Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Mencoba Membantah


__ADS_3

"Tu-tuan... le-lepas sakit... aku... akan bi-bilang dengan bunda... ka-kalau aku tidak mau" rintih Nina menutup kedua matanya dan mencoba melepas cengkeraman tangan Zain.


"Kau pikir ibu akan langsung menerimanya? Heii... kau itu bodoh dan tidak mau mencari alasan. Percuma bilang kalau kata-katamu tidak meyakinkan" Zain mendorong tubuh Nina keatas lantai.


"Mimpi apa aku bisa menikah dengan gadis bodoh seperti dirimu? Kedua orangtuamu tidak bisa mendidik mu supaya lebih cerdik sedikit ya, Ohh iya... bagaimana mereka akan mendidik mu kalau mereka hanya sibuk mencari uang untuk membayar hutangnya"


Deg


Kalimat itu terdengar menyayat hati gadis yang terduduk diatas lantai dingin ini. Dia termangu dengan hinaan itu. Sungguh rasanya sakit jika ada orang yang menghina kedua orangtuanya.


Tidak satu kali, Nina sudah mendengar hinaan itu dua kali di mulut Zain. Dan kali ini ia tidak bisa mentolerir nya.


"Tuan" lirih Nina menengadah melihat wajah Zain yang ada diatasnya.


Pria itu begitu angkuh dan sombong kepada orang yang lebih rendah darinya, membuat hati Nina semakin sakit.


Nina berdiri menghadap Zain, "Jika aku bodoh karena kesalahan cara mendidik kedua orang tuaku! Lalu jika anda arogan dan kasar, bisakah itu disebut kesalahan orang tua dalam mendidik anda?"


"Bagaimana?" Zain menyeringai iblis. Ia merasa jika Nina sudah mulai memperlihatkan wajahnya, bagai ular berkepala dua.


"Ini kesalahan saya sendiri dan tidak ada sangkut pautnya dengan kedua orang tua saya! Kebodohan saya karena mau menikah dengan duda yang belum bisa lepas dari masa lalunya" kata Nina begitu berani melihat mata mengerikan Zain.


"Maaf Tuan... karena saya anda mengalami kehidupan seperti ini... maaf... tapi, anda harus menerimanya. Keputusan menikah bukan hanya saya namun anda juga. Jadi jika saya menerima pernikahan ini, anda juga harus menerimanya" kata Nina menambahi.


Zain sudah dibuat gelap mata dengan perilaku gadis ini yang begitu berani mengajarinya. Anak kemarin sore berani mengajari pria dewasa yang sudah mahir dalam hal kehidupan, cih memalukan.


"Bagaimana kau bisa mendapatkan keberanian ini?" Zain berkacak pinggang, "Sepertinya kau benar-benar ingin menjadi istri yang baik ya!"


Wajah Nina langsung menunduk. Ia sempat melihat raut berbeda dari seringaian Zain. Sepertinya ia menangkap hawa-hawa jahat.


"Ini masih sore dan sebentar lagi Maghrib... kau ingin menjadi istri yang baik dulu sebelum mandi dan mengerjakan sholat?" kata Zain menggulung lengan kemejanya.


Wajah Nina semakin menunduk disertai kakinya yang melangkah mundur karena takut.


Apa ucapannya barusan itu salah? Sepertinya Zain yang salah mengartikan.


"Kesini!!"


"Tidak mau!!" Nina menahan kedua kakinya hingga menyeret karpet lantai saat Zain dengan kuatnya menarik salah satu tangannya.


Nina semakin ketakutan melihat tubuhnya mendekati ranjang. Apa Zain akan bertindak kasar disana?


Bruk

__ADS_1


Nina seperti melayang kala tubuhnya di lempar ke atas kasur.


"Kau mau menjadi istri yang baik kan? Maka ayo kita lakukan" Zain menyeringai kelam seraya melepas ikat pinggangnya dan ia lempar ke sembarang arah.


Nina tahu maksud Zain, tapi siapa yang mau melakukannya saat sedang marah dan hanya sebuah keterpaksaan saja.


Tentu saja Nina menyeret tubuhnya ke belakang untuk menolak. Ia ketakutan seperti gadis yang ingin di perkosaa oleh berandal-berandal di luaran sana.


"Tu-tuan bukan seperti ini yang saya maksud..." rintih Nina menyatukan kedua tangannya seperti memohon.


"Kau ingin menjadi istri yang sesungguhnya kan??"


"Aarkk... Tolongggg" teriak Nina mencoba melepas genggaman Zain terhadap kedua tangannya yang direntangkan.


"Tu-tuan ma-maafkan saya... ma-maaf" tangis Nina semakin memenuhi ruangan kedap suara ini.


Tidak akan ada yang mendengar teriakan Nina dari luar sana, namun Zain seperti sudah dimasuki setan yang ingin melakukan apapun maunya dengan paksa.


"Ak-aku... aku tidak akan mengatakan apapun... To-to--tolonggg"


Ternyata Zain hanya ingin membuat Nina jera karena mengatakan itu supaya kedepannya ia tidak akan mendengar kalimat menjijikan seperti ini lagi.


Sudah menjadi kewajiban seorang istri, sudah menjadi kewajiban seorang suami! Menerima pernikahan ini! Cih, Zain sudah lelah dengan kalimat seperti itu. Ia akan membuat Nina tidak berani untuk membuka suara.


"Berhenti berteriak! Kau membuat telingaku sakit... apa sekarang kau sudah jera?"


Nina langsung mengangguk cepat supaya Zain segera menjauh dari dirinya. Namun jantungnya masih memompa secara berlebihan.


Zain pun segera melepas kungkungan-nya dan menjauh dari Nina yang juga menjauh dengan berdiri disamping ranjang. Nina ingin menjauh sejauh-jauhnya.


Kalau bisa!!.


"Stupid!!" Zain melepas kancing kemejanya dan memasuki kamar mandi.


Disana Zain terdiam sejenak dibawah guyuran air seraya melihat kedua tangannya dengan wajah yang datar. Entahlah!!.


07:30


Pagi ini Nina sudah bangun lebih awal. Ia bangun sebelum Zain membuka matanya supaya ia tidak melihat wajah menyeramkan suaminya lagi.


Saat ini Nina sedang membantu-bantu Maya yang menyiapkan sarapan pagi untuk keluarga besar Darius. Walau Maya menolak tapi Nina tetap memaksa.


"Selamat pagi, Bunda, Ayah dan yang lainnya" sapa Nina menaruh sup ayam yang baru saja ia bawa ke meja makan.

__ADS_1


"Eh sayang... kok kamu yang nyiapin?" tanya Zelofia.


"Gak papa Bun... Nina suka beres-beres begini" Nina tersenyum malu.


"Mungkin Nina itu sukanya jadi pembantu Bun..." gurau Bian tertawa ejek dan mendapatkan pukulan dari Zelofia.


Yah! Lumayan lah, pagi-pagi mendapat gurauan dari Bian. Setidaknya hatinya sedikit terhibur.


"Bisa aja nih" Nina tersenyum dan ingin pergi, namun Bian kembali bersuara.


"Nina, dimana binder yang ku pesan, kau tidak lupa membelikan binder untukku kan?" Bian menduga-duga kalau Nina lupa.


"Mana bisa aku lupa? Binder cool man 1 ada di tumpukan mainan Neha. Kami menggabungkan semuanya... karena tidak mungkin kami membayarnya satu-satu" Nina tersenyum manyun.


"Ok boss" Bian langsung berlari menaiki tangga.


"Nina sayang... sini gabung makan"


"Tap---"


Potong Zelofia menarik tangan Nina untuk duduk dan bergabung dengan mereka semua.


Mau tidak mau Nina duduk di samping Zelofia.


"Langsung mulai sarapan saja... ayah ada rapat perusahaan" ucap Abrizal duduk di kursi kekuasaan-nya.


Seluruh anggota keluarga akhirnya memulai sarapan pagi. Para pelayan menyajikan lauk pauk di atas piring mereka dan menuangkan air minum secukupnya.


"Nina sayang... makanan apa yang kau suka?"


Sebenarnya Nina merasa kurang nyaman saat mertuanya bertanya hal seperti itu, pasti mereka berpikir Nina ini orangnya pilih-pilih makanan dan kurang bersyukur.


"Apa aja Bun, Nina akan suka" jawab Nina setelah melirik seluruh anggota keluarga yang terlihat dingin. Hanya dibeberapa saja.


Zelofia menyendok rendang dan menyuapi Nina, "Aak, cobain deh"


Dengan perasaan ragu Nina menangkap suapan itu dan matanya membulat merasakan rasa gurih yang enak. Sungguh, Nina tidak pernah merasakan masakan seenak ini.


Nina tersenyum sambil mengunyah, "Enak Bun..."


"Enak kan!!" Zelofia gemas melihat respon Nina yang lucu, "Kau itu manis sekali"


"Aahh" desis Nina saat Zelofia tidak sengaja mencubit dagunya. Ada bekas cengkeraman Zain disana dan pasti masih nyeri.

__ADS_1


"Ada apa sayang, Kok kesakitan, Kenapa?" Zelofia merasa cemas kepada Nina yang termenung menatap pria dingin yang baru saja turun dari tangga.


__ADS_2