![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Namun sayangnya, pria itu telah datang terlambat hingga sekarang status Nina sudah berbeda. Ia akan mempertahankan statusnya walau Zain belum memberikan hatinya.
______
Kembali ke Alzam. Setelah merasakan penolakan Nina yang begitu menyayat hati, ia terduduk di kursi kolam renang dengan pandangan yang kosong.
‘Bukan aku terlambat untuk meminangmu. Aku ingin sebelum kau menikah, ada sebuah prestasi yang membuatmu bangga. Namun ternyata hal itu justru membuat diriku begitu menyesal’ monolog Alzam mengusap wajahnya dengan kasar.
Namun tiba-tiba atensinya berganti melihat seorang wanita baya berdiri tepat disampingnya. Wanita itu terlihat menahan air mata dan tumpah saat Alzam menyadari itu.
“Bunda” Alzam membantu ibunya untuk duduk bersama. “Bunda kenapa nangis?”
Zelofia menggeleng lemas, “Maafkan bunda”
Alzam semakin bingung melihat ibunya menangis menciumi punggung tangannya. Ia merasa risi.
“Bun, ada apa dengan bunda? Kok nangis?” Alzam mengusap lelehan bening dari pelupuk mata.
“Bunda terlalu memperhatikan kebahagiaan Zain hingga melupakan kebahagiaan putra bunda yang lain. Maafkan Bunda karena mengabaikan dirimu, Alzam” Zelofia mengusap pipi Alzam sampai menciumnya dengan sayang.
Namun Alzam masih kurang paham. “Ada apa, Bunda?”
“Sejak kapan kau menyukai Nina?”
Alzam termangu.
“Bun---”
“Jangan berbohong dengan bundamu sayang. Tolong katakan dengan jujur!” ucap Zelofia masih dengan keadaan menangis.
“Saat pertama kali kami bertemu. Alzam sudah menjatuhkan rasa dengan kepolosan wajahnya! Hingga Alzam berniat untuk membuat Nina bahagia dengan memiliki masa depan yang baik… Alzam mendaftarkan Nina di perguruan tinggi dan saat usianya sudah siap untuk menikah. Niat Alzam ingin melamarnya. Namun, rupanya putra bunda kalah langkah” lirih Alzam dikalimat terakhirnya.
“Maafkan bunda nak… maafkan bunda… jika bunda tahu saat itu kau menyukainya, maka bunda tidak akan menjodohkan Nina dengan kakakmu!!” Zelofia memeluk serta mengusap puncak kepala putranya, “Tolong kau ikllaskan Nina…”
Alzam melepas pelukannya, “Saat Alzam dengar Nina setuju untuk menikah dengan kak Zain. Alzam sudah ikhlas dengan hal itu. Namun jika kak Zain tidak memiliki rasa dan dia justru malah membuat Nina menderita. Aku tidak akan terima”
“Bunda tahu! Tapi Nina sudah memutuskan jika dia tetap ingin bertahan dengan statusnya sebagai istri Zain. Kau dengar sendiri tadi” kata Zelofia agak menuntut.
“Jadi bunda tadi dengar obrolan Alzam dan Nina?” tanya Alzam dan Zelofia segera mengangguk. “Aku menerima keputusan Nina. Tapi aku ingin mendengar pengakuan kak Zain sendiri. Aku ingin dengar dari mulut pria itu. Keputusanku tergantung keputusannya”
__ADS_1
“Jadi bunda harus panggil Zain, Nina dan juga dirimu ke ruangan ayah?”
“Jangan panggil Nina bun… cukup kak Zain saja” jawab Alzam setelah mempertimbangkannya. Ia tidak mau membuat Nina semakin kecewa.
“Baik”
________
Malam harinya Zain benar-benar dipanggil ke ruangan ayah Abrizal untuk meluruskan hubungannya dengan sang istri. Bukan hanya Zain saja, Alzam dan bunda Zelofia juga datang.
Zain yang merasa murka karena harus dipanggil hanya untuk mengurusi hubungan keluarga yang menurutnya berstatus pribadi.
Cklek
“Assalamualaikum” Zain mencium punggung tangan Abrizal dan Zelofia, “Maaf ayah dan ibu… menurut Zain hal ini kurang pribadi. Ini hubungan Zain dengan istri Zain. Seharusnya, Kamilah yang harus memperbaiki. Orang luar, tidak bisa ikut campur”
Alzam mengalihkan pandangannya saat mendapati tatapan tajam dari kakaknya itu.
“Zain duduklah dulu. Ayah akan menjelaskan semuanya” kata zelofia mendinginkan putranya dengan duduk di sofa.
Zain yang masih murka hanya diam duduk untuk menghargai.
Bukan apa-apa tapi ia sendiri juga belum tahu apa yang ada dalam hatinya. Jika ia mengatakan tidak, maka Alzam akan mengambil Nina darinya.
“Bagaimana perasaan Nina?”
“Jangan tanya perasaan Nina!! Dia tetap setia dengan statusnya menjadi istrimu bahkan saat kau menyakitinya. Kau masih bisa tanya perasaannya?” sentak Alzam yang sudah begitu marah mengetahui kakaknya ini malah balik bertanya.
Tentu itu juga memancing amarah Zain lagi. “Aku tanya dengan ayah”
“Ayah! Lihat kan… secara tidak langsung. Kak Zain sudah menjawab jika dia tidak memiliki rasa dengan Nina. Jadi aku tidak memiliki masalah jika harus merebutnya”
“Dia adalah istriku!!! Alzam!!!”
“Jaga perilakumu Zain!” bantah Abrizal juga meninggikan nada bicaranya saat putranya itu sudah menumpahkan lahar amarah. “Duduk!”
“Duduk sayang! Duduklah dulu… hargai ayahmu” bisik Zelofia kembali mendinginkan hati putranya.
Inilah alasan Zain enggan untuk datang di ruangan ayahnya. Ia tidak bisa leluasa berperilaku. Mau tidak mau, Zain harus kembali duduk.
__ADS_1
“Kenapa kau takut jika adikmu memiliki niat untuk mengambil istrimu dan membahagiakannya. Toh kau tidak menyukainya!” kata Abrizal melihat wajah kedua putranya bergantian. “Alzam, menikahi orang yang kita cintai itu adalah suatu keberuntungan. Namun Zain, mencintai orang yang kita nikahi itu adalah suatu kewajiban”
Keduanya diam mendengarkan.
“Zain, bagaimana perasaanmu sekarang?” tanya Abrizal lagi namun anaknya itu belum juga menjawab, “Baiklah, ayah bisa menilai jika kau tidak memiliki rasa dengan Nina, namun apa kau bersedia menerima gadis itu sebagai istrimu? Setidaknya, berikan status yang jelas untuk gadis itu”
Zain masih saja diam. Jujur saja ia merasa kurang suka ditanya perihal pribadi. Ini seperti sebuah tuntutan untuk memasukan nama Nina kedalam hatinya dan hanya akan menimbulkan luka.
“Zain?”
“Zain akan coba”
"Mencoba apa? Katakan dengan jelas" sahut Abrizal dengan tegas dan menekan.
"Akan mencoba menerima Aynina sebagai istri Zain" ucap Zain memperjelas.
Deg
Alzam masih tidak terima. Ia masih kurang percaya jika pria itu mau menerima Nina.
“Kak Zain hanya berbohong. Dia---”
“Alzam!!” sentak Abrizal memotong ucapan putranya. “Kau sudah mendapat jawabannya dan terima keputusan kakakmu. Jadi, ayah sarankan untuk Alzam melupakan Nina. Ayah tidak mau dengar lagi kedua putra ayah berlomba merebut satu wanita”
“Terimakasih ayah. Assalamualaikum!” kata Zain tidak sabar ingin keluar dari ruangan yang dirasa pengap itu.
Selepas Zain pergi, tidak alam Alzam juga menyusul keluar. kini tinggalah Abrizal dan bunda Zelofia.
“Sepertinya ini salah bunda karena menjodohkan Zain dengan Nina tanpa tahu jika Alzam telah menyukainya lebih dulu” desis Zelofia menyesal.
“Nasi sudah menjadi bubur. Tinggal bagaimana cara membuat orang itu menerima buburnya!” kata Abrizal tersenyum tipis kepada Zelofiaa yang masih menangis. “Oh iya… ayah ada undangan jamuan makan malam dengan rekan kerja. Dia juga memiliki anak perempuan. Katanya dia seorang perawat di rumah sakit tempat Alzam bekerja”
“Benarkah?” antusias Zelofia mendekati suaminya dan Abrizal mengangguk. “Bagaimana kalau kita mengajak Alzam saja? Itung-itung untuk mengobati lara di hati Alzam”
“Tidak masalah!”
“Kalau begitu bunda akan bilang kalau hati Alzam sudah agak dingin ya yah” kata Zelofia dan suaminya hanya mengangguk.
Author : Alzam ku sayang cintailah aku saja! Jangan cari yang sudah berstatus istri orang ya😘🤭
__ADS_1