata yang langsung berada disana memang.
Gloria menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dirinya benar-benar takut jika sewaktu-waktu mereka datang terlambat dan membuat Luis dan Luisa celaka
Ckittttt
Gloria segera menepikan kendaraannya jauh dari markas itu. Terlihat Gloria turun dari mobil dengan perlengkapan yang siap. Di belakang gadis itu berdiri orang sekitar 10 orang yang sudah dengan Toni dan Gading.
"Mari nona." Toni segera berjalan paling depan sebagai penuntut jalan dan di ikuti Gloria dengan yang lain.
Setelah berjalan hampir 5 menit akhirnya mereka sampai di depan sebuah bangunan tua yang berada di dalam hutan.
"Galang...!" Toni segera menoleh saat ada yang memanggilnya dengan nama Galang. Ternyata yang memanggilnya adalah Javier yang sedari tadi menunggu mereka.
"Nanti saja bertanya sekarang katakan bagaimana kondisi di dalam?" Tanya Toni dengan suara sedikit bergetar.
Toni bergetar bukan tanpa alasan, tapi pria itu bergetar karena merasakan aura dingin dan membunuh yang berasal dari belakang. Lebih tepatnya berasal dari Gloria selaku asal aura itu. Javier yang merasakan aura dingin itu seketika merinding, Kenapa auranya sangat kental. Namun, saat ini Javier tidak punya waktu akan itu.
"Keadaan di dalam semakin mencekam, sepertinya Bos Luis tidak bisa menunda waktu lagi. Soalnya mereka menggunakan Luisa sebagai ancaman." Kata Javier dengan datar.
"Atur formasi dan bergerak sekarang!" Perintah Gloria dengan nada datar dan dingin.
"Siap ketua!" Jawab mereka serentak.
Ke tujuh orang yang berada di belakang Gloria langsung melesat pergi hanya Toni dan Gading yang tetap berdiri tegak di belakang Gloria.
__ADS_1
"Ketua? Apa gadis ini adalah orang yang meminta Galang dalang kepada kami? Tapi wajahnya tidak asing...," Guman Javier yang menatap wajah Gloria yang menurutnya sangat cantik. Hingga tiba-tiba mata Javier melotot hampir keluar.
"Aku ingat, wanita ini sama persis seperti yang ada di lukisan Luisa. Itu berarti wanita ini adalah wanita yang bos rindukan." Teriak Javier dalam hati yang setelah sadar dan mengenali wajah gadis yang ada di depannya itu.
"Bergerak..!"
...****************...
"Cepat tanda tangani surat itu!" Perintah Fabian yang menunjuk Luis.
"Ini surat apa?"
Plak....
Luis terdiam dan menutup mata saat lagi-lagi dirinya harus mendengar dan menyaksikan sang adik di tampar oleh anak buah dari Fabian. Sedangkan Luisa gadis itu hanya bisa pasrah saat lagi-lagi tamparan itu mendarat yang entah ke berapa Luisa juga lupa. Sudut bibir gadis itu robek dan berdarah karena tamparan keras dari telapak besar itu.
"Ku mohon cepatlah datang, aku percaya padamu yang hanya sebagai orang asing. Ku mohon cepatlah datang dan akhiri semua ini, aku hanya mempunyai Luisa jika aku kehilangannya maka aku benar-benar akan hancur." Batin Luis berteriak memanggil Galang yang entah kemana.
Bisa saja Luis menanda tangani surat di depannya itu akan tetapi, entah kenapa dia yakin jika Galang akan datang.
"Aku berjanji akan datang di waktu yang tepat, satu hal yan**g anda harus tahu. Saya tidak akan membiarkan anda dan adik anda celaka karena itu akan membuat seseorang yang saya hormati disana merasa hancur. Anda hanya perlu percaya kepada saya dan mengulur waktu**."
Perkataan Galang terngiang-ngiang di kepala Luis. Luis percaya jika Galang benar-benar akan datang menolong mereka.
"CEPAT TANDA TANGAN ATAU ANAK BUAH KU AKAN MENEMBAK KEPALA ADIK MU ITU!"
Dor
__ADS_1
"LUISA....!"