Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
Tak pernah


__ADS_3

"Siapa yang akan membebaskan kamu dari sel tahanan ini?" Ucap Javier dengan sinis.


"Tentu saja Daddy ku siapa lagi? Di saat aku keluar nanti, kalian semua akan habis." Ucap Regis dengan sorot mata bengis.


"Cih, Daddy yang kamu banggakan itu tidak akan pernah bangun dari kematian. Pria tua itu sudah berada di dalam tanah.'' Sarkas Javier.


Deg


"Apa maksud dari ucapan mu itu? Beraninya kamu mengatakan daddy ku ada di dalam tanah?" Bentak Regis yang menatap nyalang Javier yang berada di luar sel.


"Masih tidak paham? Baiklah akan aku katakan sekali lagi, dengarkan baik-baik karena aku tidak akan mengulanginya lagi," Kata Javier dengan senyum sinis.


"Ayah kamu itu.., Tuan Fabian yang terhormat baru saat di kuburkan, dia sudah mati dan tidak akan pernah bangun dari kematian. Bahkan sebentar lagi cacing tanah akan memakan daging pak tua itu."


"TIDAK...! TIDAK MUNGKIN..., KAMU PASTI BERBOHONG...!"


"Ck... Apa kamu benar-benar bodoh atau tidak punya otak? Coba kamu lihat di sel tahanan itu apa ada ayah kamu itu? Tidak ada bukan? Itu karena dia sudah mati." Ejek Javier yang semakin membuat amarah Regis naik.


"AHH...... LEPASKAN AKU...!"


"Bagaimana rasanya hidup seorang diri tanpa ada sosok orang tua di samping kamu? Menyedihkan bukan? Tapi tenang kamu akan merasakan lagi bagaimana penderitaan itu." Bisik Javier dengan senyum miring di bibirnya seakan-akan mengejek Regis.


Setelah berkata seperti itu Javier segera menarik tangan Luisa pergi meninggalkan Regis yang sedang mengamuk di dalam sel tahanan itu.


"Lihat! Jika saja aku tidak menemani kamu, mungkin si brengsek itu akan terus menggertak mu. Mereka sudah di bereskan namun belum tentu kehidupan kita di masa depan akan aman seperti apa yang kita pikirkan. Ini hanya awal untuk kita semua." Kata Javier yang membukakan pintu mobil untuk Luisa agar gadis itu masuk ke dalam mobil.


Javier masuk ke dalam mobil mendekati Luisa hingga wajah keduanya begitu berdekatan bahkan bisa saling merasakan hembusan napas masing-masing. Javier menatap Luisa dengan pandangan yang sulit di artikan sedangkan Luisa hanya menatapnya dengan tatapan polos.

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" Suara Luisa menyadarkan Javier yang tengah menatap Luisa.


"****"


klik


"Jangan pikir aneh-aneh aku hanya memasangkan kamu sabuk pengaman." Elak Javier dengan wajah dingin namun namun tangannya sedikit bergetar karena tak sengaja menyentuh tangan Luisa.


"Perasaan ini semakin menyiksa, aku sudah tidak bisa menahannya lagi. Tapi bagaimana jika setelah ini Luisa menjauh dariku? Sial, kenapa aku harus mencintai dia sebesar ini? Dan kenapa harus dia?" Batin Javier yang berteriak frutasi.


Jika saja Luis begitu mencintai Gloria wanita yang baru dia temui beberapa bulan lalu. Maka bagaimana dengan Javier yang menahan perasaannya bertahun-tahun terhadap Luisa.


Javier bahkan mencintai gadis itu d saat Luisa masih berumur 14 tahun hingga sekarang di umur Luisa yang sudah mau 21 tahun. Bayangkan bagaimana tersiksanya Javier menahan perasaan yang semakin hari justru semakin berkembang hingga kini hatinya tidak mempunyai ruang untuk wanita lain lagi. Karena seluruh ruang di hatinya telah di isi satu nama yaitu Sarah Luisa Alejandro gadis yang berhasil membuatnya terpesona di umur yang masih sangat kecil.


Javier bukan berarti tidak pernah menepis perasaan itu. Pria itu berulang kali menepis dan berusaha untuk membuang perasaan itu. Namun, bukannya memudar perasaan itu justru semakin berkembang membuat Javier hanya bisa memendam perasan itu.


Luisa hanya diam membiarkan Javier entah kemana pria itu akan membawanya. Luisa tidak takut karena dirinya merasa aman bila ada Javier. Javier menjalankan mobilnya menuju suatu tempat yang menurutnya tenang dan damai. Hingga setelah berkendara selama beberapa menit akhirnya sampai di sebuah bibir pantai.


Luisa yang melihat sebuah pantai langsung berbinar. Luisa sangat menyukai pantai karena itu menurutnya tempat yang menyenangkan. Javier mengambil ponselnya dan mulai mengotak atik benda persegi itu.


"Maafkan aku Luis, aku sudah tidak bisa menahan perasaan ini lebih lama lagi. Cukup sudah aku menunggu selama 7 tahun ini, sekarang aku benar-benar ingin memilikinya." Kata Javier dalam hati yang menatap Luisa dari kejauhan sana yang sedang berlari menuju bibir pantai.


Javier sudah memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya hari ini juga. Pria itu tidak peduli jika dia harus di tolak karena apapun yang terjadi Javier akan berusaha untuk mendapatkan Luisa. Apalagi saat mendengar apa yang di katakan oleh Galang alias Toni tadi pagi yang mengatakan dengan gamblang akan menikahi Luisa.


Jujur saja jauh di lubuk hatinya Javier tidak suka akan hal itu. Walau pun Javier tahu jika apa yang di katakan oleh Toni adalah bentuk jaminan agar Luis mempercayainya. Akan tetapi Javier tidak menyukai akan hal itu, baginya tidak ada yang boleh berkhayal untuk menikahi Luisa selain dirinya.


Huhhhhh

__ADS_1


Terdengar helaan napas berat dari Javier yang memikirkan bagaimana ia mengungkapkan perasaannya di saat seperti ini yang tidak mempunyai persiapan sedikitpun. Namun walau begitu Javier sudah bertekad untk jujur terhadap Luisa bahwa dia tidak menganggapnya sebagai adik.


Javier keluar dari mobil berjalan menghampiri Luisa yang berada di bawah sebuah pohon yang begitu rindang di bibir pantai. Javier tersenyum tipis melihat wajah bahagia dari wanita yang dia cintai itu. Sampai di dekat Luisa, Javier langsung duduk di samping gadis itu.


"Apa kamu suka?" Tanya Javier degan pelan nyaris berbisik namun masih dapat di dengar jelas oleh Luisa.


"Hm... Aku menyukai pantai karena itu teman nyaman dan damai." Jawab Luisa yang menatap hamparan pantai.


"Luisa..!"


"Yah...."


"Apa kamu pernah menyukai seseorang?" tanya Javier dengan menatap lurus wajah Luisa.


"Menyukai seseorang? Hm... Tidak," balas Luisa yang menggelengkan kepala. "Karena... Aku tidak hanya menyukainya tetapi aku mencintainya." Lanjut Luisa tapi sayang kata itu hanya bisa di utarakan dalam hati saja.


"Kenapa?"


"Aku tidak tahu," jawab Luisa acuh. "Karena hatiku hanya terisi olehnya." kata Luisa di dalam hati.


"Luisa, ada hal yang ingin aku bicarakan sama kamu." Kata Javier dengan menatap Luisa dengan tatapan yang sulit di artikan.


Luisa yang mendengar apa yang di katakan Javier langsung menoleh ke arah pria itu. Luisa hanya diam namun bibirnya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman kecil yang sangat terlihat cantik di mata Javier.


"Bicara tentang apa?" Luisa bertanya dengan masih memasang senyuman manis kepada Javier.


"Selama ini, aku tak pernah sekalipun menganggap kamu adik, Luisa." Terang Javier.

__ADS_1


Deg


__ADS_2