
Sehabis sholat Isya berjamaah..bu Retno mengajak Cindy dan teman-temannya untuk makan malam. Dengan beralaskan tikar daun pandan..bu Retno menyajikan menu makan malam untuk tamunya
"Ayo mas Alf..pak Stewart..Naya makan malam dulu yaah?.." ajak bu Retno
"Ibu mohon maaf yaah?..kalau ibu menjamu kalian dengan ala kadarnya.." sambung bu Retno
"Tidak apa-apa bu..kami malah minta maaf ke ibu karena sudah merepotkan ibu.." jawab Alf
Mereka lalu duduk melingkar di atas tikar. Stu dan Alf saling pandang melihat menu makan malam yang disajikan bu Retno buat mereka..sebuah sayur santan yang bertaburan irisan cabai hijau di atasnya. Baru pertama kali bagi mereka berdua melihat menu sayur yang disajikan bu Retno untuk makan malam
"Waaah..ibu masak sayur cabe yaah?" tanya Kanaya dengan mata yang bebinar melihat semangkuk sayur santan yang didominasi oleh irisan cabai hijau di atasnya
"Naya tahu?..sayur cabe?.." tanya bu Retno
"Tahu bu..dulu nenek Ida sering bikin ini buat makan aku..waaah..ada telur dadarnya juga.."
Dengan tidak sabarnya..Kanaya menyendok nasi dan sayur cabai ke piringnya dan tak lupa sepotong telur dadar
"Ayo kak Stu..kak Alf..pasti kakak berdua belum pernah makan sayur cabe kan?.." tanya Kanaya
Alf dan Stu kompak menggelengkan kepalanya. Cindy menyendok nasi buat Alf
"Kurang nggak Alf?.." tanya Cindy sambil menyodorkan nasi ke Alf
"Cukup Cindy.." jawab Alf yang menerima nasi dari Cindy
"Biar saya sendiri ajah Cind.." pinta Stu yang melihat Cindy akan menyendokan nasi untuknya
"Ayo kak Alf..cobain sayur cabenya.." pinta Kanaya yang sudah melahap nasinya
"Pedas yaah?.." tanya Alf yang merinding duluan..karena melihat banyaknya irisan cabai hijau di atas mangkuk sayur
"Nggak mas Alf..sayurnya nggak pedas kok.." jawab bu Retno sambil tersenyum
Alf lalu menyendok sayur cabai ke atas nasi kepunyaannya dan mencobanya
"Gimana Alf?..pedas nggak?" tanya Stu yang penasaran
"Hmmm..enak Stu..nggak pedas..kau cobalah.." jawab Alf yang menyedok nasi bersama sayur cabai ke dalam mulutnya
"Ayo pak..silahkan dicoba dulu.." pinta Cindy
Stu lalu menyendok sayur cabai ke atas nasinya. Sejenak Stu menelan salivanya melihat tumpukan cabai hijau di atas nasi yang sudah dia sendok
"Bisa mules-mules ini perutku nanti.."
Akhirnya Stu memasukan nasi ke dalam mulutnya..seketika kedua matanya membulat
"Gimana kak?..enak kan?" tanya Kanaya
"Hmmm..iya Nay..enak banget..bener bu..Cind..nggak pedas.." jawab Stu
Stu menyendok kembali nasinya..kali ini dia sertakan potongan telur dadar di atasnya. Bu Retno dan Cindy tersenyum senang melihat Stu yang antusias memakan sayur cabai hasil buatan bu Retno. Baru kali ini bu Retno melihat ada orang bule makan sayur cabai bikinannya dengan begitu lahap
"Saya kok baru tahu yaah?..ada sayur seenak ini?.." monolog Stu
"Kau cari di resto bintang lima dimana pun..nggak bakal kau temukan sayur cabai seperti ini Stu.." sahut Alf yang dibarengi oleh tawa semuanya
"Besok kalau sudah di Jakarta..ibu harus bikinkan saya sayur seperti ini lagi ya bu?.." pinta Stu
"Iya pak..Insya Alloh.." jawab bu Retno
.
_______________
.
Setelah makan malam..Alf meminta ke bu Retno untuk berbicara empat mata secara pribadi. Bu Retno mengajak Alf ke teras rumahnya
"Begini bu." ucap Alf sambil menarik nafasnya sejenak setelah mereka duduk di kursi
"Maksud kedatangan saya kesini..adalah untuk meminta ijin secara pribadi ke ibu..untuk melamar Cindy menjadi calon istri saya.." kata Alf sambil menatap mata bu Retno
Bu Retno yang sudah diberitahu sebelumnya oleh Cindy mengenai niat kedatangan Alf bersamanya ke sini..hanya bisa tersenyum
"Ibu pribadi..hanya bisa memberi restu kepada kalian berdua..tapi apa mas Alf sudah serius untuk meminta Cindy sebagai calon istri?..mas Alf kan tahu..kayak gimana kehidupan kami disini..Cindy hanyalah anak yatim yang berasal dari kampung..berbeda dengan keluarga mas Alf yang cukup berada..jangan sampai mas Alf menyesal di kemudian hari..pernikahan itu bukan untuk main-main lho mas..kalau bisa cukup sekali dalam seumur hidup.." ucap bu Retno
"Saya tidak memandang Cindy sebagai anak kampung bu..bukan..sejak pertama kali bertemu dengan Cindy..hati ini sudah mantap bu untuk menaruh pilihan hati saya ke Cindy..putri ibu.." sahut Alf
"Nanti setelah ibu di Jakarta..baru saya akan datang membawa kedua orangtua saya untuk datang melamar Cindy secara resmi.." sambung Alf
Ada setitik airmata yang mengenang di ujung pelupuk mata bu Retno. Dia melihat Alf yang jujur mengungkapkan kata yang berasal dari relung hatinya
__ADS_1
"Orang tua mas Alf..apa sudah tahu?..soal Cindy?.." tanya bu Retno
"Sudah bu..mereka sudah tahu..malahan ibu saya sangat suka dengan Cindy dan sudah tidak sabar untuk mengangkat Cindy menjadi menantunya.." jawab Alf
"Ibu serahkan semuanya ke Cindy mas..kan dia yang akan mengarungi biduk pernikahan dengan mas Alf..ibu hanya menuruti apa kata Cindy nanti dan memberikan restu untuk kalian.." jawab bu Retno
"Terima kasih bu..terima kasih.." kata Alf sambil memegang tangan bu Retno
Bu Retno menganggukan kepalanya.
"Iya mas Alf.."
Cindy yang sengaja menguping di dekat pintu masuk..tersenyum haru mendengar keputusan ibunya yang menyerahkan semua keputusan ke dirinya. Dibelakang Cindy..Stu dan Kanaya hanya bisa tertawa geli melihat Cindy yang masih menguping
"Kita kagetin yuk kak.." bisik Kanaya di telinga Stu
Stu menganggukan kepalanya dengan cepat
"DOOORRR!!.."
Cindy terjengit kaget tak kala Kanaya menyentak bahunya tiba-tiba
"Hayooo..kakak ngapain?.." ledek Kanaya
Bu Retno dan Alf langsung melihat ke arah pintu masuk. Keduanya tersenyum geli melihat Kanaya yang menggoda Cindy
"Kalian ngapain sih?.." tanya bu Retno
"Ini bu..kak Cindy tadi..hmmmmpppp.."
Cindy langsung membekap mulut Kanaya. Bu Retno, Alf dan Stu langsung tertawa terbahak-bahak melihat Cindy yang salah tingkah. Kanaya memberontak sambil memberi isyarat agar Cindy melepaskan bekapannya
"Kakak lepasin..tapi Naya jangan ngadu yaah?.." ancam Cindy
Kanaya menganggukan kepalanya
"Huaaah..kakak ipar jahat..aku kan nggak bisa nafas kak.." omel Kanaya
Bu Retno mengajak Cindy, Stu dan Kanaya untuk bergabung duduk di teras
"Pak Stewart?..memang benar?..kalau Cindy kerja di tempat pak Sewart?.." tanya bu Retno
"Iya bu..Cindy jadi sekretaris saya di kantor.." jawab Stu
"Kalau Cindy ada salah..mohon di maafkan ya pak..Cindy mungkin anaknya rada kolokan.."
"Iya bu..mungkin ibu bisa ngomong seperti itu ke Alf.." jawab Stu sambil tersenyum
"Kolokannya Cindy masih ditaraf normal sih bu..kalau di bandingkan sama adik saya ini.." sahut Alf sambil mengucek-ucek pucuk rambut Kanaya
Kanaya merengek kesal karena Alf mengacak-acak rambutnya
"Kakaaaaak!!...iiih..rambut aku kan jadi berantakan.." rajuk Kanaya sambil merapikan kembali rambut brunettenya
Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Kanaya yang kesal
.
_________________
.
Malam yang dingin di waktu yang sudah beranjak ke pukul 2 dini hari untuk sebagian orang adalah waktu untuk berlindung di bawah selimut mereka masing-masing. Tapi tidak bagi Stu yang tidur di kamar depan rumah bu Retno. Dirinya tidak bisa tidur nyenyak malam ini..walaupun sudah berusaha untuk memejamkan matanya..tapi entah kenapa matanya tidak bisa diajak kerja sama. Matanya masih jelalatan..Stu berguling ke kanan dan kiri..punggungnya merasakan betapa keras dan tipisnya kasur kapuk yang dia tiduri saat ini
"Aku baru semalam saja tidak bisa tidur..gimana Kanaya dulu yaah?..yang setiap malam tidur pakai kasur kayak gini.."
Stu bangun dan membetulkan letak bantalnya yang dia rasa kurang nyaman
"Alf apa bisa tidur juga dia?.."
Stu yang penasaran..keluar dari kamar. Dia mendapati ruang tamu yang gelap karena lampu sengaja dimatikan oleh bu Retno. Dengan perlahan Stu melangkahkan kakinya mendekati sofa yang dijadikan Alf untuk tidur
"Alf?..heei?..Alf.." panggil Stu lirih karena tidak mau mengganggu orang-orang yang tengah tidur
Kening Stu mengkerut heran..karena dia tidak mendapati Alf di sofa ruang tamu
"Kemana tuh anak?.." batin Stu penasaran
Tapi telinganya seperti mendengar suara mesin mobil yang menyala di luar. Dengan perlahan Stu membuka pintu depan rumah bu Retno dan menghampiri mobil Toyota Hiace yang menyala. Stu mendekat ke arah jendela sebelah kiri dan dia melihat Alf tengah tertidur lelap disana
"Kurang ajaaaarrrr!!...dia malah enak-enakan tidur pakai AC.." geram Stu
Stu langsung membuka pintu penumpang dan langsung masuk dan berdiri di sebelah Alf yang tengah tertidur
__ADS_1
"Alf!!..s*taaaaan kau yaaah!!..kau malah enak-enakan tidur disini.." kesal Stu sambil menepuk paha Alf
Alf yang merasa ada yang memukul pahanya sontak terbangun dan mencari siapa yang sudah membangunkannya
"Oooh..kau Stu?..ada apa?.." tanya Alf yang masih setengah sadar
"Kurang ajar kau Alf..kau suruh aku tidur di kasur tipis di kamar bu Retno..sedangkan kau enak-enakan tidur disini pakai AC.." geram Stu
Stu bertambah kesal..karena Alf tidur di atas jok yang dia gelar menjadi sebuah kasur
"Kau bisa tidur di sana Stu..kenapa pakai ngomel sih?.." tunjuk Alf ke jok mobil sebelah dirinya sambil merebahkan badannya lagi
Dengan menahan rasa dongkol di hatinya..Stu menggelar jok mobil dan mulai merebahkan badannya diatas kasur dadakan. Tidak membutuhkan waktu yang lama..Stu sudah berselancar di alam mimpinya
.
________________
.
Keesokan paginya..di dapur bu Retno..Kanaya dan Cindy membantu bu Retno menyiapkan sarapan untuk mereka. Dari arah sumur Alf masuk ke dalam ruang tamu..disana dia mendapati Stu yang tengah menikmati kopi hitamnya bersama rokok Marlboro nya
"Stu..tadi aku lihat ada lapangan di dekat sekolah yang didepan..mungkin tempat itu bisa kita jadikan tempat mendarat helikopter kita untuk menjemput kita disini..dari pada kita naik mobil ke Semarang.." kata Alf sambil duduk di kursi yang ada
"Oh iya?..baguslah kalau gitu..nanti kita check kesana.." jawab Stu sambil menjentikan abu rokoknya diasbak
*
Setelah sarapan..Alf, Stu dan Kanaya meminta Cindy menemani mereka melihat lapangan sekolah yang akan di pakai tempat pendaratan helikopter penjemput mereka. Kanaya yang melihat ada hamparan sawah di depannya langsung berlari di atas pematang sawah
"Kak..sini kak.." ajak Kanaya ke Stu agar menghampiri dirinya
Stu lalu menghampiri Kanaya..dengan hati-hati Stu meniti pematang sawah untuk menghampiri Kanaya. Pertama kali dalam hidupnya Stu meniti di pematang sawah..berulang kali dirinya hampir terpeleset
"Alf..fotoin Naya sama pak Stewart.." pinta Cindy yang tersenyum melihat Stu yang berhasil menghampiri Kanaya
Alf lalu mengeluarkan handphonenya dan memfoto adiknya dan Stu yang tengah tertawa senang di pematang sawah. Dan tak lupa Alf mengambil foto Cindy yang tengah tertawa melihat Kanaya di sampingnya
"Kak Cindy?..disini ada kali nggak?" tanya Kanaya yang berjalan menghampiri Cindy dan Alf yang tengah berjalan
"Ada..di sebelah sana Nay..kamu mau kesana?" jawab Cindy sambil menunjuk ke arah sebuah bukit kecil yang ada disebelah kanannya
"Iya kak..sudah lama aku nggak main di kali.." jawab Kanaya
"Nanti ya dek..kita ke sekolahan dulu..keburu siang soalnya.." sahut Alf
Kanaya menganggukan kepalanya. Tak lama kemudian sampailah mereka di sebuah lapangan milik sebuah sekolah dasar di kampung ibunya Cindy. Alf dan Stu melihat daerah sekitar lapangan..ada tidak obyek yang bisa menggangu pendaratan helikopter kepunyaan mereka nantinya
"Bisa pak?.." tanya Cindy
"Bisa Cind..lapangan ini pas buat landasan helikopter mendarat nanti.." jawab Stu
"Kalau gitu saya mau minta ijin ke Kepala Sekolah dulu ya pak.."
Cindy lalu mengajak Kanaya menuju ke kantor Kepala Sekolah. Alf menghubungi Pilot helikopter untuk menjemput mereka di titik koordinat yang Alf telah kirim. Cindy kembali dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan seragam batik menghampiri tempat Stu dan Alf
"Pak?..kenalkan..ini pak Sukoco..Kepala Sekolah disini.." kata Cindy memperkenalkan Kepala Sekolah ke Stu
"Bapak kalau nggak salah..pak Stewart yaah?..bosnya Wijaya Holding..yang bangun resort dan hotel di Rawa Pening?.." tanya pak Sukoco setelah melihat Stu
"Ii..iya pak.." jawab Stu seraya mengernyitkan keningnya sambil mengingat-ingat proyek yang disebutkan pak Sukoco barusan
"Waah..terima kasih lho pak..berkat hotel bapak..wisata Rawa Pening jadi terkenal keluar..dan mendatangkan Wisatawan datang kesana.." ucap pak Sukoco
"Iya pak sama-sama.." jawab Stu sambil tersenyum
"Apa betul pak?..menurut mbak Cindy..bapak ingin menggunakan lapangan sekolah untuk keperluan pendaratan helikopter bapak?.." tanya pak Sukoco
"Iya pak..soalnya setelah saya lihat..lapangan ini layak untuk pendaratan helikopter saya dan saya minta ijin ke bapak..untuk menggunakan sebentar.." jawab Stu
"Silahkan pak..bapak bisa memakai lapangan ini buat keperluan bapak.."
Setelah menyatakan keperluan mereka..mereka pamit kepada pak Sukoco
"Naya mana Cind?.." tanya Stu
"Lhaa?..iya ya pak..tadi sama saya ke kantor pak Sukoco..apa dia ke kantin?" jawab Cindy bingung
Alf dan Stu mengikuti Cindy yang mengajak mereka ke kantin sekolah. Mereka hanya tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala mereka setelah sampai di kantin. Di kantin ternyata Kanaya mentraktir semua murid-murid sekolah dasar yang tengah istirahat untuk jajan di kantin sekolah mereka. Kanaya sendiri tengah sibuk memakan bihun gorengnya yang dicampur oleh potongan bakwan dan sambal kacang
"Ayo..kalau kurang..tuku'o meneh..kabeh wis tak bayar..ojo kuatir..(Beli lagi..semua sudah aku bayar..jangan khawatir).." ucap Kanaya yang tengah sibuk mengunyah bihun gorengnya
"Iyo mbaaak..matur suwuun yo mbak..(Iya mbak..terima kasih ya mbak).." jawab murid-murid sekolah dasar yang tengah antri di warung jajanan yang ada di kantin
__ADS_1
Alf hanya tersenyum geli sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal melihat Kanaya yang sedang menyuruh anak-anak murid sekolah dasar untuk duduk bersama dirinya sambil menyantap jajanan mereka. Kanaya tidak canggung untuk makan bersama dengan para murid-murid sekolah dasar yang ada di kampung ibunya Cindy
"Kamu memang special Nay..kamu selalu membawa aura positif dimana kamu berada.." batin Cindy