![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mereka berdua saat itu sedang asik makan dan menikmati rasa pedas, namun tiba-tiba Aya bertanya demikian yang membuat keduanya terbatuk secara bersamaan.
Uhuk Uhuk
Nina meraih satu botol air mineral yang ada diatas meja dan meminumnya, begitu juga dengan Zain yang merasa panas didalam hidungnya.
“Ahh pertanyaan macam apa itu?” Zain menutup hidungnya yang terasa panas, lalu melirik Nina yang merasa canggung duduk disebelahnya.
Gadis itu berulang kali menggeser tubuhnya hingga mentok diujung sofa.
“Apa yang aku tanyakan itu benar? Kalian belum melakukan hubungan suami istri?” tanya Aya terdengar menuntut jawaban kepada kakaknya.
“Aya jangan bertanya omong kosong seperti itu” murka Zain, “Kami yang suami istri saja belum melakukannya dan kau yang tidak memiliki status apa-apa sudah berani memberikan kehormatanmu. Sebelum bertanya, lihat dulu dirimu. Apa kau pantas bertanya seperti itu kepada kakakmu?”
Hati Aya terasa sakit rasanya. Padahal bukan itu maksud dari pertanyaannya, namun kakaknya itu malah justru mengungkit aib nya lagi.
Nina melihat punggung Zain yang pergi keluar kamar lalu tatapannya berganti kearah Aya. Gadis itu bangkit menemui adik iparnya.
“Jangan kau ambil hati perkataan Tuan Zain. Dia memang merasa kecewa tapi bukan maksud dia menghinamu. Hanya saja, dia belum bisa mengendalikan amarahnya” Nina duduk dan menggenggam tangan Aya.
“Tolong sampaikan kata maafku kepadanya, Nin” Aya membalas genggaman Nina, “Katakan kepadanya bahwa aku sangat menyesal dan tolong jangan membentakku lagi”
“Tidak usah dipikirkan” Nina membawa telapak tangannya menyentuh perut Aya, “Pikirkan perkembangan bayimu. Jika kau bersedih dan stress pasti akan berdampak pada kesehatan bayimu”
“Terimakasih Nin. Kau sudah perhatian kepadaku” ucap Aya memeluk Nina.
______
Di dalam kamar
Zain terlihat memendam amarahnya kembali. Pria ini duduk diatas ranjang dengan kedua kaki agak melebar dan kedua telapak tangan bertaut membentuk kepalan menguat serta kedua siku diantara dua lutut.
Mata nya kini berubah tajam dengan gertakan gigi yang semakin menguat, bahkan rahang tegasnya kini sudah mengurat tanda sebuah amarah. Saat ia mencoba untuk melupakan, justru adiknya itu mengingatkannya lagi.
Sebuah penyesalan dan rasa bersalah terhadap dirinya sendiri. Ia gagal menjaga sang adik dan itu seakan menggerogoti hatinya lagi. Walaupun dia bukan kakak tunggalnya, tetap keselamatan Aya adalah tanggung jawabnya.
Cklek
Nina berjalan masuk setelah menutup pintu kamarnya. Kedua kakinya mengayun pelan mendekat serta duduk tepat disamping Zain.
__ADS_1
“Aya meminta maaf kepadamu. Bukan maksud dia bertanya seperti itu” kata Nina melihat Zain yang masih terlihat marah, “Aku juga pernah merasa kecewa. Jika aku boleh jujur, dulu sebelum aku menikah denganmu, keluargaku tidak pernah harmonis. Selalu ada bumbu pertengkaran yang selalu aku saksikan setiap detiknya”
Nina menjedanya sejenak untuk menarik nafasnya yang terasa sesak, “Masalah itu datang tidak jauh dari uang, keegoisan dan berbagai macam lainnya. Aku menangis saat itu. Rasa kecewa teramat dalam kepada kedua orang tuaku. Sebagai seorang anak aku tidak bisa mencari solusi dari pertengkaran mereka. Hal itu membuatku kecewa dan menyalahkan diriku sendiri”
Zain akhirnya menoleh kearah Nina yang segera mengalihkan pandangannya.
Nina menyentuh bahu Zain, “Sama halnya dengan dirimu, kau kecewa dengan adikmu bahkan kepada dirimu sendiri karena tidak bisa menjaganya sebagai seorang kakak. Namun kau juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Aya. Kau hanya perlu mencari solusi dan mencari jalan keluarnya”
Gadis itu merasa risih mendapat tatapan seperti itu dari pria yang ia beri nasehat, "Kau jangan salah paham dulu. Bukan aku ingin menasihatimu atau berlagak sok pintar. Tapi ini sesuai dengan apa yang aku rasakan... aku hanya ingin berbagi cerita"
“Kau sudah mendapatkan solusi dari pertengkaran kedua orang tuamu?”
“Itu memang sifat mereka yang terbiasa berbicara menggunakan emosi dan aku sebagai anak hanya mencoba mencari cara supaya tidak merembet ke sebuah pertengkaran. Bagaimana kita sebagai anak membuat mereka tidak saling singgung” Nina menjawab dengan senyuman. “Dan Kau akan mendapat solusi dari rasa kecewamu kepada adikmu”
“Bagaimana caranya?”
“Entah! Mungkin cara itu sedang dirakit oleh Allah” jawab Nina menyeringai manis. Dia sedang mencoba untuk memancing senyum suaminya.
Zain terkekeh menanggapi ekspresi gadis ini. Sebuah senyuman yang tidak pernah Nina lihat sebelumnya.
“Baiklah! Aku akan tidur” Nina sudah bangkit namun Zain menahan pergelangan tangannya. Alhasil Nina melihat wajah dingin itu kembali.
Tentu Nina bingung harus menanggapi bagaimana. Tadi Zain bertanya tentang datang bulan sekarang meminta tidur bersama. Jangan-jangan? Nina hampir gila jika memikirkan itu.
Sampai-sampai dia tidak bisa berkata-kata.
“Jika kau tidak mau---”
“Aku mau” jawab Nina dengan tiba-tiba. Namun ia segera menutup mulutnya dengan tangan. Dia tidak boleh nampak bersemangat, kesannya dia gadis gampangan. “Maksudku---”
“Tidur saja. Aku harus mengerjakan laporan kantorku dulu” kata Zain berlalu pergi keluar dari kamar. Ia terkejut karena gadis itu langsung menerima begitu saja, padahal Zain kira jika Nina tidak mau tidur bersamanya.
Sementara Nina, ia langsung guling-guling diatas ranjang untuk menutupi rasa malunya. Ia malah menjadi takut jika Zain ilfiel karena langsung menerima permintaannya tanpa embel-embel basa-basi.
“Ehem”
Wajah Nina seketika menoleh melihat ke sumber suara. Rupanya, pria itu masuk kedalam kamar lagi.
Zain yang nampak gugup mencoba berbicara, “Aku ingin mengambil komputer ku”
__ADS_1
“Iya” Nina yang sudah ketahuan guling-guling diatas ranjang hanya bisa menahan rasa malunya dengan menundukkan kepala dan memperbaiki tatanan rambutnya.
“Aku…pergi dulu. Assalamualaikum” kata Zain setelah menemukan komputernya. Ia bergegas keluar dari kamar sebelum menjadi kepiting rebus jika terus-terusan bersama gadis itu. jujur saja, sebenarnya Zain juga sedang malu. Namun bedanya, pria itu masih terlihat cool bahkan mampu mengontrol sikapnya, berbanding terbaalik dengan Nina yang nampak menjadi orang gila.
“Walaikumsalam” jawab Nina menutup wajahnya yang merah menggunakan kedua tangannya.
Hal yang dirasakan Nina saat ini adalah ia ingin menghilang dari muka bumi bahkan dari seluruh alam semesta sekalipun. Sungguh, ia teramat sangat malu jika harus bertemu pria itu lagi.
_______
Diruang tengah Zain tidak sengaja berpapasan dengan kedua orangtuanya beserta Alzam disana. Melihat itu membuat Zain teringat akan sesuatu.
“Assalamualaikum...” Abrizal memberikan jasnya kepada Zelofia yang langsung menerimanya. “Alhamdulillah tadi acara makan malamnya berjalan dengan lancar ya bun”
“Iya ayah…aku pikir tadi Alzam tidak akan datang” Zelofia mengusap kepala Alzam saat anak itu malah tertawa.
“Aku datang jika pekerjaanku sudah selesai, bunda” kata Alzam menundukan kepala saat melihat Zain didepannya.
“Bu, Zain ingin bicara dengan ayah dan ibu” kata Zain dengan wajah seriusnya.
Mendengar itu membuat Alzam merasa sungkan jika terus-terusan didekat kakaknya ini, mengingat jika hubungan keduanya masih belum baik.
“Bun, Alzam masuk ke kamar dulu ya”
“Iya sayang” Zelofia membiarkan Alzam mencium pipinya lalu menaiki tangga.
Kini pandangan Zelofia berganti kearah putra ke-tiganya, “Bunda sama ayah mau bersih-bersih dulu abis itu sholat terus bicara sama kamu”
“Nggak bisa bu. Kalau nanti-nanti keburu malam” kata Zain kekeh dengan keputusannya.
Zelofia melihat Abrizal dan Zain bergantian. Ia merasa sangat lelah setelah menghabiskan acara makan malam dengan keluarga Venus, namun permintaan putranya ini tidak bisa ditunda.
“Ya sudah ayo” alhasil Zelofia menerima ajakan Zain.
To be continued
Hanya bisa dua bebss
Besok lagi ya! Jangan lupa untuk dukungannya dan meninggalkan jejak dengan komen, like dan sekuntum bunga 🌹 terimakasih 🙏🤗
__ADS_1