Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Gadis Untuk Zain


__ADS_3

Alzam dan Zelofia duduk di kamar milik sang ibu. Mereka duduk secara berhadapan, mencoba berbicara lewat kontak mata. Namun sepertinya keduanya sama-sama mengerti karena keduanya nampak bahagia.


"Alzam mau cerita tentang apa?"


"Gak deh! Bunda dulu aja, anak tidak boleh mendahului orangtuanya" Alzam tersenyum dan Zelofia mengusap pipi tirusnya. Anak ini begitu berbakti kepada orangtua. Birrul walidain yang nyata.


"Ini tentang Nina, Zam"


"Bunda sepemikiran sama Alzam, Bun" antusias Alzam tersenyum bahagia. Memang masalah Nina yang ingin Alzam ceritakan kepada bundanya ini. Kebetulan sekali ya.


"Oh iya? Astaga kok bisa ya!"


"Sehati kita Bun" Alzam gemas hingga meninggalkan kecupan manis di kedua pipi berkerut ibunya. Bunda Zelofia terkekeh geli merasakannya.


"Menurut kamu, Nina itu gimana Zam?"


Hati Alzam seketika berbunga-bunga mendengar penuturan Zelofia. Memang itu yang ingin Alzam katakan kepada bundanya. Sungguh bunda Zelofia memang selalu mengerti maksud putranya.


"Nina orangnya... cantik Bun, dia rajin, penuh semangat juga" ucap Alzam seraya membayangkan wajah Nina disaat tertawa dan bekerja di keluargaku ini.


"Kannnn sependapat sama bunda kamu. Emang Nina cocok buat Ankazain"


Deggg


Zain? kening Alzam menyerngit tidak paham dengan maksud ibunya dengan mengaitkan nama kakaknya dengan nama Nina.


"Apa yang bunda maksud?" penasaran Alzam karena ia benar-benar tidak paham. Takutnya ia salah paham, makanya itu ia mencoba bertanya kembali.


"Begini Alzam. Bunda rencananya mau menikahkan Nina sama kakak kamu Zain, karena kamu udah menilai Nina itu baik pasti baik juga untuk Zain"


Kepala Alzam menggeleng tanda tidak terima. Hatinya sakit jika membiarkan gadis sepolos Nina harus menikah dengan pria duda yang jauh lebih tua darinya.


"Bun! Bagaimana bunda bisa berpikiran seperti itu?" raut wajah Alzam nampak begitu tidak suka. Sungguh ia tidak terima.


"Kamu kan tahu, setelah kepergian Anita dia tidak pernah berbicara dengan wanita kecuali keluarga dekatnya, bahkan bunda juga udah mencoba untuk menjodohkan Zain dengan anak teman bunda. Zain selalu menolak, tapi Nina... Zain tadi bicara sama Nina, Zam!!! bunda bahagia. Bunda yakin Nina akan membawa perubahan untuk Zain"


Alzam mengusap wajahnya kasar, "Bun, bunda udah coba tanya sama kak Zain?"


"Perilakunya tadi udah kelihatan kalau Zain menerima Nina" jawab Zelofia tersenyum cerah. Ia begitu sangat bahagia mengetahui putranya mau berbicara dengan wanita kembali.


"Udah tanya Nina?"


"Ini bunda mau tanya"

__ADS_1


"Nina gak akan mau" jawab Alzam serius sehingga raut wajah bunda berubah datar mulai terlihat muram. Alzam tega sekali mengatakan itu kepada ibunya, setidaknya dia mendukung sedikit apa tidak bisa ya!.


"Ke-kenapa Nina gak mau?"


"Bun, Nina masih gadis yang baru masuk ke dalam tahap dewasa. Dia belum tahu apa-apa, bahkan belum ada niatan gadis itu untuk menikah. Dari pada menikah, sekolah jauh lebih penting"


"Bunda tidak mengatakan kalau menikah itu jauh lebih penting dari sekolah. Bunda akan menunggu Nina sampai lulus sekolah, setelah itu menikah dengan Zain"


Alzam menghela nafas kasar lalu meraup wajahnya kasar. Astaga bunda ini memang keras kepala sekali, bahkan Alzam hampir frustasi.


"Bun, bunda juga punya anak gadis, Ayasya. Bagaimana perasaan bunda kalau Aya di lamar, tapi secara logika dia belum menerima hubungan pernikahan. Dia belum tahu bagaimana memperlakukan suaminya dengan baik, bagaimana cara dia menyelesaikan masalah dalam berumah tangga. Apa bunda melupakan itu?"


Alzam menatap sendu wanita baya yang ada didepannya. Yah, Alzam tahu bagaimana perasaan ibunya. Tapi ini salah, tidak seharusnya bunda Zelofia menjodohkan Zain dengan gadis muda yang belum tahu apa-apa.


Bunda Zelofia diam. Ia jadi membayangkan bagaimana kehidupan Aya jika dia harus menikah saat gadis itu belum bisa lepas dengannya. Begitulah perasaan Aynina kelak.


"Tapi, Zain sudah dewasa. Dia akan menerima Nina, membimbing Nina, mengajarkan Nina tentang hubungan pernikahan"


"Bunnnn" Alzam semakin frustasi karena bundanya sangat keras kepala.


"Begini saja. Kita coba tanya dengan Zain, jika Zain menerima maka kita akan langsung datang ke rumah Nina untuk melamar. Jika Zain tidak suka, maka bunda akan menyerah"


Ok, kali ini Alzam akan menerima. Ia yakin jika Zain juga menolak menikahi gadis seperti Nina, apalagi ia tahu bagaimana perasaan Zain kepada mendiang istrinya.


________


"Apaaaa"


Pekik Adnan yang merupakan putra kedua keluarga Darius. Ia begitu amat syok mengetahui bunda berniat menjodohkan adik ke-tiga nya dengan Nina si pembantu keluarga.


"Gak salah Bun?" Adnan kembali bersuara di ruangan yang menjadi berkumpulnya seluruh anggota keluarga Darius.


Seluruh anggota keluarga termasuk Zain juga melotot memberikan tatapan tidak menyangka dengan pikiran bunda Zelofia ini.


Namun Zain sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Yah, pria ini hanya diam saja, tidak menerima juga tidak menolak. Dia hanya duduk menyimak di sofa bersama Asad dan Alzam.


"Bunda berpikir jika gadis itu cocok untuk Zain, Yah" bunda Zelofia melihat kearah Abrizal dengan tatapan penuh harap supaya pria yang menikahinya itu menyetujuinya.


Namun pria baya itu hanya duduk saat wajahnya menjadi pusat perhatian keempat putranya. Ia sedang mempertimbangkan itu semua.


"Bagaimana pendapat Ayah mengenai perjodohan ini?" tanya Asad meminta keputusan kepala keluarga langsung, namun Alzam langsung menyela.


"Apa kakak masih bisa bertanya? Tentu ayah tidak setuju dengan pernikahan ini. Pernikahan dini namanya" Alzam semakin kesal. Ia yakin setelah ini ayahnya akan membela dirinya. Sejarahnya perkataan Alzam selalu di gugu sang Ayah.

__ADS_1


Adnan hanya melirik Alzam, Adnan, Abrizal, bunda Zelofia dan terakhir wajah Zain. Adnan seketika tertawa saat melihat wajah Zain yang santai seakan tidak ada dosa. Padahal pria inilah yang menjadi topik perdebatan mereka saat ini.


"Heii Zain. Kau tidak lihat mereka berdebat karena dirimu. Setidaknya kau berkata lah sedikit, pelit sekali" Adnan mengomel namun Zain hanya menaikan satu alisnya acuh.


Zain tidak peduli. Ia hanya sibuk bermain ponsel, membuat Alzam semakin yakin jika kakaknya ini tidak menyukai Nina.


"Ayah, Nina baru berusia 18 tahun. Zain 29 tahun, dia terlihat tua untuk Nina"


Sejenak Zain melihat wajah Alzam dengan kening berkerut. Tentu ia tidak terima, wajahnya tidak setua itu sampai adiknya berkata demikian.


"Alzam, Ayah tahu bagaimana perasaan mu. Kau memiliki adik yang seusia dengan Nina, dan kau pasti menganggap Nina juga seperti itu" ucap Abrizal didengar teliti oleh seluruh keluarganya, "Namun, kita hanya sebatas penonton! Zain dan juga Nina lah yang harus memutuskan mengenai ini semua. Bagaimana menurutmu, Zain. Apa kau menerima perjodohan ini?"


Mereka semua menatap tajam kearah Zain. Ada yang begitu yakin jika ia akan menerimanya dan ada juga yang berkeyakinan sebaliknya.


Apa ia akan menerima menikahi gadis muda seperti Nina atau justru menolak? Mereka masih setia menunggu jawaban.


"Zain?"


"Iya"


Deggg


Benar-benar kejutan. Zain menerima perjodohannya dengan gadis yang sudah dipilih kan. Seluruh orang menerima, terutama Zelofia yang terlihat begitu bahagia dengan keputusan yang Zain ambil, namun tidak dengan Alzam.


Alzam menggeleng tidak percaya. Ia sudah yakin jika Zain akan menolak pernikahan ini. Alzam tahu Zain bukan pria yang mudah menerima wanita disisi-Nya. Lalu apa ini? Sungguh mengecewakan.


Zain bergegas pergi dan Alzam segera menyusul.


Di luar ruangan.


"Zain. Kak Zain!!!" panggil Alzam mengikuti Zain dari belakang.


Tidak membutuhkan waktu lama Zain tertangkap. Lengannya di cengkeram kuat dan ia segera menepisnya.


"Zain, tadi itu bukan dirimu. Kau tidak mungkin menerima menikahi Nina!"


"Aku tidak perlu mengulang ucapanku" Zain melenggang pergi dan Alzam kembali mengikuti.


To be continued


Insyaallah aku up 2 bab setiap hari ya!!!


Jangan lupa follow, subscribe, like, komen, vote hehehe Dukungan kalian menentukan nasib novel ini kedepannya 🤗

__ADS_1


__ADS_2