Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Jadilah Dirimu Sendiri


__ADS_3

Nina sedang murung saat ini. Ia akan mengabaikan suaminya itu, bahkan ia akan mendiamkan pria yang sudah takut ketularan ruam yang dimiliki.


Gadis ini melihat suaminya masih berdiri diambang pintu. Style tuxedo dan gaya seperti biasa, dingin dan arogan. Apa yang pria itu tunggu disana, sementara Nina tidak peduli dengan membuang muka.


“Apa dia mengabaikan ku?” tanya Zain pada dirinya sendiri. Ia merasa bingung dengan sikap istrinya. Pasalnya gadis ini selalu memberikannya senyuman, bahkan saat Zain tidak meminta.


Gadis muda yang berani membuang muka itu diberi isyarat tangan oleh Zain seperti memanggil. Nina menghentakkan satu kakinya lalu datang.


“Ada apa?” tanya Nina kepada Zain yang diam memberikan telapak tangannya minta disalami.


Nina yang paham segera meraih kecil jari-jari Zain dan mencium telapaknya.


“Aku ada---”


“Baiklah-baiklah selamat tinggal” Nina melenggang pergi setelah melambaikan satu tangannya dan berlari mendatangi Maya lagi.


“Meeting” lirih Zain meneruskan kalimatnya yang terpotong, walau Nina sudah tidak dihadapannya lagi.


Kedua matanya mengerjap bingung memikirkan kesalahannya. Namun ia juga merasa malu karena telah diabaikan gadis muda tersebut. Terlebih…


“Tuan Zain sedang diabaikan”


“Iya, dia abaikan”


Gosip pelayan itu terdengar lirih di telinga Zain. Ia tidak boleh diam saja dan harus memberikan senjata utamanya.


Tap


Mereka semua langsung berlarian takut mendapat mata menyeramkan dari Zain. Habis mereka jika terus disana.


“Berani sekali mereka bergosip dibelakang ku?” desis Zain dengan kedua tangan didalam saku celana.


“Bergosip?” sahut Bian bersandar di pintu dapur dengan kedua tangan bersidekap melihat Zain yang galak. “Selagi ada objek untuk dapat dijadikan bahan gosip, pasti mereka akan melakukannya. Katakan kepadaku siapa objek itu, kau?”


“Kau bukan jelangkung yang datang tiba-tiba” hina Zain kepada Bian.


“Oh membosankan” Bian mengikuti Zain hingga berani merangkul bahunya, “Aku berangkat bareng dirimu, ya”


“Dimana motor yang kau beli beberapa hari yang lalu?”


“Kekasihku meminjamnya. Dia bilang akan mengembalikannya minggu ini” kata Bian santai meraih buah apel dan memakannya.


Namun Zain langsung menghentikan langkahnya. Tak lama kepala Bian di pukul dengan tangan dan rintihan tercipta di wajahnya.


“Aduh kakak sakit”


“Bukankah kalian sudah putus dengan kekasihmu yang matre itu?” tanya Zain dengan penuh emosi. Pria ini selalu dibuat geram dengan adiknya yang bodoh dalam memilih pasangan.

__ADS_1


“Ini yang baru,” jawab Bian memelas, “Aku meminjamkan motorku karena mobilnya ada di bengkel”


“Dia tidak punya malu sampai meminjam motor kekasihnya? Kekasih baru lagi!!” maki Zain tidak habis pikir. Pacar baru seharusnya pura-pura malu, bukannya malah meminjam motor kekasihnya. Dasar pacar Bian!.


“Sebenarnya, kami belum pacaran kak”


“Lalu?”


“Tapi aku menyukainya” jawab Bian, “Aku ingin mengambil hatinya karena dia sangat susah sekali diambil hati, Dia selalu menganggap aku anak kecil yang membutuhkan usapan kepala karena bersikap baik”


“Aku pusing dengan kisah cintamu” kata Zain memijat dahinya, “Urus urusanmu sendiri. Aku da meeting”


“Kak aku nebeng ya?” pinta Bian mengekori Zain.


“Naik angkot sana”


Bian membuang nafasnya kesal. Tiba-tiba atensinya berganti melihat kakak ke-empat yang sedang menuruni tangga dengan tergesa-gesa.


“Kak Alzam aku nebeng ya?” kata Bian mengekori Alzam.


“Dimana motor mu?” tanya Alzam bergegas keluar.


“Dibawa kekasihku” jawab Bian dan Alzam hanya tersenyum. “Aku boleh nebeng, kan?”


“Iya”


Jika dengan Alzam ia selalu diperhatikan dan pria itu selalu paham. Bian menyesal meminta bantuan dengan Zain.


________


Kembali ke Nina.


Karena saat ini Nina libur, ia menyempatkan hari liburnya untuk membantu Maya memetic sayuran. Ia sudah memakai caping dan baju panjang.


“Nina, kau akan gatal-gatal. Sana masuk saja! Lagian aku sudah biasa memetik sayuran seperti ini. tidak membutuhkan bantuan juga tidak apa-apa” kata Maya mencoba membujuk Nina.


“Ih kakak ini cerewet ya” Nina merangkul bahu Maya seperti seorang teman, “Selagi Nina bisa bantu. Apapun akan Nina lakukan untuk membantu kakak”


“Nanti kalau gatal-gatal terus ada ruam, nanti Tuan Zain tidak mau dekat-dekat denganmu”


Betul juga. Tapi memang apa masalahnya, dari dulu pria itu memang tidak mau Nina dekat dengannya. Lalu apa bedanya sekarang?.


“Dulu waktu Nina pertama kali bertemu dengan kakak, dinginnya minta ampun. Sekarang perhatiannya melebihi suami dingin itu”


Maya tersenyum geli, “Memang Tuan Zain pernah perhatian padamu?”


Nina sering curhat dengan Maya tentang hubungannya dengan Zain. Jadi wanita ini tahu bagaimana sikap Zain menghadapi Nina.

__ADS_1


“Hem pernah, Tuan Zain menolongku saat aku di culik waktu itu”


Maya membalikan tubuhnya melihat Nina, “Lalu apa yang dia katakan? Apa dia bertanya mengenai keadaanmu?”


Ekspresi wajah Nina seketika berubah. Boro-boro bertanya kondisi, pria itu justru malah menghinanya. Mengingat itu saja membuat Nina merasa malu dan kesal.


“Dia berkata apa?”


“Tutup mulutmu! Bau” kata Nina dengan polos nyaris membuat Maya guling-guling di tanah karena lucu.


Nina hanya melihat datar sahabatnya ini. Apa yang membuatnya tertawa terpingkal-pingkal seperti itu, padahal hatinya sedang sedih karena makian itu.


“Tuan Zain bilang begitu?” tanya Maya dan Nina mengangguk polos, “Berarti kau harus rajin gosok gigi. Aku selalu mengatakan kepadamu untuk menggosok gigi sebelum tidur kan”


Nina mengekori Maya yang memetik cabai, “Aku selalu menggosok gigi! Justru dia yang baunya tidak enak. Dia kan dingin dan jarang bicara. Orang yang sering diam biasanya bau mulutnya tidak enak! Aku jadi kasian dengan Kak Ebil yang terus bersamanya”


“Mungkin Ebil sudah biasa dan bisa menahannya” Maya menahan tawa saat melirik Nina, “Kau bau mulut dan Tuan Zain juga. Kalian pasangan yang cocok”


“Ihhh” Nina mencubit perut Maya dengan keras.


“Awww sakit” Maya merintih mengusap bekas cubitan Nina.


Keduanya kembali memanen cabai di kebun. Mereka harus selesai memanen beberapa tanaman cabai, barulah memetic brokoli.


Dengan telaten Nina memetiknya. Tiba-tiba ia mengingat sesuatu, “Kak”


“Hm”


“Apa mbak Anita itu juga sering melakukan ini? Berkebun” tanya Nina kepada Maya yang hanya melihat lalu kembali memetic cabai.


“Nyonya Anita tidak pernah menginjakkan kakinya di kebun. Mungkin dia takut kulitnya ruam dan kakinya kapalan. Hal itu membuatnya takut dan memilih didalam rumah” jawab Maya membuat Nina membulatkan mata.


“Lalu kenapa aku malah disini? Nanti kaki ku kapalan?” Nina memeriksa kakinya, “Tapi aku tidak bisa meninggalkan dirimu”


Maya hanya tersenyum kecil.


Entah mengapa Nina mencari-cari topik yang ada Anita didalamnya, “Kak, Nina pernah berkunjung ke pondok Ustadz syahbana sama Tuan Zain loh. Para murid disana juga mengenal mbak Anita”


“Pertemuan mereka memang disana” sahut Maya.


Mulut Nina membulat sempurna, “Oh benarkah? Mbak Anita itu katanya juga sering masak di pondok Ustadz Syahbana loh”


Nina terus menceritakan hal-hal yang terdapat Anita didalamnya dengan penuh semangat, “Katanya dia suka masak kangkung buat Tuan Zain sama para santri. Jadi Nina waktu itu memilih masak kangkung dan Tuan Zain langsung makan, walau sehabis tahu wajahnya langsung berubah. Apa mbak Anita itu---”


“Nina” Maya yang sedari tadi mendengar merasa amat lelah. Ia tahu jika Nina sedang iri dengan Anita. “Kenapa kau terus bercerita keunggulan Nyonya Anita. Nyonya Anita ya Nyonya Anita, dirimu ya dirimu… Jadilah dirimu sendiri. Kenapa kau malah ingin menjadi Nyonya Anita yang sudah tiada mendahului suaminya?”


Deg

__ADS_1


__ADS_2