![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Nina tidak ingin melakukan kontak mata dengan pria itu barang sedetik pun.
“Misi” desis Nina berjalan cepat melewati Alzam yang segera memberikan jalan untuk Nina.
Tadi Alzam kira Nina sudah naik keatas, namun ternyata gadis ini masih berada di dapur. Jika tahu gitu ia tidak akan berniat bertemu Nina.
_____
Setelah dari kamar Aya untuk memberikan makanan, Nina segera datang ke ruang kerja suaminya untuk memberikan kopi yang sudah diminta.
Pelan-pelan Nina membuka pintu dan wajah Zain langsung terlihat didepan layar computer yang menyala.
“Masuklah” pinta Zain saat melihat ada Nina masuk.
“Ini kopimu” kata Nina agak dingin dan ingin segera pergi tapi Zain menahan tangannya.
“Hubby itu artinya apa?” tanya Nina merasa ditipu.
Salah satu alis Zain terangkat naik bahkan tubuhnya ikut bangkit. Kedua tangannya bersidekap di depan dada dan pandangan kearah Nina.
“Itu panggilan sayang kepada suami dari Arab”
Jadi benar itu panggilan sayang dari Arab. Nina mendengus kesal saat Zain mengerjainya menggunakan bahasa asing. Jika tahu itu juga panggilan sayang, pasti Nina tidak akan mau.
Bukan apa-apa, tapi dia hanya malu.
“Jangan khawatir. Orang-orang akan memakluminya” kata Zain santai kembali duduk di kursi.
Nina hanya diam mencoba menerima. Tiba-tiba dia mengingat sesuatu.
“Tadi bagaimana? Apa Tuan Aditama menerima kesepakatan mu dengan ayah Abrizal?” tanya Nina menarik kursi duduk dekat Zain.
Pria itu mengangguk, “Iya. Tentu dia akan menerimanya… aku sudah menelpon Ebil untuk mengurus masalah Devan”
Ada rasa sesal dibenak Nina. Ada rasa takut juga jika pria itu tiba-tiba kembali dan mencelakainya lagi. Wajahnya nampak muram dan Zain merasakan semuanya.
“Jangan khawatir, aku akan menjagamu dari anak ingusan itu” kata Zain membuat Nina tersenyum.
Beberapa detik berlalu Zain bangkit berjalan menuju almari kaca berisi buku-buku miliknya. Ia mengambil sesuatu dan menginjaknya.
“Berat badanku bertambah” mata Zain berubah marah menoleh kearah Nina, “Kau harus tanggung jawab”
Nina tercengang, “Kenapa itu jadi salahku?”
“Aku sudah pernah bilang jika berat badanku nambah maka kau harus bertanggung jawab menurunkannya” tegas Zain bersidekap dada.
Nina jadi teringat kata-kata itu saat makan seblak di kamar Aya. Betul juga, pria ini memang mengatakan itu dan sialnya Nina mengangguk.
Nina menelan ludahnya susah, “Apa yang harus aku lakukan?”
__ADS_1
Zain tersenyum miring.
______
Di Ruangan ini mata Nina membulat sempurna bagai mata seekor sapi milik keluarga Darius. Mulutnya terbuka dan tubuhnya kaku melihat benda-benda berat sebagai alat untuk menurunkan berat badan suaminya.
Ruangan ini didominasi dengan berbagai macam alat olahraga seperti Dumbell, tali skipping, treadmill, sepeda statis, TRX bands dan alat olahraga lain yang Nina tidak ketahui.
“Kita akan melakukan olahraga” kata Zain sempat ingin maju namun harus kembali saat Nina berusaha kabur.
“Aku tidak pernah olahraga seperti ini. Tubuhku akan remuk jika melakukan ini semua” lirih Nina mencoba melepas tangan Zain yang terus menariknya kedalam.
“Kita akan melakukan pemanasan dulu. Meregangkan otot sebelum ke olahraga yang berat”
Pria ini akhirnya melepaskan Nina. Ia sedang melakukan pemanasan mulai dari kedua tangan dan Nina mengikutinya.
“Ikuti aku” pinta Zain menoleh kearah Nina yang ada dibelakang, “Pertama posisikan tubuhmu berdiri tegak, lalu hadapkan kepalamu ke segala arah”
Nina yang penurut langsung melakukan apa yang Zain perlihatkan.
Setelah selesai pemanasan, mulai dari kepala sampai kaki, maka mereka sudah siap melakukan olahraga.
“Ayo ke treadmill” ucap Zain mendahului Nina.
Sepertinya ini kesempatan Nina untuk kabur saat Zain berjalan kedepan. Namun dugaannya salah karena pria itu sudah satu langkah mendahului Nina.
“Mau kemana?”
Kedua kaki Nina terseret saat mencoba menahan. Namun karena Zain tidak kekurangan akal, pria itu segera menggendongnya bagai karung beras dimana wajah Nina menghadap punggungnya.
“Arrrkk” Nina berteriak tanpa Zain dengar yang sudah berjalan menemui benda yang tida ia ketahui. Lalu barulah Zain menurunkannya.
“Naiklah”
“Naik ini?” tanya Nina menunjuk alat olahraga bernama treadmill tersebut. “Aku tid—”
Belum sempat Nina selesai berucap tubuhnya sudah diangkat menaiki benda itu.
“Menghadap ke depan” tegur Zain membenarkan posisi gadis itu. “Aku akan menghidupkan kecepatannya dilevel rendah dan kau hanya perlu berjalan pelan”
Nina mengangguk saja. Beberapa detik setelah Zain menyalakan mesin nya, alas dibawah kaki Nina bergerak kebelakang.
“Woww” pekik Nina terkejut hampir terjatuh jika Zain tidak menangkapnya.
“Jangan diam cepat gerakan kakimu” sentak Zain memberi perintah saat gadis itu hanya diam.
“Iya-iya” balas Nina mencoba menggerakkan kedua kakinya seperti arahan Zain.
Karena ini pertama kali bagi Nina, maka dia belum sepenuhnya mahir hingga Zain harus memberikan bahu kokohnya sebagai pegangan.
__ADS_1
“Coba kau lepaskan tanganmu. Aku juga harus berolahraga” kata Zain menepis tangan Nina yang kembali memegang bahunya.
“Aku bisa jatuh dan wajahku akan membentur kepala mesin ini dan terseret kebelakang” ucap Nina tidak mau ditinggal.
“Tidak akan terjadi jika kau terus berjalan”
Zain langsung menepis tangan Nina yang masih bergelayut di bahunya. Lalu pria ini menyalakan treadmill yang ada disebelah Nina. Ia pun berjalan disana.
“Pegang tanganku” ucap Zain mengulurkan satu tangan yang segera Nina genggam.
Keduanya melakukan treadmill dengan kedua tangan bertaut berdampingan.
______
Rumah sakit
Jika pasangan itu sedang menikmati olahraga mereka maka Alzam memilih untuk pergi ke rumah sakit untuk mengurus para pasiennya. Setelah dari ruang pasien Alzam ingin kembali ke ruang kerja namun seseorang memanggilnya.
“Dokter Alzam?”
“Iya Dokter Aldo” jawab Alzam menoleh kebelakang menghadap Dokter Aldo yang berjalan sedikit cepat.
“Hasil medis Nyonya Darius sudah keluar”
“Maksudmu, Aynina?” tanya Alzam sedikit memastikan jika yang ia maksud memang benar Nina.
“Iya, beberapa hari yang lalu aku melakukan pemeriksaan Nona Aynina karena aku rasa darah miliknya sedikit aneh dan hasilnya sudah keluar tapi belum ada yang mengambil" kata Dokter Aldo.
"Berikan kepadaku saja"
"Baiklah" Dokter Aldo akhirnya mengangguk.
______
Kembali ke Aynina dan Zain yang masih berolahraga. Banyaknya keringat yang membasahi antara tubuh keduanya menjadi perbedaan keseriusan diantara mereka.
Tubuh atletis Zain sudah penuh dengan keringat, bahkan wajahnya juga. Berbanding terbalik dengan Nina yang tidak keluar apa-apa tapi terus mengeluh kelelahan.
“Ayolah kembali! Aku sudah lelah” rengek Nina menselonjorkan kedua kakinya diatas ubin. Wajah gadis ini memang sudah terlihat memucat.
Namun Zain yang memiliki banyak tenaga tidak henti-henti nya memanaskan diri dengan push up puluhan kali.
“Sebentar lag---” Zain tidak melanjutkan ucapannya, bahkan kegiatan olahraganya saat melihat wajah Nina yang begitu pucat. “Aynina!!”
“Kenapa?” tanya Nina bingung melihat Zain buru-buru mendekatinya.
“Aynina kau mimisan”
To be continued
__ADS_1
Dukung dulu bebss biar aku tambah semangat 🤗 kasih sekuntum bunga untuk author supaya terus berbaik hati dengan Nina🤭