
"Dimana kamu membawa adikku?" Tanya Luis dengan nada suara rendah namun sungguh terkesan sebagai kalimat yang penuh penekanan pada setiap katanya.
"Aku membawanya di pantai dan menembaknya hingga menjadi kekasihku."
Luis yang mendengar itu hanya bisa mendaftarkan wajahnya. Luis tidak masalah jika sang adik memiliki hubungan dengan Javier yang merupakan teman dan juga orang kepercayaannya. Namun, tak di sangka jika mereka akan secepat ini.
"Hoammm"
Mereka semua mengalihkan atensi mereka saat mendengar suara itu yang berasal dari Gloria yang sudah terbangun.
"Eh kamu sudah sadar?" Gloria langsung bertanya pada Gading yang terlihat sedang bersandar di brankar rumah sakit.
"Sudah Nona." Jawab Gading dengan mengelus kepala Gloria merapikan rambut gadis itu.
Tanpa mereka ketahui sepasang mata sedang menatap tajam ke arah mereka. Sosok itu menatap nyalang Gading seperti siap untuk menelannya hidup-hidup. Sosok itu tak lain adalah Luis yang merasa cemburu karena Gading yang sudah berani menyentuh rambut Gloria.
"Hahaha mampus kau, emang enak makan hati." Gading tertawa jahat dalam hati melihat wajah masam milik Luis yang sangat jelek untuk di pandang.
"Awas kamu." Batin Gading yang tersenyum licik.
"Nona lihat! Pria itu sedari tadi menatapku tajam seperti ingin menelanku hidup-hidup." Ucap Gading dengan suara lemah menunjuk Luis tak lupa memasang ekspresi takut.
Luis yang menjadi tersangka langsung membulatkan mata saat Gading menunjuk ke arahnya.
Sedangkan Gloria gadis itu langsung menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Gading. Saat berbalik tatapannya langsung bertemu dengan tatapan Luis yang sedang menatapnya juga.
Deg
Gloria terkejut melihat Luis yang berada di tangan yang sama dengannya. Gloria lupa jika sedari awal ada mereka namun, di detik selanjutnya Gloria menormalkan tatapannya pada Luis.
__ADS_1
"Jangan menatapnya seperti itu, dia sedang sakit." Kata Gloria dengan datar tak lupa menatap tajam Luis.
Luis yang mendengar itu hanya diam dan menganggukan kepala saja. Lidah Luis seperti keluh saat melihat Gloria yang menoleh ke arah dirinya.
"Aku pikir kamu sudah berubah, nyatanya belum. Kamu tetap Gloria yang polos dan lugu." Kata Luis dalam hati dengan sebuah senyum tipis yang terbit di bibirnya.
Setelah duduk beberapa jam di ruangan itu akhirnya Gloria memutuskan untuk pulang ke apartemen Toni untuk istrahat karena hari yang sudah berganti dengan malam.
Tanpa di ketahui jika Luis juga mengikuti Gloria dari belakang. Pria itu mengejar Gloria sampai di parkiran rumah sakit.
Srettt
"Hummp"
"Tenanglah ini aku." Bisik Luis di telinga Gloria .
Setelah memeluk Gloria beberapa saat Luis dengan pelan melepaskan pelukannya. Tangannya terulur mengelus pipi mulus dari wanita yang di cintainya itu. Akhirnya penantiannya selama ini tidak sia-sia. Luis sangat bahagia di balik insiden ini dia akhirnya bisa bertemu dengan orang yang sangat dia cintai dan rindukan.
"Kamu ingin pulang?" Tanya Luis yang di balas anggukan kepala oleh Gloria.
Luis langsung tersenyum menarik Gloria masuk ke dalam mobil meluncur ke apartemen Toni pria yang sempat menyamar dengan nama Galang dan juga sebagai sekretarisnya. Luis menjalankan mobilnya dengan satu tangan yang menggenggam tangan Gloria sedangkan satunya yang mengendalikan setir mobil agar tidak oleng.
Beberapa menit berlalu akhirnya Louis dan Gloria sampai di tempat gedung yang menjadi tempat Tony menyewa sebuah apartemen. Kedua orang itu langsung turun dari mobil masuk ke dalam gedung yang ditulis dan menekan angka tempat di mana unit Toni berada.
Ting
Gloria keluar dari lift menuju apartemen Toni yang di ikuti oleh Luis di belakangnya. Sampai di depan pintu Toni, Gloria langsung memasukan sandi dan masuk ke dalam apartemen. Namun, saat akan menutup pintu Luis langsung menahan daun pintu dengan kainya hingga pintu itu tertahan dan tidak tertutup.
"Kamu belum pulang?" Tanya Gloria dengan bingun. Melihat Luis yang masih berada di depan unit apartemen itu.
__ADS_1
Gloria hanya menganggap jika Luis hanya mengantarnya sampai di apartemen Toni setelah itu akan langsung pulang. Gloria tidak tahu saja jika Luis sengaja mengikutinya karena ada sesuatu yang harus di bicarakan dengannya.
"Bolehkan aku masuk?" Kata Luis dengan nada lembut kepada Gloria.
Gloria yang mendengar itu dengan segera membuka lebar daun pintu mempersilahkan Luis untuk masuk ke dalam apartemen itu. Luis yang melihat itu langsung tersenyum dengan segera masuk ke dalam.
Grep
Sampai di dalam Luis langsung menutup pintu dengan kakinya dan langsung memeluk Gloria dengan erat. Sedangkan Gloria yang menerima pelukan dari Luis hampir terjungkal jika Luis tidak langsung menahannya.
"Aku merindukanmu Gloria, sangat. Sangat sangat merindukan kamu." Bisik Luis yang memasukan kepalanya di ceruk leher Gloria menghirup bau mawar dari gadisnya itu.
"Kamu merindukanku?"
"Yah, aku sangat merindukan kamu."
"Aku juga merindukan El."
"Benarkah?" Tanya Luis dengan senyum yang mereka di bibirnya.
"Gloria ada hal yang ingin aku katakan." Kata Luis dengan menjauhkan dirinya dari Gloria hingga kini kedua insan itu saling menatap satu sama lain dengan tatapan memuja masing-masing.
"Gloria..., Aku mencintaimu." Ungkap Luis dengan satu kali tarikan napas kata itu akhirnya meluncur juga dari bibirnya.
"Aku mencintaimu hingga aku tidak bisa tertidur nyenyak karena setiap saat hanya wajahmu yang ada dalam pandanganku. Kamu tahu akan bahkan sampai merindukanmu dengan gila." Ungkap Luis dengan menatap dalam mata Gloria yang juga menatap ke arahnya.
"Aku juga merindukan El, aku juga mencintai El." Kata Gloria dengan menundukkan wajahnya yang memerah seperti tomst.
"A....APA..?"
__ADS_1