Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Rasa Yang Berubah


__ADS_3

“Pelayan, tuangkan jus kedalam gelasnya”


“Nggak usah” pekik Aya menolak tawaran Aditama.


Karena perempuan itu menolak layanan waiter, membuat Aditama yang harus turun tangan. Pria tua itu menuangkan jus di gelas Aya, namun perempuan itu menyiramnya di pot. Lagi Aditama mengisinya kembali dan lagi-lagi pot itu tersiram jus miliknya.


Satu gelas terakhir, Aya hampir menuangnya namun tangan Aditama lebih mendominasi.


“Jika kau membuangnya, aku akan meminumnya dan menyalurkannya lewat mulutmu. Seperti berciuman… itu yang kau mau?” tegas Aditama dengan kedua mata dingin menyala.


Jujur saja, pria tua ini masih nampak tampan dengan dagu berbulu yang gagah. Tubuhnya juga masih terlihat bugar, berbeda dengan orang tua biasanya. Jika dibilang sugar daddy, yah semacam itu.


Karenanya, Aya terpedaya malam itu.


“Aku tidak mau minum jus” tolak Aya bersidekap dada.


“Lalu kau mau minum apa?”


“Alkohol” pinta Aya tersenyum miring.


“Kau sedang hamil” jawab Aditama masih dingin.


“Aku hanya bercanda. Pria tua seperti dirimu memang tidak bisa diajak bercanda” balas Aya memotong steak dan menyantapnya.


Aditama menyangga kepalanya dengan punggung tangan diatas meja. Matanya menatap perempuan itu yang sedang asik makan mengabaikan dirinya. Dia sedang merasa pusing meladeni sikap Aya.


________


Kembali ke Nina dan Zain.


Jika ditempat Aya dan Aditama terasa panas, lalu berbanding terbalik di tempat Nina. Keduanya sudah mulai merasakan hawa-hawa romantic dengan berdansa bersama diiringi lagu religi yang menenangkan jiwa.


“Jika terus menatap seperti ini. Mungkin kau tidak akan sadar ada orang dibelakangmu” sindir Nina merasa risih mendapati Zain terus menatap dirinya.


“Pastinya sadar”


“Bagaimana?” tantang Nina.


“Dia bisa memanggilku kan. Tentu aku akan tahu” balas Zain menggerakan kedua kakinya kekanan dan kekiri dengan tempo menuntun Nina.


Kedua tangan Zain berada di pinggang, dan kedua tangan Nina melingkar di bahu kokoh pria itu. Nyaris saja wajah mereka menempel saking dekatnya.


Alunan melodi telah berubah, membuat Zain menjauhkan tubuh mereka, lalu Nina memutar tubuhnya hingga kembali merapat. Namun posisinya kali ini tubuh Nina membelakangi Zain. Perut datar Nina dililit kedua tangan Zain dan puncak kepalanya menjadi penyangga dagu pria ini.


“Hari ini hari valentine! Kau memiliki hadiah untukku?” kepala Zain menurun mensejajarkan wajahnya disamping wajah Nina.


“Aku tidak pernah merayakan hari valentine. Karena aku tidak memiliki waktu untuk merayakan hari kebahagiaan itu” jawab Nina dengan jujur.


Detik berikutnya Nina merasakan kedua tangan Zain merembet naik sampai melilitkan sesuatu di lehernya. Bola berlian dengan visual mewah berukuran biji jagung mendarat di dadanya.


“Hubby, ini…”


“Milikmu” desis Zain tepat di telinga Aynina.


Tubuh Nina memutar melihat pria itu kembali. Kedua tangannya memegangi kalung yang Zain berikan.

__ADS_1


“Kau suka?”


Nina mengangguk cepat, “Aku sangat suka sekali”


Zain tersenyum kembali melingkarkan kedua tangannya di pinggang Nina, “Giliranmu, berikan aku hadiah di hari valentine”


“Aku tidak punya apa-apa” balas Nina melihat sesal kearah Zain.


Zain nampak terkejut, “Sama sekali tidak punya?”


Dan Nina menggeleng dengan polosnya, “Aku tidak tahu ini hari valentine dan aku juga tidak tahu akan ada acara makan malam denganmu. Jika tahu, tentu aku akan memberikannya”


Nina menyengir penuh penyesalan. Ia benar-benar menyesal tidak bisa memberikan apa-apa kepaada Zain, tapi suaminya ini sudah mengeluarkan uang banyak untuk menghias lehernya.


Nina merasa bersalah, “Katakan saja apa yang kau mau? Aku akan berikan apapun itu”


Zain masih diam. Bukan marah tapi dia sedang berpikir mau meminta apa dari istrinya yang serba tidak punya. Tidak lama wajah Zain mendekat menghadap samping.


“Cium saja aku”


Kedua mata Nina membulat sempurna. Ia sudah siap ingin menghitung uangnya dan akan membeli sesuatu tapi Zain malah minta dicium.


“Di-di cium?” gugup Nina syok. “Aku akan membelikanmu apapun yang kau mau. Tapi, di cium?”


“Aku tahu kau tidak punya apa-apa. Jadi, di cium saja sudah cukup” jawab Zain pasrah.


Merasa perkataan Zain benar, perempuan itu segera mencium pipi Zain secukupnya.


“Sepertinya kurang” Zain mendekatkan bibirnya dan perempuan itu paham. Nina pun mencium bibirnya. Beruntung sekali suara lagu itu bukan dari orang langsung, jadi tidak ada yang melihat ciuman mereka. Merekapun kembali menyantap makanan.


______


Cristina nampak gelisah menggigit-nggigit kuku panjangnya. Wanita setengah baya ini bukan sedang cemburu dengan makan malam romantic Aditama, namun dengan putranya.


“Devan sayang kau itu ada dimana? Mamah sangat menghawatirkan dirimu. Pulanglah dan hadiri pernikahan papahmu”


“APA!!!” pekik Devan diseberang telpon.


“Ups” Cristina refleks menutup mulutnya dengan satu tangan, “Maksud mamah itu… acara…acara kantor yang seperti pernikahan gitu loh”


“Papah mau menikah lagi?”


“Pulanglah dulu biar mamah certain semuanya ya sayang!!” Cristina mencoba menenangkan hati putranya.


“Sekarang papah dimana?”


“Pulang dulu Devan nanti mamah certain” ucap Cristina merasa jantungan.


“Oh aku ingat telah menyadap lokasi papah”


Kedua mata Cristina membola mendengar ucapan putranya, “Devan jangan lakukan apapun kepada mereka lagi karena mereka telah mencabut tuntutan nya”


Tepat dikata mereka, Devan telah menutup panggilannya sehingga anak itu tidak mendengar kalimat setelahnya.


“Hallo Devan!! Devan!!!” teriak Cristina ketakutan. Ia mencoba menghubungi putranya lagi, namun tidak aktif. “Aishh anak itu!!”

__ADS_1


Cristina membanting ponselnya di lantai. Ia segera keluar kamar sembari menghubngi telpon suaminya.


_____


Kembali ke Restoran


Nina dan Zain mulai menyantap hidangan dari restoran ini. Diiringi tawa diantara keduanya, melengkapi rasa bahagia mereka. Sampai mereka tidak menyadari telah menghabiskan waktu berjam-jam di restoran ini.


“Kenapa kau tidak minta Tuan Aditama yang sebagai calon suamimu untuk mengantar pulang?” tanya Zain agak kesal karena harus mengakhiri makan malam ini.


“Aku sudah memaksanya untuk ikut mobilku. Ayo Aya aku akan mengantarmu saja… kau itu keras kepala sekali ya!!!” balas Aditama menarik kasar tangan Aya.


“Maaf tuan Aditama. Saya memang setuju jika adikku ikut pulang di mobilmu, tapi jika caramu memaksa tentu aku tidak akan mengijinkannya” cegah Zain menahan tangan pria tua itu.


“Dengar tuh” balas Aya mengejek.


“Ayo Aya, pulang dengan kakak saja” Zain menggenggam kedua tangan perempuan disamping kanan dan kirinya.


Sementara Aditama memilih membiarkan supaya tidak membuat Aya kembali marah. Ia sebisa mungkin untuk menahan amarahnya.


Ketiga orang itu sudah masuk kedalam mobilnya, membuat Aditama juga memasuki mobilnya. Namun tidak membutuhkan waktu lama ponsel miliknya berdering, ia pun mengangkatnya.


“Hallo mah”


“Pah!! Devan sudah tahu tentang pernikahanmu dengan Aya pah!!!”


“APA!!!” pekik Aditama saat istrinya yang ember itu tidak mampu menjaga rahasia.


“Sekarang sepertinya Devan sudah menuju lokasi papah” kata Cristina merasa sangat khawatir.


Aditama tidak menjawab. Matanya terpaku menatap jauh ke sebuah truk berisikan samar-samar wajah putranya disana, lalu berganti melihat mobil milik Zain yang sudah berjalan tapi berhenti di depan gerbang restoran.


Rupanya Nina melupakan tasnya di dalam restoran, “Mas tas aku ketinggalan. Aku ambil dulu ya!”


“Aku aja yang ngambil” cegah Zain tapi Nina menolak.


“Aku aja... sebentar” Nina sudah membuka pintu mobilnya dan berlari menyeberang jalanan yang sepi.


Namun seketika langkahnya terhenti tepat diambang gerbang restoran saat ekor matanya menangkap sebuah truk melaju tanpa terkendali. Tubuh Nina berbalik melihat Aya dan Zain yang sibuk bermain ponsel, tanpa menyadari apa-apa.


Sementara truk itu sudah ada dibelakang mereka.


“MAS ZAINNNN”


Tepat saat Zain menoleh truk tersebut sudah menubruk mobil Zain hingga terseret sejauh 1 kilometer. Bagian belakang mobil rungsek dan serpihan kaca berserakan dimana-mana.


“Mas Zain!!! Aaaaa” tangis Nina berlari menyusul mobil itu, memastikan keadaan mereka berdua disana. Begitu juga dengan Aditama.


To be continued


Kita buat keluarga Devan sadar akan kejahatan putranya dulu ya!! insyaallah semua ada hikmahnya


Percaya deh, Author nya itu orang baik 🤗


Tetap semangat semuanya 😊 lop yu pulll 😘

__ADS_1


__ADS_2