![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Sequel hidup Nina
Nina merupakan anak dari seorang pria pecandu judi dan ibunya hanya seorang pencuci piring dari warung ke warung. Tidak ada waktu mereka untuk mengajari Nina bagaimana menggunakan salam saat berpamitan kepada orang-orang dan selama ini tidak ada yang mengingatkan Nina bagaimana cara bersikap sopan. Ia hidup sesuai apa yang ada dalam hatinya.
Akibat tidak adanya rasa harmonis dalam keluarga membuat Nina sering lupa dengan sholat bahkan selama di villa Nina saja tidak sholat. Nina tidak pernah memikirkan hal itu bahkan tidak pernah sempat mengingat sang pencipta. Ia hanya fokus dengan usahanya dalam mengubah takdir hidupnya.
Zain yang merupakan suaminya juga enggan untuk memberitahu Nina, padahal Nina sangat membutuhkan sosok yang dapat membimbingnya ke jalan yang benar namun sepertinya benar kata orang-orang.
'Jodoh anak perempuan tergantung seperti apa ayah**nya'
Dan kalimat itu selalu membuat Nina gelisah. Apa benar kata orang-orang mengenai hal tersebut? Mengingat sekarang saja Zain yang merupakan suami Nina sudah memperlihatkan perilaku kasar seperti ayahnya!.
Nina ingin saat ia lalai dalam melaksanakan sholat maka ada seseorang yang mengingatkan dia, ada seseorang yang menegurnya untuk tidak lalai. Apa ia terlalu berlebihan ya?
Namun sepertinya kebanyakan pria paham agama akan memilih gadis yang sepadan dengannya, lalu bagaimana harapan Nina bisa terkabul?
_________
Mobil mewah Zain memasuki halaman kediaman Darius. Halaman yang sangat ingin Nina lewati dan akhirnya terwujud juga. Ia begitu senang bisa melihat semuanya dari dekat dan bisa menyentuhnya, pikirnya.
Semua itu tidak bisa Nina lakukan karena Zain langsung membuka bagasi mobil dan menurunkan kopernya sendiri dan masuk kedalam rumah.
Bagaimana Nina dapat menyentuh semua barang-barang yang tidak pernah Nina lihat coba!! Nina harus mengikuti kemanapun Zain pergi!.
Nina menurunkan kopernya yang berat dan menyeretnya masuk kedalam rumah.
Disana sudah ada Zelofia yang terkejut melihat mereka kembali dari puncak. Wanita baya ini langsung menghampiri Zain.
"Assalamu'alaikum, Bu" Zain mengecup punggung tangan Zelofia dengan lembut lalu memeluk ibunya penuh rindu.
"Walaikumsalam... kok udah pulang?" Zelofia clingak-clinguk mencari keberadaan menantunya, "Dimana istrimu, Zain?"
Zain hanya menoleh ke belakang, memperlihatkan Nina yang berusaha keras menyeret kopernya yang berat.
"Nina" Zelofia memeluk sayang tubuh kecil menantunya. Sesekali ia juga mengecup puncak kepalanya. "Kok kalian cepat sekali kembalinya? Kan ini belum genap satu bulan bahkan dua minggu saja belum"
"Itu-----"
"Zain ada pekerjaan Bu" Zain menyela Nina yang ingin berbicara, "Kak Asad keteteran dengan pekerjaannya"
"Oh karena pekerjaan toh" Zelofia tersenyum mengusap lembut kepala Nina.
Namun Zelofia tahu jika Zain berbohong karena sudah banyak orang yang datang untuk menyambut mereka, takutnya mereka semua dengar dan menimbulkan gosip yang tidak baik.
__ADS_1
"Nina, bagaimana malam-malam mu selama di villa? Apa Zain membiarkanmu istirahat?" gurau Helena mencolek dagu tirus Nina.
'Kenapa semua orang bertanya seperti itu kepadaku? Memangnya jika iya kenapa dan jika tidak kenapa? Aku tahu itu cuma basa-basi, tapi apa tidak ada pertanyaan lain ya' batin Nina dalam hati.
Ia sangat kesal kepada semua orang yang bertanya demikian! Mungkin jika Nina memang melakukannya, pasti ia tidak mempermasalahkan tapi ia sama sekali tidak disentuh. Itu yang membuatnya kesal.
"Aku sangat lelah kak, tubuhku sakit, memar semua" jawab Nina merasa jika jawaban itu cocok untuk pertanyaan Helena.
Tubuhnya memang memar tapi bukan karena malam pertama, melainkan kekerasan Zain malam itu.
"Owhhh manis sekali istrimu ini, Zain" Helena mencubit pelan kedua pipi berisi Nina.
Zain yang dengar hanya diam dengan ekspresi datar. Tidak lebih.
"Maya tolong bawa koper-koper Zain dan Nina kedalam kamar ya! Setelah itu tolong buatkan teh hangat untuk menantuku dan putraku. Nina dan Zain ayo duduk dulu di sofa sayang"
Zelofia membawa Nina dan Zain ke sofa untuk berbicara bersama. Nina canggung duduk bersebelahan dengan Zain walaupun tubuh mereka tidak menempel tetap membuat Nina gemetaran.
"Nina... bagaimana hari-hari mu di villa? Apa pekerja disana menyusahkan dirimu, aku harap tidak" tanya Helena.
"Tentu tidak, Nyonya..." Nina melihat Helena yang sepertinya tidak suka di panggil seperti itu, "Kak... pekerja disana baik-baik dan Nina tidak mengerjakan apa-apa... mereka meminta Nina untuk istirahat"
"Syukurlah..." Helena tersenyum.
"Apa kak Asad belum pulang?" tanya Zain mengalihkan pembicaraan yang ia rasa tidak penting.
Bibir Nina seketika menyungging melihat wajah Maya yang datang menemui dirinya.
"Ini minumannya" Maya menyuguhkan beberapa teh untuk semua atasannya, termasuk Nina yang tersenyum kepadanya.
"Hai kak Maya"
Maya hanya tersenyum dan melenggang pergi. Wah sepertinya Nina di cuekin olehnya.
"Hem, bunda dan kak Helen... kayaknya Nina mau ke dapur bentar deh" Nina menyeringai lucu.
"Iya sayang"
Setelah mendapatkan ijin Nina segera berlari ke dapur, membuat Zain menggeleng dengan perilaku tidak sopan istrinya.
'Apa dia tidak bisa mengucapkan terimakasih? Seenaknya langsung pergi begitu saja!! Andai Anita masih hidup, maka aku tidak akan semalu ini' batinnya menahan sesak di dada.
Di tempat lain...
__ADS_1
Nina mencari-cari keberadaan Maya yang tidak kelihatan batang hidungnya. Ia yakin jika belum lama Maya kembali ke dapur tapi kenapa dia tidak menemukannya ya.
"Kak Maya" Nina mencoba memanggil lalu keluar dari pintu belakang.
Hanya ada pekerja lain yang sedang memetik sayur-sayuran di kebun.
" Eh... bukannya itu pekerja baru beberapa bulan yang lalu?"
"Eh iya... baru kerja dua hari langsung naik pangkat jadi istri. Heran aku kenapa kok bisa tuan Zain yang dingin dan setia dengan istrinya bisa mau nikah sama pembantu yang jauh rendah derajatnya"
"Kalau menurutku sih ya... lebih mending Nyonya Anita bangetttt mana dia udah cantik, Sholehah, baik, behhh aku gak srek banget sama istrinya yang sekarang, mana dia gak pake hijab lagi"
"Kasian Tuan Zain yahhhh"
Nina meremas ujung dress-nya kuat-kuat. Namun tidak dengan hatinya yang begitu rapuh mendengar hinaan mereka padanya. Air matanya menetes membasahi kedua pipi sampai ke dagu.
"Sudah-sudah... ayo kembali bekerja"
Para pekerja kembali melanjutkan pekerjaannya dan mengabaikan Nina yang berlari masuk dengan tangisan.
Tiba-tiba Maya muncul dari arah kanan dan melihat wajah menangis Nina. Ia yang merasa khawatir langsung datang.
"Nina kamu kenapa?" Maya cemas mendapati Nina menangis seperti anak kecil.
"Ak-aku... aku... haaaaaa"
Maya segera menggiring Nina untuk duduk di kursi bar dan mengusap punggungnya supaya tenang.
"Ada apa? Kamu baru pulang dari honeymoon kok nangis?" tanya Maya polos tidak tahu apa-apa.
Namun Nina malah mengeraskan tangisannya hingga suaranya semakin melengking, takut jika banyak orang berdatangan.
Maya merasa jika Nina menangis karena para pekerja yang selalu membicarakan dia. Yah, setelah Maya di lamar tentu para pekerja membicarakan Nina dan sering Maya mendengarnya.
"Kau sudah dengar ucapan mereka?"
"Haaaaa aku tidak mau membicarakan mereka. Aku tidak ingin melakukan ghibah... biar mereka saja, aku ikhlas kok... sudahlah... tidak usah dibicarakan" kata Nina mencondongkan wajahnya semakin dekat dengan Maya.
"Apa saat aku tidak disini mereka selalu membicarakan diriku kak? Mereka selalu membicarakan hal-hal yang tidak baik kepadaku? Dia membicarakan keburukanku tapi mereka saja belum baik!. Lalu seperti apa Mbak Anita itu? Secantik apa dia sampai aku di banding-bandingkan dengannya?" cerocos Nina tidak menyadari jika dia juga sedang melakukan ghibah.
To be continued
..."Apa jodoh Lauhul Mahfud dan Dunia itu sama? Jika iya, apa boleh aku memilihnya?"...
__ADS_1
...~Ay~...
Salam dari author bebsss😘 kasih satu tangkai bunga atau kopi menemani begadangku, vote, komen, like sesukamu asal kalian meninggalkan jejak di ceritaku🙈 terimakasih