
"Anda ingin saya menghormati dan menghargai Anda? Bercerminlah, apa anda pantas akan menerima rasa hormat dari saya? Apa anda pantas di sebut sebagai seorang ayah, setelah apa yang telah anda lakukan pada saya? Apakah anda pantas di katakan sebagai suami setelah membunuh istri anda demi selingkuhan anda?"
Deg
Juliando menegang mendengar ucapan pedas dari Gloria yang tak lain adalah putri kandungnya sendiri. Tatapan mata gadis itu sangat kentara dengan kebencian dan dendam yang membara.
Gloria melayangkan tatapan tajam kepada ketiga orang di depannya tangannya mengepal dengan kuat dan rahangnya mengeras menahan amarah dan api dendam yang semakin meledak-ledak dalam dirinya.
Tangannya sudah gatal ingin mencincang manusia-manusia hina itu tapi Gloria berusaha menahan itu. Gloria telah berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan penderitaan yang tiada tara kepada kedua orang yang telah menyebabkan orang yang dia sayangi pergi. Akan dia buat kedua orang itu merasakan penderitaan yang begitu sakit hingga keduanya meminta kematian itu datang.
"Bawa makan malam ku ke kamar!" Kata Gloria dengan nada datar dan dingin.
"Jangan lupa daging setengah matang untuk makanan peliharaanku!" Pesan Gloria lagi kepada pelayan yang berada di depannya.
"Baik Nona muda." Jawab sang pelayan yang langsung menganggukan kepalanya cepat.
Gloria berbalik cepat menuju tangga dengan wajah datar dan aura dingin di sekitarnya. Di belakang Gloria terlihat Leon yang juga berjalan mengikuti Gloria seperti seorang pengawal.
Pelayan di meja makan segera mengambilkan makanan beserta lauknya untuk Gloria. Mereka semua tidak ingin di jadikan santapan oleh hewan berbulu lebat itu.
Sedangkan Juliando kini terdiam kaku seperti patung menatap sulit punggung Gloria yang menghilang di depan sana. Juliando segera berbalik pergi menjauh dari meja makan meninggalkan Juana dan Fenia.
Entah pergi kemana rasa laparnya tadi rasanya perutnya langsung kenyang dengan nafsu makan yang menghilang seketika. Ucapan Gloria benar-benar menusuk relung hati walau ia tidak mencintai Vanessa tapi bukan berarti dia juga membenci Gloria.
Juliando terduduk lemas dalam kamar di depan pintu. Kakinya sedari tadi sudah lemas tak bertenaga seperti tak punya tulang. Ucapan Gloria terngiang-ngiang di kepalanya hingga membuat dadanya sesak. Tatapan kebencian, kecewa, marah, dendam, semua itu bercampur aduk di dalam mata Gloria.
Juliando meremas dadanya yang merasakan perasaan sesak dan juga sakit secara bersamaan. Namun, dia tidak ingin percaya perasaan itu Juliando menggelengkan kepalanya kuat-kuat untuk mengusir perasaan bersalah itu.
__ADS_1
Juliando tidak ingin lemah karena masalah ini dari awal semua memang seharusnya menjadi miliknya bukan. Juliando berdiri berjalan dengan langkah cepat menuju kamar mandi. Sampai disana Juliando langsung berdiri di bawah shower hingga air dari shower itu menyirami hingga basah kuyup. Tapi Juliando tidak peduli yang ada di pikirannya saat ini adalah bagaimana cara mendinginkan kepalanya.
Sedangkan di tempat lain Fenia dan Juana masih berdiri kaku seperti patung. Fenia yang tersadar duluan langsung menoleh ke arah sang Mommy yang masih beta berdiri kaku.
Tak
"Mom….!"
"Aduh…. Fenia, kamu buat mommy kaget saja." Gerutu Juana menatap sang anak dengan kesal.
"Ih… mommy yang diam ke patung gimana nggak kaget coba? Lagian kenapa pada diam sih Mom? Emang benar jika semua yang ada di rumah ini…."
"Iya… ini semua milik istri pertama Daddy kamu tapi kita harus menguasai ini semua. Daddy kamu sudah berjanji untuk memberikan ini semua padamu jadi desak Daddy kamu untuk memberikan ini semua segera. Agar kita tidak menderita seperti ini." Ucap Juana dengan mengepalkan tangan menahan amarah dan kekesalan yang sudah berada di ubun-ubun.
"Tapi…."
"Ya nggak maulah mom, enak benar tuh anak sialan milikin semua ini. Pokoknya semuanya hanya milikku dia itu hanya orang asing yang datang-datang sok berkuasa."
"Sudah sudah ayo makan kita juga butuh tenaga untuk memikirkan rencana membuat anak sialan itu pergi dari rumah ini."
Juana segera mendudukan diri di atas kursi lalu mulai menyedot makanan di atas meja begitu pula Fenia yang mulai makan. Kedua orang itu tidak peduli apa yang terjadi kepada Juliando ataupun Gloria. Keduanya makan hingga kenyang setelah itu Juana langsung menuju kamarnya sedangkan Fenia wanita itu duduk santai di ruangan tamu sambil memainkan ponselnya.
Beberapa saat kemudian Fenia mengambil tasnya beranjak naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sampai di kamarnya Fenia langsung membuka pintu matanya langsung membulat sempurna melihat orang yang sudah membuatnya kesal sedari ada di kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan di kamarku…!?" Teriak Fenia yang menatap tajam Gloria.
Gloria yang sedang menyantap makan malamnya langsung menghentikan kunyahannya menoleh ke arah pintu dimana disana Fenia berdiri menatapnya tajam seperti singa yang siap menerkam.
__ADS_1
Tak
Gloria meletakan garpu di atas meja dengan kasar berdiri menatap tajam balik Fenia. Gloria sangat tidak menyukai bila acara makannya di ganggu dan wanita di depannya itu berani mengganggu makannya dengan datang berteriak-teriak.
"Apa Mommy tersayang kamu itu tidak memberitahu kamu jika kamar ini telah kembali pada pemiliknya!" Desis Gloria yang menatap nyalang mata Fenia.
"Apa yang pemiliknya? Pemilik kamar ini adalah aku bukan anak sialan…."
Plak
"Jangan pernah ucapkan kata itu untukku *****, yang sialan itu kalian. Kamu dan kedua orang tua kamu yang toxic itu." Bisik Gloria dengan nada hinaan.
Fenia yang menerima tamparan jelas tidak terima karna wajahnya di tampar begitu saja. Fenia mengangkat tangannya mengayunkan ke arah wajah Gloria.
Sret
"Tidak semudah itu tangan kotor ini menyentuh wajah mulusku." Kata Gloria dengan datar dan dingin.
Gloria menatap dingin wajah anak yang begitu di sayangi oleh pria yang seharusnya ia panggil ayah, pria yang seharusnya menyayangi dan melindumginya justru membuangnya demi wanita di depannya itu.
"Le…..lepaskan.. sa….kit!" Sentak Fenia yang meringis kesakitan.
Bagaimana tidak Gloria meremas tangannya dengan kuat. Bukan hanya itu pergelangan tangannya sudah berdarah karna kuku Gloria menancap sempurna di pergelangan tangannya hingga berdarah.
"Tidak anak, tidak ibu, sama saja. Sama-sama merebut hak orang lain." Desis Gloria yang penuh kebencian Fenia ya g hanya bisa meringis kesakitan.
"Lion…!"
__ADS_1
AAAAAAAA