
Sebuah Ducati Panigale warna hitam dop memasuki komplek perkantoran Wijaya Holding. Motor itu langsung menuju ke basement gedung dan parkir disana. Ambar melepaskan helmnya dan melangkahkan kakinya ke loby basement bersama para staff Wijaya Holding lainnya. Sebagian staff yang mengenal Ambar menegur Ambar..Ambar membalasnya dengan anggukan kepala dan senyumannya
"Mbak Ambar cantik yaah?..mana tinggi lagi..cocoknya jadi peragawati tuh.." bisik seorang staff wanita ke temannya yang sama-sama menunggu lift melihat ke Ambar yang berdiri bersama staff lainnya
"Iya..badannya body goal banget..gua ajah yang cewek seneng ngelihatnya.." jawabnya dengan berbisik
Ting
Mereka bergiliran masuk ke dalam lift yang akan membawa mereka ke loby. Di loby mereka berganti lift yang akan membawa mereka ke lantai mereka masing-masing. Ambar melihat di depan pintu loby..Security tengah menahan seorang wanita yang akan masuk ke dalam gedung. Wanita itu dengan memohon dan berurai air mata memohon kepada Security untuk masuk
"Ning?..ada apa diluar?" tanya Ambar ke salah satu Receptionist loby
"Eh..mbak Ambar..itu mbak..bu Sita ngotot pengen ketemu dengan pak Stewart..padahal sama pak Stewart bu Sita sudah di blacklist untuk tidak diperbolehkan masuk ke dalam..tapi dia nya masih ngotot untuk masuk" jawab seorang Receptionist yang bernama Nuning
"Sita?" batin Ambar
Ambar yang penasaran menghampiri pintu loby
"Ada apa ini?" tanya Ambar sambil menyandingkan backpacknya di punggung
"Eh..selamat pagi mbak Ambar..ini mbak..bu Sita ngotot untuk diperbolehkan masuk untuk bertemu dengan pak Stewart..padahal dia sudah dilarang oleh pak Stewart untuk masuk ke dalam gedung" jawab seorang Security
"Bu..saya mohon bu..saya mau ketemu dengan Stu..ada hal penting yang ingin saya omongin ke Stu.." pinta Sita ke Ambar sambil berlinangan air mata
"Haaah?..dia tahu nama panggilan kak Stu..siapa wanita ini?"
Ambar membawa masuk Sita ke dalam gedung
"Mbak Ambar..mohon maaf..sesuai perintah pak Stewart..ibu ini nggak boleh masuk ke dalam.."
"Sebentar ajah pak..saya yang tanggung jawab..lagi pula nggak enak sama yang lainnya yang mau masuk" jawab Ambar
Ambar lalu mengajak Sita ke dekat sebuah fedding machine yang ada di dekat pintu masuk
"Ibu ada perlu apa mau ketemu dengan pak Stewart?..kebetulan pak Stewart belum datang" tanya Ambar
Ambar merasa penasaran dengan Sita..kenapa dia bisa sampai tahu nama panggilan Stu dan ingin sekali untuk ketemu dengan Stu
"Saya mau memohon ke Stu..agar semua yang diambil oleh Wijaya Holding dari Betara Land di kembalikan seperti semula bu..saya mohon.." jawab Sita
"Hmmm..gimana ya bu?..saya nggak bisa kasih ijin ke ibu untuk bertemu dengan pak Stewart karena..ibu sendiri sudah di blacklist untuk tidak diperbolehkan masuk kesini.." ucap Ambar
Raut kekecewaan tergambar di wajah Sita
"Tapi..saya mohon sekali bu..tolong ibu kasih ijin ke saya untuk bertemu dengan Stu sekali saja.." pinta Sita sambil memegang kedua tangan Ambar
"Ambar!!.."
Ambar dan Sita menoleh ke arah sumber suara yang memanggil Ambar. Di depan pintu masuk Stu dan Riko berdiri melihat ke arah Ambar dan Sita yang berdiri di samping fedding machine
"Kenapa kalian membiarkan wanita itu untuk masuk?..apa kalian lupa perintah saya?" tanya Stu kepada dua orang Security yang berjaga di depan pintu masuk dan langsung membuat kedua Security itu memucat dan gemetaran ketakutan
Suara Stu yang cukup kencang..menarik perhatian sebagian orang yang lalu lalang di loby gedung
"Mo..mohon ma..aaf pak..kami.."
Sita segera berlari menghampiri Stu..tapi segera di hadang oleh Riko dengan menahan Sita agar tidak mendekati Stu
"Stu..aku mohon Stu..maafkan kami..kami bersalah..aku.."
"Kalian seret wanita ini keluar..dan jangan sekali pun membiarkan dia masuk.." titah Stu kepada dua orang Security
"Baik pak.."
Kedua Security itu segera menyeret Sita keluar dari dalam loby gedung Wijaya Holding walaupun Sita menangis memohon kepada Stu untuk melepaskan dirinya..kedua Security itu tetap menyeretnya keluar. Ambar hanya tertegun melihat semua yang terjadi di depan dirinya. Ambar melihat Stu memberikan kode ke dirinya agar mengikuti Stu masuk ke dalam
Ting
Stu, Riko dan Ambar masuk kedalam lift khusus CEO
"Kak?..siapa itu Sita?" tanya Ambar penasaran
"Kamu nggak tahu?" tanya Stu
Ambar menggelengkan kepalanya
"Dia adiknya Heru.." ucap Stu
Deg
Ambar tersentak kaget setelah mengetahui kalau Sita yang barusan dia temui adalah adiknya Heru
"Dia Sita pacar kakak yang dulu?.." tanya Ambar tak percaya
__ADS_1
Stu menganggukan kepalanya
"Kok beda kak?..sama yang waktu kakak kenalin ke Ambar dulu?" tanya Ambar lagi
"Oplas kali.." jawab Stu acuh
Ting
Pintu lift terbuka..mereka bertiga keluar dan menuju ke ruangan Stu. Riko berbelok dan masuk ke ruangannya sendiri..Ambar pun duduk di kursi kerjanya yang berada di depan pintu ruangan Stu
"Nanti siang kamu ikut kakak..Maxwel ngundang kita makan siang di Marriot.." kata Stu sebelum masuk ke ruangannya
Ambar mengangkat sebelah tangannya menjawab perkataan Stu
"Kamu masih punya hutang cerita sama kakak soal Maxwel.." kata Stu yang berdiri di ambang pintu
"Iya..kapan-kapan Ambar akan cerita ke kakak.." jawab Ambar sambil menyalakan komputernya
Stu pun menutup pintu ruang kerjanya dan Ambar mulai memeriksa berkas-berkas dokument yang ada di tray dokument masuk . Tapi pikirannya tidak konsen setelah bertemu dengan Sita pagi ini. Sita di mata Ambar pagi ini berbeda dengan Sita yang dikenalkan Stu ke dirinya waktu dirinya masih sekolah. Oleh sebab itu dia tidak kenal dengan Sita yang notabene adalah adik dari Heru saat memohon ke dirinya untuk bertemu dengan Stu
"Apa yang sudah kak Stu lakuin ke Sita..sampai bawa-bawa nama Wijaya Holding.." batin Ambar
Tapi pikiran Ambar beralih ke Maxwel..Maxwel mengundang dirinya dan Stu untuk makan siang di Marriot. Ya..laki-laki Indo itu tengah gencar mendekati dirinya. Maxwel belum tahu kalau Ambar bukanlah Sekretaris pribadi Stu dan Maxwel juga tidak tahu..kalau Ambar adalah adik angkat dari Stu. Entah bagaimana reaksinya nanti kalau dia sampai tahu sebenarnya Ambar adalah adik angkat dari Stu. Ambar tersenyum geli membayangkan kalau Maxwel sampai tahu jati dirinya yang sebenarnya
"Halooo?"
Ambar mengalihkan perhatiannya dari berkas-berkas yang ada di atas mejanya ke arah sumber suara yang berasal dari depan mejanya..entah dari kapan ada seorang pria muda berpenampilan rapi sudah duduk di kursi depan mejanya
"Yaa?..ada yang bisa saya bantu pak?" tanya Ambar sopan
"Jangan panggil bapak aah..kayaknya saya udah tua banget..panggil aja saya Fathur..kamu Ambar kan..anak baru itu?"
Ambar menaikan alisnya sebelah
"Iya saya Ambar..yang gantiin Cindy..Fathur ada keperluan apa kesini?..mau ketemu sama pak Stewart?" tanya Ambar yang langsung memanggil Fathur tanpa embel-embel 'Pak'
"Aaah..enggak..saya kesini cuma mau kenalan sama Ambar..kenalin..saya Fathur" ucap Fathur sambil menjulurkan tangannya
Ambar pun menyambut uluran tangan Fathur
"Saya Ambar.." jawab Ambar dingin
"Saya disini jadi Manager Suplaychain..jadi kalau Ambar ada kesulitan disini..Ambar bisa ngomong sama saya" ucap Fathur yang membanggakan jabatannya di Wijaya Holding
Ambar hanya tersenyum mendengarnya
"Oooh..sorry Fathur..saya ada acara dengan pak Stewart ke Marriot..beliau ada ketemu dengan klien disana..sekalian makan siang.." jawab Ambar
Ceklek
Obrolan Ambar dan Fathur teralihkan dengan terbukanya pintu ruangan Stu
"Ambar?" panggil Stu
"Iya pak?" jawab Ambar
"Bisa keruangan saya sebentar?" pinta Stu
"Baik pak..Fathur..saya tinggal yaah?" pamit Ambar pada Fathur
Stu yang masih berdiri di ambang pintu ruangannya memberikan jalan ke Ambar untuk masuk kedalam ruangannya..tapi matanya masih melihat ke Fathur yang masih duduk di kursi yang ada di depan meja Ambar
"Kamu ada perlu sama saya?" tanya Stu ke Fathur
"Oh..enggak pak..saya permisi dulu pak.." pamit Fathur sambil beranjak dari depan meja Ambar
Stu menghela nafasnya kasar melihat Fathur yang pergi. Setelah menutup pintunya..Stu beranjak ke kursi kebesarannya yang diikuti Ambar di belakangnya
"Ada apaan sih kak?" tanya Ambar sambil duduk di depan meja Stu
Ambar berlaku profesional di kantor Stu. Kalau dirinya berdua dengan Stu atau ada Riko..dia akan memanggil Stu kakak dan akan memanggil dengan panggilan bapak ke Stu kalau mereka ada didepan khalayak ramai. Hanya segelintir staff yang tahu hubungan Ambar dan Stu yaitu mereka yang selantai dengan Stu dan Ambar..dan mereka tahu diri tidak ember ke teman-teman yang lainnya di Wijaya Holding
"Nih..kamu pelajarin dulu.." jawab Stu sambil melempar sebuah map ke atas mejanya
Ambar menaikan sebelah alisnya melihat map yang ada di depannya
"Apaan ini kak?" tanya Ambar penasaran sambil dia ambil map itu
"Profil perusahaan Betara Land..nanti setelah Cindy kembali dari liburan..kamu kakak serahin untuk ngurusin Betara Land.." jawab Stu sambil menyenderkan punggungnya ke kursinya
"Haah??..kakak nggak salah?" tanya Ambar menyipitkan matanya
"Nggak..kakak cuma ngikutin saran mommy supaya kamu ada kegiatan setelah kamu resignt dari MI6.." jawab Stu
__ADS_1
Ambar membaca profil Betara Land yang akan diserahkan Stu ke dirinya
"Betara Land ini..apa hubungannya sama si Sita itu kak?" tanya Ambar yang ingat tadi Sita sempat menyebutkan nama Betara Land
"Betara Land dulu punyanya bapaknya Sita..tapi sudah kakak ambil alih.." jawab Stu
Ambar hanya membulatkan bibirnya sambil mengangguk-anggukan kepalanya
"Tadi si Fathur ngapain ke meja kamu?" tanya Stu
Ambar yang masih membaca isi map yang ada ditangannya hanya mengangkat kedua bahunya menjawab pertanyaan Stu
"Ngajakin makan siang?" tanya Stu lagi
"Iya.." jawab Ambar singkat
"Ck..masih aja itu orang nyari mangsa baru.." decih Stu
"Mangsa baru gimana maksudnya kak?" tanya Ambar menatap Stu
"Dia tuh udah terkenal disini sebagai playboy cap kangkung..nggak boleh ngeliat dikit cewek baru disini..main sosor ajah" jawab Stu
Senyuman smirk muncul di bibir Ambar
"Kenapa?..kamu mau main-main sedikit sama dia?" tanya Stu yang melihat senyuman smirk Ambar
"Sepertinya asyik kak.." jawab Ambar
"Boleh aja sih..tapi jangan sampai kelewatan lho yaah?..anak orang itu dek.." ucap Stu sambil tersenyum
"Dia pasti punya backingan disini ya kak?..soalnya dia nggak bakalan berani macam-macam kalau nggak ada yang backup dia disini.." tebak Ambar
"Yup..bapaknya jadi Direktur Finance disini..pak Adiguna.." jawab Stu
"Kalau kakak sudah tahu kelakuan dia kayak gitu..kenapa kakak biarin ajah?" tanya Ambar sambil menaruh kembali map di meja
"Selama dia nggak main-main sama urusan kantor..kakak nggak bisa ambil tindakan apa-apa..lagi pula kinerja dia juga bagus disini.."
Stu bangun dari kursinya dan berjalan ke sebuah lemari dan dia ambil sebotol whisky dan dua buah gelas setelah sebelumnya dia taruh dua buah es batu didalamnya..dia bawa keduanya kembali ke mejanya. Stu berikan satu gelas ke Ambar dan dia tuangkan whisky ke gelas Ambar dan gelasnya sendiri
Ting
Keduanya melakukan toast terlebih dahulu sebelum meminum whisky nya
"Kakak sebetulnya juga geregetan melihat kelakuan dia disini..tapi kakak harus profesional ke semua staff disini..kakak nggak mau mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan kantor" kata Stu sambil menaruh sebelah bokongnya di mejanya dan menyesap whisky nya
"Jadi kakak nyuruh Ambar ngasih pelajaran ke dia?" tanya Ambar
"Iya..sedikit ajah dek..kebetulan dia kan lagi pedekate sama kamu.." jawab Stu
Ambar menyenderkan punggungnya dan dia taruh kaki kanannya diatas kaki kirinya
"Kakak maunya yang kayak apa?..soft touch?..apa hard touch?" tanya Ambar sambil memutar-mutar gelas whisky nya di pegangan bangkunya agar dinginnya es batu diserap sempurna oleh whisky nya
"Terserah kamu..yang penting fisiknya nggak terlalu kelihatan setelah di sentuh sama kamu.." jawab Stu
Ambar mengangkat gelasnya menjawab permintaan Stu dan menenggak whisky nya
"Sama satu lagi..Maxwel" ucap Stu
Ambar menahan whisky nya di rongga mulutnya setelah mendengar Stu mengucapkan nama Maxwel dan langsung dia telan dan menjilat bibirnya
"Kamu belum cerita sama kakak..kenapa Maxwel sampai kenal sama kamu dan getol banget pengen ketemu sama kamu..kayaknya dia lagi nguber-nguber kamu dek.."
Setelah menghela nafasnya..Ambar menceritakan awal mula perjumpaan dirinya dengan Maxwel dan beberapa kali pertemuan dirinya dengan Maxwel di beberapa hari belakangan ini
"Mommy tahu?" tanya Stu
Sebelum Ambar menjawab pertanyaan Stu..dia tuang lagi whisky nya ke dalam gelasnya yang sudah kosong dan langsung meminumnya
"Belum..kakak jangan ngomong ke daddy sama mommy dulu yaah?" pinta Ambar
"Kakak nggak jamin.."
Ambar mencebik kesal
"Kamu mendingan cerita sendiri sama daddy dan mommy dan jangan sampai mommy sama daddy tahu dengan sendirinya kalau kamu lagi jalan sama Maxwel..sebelum kamu cerita ke mereka..kamu tahu sendiri kan?..mata-mata daddy sama mommy banyak bertebaran di Jakarta.." wanti-wanti Stu
"Iya kak..nanti kalau momentnya sudah pas..Ambar akan ngomong ke daddy sama mommy.."
"Kamu sendiri?..gimana ke Maxwel?..suka nggak?" tanya Stu sambil menyesap whiskynya
Ambar menghela nafasnya sejenak
__ADS_1
"Bohong kak..kalau Ambar nggak suka sama Maxwel..cewek mana pun pasti akan terpesona sama Maxwel..tapi..hati ini masih belum mau nerima kehadiran seorang cowok untuk sementara ini kak.." jawab Ambar sambil menoleh ke samping dan menggigit bagian dalam bibirnya
Stu mengerti keadaan Ambar. Bertahun-tahun hatinya tertutup oleh sentuhan seorang laki-laki..hatinya ditutupi oleh sebuah dendam pada seorang laki-laki yang sudah membantai keluarganya. Walau dendam itu sudah terbalaskan..tapi hatinya sudah terlanjur keras dan menolak akan kehadiran sesosok laki-laki