Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Dia Menghindar


__ADS_3

"Lalu bagaimana dengan gadis itu, Devan?" sang ayah penasaran dengan keadaan gadis itu setelah mengetahui semuanya dimanipulasi. Takutnya gadis itu menuntut putranya.


“Entah, dia dibawa sama om-om!! Aku yakin usianya jauh lebih tua dari gadis itu dan aku yakin dia menjual tubuhnya dengan pria itu, makanya wajahnya semakin glowing! Cih, gadis itu sok polos dengan menolak ku” maki Devan kesal dengan merebahkan dirinya diatas sofa.


Aditama menyipitkan kedua matanya. Ia sedang mengingat-ingat sesuatu yang begitu penting, membuat sang istri merasa heran.


“Ada apa, pah?”


“Bukankah istri Ankazain satu kampus dengan Devan? Dia juga menjadi mahasiswa baru disana” tebak Aditama.


Mata Cristina melebar menatap putranya yang hanya diam rebahan santai dengan kaki diangkat tidak ada sopan. Cristina segera memukul kaki Devan.


“Katakan kepada mamah, istri Ankazain putra ketiga keluarga Darius itu satu kampus denganmu?” Cristina menarik kursi mendekati putranya.


“Lah kok tanya Devan? Mana Devan tahu!! Lagian, dia pria yang sudah berumur! Masak istrinya baru masuk kuliah...” sangkal Devan tidak percaya.


“Berumur-umur gitu ganteng sayang!! kamu nggak pernah lihat wajahnya kan… keturunan arab memang luar biasa. Tubuhnya tinggi besar” puji Cristina malah membangga-banggakan suami orang.


"Tinggi, besar... genderuwo maksudnya?" sahut Devan hanya asal dan Cristina kembali memukul.


"Jangan ngawur kamu! Ankazain itu sangat-sangat berwibawa... kalian tahu tidak, ada komunitas penggemar Ankazain. Mamah masuk ke komunitas itu dan setiap harinya mengirimkan beberapa hadiah ke kantornya" kata Cristina sangat bangga.


Devan dan Aditama saling pandang dan memilih membiarkan. Lagian, mereka tahu seorang Ankazain tidak akan mau dengan Cristina jika wanita ini menggoda sekalipun. Apa yang perlu ditakutkan!.


“Dia memiliki hidung yang besar, tidak kayak papahmu” sindir Cristina dan Aditama tidak peduli.


Nb : Maksud sindiran itu, seseorang yang memiliki hidung besar biasanya memiliki alat vital yang besar pula dan begitu juga sebaliknya🙏


“Devan apa kau pernah bertemu dengan istri Ankazain?” tanya Aditama sekali lagi dan berhasil membuat Devan frustasi.


“Pah, Ankazain seperti apa aku aja nggak tahu apalagi istrinya” jawab Devan membuang muka malas.


Memang Ankazain terkenal di dunia bisnis saja dan untuk kalangan luar bisnis, mereka hanya akan melihat dilayar tv, itupun jika mereka mau melihatnya. Kebetulan Devan tidak suka menonton televisi dan tidak mau tahu para pengusaha di Indonesia.


“Namanya Aynina"


Deg


Mata Devan yang sempat terkatup itu seketika membuka. Nama gadis yang disebutkan oleh Aditama sangat mirip dengan nama gadis yang hampir ia perkosa, lebih tepatnya sang mantan kekasih.


Devan langsung beranjak dari tidurnya, “Si-siapa tadi?”

__ADS_1


“Aynina Mu--”


“Munada Shofa” potong Devan menyebutkan nama lengkap Nina dan Aditama bergegas mendekat. Ia yakin jika putranya ini kenal dengan gadis itu.


“Kau kenal?”


“Aku kenal… dia gadis yang hampir aku perkosa tadi” jujur Devan dengan tubuh yang membeku. Ia baru tahu jika Nina telah menikah dengan seorang pengusaha kaya dan jauh lebih tua darinya. Devan pun langsung tertawa jika mengingatnya.


“Pah Mah, Devan mau ke kamar!! Gerah” katanya bohong.


“Iya sayang” jawab Cristina tersenyum.


Devan pun segera naik tangga menuju kamar tidurnya, namun entah mengapa wajahnya begitu berbunga-bunga.


“Waw… gadis itu!” Aditama pun juga terkikik.


“Papah udah pernah lihat ya, dia cantik?, bodynya?” sepertinya Cristina kurang terima jika pria arab idolanya telah menikahi gadis muda. “Sayang sekali dia sudah tidak duda lagi”


Dretttt


Ponsel Aditama berdering keras. Ia pun segera memeriksa nama di layar ponselnya. No tak bernama yang selalu bersarang di kontak Aditama.


“Mah, papah angkat telpon dulu ya”


"Aku harus memikirkan hadiah untuk Ankazain besok pagi... aku yakin dia akan memajang hadiah ku" katanya begitu percaya diri.


_______


Kembali ke Zain yang masih mengangkat tubuh istrinya bagai karung tanpa beban, terlihat enteng. Ia tidak merasa terganggu mendapat pukulan Nina, yang ia fokuskan hanya membawa kembali istri kecilnya.


"Astaga! Wajahku seperti terjungkal tolong turunkan, Tuan" mohon Nina saat tubuhnya dibawa begitu saja. Ia sangat takut jika tiba-tiba Zain melepas tangannya. Bisa-bisa dia dan tanah saling berciuman nyata.


"Diam"


Setelah melepas kata dingin itu Zain tidak akan menurunkan tubuh Nina dari pundak kekarnya. Biarkan saja dan rasakan sensasinya.


Kini Zain baru sadar jika disana banyak sekali pemuda-pemudi memperhatikan mereka, namun ia tidak peduli. Ini urusannya, dan mereka tidak berhak ikut campur.


Akhirnya pria dewasa itu menurunkan Nina setelah lama berjalan menuju mobil Ferrari yang setia parkir disana.


"Masuk!" Zain menekan bahu si gadis masuk kedalam mobil yang sudah ia bukakan pintu. "Jangan berlari lagi!! Memalukan"

__ADS_1


Wajah Nina masam dan matanya tajam mengikuti arah pria itu berjalan memasuki kendaraan. Memiliki kesempatan...


Whus


"Heiii" pekik Zain melangkah lebar menahan tangan Nina yang baru berlari beberapa langkah. Zain cepat sekali menangkapnya.


"Masuk saya bilang, kamu ini keras kepala sekali"


"Aku tidak mau masuk kedalam mobil... kau selalu menggunakan nada tinggi dan membuatku takut..." kata Nina mencoba melepas genggaman tangan Zain.


Sejenak Zain diam.


"Tidak!" kata Zain membawa gadis itu kembali ke mobil. "Masuk jika kau tidak ingin mendengarku menggunakan nada tinggi"


Nina membuang nafasnya dan mengikuti permintaan Zain.


Beberapa menit berlalu.


Kepala Nina menyembul keluar dari kaca mobil saat gerbang kediaman Darius yang seharusnya memiliki ukiran kaligrafi, kini berubah. Halaman luas yang seharusnya dipenuhi dengan tanaman-tanaman hijau, kini berubah menjadi orang berseragam putih berkursi roda.


Yakin jika ini bukan rumah mertuanya.


"Mengapa anda membawa saya ke rumah sakit?" Nina menyerong melihat Zain disebelahnya.


"Kau tidak sadar bibirmu terluka? Kau tidak boleh memperlihatkan luka itu didepan Ibu... Keluar sekarang!!" kata Zain dingin keluar dari mobilnya.


'Iya juga ya'


Nina sadar jika ujung bibirnya masih terluka dan harus diobati. Betul kata Zain jika mertuanya tidak boleh melihat luka ini, bisa khawatir nanti.


Saat ini Nina bersama dengan Zain ada di ruangan seorang Dokter. Mereka menunggu mendapat giliran pengobatan.


"Selamat siang!! Maaf menunggu lam---" kata Dokter yang baru saja melihat satu pasangan yang begitu ia kenal.


"Mas Alzam?" mata Nina membola melihat pria yang ia hindari pagi ini. Namun mereka malah bertemu disatu ruangan.


Sejenak Nina sadar jika ini di rumah sakit dan Alzam seorang Dokter, tentu ia akan bertemu dengan pria ini.


"Apa yang terjadi kepadamu sampai datang ke rumah sakit, Nin?" tanya Alzam begitu khawatir.


Lagi-lagi Nina menjauhkan diri karena saat ini ada suaminya yang sedang memantau mereka, bahkan ia pun tidak membalas apa-apa. Ia tidak mau membuat keributan antara dua saudara ini.

__ADS_1


Alzam tahu Nina sedang menghindar darinya. 'Sudah kuduga jika dia akan menghindar dariku setelah kejadian itu'


__ADS_2