![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Wajah mereka saling pandang lekat. Mata mereka bertaut penuh arti dan raut wajah mereka seketika sama, sama-sama dingin.
“Kau itu seperti dukun yang menebak-nebak hubungan orang… jangan seperti itu Nensi. Aku jadi takut jika kau benar-benar dukun” Alzam mencoba mengalihkan.
Ia tahu niatnya ingin mengambil kakak iparnya itu salah dan rekan kerjanya ini tidak boleh tahu, bisa malu dia.
“Tapi biasanya ucapan dukun itu benar! Apa berarti ucapanku itu benar?” kata Nensi sok polos.
“Sudahlah! Jangan kau bahas hubungan seseorang… tidak ada kerjaan menggosip di rumah sakit”
“Heii kau salah!! Menggosip itu adalah makanan sehari-hari… hidup akan garing tanpa gosip” sahut Nensi kesal lalu keluar ruangan.
Alzam tertawa menanggapi rekan kerjanya, “Jangan lupa periksa pasien ruangan mawar”
“Iya” sahut Nensi suara Dokter itu terdengar sampai luar.
Nensi menyandarkan tubuhnya di tembok. Wajahnya terlihat lesu setelah nekat bertanya-tanya hal itu kepada Alzam.
“Perjodohan, cinta… aku penasaran, apa diantara mereka akan tubuh rasa cinta? Atau Alzam berhasil merebutnya. Lalu, aku bagaimana?”
______
Kediaman Darius
Mobil yang Zain kendarai memasuki halaman Mansion keluarga. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya Zain segera turun bersama sang istri.
Dengan tubuh yang lemas Nina masuk mengikuti sang suami dari belakang.
“Assalamualaikum!” ucap Zain dan Nina mengikuti.
“Walaikumsalam” Helena yang baru saja datang membawa kopi itu bergegas menemui Nina yang nampak lesu. Ia tahu kejadian apa yang baru terjadi kepada adik iparnya ini.
“Nina kau baik-baik saja?” tanya Helena cemas dan gadis itu hanya mengangguk dengan senyuman.
“Aku baik-baik saja kak”
“Maya!! Tolong buatkan teh untuk Nina” seru Helena mengajak Nina duduk di ruang tamu. “Nina bibirmu terluka, ini sudah diobati atau belum, Zain?”
Zain hanya mengangguk tanpa suara. Ia pun bergegas menaiki tangga.
“Nina… apa orang itu sudah dihukum?”
“Belum kakak… dia belum mendapatkan apa-apa!” jawab Nina lemas, “Kak, Nina tiba-tiba lelah… Nina istirahat dulu ya”
“Iya Nin… nanti kakak akan minta Maya untuk mengirimkan teh ke kamarmu” jawab Helena membiarkan Nina beranjak, “Mau kakak bantu ke kamar?”
“Tidak usah kak” Nina tersenyum dan pelan-pelan menaiki tangga.
__ADS_1
Sesampainya di dalam kamar, Nina tidak melihat suaminya didalam. Ada rasa tenang dalam benaknya. Setidaknya ia akan beristirahat sejenak diatas ranjang.
Nina melepas sepatunya dan berbaring meringkuk dengan kedua tangan sebagai bantal.
Beberapa menit berlalu keluarlah Zain dari kamar mandi. Ia baru saja selesai membersihkan diri dari keringat yang ia hasilkan siang ini.
Kedua netra Zain melihat gadis itu yang berani tidur diatas ranjangnya. Ia segera mendekat dengan salah satu tangan siap memukul.
“Ba----”
Zain termangu. Tangannya yang ia siapkan untuk memukul gadis itu tiba-tiba terhenti. Wajah polos dan menenangkan Ninalah yang menghentikan itu semua. Entahlah, rasanya tidak tega mengganggu tidurnya.
Tapi, tetap ia tidak suka jika ada yang tidur di atas ranjangnya.
Zain mengambil satu bantal dan ia letakkan diatas sofa. Ia pun kembali mendatangi Nina dan mengangkat tubuh mungil gadis itu.
“Hutang…” desis Nina mengigau saat tubuhnya sudah melayang di dada polos Zain.
Zain semakin resah saat Nina mengeliat di gendongan seperti tidak nyaman. Ia takut jika gadis ini bangun dan menyadari kelakuannya. Bisa kegeeran dia.
“Shuttt” lirih Zain seakan menidurkan Nina yang langsung tenang tanpa ada pergerakan.
Lantas, pria itu membaringkan pelan tubuh istrinya diatas sofa. Kepalanya juga ditata halus diatas bantalnya.
Zain pun memperhatikan tidur Nina. Ujung bibir Nina yang sobek dan pipinya yang masih terlihat merah, ada rasa kasian juga jika melihat gadis ini.
Selain itu ia juga memperhatikan ruam-ruam di kulit Nina jika kemungkinan masih ada. Namun semuanya sudah sirna.
Tok Tok Tok
Sayangnya pintu kamar mereka diketuk dari luar. Ia pun segera datang untuk membukakan. Rupanya kepala pelayan Maya yang datang.
"Maaf mengganggu waktunya, Tuan. Saya hanya ingin mengirimkan secangkir teh hangat untuk Non Nina" kata Maya menundukkan kepalanya namun matanya melirik keberadaan Nina yang sedang tidur.
Maya sangat ingin bertanya kondisi Nina namun apalah daya. Zain akan mengusir jika berani masuk ke dalam kamarnya.
Tanpa banyak bicara Zain menerima teh itu dan memberikan isyarat supaya Maya segera pergi.
"Saya permisi dulu, Tuan" ucap Maya pergi dan Zain menutup kembali pintunya.
Lantas, secangkir teh hangat beraroma lemon itu ia taruh diatas meja dekat sofa tempat Nina tidur.
Pria itu masih diam berdiri memperhatikan Nina, tak lama ia membuka ransel Nina. Ada satu buku, wadah pensil, dan uang lembaran 10 ribuan.
Bukan itu yang Zain cari. Ia menemukan obat alergi yang semalam dibeli, itulah yang dicari.
Zain meletakan obat itu didekat cangkir teh. Setelah itu, barulah ia pergi.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian.
Mata Nina mengerjap ingin membuka. Ia harus segera bangun karena ini sudah sore. Setelah beberapa jam tertidur, ia sudah merasa baikan. Tubuh lemas nya sudah tidak ia rasakan.
"Kok aku ada di sofa ya?" gumam Nina menggaruk-garuk lehernya. "Mungkin aku mengigau"
Mata Nina melihat secangkir teh yang sudah dingin dan obat alergi disebelahnya.
"Siapa yang mengeluarkan obat itu? Apa aku ruam lagi?" matanya liar mencari ruam di kulitnya, tapi tidak ada.
"Aku sehat!!" Nina mengambil obat itu dan ia simpan kembali. Sebagai gantinya ia mengambil kertas berisi kalender yang sudah ia silang harinya.
"5 hari lagi!! Aku harus mencari uang 35 juta untuk ayah" kedua tangannya ia tepuk di kepala dan menariknya mengusap wajah. "Dimana aku mendapatkan uang sebanyak itu?"
Nina merengek tanpa suara lalu berubah biasa saat ia mengingat sesuatu. Ia mengambil dompetnya dan menarik kartu ATM yang pernah Zelofia berikan. Setiap keluarga Darius memiliki kartu kredit dan akan cair setiap bulannya. Bulanan Zain juga ditaruh di kartu itu namun sayangnya, pria itu tidak pernah memberikan uang bulanan untuk Nina.
Sebenarnya Nina juga diberi blackcard dari Abrizal tapi sayangnya, pria tua itu memberikannya kepada Zain. Jadi kartu itu tidak pernah sampai ke Nina.
Miris sekali hidupnya.
"Ini sudah menjadi milikku... aku tidak pernah mengambilnya, semua kebutuhan ku memakai uang yang aku dapatkan sebelum menikah, dan sekarang sudah habis. Tidak masalah jika aku memakai uang di kartu ini, kan? Aku akan menggunakan uang ini untuk hutang Ayah" monolog Nina mengambil pilihan yang tepat.
"Tapi, berapa isi uang dari kartu ini? Kartu ini akan terisi lagi tanggal 20 sementara aku membutuhkannya di tanggal 15. Kagak kesampaian"
Nina sedang berpikir. Ia harus mendapatkan uang dengan cara apa, mulung? Hasilnya cuma bisa buat jajan sehari-hari.
Nina melihat kartu kreditnya dan tiba-tiba wajah seorang pria terlintas dalam otaknya.
"Berhutang untuk menutup hutang, tidak jadi masalah kan?"
Setelah mengatakan itu Nina berlari keluar menemui seseorang.
Tok Tok Tok
"Mas Bian!!!" panggil Nina mengetuk pintu Bian.
"IYAAAA" sahut Bian didalam kamarnya. Ia harus cepat-cepat menutup situs dewasanya sebelum bocil itu melihat.
"Aishh Siall gadis itu!! Mengganggu saja" maki Bian menyingkirkan semua tisu-tisu yang berisi kecebong-kecebong yang terlantar.
Setelah semuanya beres, Bian segera membuka pintu tersebut dan ia dikejutkan dengan wajah menyeringai tanpa dosa milik Nina.
"Kau mengejutkan diriku!! Kenapa?" Bian menelan ludahnya kasar dan mengusap dada.
"Aku ingin berhutang"
To be continued
__ADS_1
Bian ini anaknya emang lain dari para abangnya bebss jadi tolong di maklumi!!🤣
Jangan lupa rutinitasnya untuk meninggalkan jejak di karyaku berupa apapun itu🙏😘