![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Wajah Zain mengurat panas serta telinganya seakan mengeluarkan asap dari dalam kepala. Ia begitu murka mendengar pria tua bermata keranjang enggan untuk bertanggung jawab.
“Nikahi adikku br3ngsek!” Zain kembali membogem salah satu pipi Aditama hingga meninggalkan bekas kemerahan disana. Pria ini sudah begitu kesetanan.
Namun Aditama nampak tertawa senang, “Aku ingin membalik kata-katamu. Seperti betina yang memberikan dirinya kepada ayam yang ia temui dijalanan, seperti itulah adikmu”
Cengkeraman tangan Zain mulai memudar, membuat Aditama memiliki celah untuk menjauh dari pria temperamen itu.
Aditama meludah saat darahnya hampir ia telan, lalu memperbaiki penampilannya. Pria tua itu duduk bersilang kaki dan memberikan isyarat Zain untuk segera duduk.
“Duduklah! Tenanglah Zain, kami disini tidak akan merasa terganggu walau ada benalu” ucap Aditama dengan sopan, persis seperti sambutan Zain beberapa hari yang lalu,
Jujur saja, ia sangat ingin menghabisi pria tua yang berani bermain-main dengan keluarganya. Namun, masa depan Aya sedang dipertaruhkan disini.
Dengan terpaksa Zain duduk.
“Bagaimana kalau kita bernegosiasi, Zain?” kata Aditama dengan santai, “Aku akan menikahi Aya jika kau mau mengabulkan satu syarat dariku”
“Apa itu?” tanya Zain walau ia tahu syarat itu akan terdengar gila.
“Aku akan menikahi adikmu, asal kau cabut tuntutan mu terhadap Devan putraku dan umumkan bahwa itu adalah kesalahpahaman serta perintahkan ke semua pihak kampus untuk mengeluarkan nama anakku dari daftar blokir mahasiswa mereka”
“Keluarga yang menjijikan” maki Zain mengeratkan kepalan tangannya dengan kuat.
Ia masih dilema dengan keputusannya. Tidak semudah itu menerima karena secara tidak langsung dia memilih antara Aya atau Nina.
“Kau mau atau tidak Zain?” tanya Aditama terdengar memaksa dan Zain hanya diam saja.
________
Kediaman Darius
Sudah berjam-jam Aya terkurung didalam kamar. Ia begitu ingin sekali keluar menghirup udara yang segar. Anak ini juga merasa sangat haus.
Dari itu Aya memutuskan untuk turun dari ranjang keluar kamar menuju dapur yang memiliki lemari es paling besar. Ia mengambil air putih dingin disana, tak pedulikan larangan Zain untuk tetap di kamar.
“Hai” sapa kakak iparnya yang bernama Bella berdiri disampingnya. Wanita itu hendak mengambil air juga.
“Hai juga kak!”
“Kamu beneran sakit?” tanya Bella dan Aya hanya mengangguk lemas. “Oh… cepet sembuh ya!”
Bella yang sudah selesai ingin kembali ke kamar tapi ia kembali lagi.
“Ngomong-ngomong, disaat malam itu, dimana aku melihatmu terburu-buru ingin masuk kedalam kamar. Kau darimana sampai pulang malam?” tanya Bella membuat Aya tercengang.
“Ak-aku”
“Dengan pakaian mini?” tambah Bella nyaris membuat Aya gila.
Wajah Aya sudah pucat takut jika kakak iparnya ini tahu tentang kehamilannya.
__ADS_1
“Ak-aku dari pesta teman-teman kak” cicit Aya mengalihkan pandangan, tidak mau berkontak mata.
Bella mengangguk ringan, “Zain bilang dia melihatmu di hotel. Berarti pestanya di hotel?”
Aya gemetaran. Tubuhnya yang lemas nyaris membuat genggaman terhadap gelas mulai memudar.
“Ay-aya… Aya—”
“Aya kakak belikan obat demam untukmu” sela Helena yang baru saja kembali dari luar.
Wanita ini datang disaat yang tepat, tepat sebelum Aya menjadi wanita depresi karena pertanyaan Bella yang menyudutkan.
“Aya, kakak tadi cari dirimu kemana-kemana” Helena memberikan satu kresek berisi obat demam, “Tadi kakak mampir di apotik buat beli vitaminnya Neha jadi sekalian beliin obat demam buat kamu”
“Terima kasih kak” Aya yang ketakutan segera merampas obat itu dan berlari pergi.
“Kak, bukankah adik ipar kita itu terlihat mencurigakan?” tanya Bella kepada Helena yang juga mengambil air minum di kulkas.
“Mencurigakan bagaimana?”
“Aya terlihat lebih berisi, tapi wajahnya semakin pucat” kata Bella. “Jangan-jangan…”
“Ngawur!!” pekik Helena segera menyikut lengan Bella, memudarkan pikiran buruk tentang Aya.
Kembali ke kamar Aya.
Brak
“Mereka semua menyebalkan!! Aku tidak demam… aku tidak butuh obat ini” Aya melempar obat itu jauh-jauh. Kini tatapan matanya terarah ke perutnya, “Ini semua karena dirimu!! Kau pengganggu kecil”
Aya memukul perutnya agak keras. Namun tidak ada rasa apapun sehingga membuat Aya ketagihan untuk memukulnya.
Setiap pukulan yang ia berikan, mengingatkan dia dengan ucapan palsu dari si pria tua menjijikan itu.
Flashback on
‘Kau begitu cantik, Aya’
‘Bagaimana wajah cantik itu bisa melekat di wajahmu dan juga hatimu’ Aditama membelai wajah Aya dengan penuh kelembutan serta tangan lainnya berada di pinggang.
‘Aku menginginkanmu Aya. Aku akan menikahi mu Aya’
‘Aku berjanji’
Flashback off
Hingga janji-janji pria beristri itu telah merenggut kehormatannya. Ia disentuh dengan embel-embel sebuah janji dari mulut pria itu semata. Namun nyatanya? Semua hanya dusta.
“Aku menyesal!!! Bunda, ayah… maafkan Aya hiks hiks” sesal Aya meringkuk diatas ubin.
______
__ADS_1
Kembali ke kampus
Nina berjalan pelan setelah dari ruang perpustakaan. Karena ucapan Zain waktu itu membuat dirinya harus mencari buku tersebut dan membacanya. Namun sayang tidak ada di perpustakaan kampusnya.
“Ini salahku karena sudah berbohong dengannya. Kenapa juga aku mengatakan hal itu” racau Nina menghentak-hentakan kedua kakinya.
Selang beberapa detik mata Nina menampaki seorang pemuda yang ia kenal sedang berdiri menggoda seorang gadis.
“Mas Bian!!”
Bian langsung menoleh melihat kearah Nina yang sudah dalam perjalanan mendekat. Pemuda itu terlihat kelabakan meminta wanitanya untuk segera pergi.
“Mas Bian tadi coel-coel dagu cewe itu kan!” goda Nina menunjuk gadis yang sudah pergi.
Bian terkikik hambar, “Iya, kenapa kau juga mau aku coel dagumu?” tangan Bian sudah mencoel dagu Nina, namun gadis ini segera menepisnya.
“Aku bilangin Tuan Zain loh”
“Iya-iya yang udah punya suami!” Bian menjauhkan tangannya serta tubuhnya, “Abis darimana?”
“Dari perpustakaan mau minjam buku tapi nggak ada” sesal Nina berlalu pergi dan Bian segera menyusul.
“Oh… kamu nggak ada mata kuliah?”
“Udah tadi pagi. Ini aku mau pulang” kata Nina memang sudah berjalan menuju gerbang.
“Naik apa? Ayo aku antar” Bian sudah mengeluarkan kunci motornya dan bersiap mengantar Nina.
“Tidak perlu ak---”
Tin Tin
Kedua mahasiswa itu dihadang mobil berkarakter mewar berwarna hitam mengkilat serta pemiliknya yang tampan.
“Ayo masuk” ajak Zain menolehkan kepalanya ke kanan supaya Nina segera masuk kedalam.
Melihat itu tentu membuat Nina begitu bahagia. Gadis ini tersenyum seakan memperlihatkan kepada para mahasiswa yang melihat, bahwa suaminya telah menjemputnya pulang.
“Ma Bian, Nina pulang dulu ya” kata Nina memperbaiki Tote bag di bahunya yang sempat melorot.
Sebelum masuk kedalam mobil, Nina kembali menemui Bian dan sedikit berbisik, “Jangan menggoda banyak cewe atau Ibu Mira tidak akan mau denganmu”
“Kau!!” Bian yang kesal ingin meremat tubuh kecil gadis itu. Namun sayangnya Nina sudah berlari memasuki mobil.
Selepas Nina masuk, tidak lama Zain melajukan mobilnya meninggalkan Bian yang terlihat kesal dengan sikap istrinya. Biarkan saja!.
Diperjalanan.
Nina kembali ketakutan saat Zain hanya diam mengemudi memperhatikan jalan. Ia tidak mengajak bicara Nina sama sekali dan hanya focus dengan kemudinya, membuat gadis ini berpikir jika Zain akan segera mempertanyakan materi kuliah.
“Kau—” ucap keduanya dengan detik yang sama.
__ADS_1