Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia

Gadis Hutan Kesayangan Tuan Amesia
bab 126


__ADS_3

“Bisa di makan atau tidak itu urusan saya dan juga Gloria. Aku memasak ini bukan untuk para benalu melainkan untuk wanitaku,” ucap Luis dengan nada pedasnya yang melebihi cabe.


"Pria sialan berani sekali dia mempermalukan aku seperti ini. Aku adalah ayah dari Gloria harusnya dia menghormatiku..!" geram Juliando yang hanya bisa mengutuk Luis di dalam hati.


"Tapi bukankah makanan ini banyak? Aku yakin jika Gloria tidak aan menghabiskan-nya," kali ini yang membuka suara bukan lagi Juliando tapi Juana.


Juana yang melihat berbagai makanan yang di masak Luis tentu aja merasa tergoda. Terlebih saat melihat jikamasakan itu pasti akan sangat enak.


"Jika dia tidak menghabiskan-nya maka kalian boleh memakan sisanya. Intinya sebelum wanitaku kenyang maka kalian di larang menyentuh makanan yang aku masak.


BRAK


Juliando yang sudah tidak tahan itu dengan segera memukul meja membuat suara yang cukup keras di meja makan itu.


“Dimana sopan santun mu ha…? Aku ini adalah ayah dari wanita yang kau panggil kekasih itu berani sekali kamu mengatakan hal seperti itu? Bagaimana bisa kamu menyuruhku makan makanan sisa dari wanita ini ha…?” teriak Juliando dengan menahan amarah yang menggebu-gebu.


“Eh ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?” suara Javier terdengar nyaring di belakang Juliando yang sedang menuju meja makan di ikuti Gading dan bersamaan dengan Fenia yang bergabung di meja makan.


“Hey pak tua jangan suka marah-marah, belum saatnya kamu mati masih ada hal yang harus anda dapatkan sebelum kematian anda melanda. Lgipula untuk apa marah-marah dipagi buta seperti ini? Apa anda tidak di beri jatah oleh wanita sihir itu?” sarkasme Gading yang jika bicara maka tak akan tanggung-tanggung pedasnya melebihi cabai.

__ADS_1


“Kau… be-berani-nya k..kau mengataiku wanita sihir!?” geram Juana yang menunjuk Gading.


“Lalu apa oh wanita p3l4cur dan anaknya anak h4r4m begitu?” sinis Gading yang semakin menjadi-jadi.


“Prioa sialan akan aku bunuh kau…!” teriak Juana dengan emosi yang berada di ubun-ubun.


Juana langsung berdiri dari kursinya mengangkat sebuah piring yang akan di lemparkan ke arah Gading. Gloria yang melihat itu tentu membulatkan mata terlebih saat Juana mengangkat piring itu Gloria langsung berteriak.


“Turunkan piring itu jika tidak maka aku tak akan segan membuat kamu membayar mahal akan hal ini,” ucap Gloria dengan aura dingin dan juga mencekam.


Juana yang ingin melempar piring itu langsung terdiam sdengan tangan yang bergetar ketakutan. Dengan gerakan pelan Juana menurunkan tangannya lalu menatap ke arah Gloria yang sepertinya sangat marah akan dengan hal itu.


Juana yang mendengar apa yang dikatakan oleh Gloria langsung menoleh ke arah asal yang di tunjuk oleh Gloria. Namun saat melihat Fenia fokus Juana langsung teralih pada wajah sebelah kiri sang putri yang memerah seperti bekas tamparan.


“Fenia siapa yang menamparmu?” sentak Juana yang merasa khawatir dengan keadaan sang putri.


“Saya..1 Tidak setuju maka silahkan protes saya tidak akan keberatan membuat anda semakin hancur,” kata Luis yang mulai mengambilkan makanan untuk Gloria.


Juana yang mendengarnya tentu kaget menatap tak percaya kepada pria di depannya itu.

__ADS_1


“Tapi kenapa Tuan? Apa salah puteri saya selama ini dia menjadi anak yang baik dan penurut kepada siapapun. Kenapa Tuan dengan tega menampar putri saya?” Juana mengeluarkan air mata buaya milik-nya untuk menarik simpati Luis.


Gloria yang melihat akan hal itu sampai merinding di buatnya. Sedangkan Luis hanya diam memberikan piring yang telah ia isi lauk pauk untuk Gloria.


“Siapa yang akan kau kelabui nenek sihir? Semua orang juga tahu siapa putrimu itu,” sinis Gading ayng sepertinya sangat suka membuat ketiga orang itu emosi tingkat dewa saja.


“Emang dia siapa?” tanya Javier yang tengah mengikuti permainan Gading.


“Anda tidak mengenalnya Asisten Javier?” Gading memasang wajah berpura-pura tak percaya.


Juana yang mendengarnya sampai-sampai tersenyum licik. Juana tahu walau bagaimanapun pria di depannya itu tidak bisa dui anggap remeh. Juana tentu tahu jika pasti Asisten Javier itu merupakan orang yang mapan dan kaya. Tentu saja memikirkan itu membuat Juana merekomendasikan putrinya.


“Tuan putriku adalah seorang yang…,”


“Cih berhenti membual nenek lampir, anak yang ingin kau banggakan itu hanya seorang model yang naik daun dengan menjual tubuhnya..!” potong Gading dengan senyum sinis.


“Kau…,”


“DIAMLAH JUANA…! DUDUK DAM MAKAN MAKANAN KALIAN…!”

__ADS_1


__ADS_2