Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Bersin Didepan Zain


__ADS_3

Pagi ini seluruh anggota keluarga Darius sedang menyantap sarapan di meja makan. Setelah kejadian semalam mata Alzam tidak bisa lepas dari wajah imut Nina.


Nina terlihat cantik memakai seragam pekerja berwarna dominan hitam dan garis-garis putih di lengan pendeknya. Rambutnya di cepol keatas, menambah keimutan gadis ini.


Bibir Nina menyungging melirik wajah Alzam saat pria itu tersenyum kearahnya saat Nina menghidangkan makanan di piring Alzam. Dia berdiri diantara Alzam dan Zain.


"Cukup, Nina. Terimakasih"


Nina hanya mengangguk hormat kepada Alzam dan berganti memberikan lauk di piring pria dingin bergelar duda di keluarga Darius.


"Anda mau lebih, Tuan?" tanya Nina namun tidak Zain jawab. Padahal suaranya sudah dilembutkan dengan maksud hormat supaya Zain mau menjawabnya.


Zain tidak bersuara, bahkan ia tidak memberikan isyarat tangan kepada Nina. Entah seperti apa mau pria duda ini Nina tidak mengerti.


Seluruh anggota melihat kearah Nina dan Zain bergantian. Mereka hanya diam namun Alzam memilih bersuara.


"Mungkin dia sudah merasa cukup, kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu Nina"


"Baik, Tuan"


Nina mengangguk lalu mundur secara perlahan dan pamit undur diri.


Nina kembali ke dapur dengan perasaan yang amat gelisah. Jantungnya berdetak sangat kencang dan nafasnya tidak beraturan. Ia bersandar di meja bar seraya mengusap dadanya Bayangan wajah dingin Zain dapat membunuhnya.


Bagaimana bisa dia membunuh tanpa melihat targetnya!. Mengerikan.


"Jantungku, astaga"


"Kau kenapa, Nin?" Maya yang baru saja selesai memetik sayuran langsung penasaran saat melihat perilaku Nina, terlebih melihat keringat dingin gadis itu.


"Tuan Zain itu, apa dia orangnya galak? Astaga aku sampai mau jantungan rasanya"


"Tidak. Biasa saja. Kenapa?" jawab Maya acuh sambil mengambil satu botol air minum di lemari es dan meminumnya.


"Tadi aku baru saja menghidangkan lauk di piringnnya, tapi dia hanya diam. Aku pikir dia akan marah padaku tapi justru malah mengabaikan aku" adu Nina memilih duduk di kursi bar untuk mengatur nafasnya kembali.


"Dia memang begitu. Tidak usah dipikirkan!" jawab Maya dengan nada santai.


Namun Nina masih bingung mengapa pria itu sangat dingin sekali. Hampir telinganya tidak pernah mendengar suara pria itu. Sangat menjengkelkan.

__ADS_1


Nina memilih membiarkan dan mengupas kacang tanah didalam wadah. Ia melepas isi pikirannya dari Zain.


Beberapa jam kemudian salah satu rekannya datang.


"Nin, non Neha manggil kamu tuh. Dia ada di kolam renang"


"Eh kenapa manggil aku?" tanya Nina menoleh melihat rekannya yang baru saja membuang sampah ke halaman belakang.


"Mana aku tahu. Kamu kayaknya mau diajak main deh. Sana pergi cepetan atau dia akan masam nanti"


Nina tertawa dan beranjak dari duduknya, "Baiklah-baiklah"


______


"Non Neha"


Seru Nina saking antusias nya di panggil gadis kecil yang sedang berenang di dalam kolam renang bersama dengan salah satu pamannya.


Nina berlari kecil namun tiba-tiba terhenti saat melihat wajah pria dewasa yang berada di satu kolam renang dengan Neha. Tubuh Nina langsung membeku saat melihat Zain renang bertelanjang dada dan bermain air dengan keponakannya.


"Kak Nina ayo masuk ke dalam kolam renang kak, Neha ingin main sama kakak" ajak Neha di gendongan Zain.


"Kak Nina ayooo"


"Hemm, ma-maaf ya non... kak Nina nggak bisa renang" Nina menggelengkan kepalanya menolak ajakan Nona mudanya. Ia sungguh tidak mau dekat dengan pria dewasa yang dingin itu. Membayangkan tatapannya saja sudah membuatnya takut.


"Kak ayooooo. Paman bisa renang kok, dia mau ngajarin kak Nina renang. Iya kan paman?" polos Neha memohon kepada Zain yang sedari tadi hanya diam tanpa ada ekspresi apa-apa. Zain benar-benar tidak suka.


Nina hanya tersenyum kecut melihat respon pria itu. Ia yakin jika didalam hati Zain, dia menolak keras mengajari Nina. Lagian Nina juga tidak mau. Huh.


"Gak usah deh non, saya disini aja"


"Ya udah deh"


Akhirnya Neha membiarkan Nina lolos tidak berenang. Nina pun duduk di kursi samping kolam renang seraya memeluk handuk untuk nona mudanya nanti.


Ia ikut bahagia jika Neha bahagia. Gadis kecil itu tertawa girang bermain air dengan pamannya yang dingin. Sejenak Nina marasa terkejut melihat Zain tertawa bersama Neha.


Mustahil pria itu menampakan tawanya. Mungkin hanya saat bersama Neha karena pria itu langsung kembali dingin saat menampaki tatapan Nina tertuju kearahnya. Ekspresi Nina juga langsung berubah.

__ADS_1


Melihat ekspresi Nina yang berubah membuat pria dewasa yang tidak kalah tampan merasa bingung. Ia terus melihat wajah imut Nina diatas balkon sana. Alzam Darius.


Wajah Nina begitu imut dengan pipi agak cabi dan bibir tipis berisi. Matanya yang agak bulat membuat dirinya bagai orang india.


Beberapa menit berlalu paman dan keponakan itu memutuskan untuk naik ke permukaan. Zain sudah merasa jika Neha kedinginan karena gadis itu langsung berlari mendatangi Nina yang membawa handuk hello Kitty untuknya.


"Pasti sangat dingin" Nina membalut tubuh mungil gadis didepannya.


Sementara Zain meraih bathrobe yang sudah ada di kursi samping tempat duduk Nina. Ia pakai dan meminum teh yang ada di atas meja. Tadi ada pelayan datang untuk Zain.


Beberapa detik berlalu Nina merasa ada yang menggelitik di rongga hidungnya. Aneh, Neha yang renang kenapa dia yang tidak enak badan.


"Haccccih" Nina menolehkan wajahnya kearah lain supaya tidak mengenai Neha yang tertawa didepannya. Nina juga balas tertawa.


Sementara pria yang ada disamping Nina! Zain nampak menghela nafasnya kasar. Perilaku Nina tidak bisa dikatakan benar, mengingat ada anak kecil didekatnya. Nina tidak boleh bersin tanpa mengucap apa-apa.


Tidak! Zain tidak bisa membiarkan.


"Alhamdulillah" suara bariton Zain terdengar menepis tawa Nina dan Neha. Juga menepis ekspresi tertawa Nina saat tatapan mata mengerikan itu muncul didepannya. Ini tatapan pertama dia dengan duda dingin itu. Namun ia tidak tahan dan langsung menoleh kearah lain.


Nina merasa jika Zain sedang menyindirnya. Hal itu membuat Nina menelan salivanya kasar.


"Alhamdulillah"


"Jangan lupa! Neha bisa meniru perilaku burukmu nanti" suara bariton dingin Zain kembali terdengar, membuat Nina menyesal jika tadi ia ingin mendengar suaranya.


Nina hanya menundukkan wajahnya kebawah. Ia juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sumpah dia malu karena posisinya Neha ada disitu. Seharusnya jika ingin mengingatkan jangan di depan orang. Menjengkelkan.


Dibalik itu ada dua mata hitam wanita yang mengintai keduanya dibalik tirai kamar. Wanita setengah baya itu terlihat menyeringai bahagia melihat putranya yang dingin itu berbicara beberapa kalimat kepada wanita. Karena Zain tidak pernah berbicara dengan wanita kecuali dengan orang-orang terdekatnya saja. Hal itu terjadi setelah kematian istrinya.


"Begitu mengejutkan"


Zelofia segera menutup tirainya kembali dan bergegas keluar dari kamar. Rupanya dalam waktu yang bersamaan Alzam bertemu dengan sang bunda.


"Alzam ingin bicara dengan bunda"


"Bunda juga ingin bicara denganmu"


Mereka berdua saling tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2