![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
“Kau mawar oranye?” pekik Zain terkejut saat melihat wajah istrinya ada didepan matanya. Sebaliknya wanita itu menahan tawa akan ekspresi Zain.
“Surprise!!”
“Kau!” Zain masih menggelengkan kepalanya tidak percaya. Tentu saja dia tidak percaya. Bagaimana bisa wanita yang ia nikahi ini mengirimkan bunga mawar oranye ke kantornya.
Nina tertawa memeluk Zain yang masih kaku mencerna semuanya, “Hubby maaf!!”
Zain melepaskan pelukan Nina dan mencengkeram kedua bahunya, “Kau yang mengirim bunga mawar oranye itu?”
“Iya” Nina mengangguk memperlihatkan dua jarinya yaitu jari telunjuk dan jari tengah hingga membentuk huruf V.
Zain mengusap wajahnya dengan kasar. Ia seperti orang bodoh selama ini karena memikirkan hadiah yang tidak lain dari istrinya. Ini semua gara-gara Nina.
“Kau memang benar-benar!!!” gemas Zain meremat kedua tangannya sendiri tepat didepan wajah Nina yang tersenyum tanpa dosa.
Nina tersenyum kecut, “Maaf deh!”
“Maksud semua ini apa?” Zain meletakan telapak tangan kanannya di punggung kursi dan satunya di pinggang. Ia terlihat marah karena ternyata istrinya yang mengerjainya.
“Dulu waktu kau belum menerimaku. Saat kau membawaku ke kantor untuk belajar, aku melihat bunga di fas ruangan mu sudah layu. Beberapa hari setelahnya aku melihat ada penjual bunga mawar oranye, jadi aku membelinya dan mengirimkannya ke kantormu tanpa nama. Aku hanya ingin memberikan sesuatu untuk dirimu. Walau kau tidak menerimaku, setidaknya ada barang pemberianku yang kau terima” Nina tersenyum setelah menceritakannya.
Berbanding terbalik dengan Zain. Wajah pria itu nampak sayu dilanda haru.
“Apa saat aku masih bodoh waktu itu?”
“Heii kau tidak bodoh, hanya membutuhkan waktu untuk menerima diriku sebagai istrimu dan lihatlah… kau sudah menerimaku dan aku menjadi ibu dari bayimu” Nina hanya ingin menghangatkan suasana saja.
Zain langsung memeluk istrinya yang sedang hamil itu, “Maafkan aku atas kebodohanku waktu itu, Aynina. Aku menyesal pernah bersikap kasar kepadamu”
“Sudahlah! Itu semua sudah berlalu” Nina mengusap punggung Zain. Disela-sela pelukan mereka, Nina mengingat sesuatu, “Dan sekarang aku berhasil mengerjai mu!!”
Zain melepas pelukannya melihat bingung istrinya yang tertawa terbahak-bahak.
“Kau pasti takut jika itu pelakor kan” Nina sudah tidak kuat tertawa hingga memegang perutnya dan menutup mulutnya dengan satu tangan.
“Kau nakal ya! Aku sampai kau diamkan karena bunga ini dan ternyata kau mengerjaimu… nakal” Zain membalas dengan menggelitik tubuh Nina dengan jari-jarinya.
Tidak henti-hentinya Nina tertawa yang menggeliat geli merasakan gelitikan sang suami. Ia sudah berusaha menepis tapi pria itu tidak berhenti melancarkan aksinya sampai…
__ADS_1
“Aw aw aw” pekik Nina merasa perutnya nyeri sekali.
“Ada apa?” Zain panik melihat wajah istrinya yang berubah pucat dengan keringat dingin tiba-tiba keluar.
“Aduh sakit…”
“Ayo kita ke rumah sakit” ucap Zain menuntun Nina pergi menuju parkiran mobilnya.
_______
Rupanya, Nina sudah waktunya untuk melahirkan. Wanita itu berbaring dengan peluh keringat berusaha mengenjan mengeluarkan bayinya, ditemani sang suami yang terus setia disebelah menggenggam erat tangan Nina, seperti menyalurkan semua kekuatan untuk sang wanita yang sudah mempertaruhkan nyawa untuk bayinya.
Wanita itu berulang kali menarik nafas lalu membuangnya persis seperti arahan dokter tersebut. Kedua matanya menutup mengumpulkan kekuatannya dan kembali mengenjan. Berjam-jam setelah kekuatan Nina hampir habis akhirnya ada sesuatu kelegaan.
Tak lama setelah itu terdengarlah suara bayi baru lahir dalam ruangan ini yang membuat tangis Aynina luruh membasahi telinga.
“Alhamdulillah, bayinya laki-laki dan sehat” ucap dokter disela-sela ciuman Zain di seluruh wajah istrinya.
“Alhamdulillah terimakasih sayang” bisik Zain membuat Nina tersenyum lemas pasca selesai melahirkan.
Kabar kelahiran putra pertama seorang Ankazain menjadi buah bibir dikalangan masyarakat. Semua masyarakat yang mendengar kabar itu turut berbahagia, bahkan beberapa kolega luar negeri mengirimkan karangan bunga ke kantor Zain bertuliskan.
‘CONGRATULATIONS ON THE BIRTH OF YOUR FIRST BABY’ (Selamat untuk kelahiran bayi pertamamu)
Selain karangan bunga ada juga yang mengirimkan hadiah baju-baju bayi dengan merek ternama kelas atas, bahkan mereka langsung menjadikan bayi mereka sebagai brand ambassador tersebut. Memang menggemparkan, mengingat jika bayi mereka adalah cucu pertama laki-laki Abrizal Darius. Tentu saja hadiahnya tidaklah main-main.
Setelah kelahiran putra pertama Zain, disusul putra pertama Alzam yang keluar. Hal itu juga menjadi buah bibir dikalangan masyarakat, namun tidak seperti putra Zain. Semua tidak menjadi masalah untuk Alzam, asal bayi dan istrinya selamat.
______
6 tahun berlalu
Dua pasangan keluarga Darius sedang sibuk mencari anaknya yang hilang entah kemana. Mereka ijin main dihalaman rumah kediaman Darius, namun saat dicari mereka tidak menemukannya.
“Sayangku” seru Nina mencari-cari putra nakalnya yang membawa kabur sepupunya, putra Alzam dan Nensi.
“Sayang! Kau sedang hamil… duduklah saja” Zain menuntun istrinya yang sedang hamil 5 bulan itu ke pendopo namun Nina menolak.
“Shuttt” Nina menempelkan jari telunjuknya di depan bibir dan berbisik, “Aku sudah menemukan putra nakal mu itu”
__ADS_1
“Oh iya?” tanya Zain dan Nina mengangguk.
Lantas Nina mengendap-endap mendekati semak-semak dibelakang pendopo terebut. Disela-sela itu Nensi dan Alzam pun datang.
Nina mencium bau harum parfum anaknya dan…
“Dorr”
“Aaaaa” dua anak nakal itu langsung keluar berlarian kabur saat Nina berusaha ingin menangkapnya.
“Kena kau” Nina menahan lengan putranya yang berniat ingin kabur, “Kau mau kemana, Zayyan Ankazain Darius?”
“Yah aku ketangkap” Zay merutuki dirinya sendiri serta membuang nafas kesal.
“Zay tidak pamit dulu dengan umi atau abi jika ingin bermain? Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kalian?” tanya Nina mensejajarkan tingginya dengan Zay.
“Abi pernah bilang. Jika kau yakin dengan keputusanmu, maka kau tidak perlu meminta persetujuan orang lain. Zay kan hanya yakin bisa mengajak pergi Wiliam untuk bermain, lagipula kakek pernah bilang aku harus menjadi pemimpin yang tegas dan berani mengambil keputusan” jawab Zay polos.
Zain tertawa mendekat lalu mengusap kepala anaknya, “Tidak salah ini, bibit ku”
“Hubbyyy” rengek Aynina kesal memukul bahu suaminya lalu melihat kearah Alzam dan Nensi yang juga memarahi Wiliam anaknya, “Maaf ya, karena Zay membuat kalian khawatir”
“Ahhh itu tidak jadi masalah! Anakmu itu memang pintar. Sepertinya kau harus belajar darinya” gurau Nensi menimbulkan gelak tawa mereka.
Nina mendengus kesal dan mengusap perutnya, “Semoga anak keduaku bisa membelaku setelah lahir nanti”
“Zay juga membela umi”
“Benarkah?”
“Iya” lirih Zay memeluk Nina dengan penuh sayang lalu dibalas Nina serta diikuti Zain yang juga memeluk keluarga kecilnya ini.
Sebuah kebahagiaan yang lengkap dari tuhan semesta alam untuk mereka. Ankazain yang mengharapkan memiliki keluarga kecil lengkap dengan anak itu akhirnya terwujud bersama dengan Aynina yang merupakan istri keduanya.
Dengan kesabaran yang ia miliki mampu mendobrak pertahanan Zain yang dingin dan kasar menjadi hangat dan penyayang. Dengan kesabarannya pula mampu menumbuhkan rasa cinta dari Ankazain yang hilang dan Nina yang membutuhkan.
Kuncinya hanya sabar!
TAMAT
__ADS_1