![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Seluruh orang yang ada disana, mereka yang mendengar merasa sangat bahagia dan terharu. Tidak ada yang memiliki mata kering, melainkan basah dengan cucuran air mata kebahagiaan. Harapan yang mereka nantikan akhirnya terkabul.
Tentu itu menimbulkan rasa tersendiri untuk dua orang ini. Aynina dan sang suami, mereka teramat bahagia sampai tidak mampu untuk berkata-kata.
Zain mencium kedua punggung tangan Nina, “Kau sudah sembuh sayang. penyakitmu telah hilang dan kau telah berhasil dengan usaha kerasmu selama ini”
“Sungguh?” Nina masih kurang percaya. Namun Zain mengangguk untuk membuat istrinya yakin.
“Dokter bilang sel darah putih milikmu sudah memproduksi dengan normal. Kau tidak perlu melakukan kemoterapi lagi, kau tidak akan mimisan, mual atau pusing lagi sayang”
Nina yang bahagia segera menutup kedua mulutnya dengan tangan. Tangisnya pecah didalam pelukan erat suaminya.
Astaga mereka begitu bersyukur kepada sang pencipta yang telah memberikan kenikmatan dengan tangisan dan kebahagiaan.
Mereka secara bergantian memeluk dan memberi selamat kepada Nina atas kesembuhannya.
“Aku akan panggil bunda dulu” ucap Aya bergegas memanggil ibunya di tempat sholat rumah sakit.
Sesampainya disana, rupanya Zelofia sudah selesai sholat dan tidak sengaja melihat Aya yang tergesa-gesa menemuinya.
“Bunda… Aynina”
“Ada apa dengan Aynina?” tanya Zelofia malah khawatir.
“Aynina sembuh bunda”
“Masyaallah” Zelofia mengusap wajahnya dengan telapak tangan seperti bersyukur, “Alhamdulillah atas kemurahan hatimu ya Allah engkau memberikan kesembuhan untuk menantu hamba”
“Bun, ayo kita temui Aynina” ajak Aya dan Zelofia mengangguk.
Mereka pun berlari menemui Aynina yang sedang disalimi oleh beberapa orang disana dan juga dokter Aldo juga tidak lupa.
“Selamat atas kesembuhannya ya sayang” ucap Zelofia menelusuri seluruh wajah menantunya dengan kecupan-kecupan sayang.
“Ini semua berkat doa bunda”
“Ini juga berkat usaha dan semangatmu sayang” Zelofia mengusap kepala Nina dan berganti melihat Marta yang statusnya sebagai besan, “Selamat untuk kesembuhan putri anda, Nyonya Marta”
“Terimakasih nyonya” Marta tidak lupa dengan memeluk besannya.
Semua bahagia dengan kesembuhan Aynina, namun tidak dengan menantu kedua Darius yang memiliki wajah jutek dan penuh dengan iri dengki. Siapa peduli? Biarkan saja raut wajah itu tercipta disana.
_______
Setelah kesembuhan Aynina menyebar di jagat maya. Zain mengadakan sebuah perayaan besar-besaran untuk mengungkapkan rasa bersyukurnya kepada sang pecipta yang telah memberikan kesembuhan untuk istrinya.
__ADS_1
Seluruh pengusaha ternama diberbagai negara di undang untuk datang, sehingga perayaan yang Zain adakan tidak main-main. Tidak lupa, Zain juga memberikan santunan kepada anak-anak yang ada di panti asuhan secara tersendiri.
Acara perayaan ini dilaksanakan dengan sangat mewah dengan nuansa putih yang berkelas.
“Selamat datang kepada seluruh tamu-tamu yang sudah bersedia menyempatkan waktu untuk datang keacara kecil-kecilan ini. Puji syukur kehadurat Allah, atas segala yang telah allah limpahkan kepada kami… taangis, tawa semua telah kami rasakan dan masyallah. Kami merasa menikmati usaha-usaha tersebut. Dan hari ini saya ingin memberikan perayaan untuk seluruh kolega dan rekan satu bisnis saya atas kesembuhan istri saya, Aynina Darius”
Prok
Prok
Prok
Gemuruh tepuk tangan menggema didalam ruangan penuh dengan manusia ini. mereka semua segera menjabat tangan Zain yang sudah turun dari podium.
“Selamat atas kesembuhan istri anda”
“Terimakasih” balas Zain menjabat tangan koleganya.
“Selamat atas kesembuhan anda, Nyonya Darius”
“Terimakasih” balas Nina juga menjabat tangan kolega tersebut.
“Silahkan dinikmati hidangannya tuan dan nyonya” ucap Zain mempersilahkan kepada beberapa rekan yang ada didekatnya.
Selepas itu seluruh tamu yang membawa pasnagan melakukan dansa bersama. Tidak lupa dengan Aynina dan juga Zain. Dua manusia ini berdansa dengan sangat epic dan menawan, disertai tawa menggelegar dan kebahagiaan.
“Mengatakan seperti tadi? Jujur saja aku tidak pernah mengatakan seperti itu” balas Nina agak gugup.
“Bohong! Saat kau berpacaran dengan si anak psikopat, kalimat itu pasti sudah sering kau dengar” bantah Zain di mode tegas lagi.
Nina mengernyitkan dahi,”Psikopat siapa?”
“Devan”
Nina tertawa lirih mendengar suaminya menamai Devan dengan julukan seperti itu. Bahkan saking gemasnya ia ingin menelan pria ini hidup-hidup.
Nina mengangguk menerima, “Iya… aku pernah mengatakan kalimat itu untuk Devan. Itupun juga terpaksa. Jika aku tidak mengatakan itu, dia mengancam akan putus”
“Benar-benar ABG” ejek Zain masih keadaan berdansa.
“Jika aku tidak mengatakannya. Apa, kita akan putus juga?” tanya Nina dengan polos.
Zain memandang kesal Nina, “Pacaran saja belum”
“Bagaimana kalau mulai malam ini kita berpacaran?” Nina yang semangat mengulurkan telapak tangannya.
__ADS_1
Zain menunjuk cincin di jemari Nina, “Kau lupa kita sudah menikah? Untuk apa berpacaran?”
“Hanya saja aku ingin merasakan sensasi berpacaran. Sepertinya berpacaran setelah menikah itu menyenangkan. Aku menyebutmu pacarku dan kau menyebutku sebagai pacarmu” Nina tersenyum manis, “Bagaimana, kita berpacaran?”
Zain menjabat telapak tangan Nina, “Baiklah, kita berpacaran. Kau pacarku aku pacarmu…berpacaran dengan status halal”
“My boyfriend” Nina mencium bibir pacar barunya ditempat umum. Hal itu membuat Zain terkejut menyentuh bibirnya.
“Jangan disini… nanti saja”
“Nanti apa?” balas Nina tertawa dengan ucapan Zain.
“Jika kau centil begini aku jadi tidak sabar ingin menutup acara ini” gurau Zain membuat Nina tertawa terbahak-bahak.
_____
Meninggalkan perayaan yang Zain adakan untuk para koleganya. Malam semakin larut dan waktu terus menelan kesadaran pria ini.
“Aku akan segera pulang Nensi. Kau akan pulang dengan siapa?” tanya Alzam setelah selesai mengemasi barang-barangnya.
“Entah! Biasanya papahku yang akan menjemput. Tapi, dia sedang ada di acara kakakmu. Jadi tidak ada yang mengantar diriku” balas Nensi agak memelas.
“Ya sudah. Aku akan mengantarmu”
“Ok” balas Nensi bersemangat membawa tas pinggangnya dan berjalan menuju parkiran berdua.
Tiba-tiba Nensi teringat sesuatu yang membuat dirinya merasa mengganjal, “Alzam… aku pernah mengajak mu menikah”
“Ehem” Alzam berdeham mencari kunci mobilnya untuk melepas rasa canggung, “Dimana aku menyimpan kunci mobilku?”
Nensi berkacak pinggang, “Sudah ada di tanganmu”
Mata Alzam langsung melihat kearah dua tangannya dan tertawa lirih, “Oh astaga! Aku tidak ingat sama sekali. Aku pikir ketinggalan tadi… aku harus mengurangi micin Nensi”
Nensi tahu pria ini selalu mengalihkan pembicaraan seraya masuk mobil, bahkan juga waktu itu. Pria ini memang susah sekali di rayu.
“Alzam! Bagaimana dengan tawaranku waktu itu?” tanya Nensi berteriak, membuat pria itu berhenti melangkah dan menoleh.
“Apa kau benar-benar ingin menikah denganku?”
“Tentu saja” balas Nensi bersungguh-sungguh.
“Kenapa kau ingin menikah denganku? Disaat banyak orang berpangkat tinggi yang menyukaimu, kenapa aku?” tanya Alzam. Sebenarnya alasan dia selalu menolak, karena saingannya yang bukan kaleng-kaleng.
“Kau tampan, baik, hem…” Nensi mencoba berpikir, “Aku tidak tahu kenapa bisa menyukaimu. Yang pasti… aku sangat-sangat mencintaimu. Jujur saja, aku tidak pernah menembak pria selain dirimu. Jadi---”
__ADS_1
“Besok lusa aku akan datang melamarmu”