Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Ibu Zain, Senam Hamil


__ADS_3

"Kita coba tanya ibu" Zain mengambil ponselnya dan menghubungi bunda Zelofia.


Tidak lama karena memang bunda selalu setia membawa ponselnya kemana-mana, karena memang inilah tujuannya.


"Assalamu'alaikum Zain, ada apa?" tanya Zelofia menjauhkan ponselnya karena Zain melakukan panggilan video.


"Bu, Zain mau tanya ini... kaki Aynina kok pada bengkak-bengkak ya? Ini kenapa ya Bu?" Zain menggunakan kamera belakang hingga memperlihatkan kaki istrinya.


Zelofia malah tertawa, "Makanya kalian itu kalau dibilangin nurut. Diminta untuk tinggal bareng sama bunda biar nantinya nggak usah repot-repot tanya nggak mau"


"Ibu itu kaki Nina kenapa emangnya?" tanya Zain agak memaksa karena dia sangat penasaran.


"Kaki Nina bengkak saat hamil itu sudah menjadi hal biasa sayang... jangan khawatir. Nina hanya perlu sesering mungkin untuk berjalan kaki, banyak minum air jangan ngemil terus Nina!!" sindir Zelofia membuat Nina menyembunyikan cemilannya.


Nina menyengir tanpa dosa, "Ini bawaan bayi bunda... bawaannya pengen makan terus, jadi kebiasaan ngemil deh"


"Ngemil boleh sayang tapi jangan terlalu banyak, minum es juga jangan banyak-banyak... bunda dengar jika bayinya besar ya?"


Nina mengangguk.


"Minum es nya kurangi sayang, soalnya nanti bayinya tambah besar melebihi batas normal... masih 7 bulan nggak boleh besar-besar" ucap Zelofia mengingatkan.


"Iya bunda" balas Nina mengangguk begitu saja.


"Nanti bunda sama anggota yang lain mau ke rumah kalian buat persiapan 7 bulanan. Sekalian bunda bawain minyak urut buat kaki kamu ya... tenang aja nanti bunda urut kaki kamu" ucap Zelofia begitu semangat.


"Eh nggak usah bunda... aduh ngerepotin" tolak Nina risih melambaikan kedua tangannya menolak kearah kamera.


"Kamu tenang aja sayang... bunda udah biasa ngurut kakinya Helena dulu, terus ini tadi bunda juga baru ngurut kakinya Nensi"


"Kaki kak Nensi juga bengkak-bengkak ya Bun?" tanya Nina merasa terkejut, mengingat jika kehamilan Nensi masih terbilang muda.


"Iya sayang, padahal baru 5 bulan itu" balas Zelofia juga merasa heran."Ya sudah ini bunda langsung otw kesana aja ya... tungguin bunda ya. Bunda mau kesana sama anggota yang lain juga"


"Iya bunda... hati-hati"


"Iya sayang... assalamu'alaikum" ucap Zelofia menutup panggilannya saat Nina sudah membalas salamnya.


Kini wajah murung Nina tertuju kearah suaminya yang santai memasukan kembali ponselnya. Pria ini merasa tidak bersalah dan Nina ingin menyalahkannya.

__ADS_1


"Kan!!!"


Zain mengernyitkan dahinya, "Apa?"


"Kan! Aku bilang juga apa! Ibu hamil itu nggak boleh kebanyakan leyeh-leyeh kayak gini... kamu mah kalau dibilangin suka ngeyel" kesal Nina melempar semua kesalahan kepada suaminya.


"Sayang, tapi kan---"


Nina segera bangkit, "Udah ah... kalau aku duduk terus begini, lama-lama aku nggak bisa jalan, bisanya cuma menggelinding keluar masuk kamar"


Zain nyaris mencubit kedua pipi Nina, namun teringat jika istrinya ini sedang ada di mode kesal. Ia harus pandai-pandai menyembunyikan rasa gemasnya.


"Mulai sekarang aku akan berhenti ngemil, akan berhenti diam didalam kamar, banyakin jalan, semangat lahiran normal" ucap Nina memberi semangat pada dirinya sendiri.


"Boleh, tapi jangan bantu-bantu Maya ya?"


"Jangan Hubby... aku harus bantu-bantu kak Maya, itung-itung sebagai olahraga... dahlah aku nggak mau nurut sama kamu lagi" Nina yang merasa dibodohi itu bersidekap di dada dan membuang muka malas.


"Kamu mulai nggak nurut kan! Sayang ridho Allah itu tergantung ridho suami. Nggak boleh kamu terus bantah omongan suami... pamali sayang" Zain mencium kedua pipi berisi milik Nina.


"Ya nggak gitu juga maksudnya..."


Nina yang kikuk mencoba menjawab sebisanya, "Hem, maksudnya kan... kalau ngasih aturan itu yang logika sedikit, masa iya aku nggak boleh turun dari kasur bahkan kuliah aku keteteran lagi"


"Kalau masalah kuliah kan aku udah minta dosennya untuk datang kesini sayang" bantah Zain kurang terima.


“Tapi kalau dosennya yang kesini kayak nggak kuliah! Enak ketemu dosen di kampus terus ketemu temen kampus juga. Kalau kayak gini bosen Hubby” protes Nina mengernyitkan dahi kesal.


“Kalau udah lahiran boleh deh masuk kampus lagi”


“Aaaa nggak usah deh! Udah telat banyak… nggak usah kuliah aja sekalian. Aku capek harus ngulang dari awal muluk” Nina berkali-kali membuang nafasnya yang kesal.


Zain menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi bingung sendiri harus berbuat apa.


“Sayang, gimana kalau aku panggil pelatih yoga buat kamu? Lumayan kan bisa meringankan tubuh kamu… aku panggil ya?” Zain sudah bersiap menelpon pelatih yoga keluarga Darius.


Tiba-tiba perempuan ini tersenyum mengerikan dan penuh misteri, “Aku mau melakukan yoga, Kalau ada syarat!”


“Syarat?” Zain berpikir sejenak, “Ok, aku akan melakukan apapun syarat mu asal kau senang”

__ADS_1


“Ok”


_______


Beberapa menit berlalu pelatih yoga yang Zain panggil sudah memulai treatment. Nina dengan senyum yang tampak puas juga mengikuti yoga sesuai arahan sang pelatih.


“Pertama-pertama duduk dan membuka kaki kemudian… mencondongkan badan kedepan dan lengan diatas lantai” seru pelatih yoga dengan suara keras, “Kita hitung ya, satu… dua… tiga…”


Nina mengikuti arahan pelatih itu dan melihat seseorang yang juga melakukan yoga disampingnya.


“Bagaimana ibu Zain? Apa sudah terasa ringan?” tanya Nina menahan tawa melihat suaminya juga ikut senam ibu hamil dengannya.


Zain tersenyum kecut, “Apapun untukmu sayang”


Puas Nina menertawai suaminya yang nampak konyol mengikuti senam ini. Lagian, dulu pria itu juga pernah mengajaknya olahraga yang ia tidak suka. Itung-itung ini pembalasan dari Nina karena sudah mengajaknya ke gym waktu itu.


“Ibu pelatih tolong itu ibu Zain dicek dulu! Kayaknya duduknya kurang benar…” Nina tidak puas-puas mengerjai suaminya yang dingin ini.


Pelatih itu hanya tertawa malu melihat gurauan yang mereka perlihatkan.


Saat pelatih itu datang Zain langsung bangkit, “Berhenti sajalah… aku sudah merasa lelah”


“Kalau gitu aku juga nggak mau yoga deh” kata Nina mengikuti suaminya. Ini adalah syaratnya dan Zain tadi sudah menerima, namun kenapa tiba-tiba dia menolak. Itulah yang membuat Nina kesal.


“Iya sayang… ayo kita senam lagi” Zain menangkup kedua pipi Nina dan mengajaknya melakukan senam lagi.


Nina tidak henti-hentinya menertawai pria ini. perutnya hampir sakit saat Zain melakukan pose yang kedua, yaitu…


“Lanjut yang kedua… posisikan tubuh telentang di lantai dan kedua kaki taruh diatas kursi, lengan diatas lantai sebagai tumpuan, kemudian angkat pantat keatas 8 kali” ucap pelatih dan mereka mengikuti, “Satu… dua…”


“Aduh berat banget hubby…”


Zain punya kesempatan lari dari senam memalukan ini, “Aku ban---”


“Jangan!!” potong Nina saat suaminya itu ingin bangkit. Jika dia membantu pasti itu menguntungkan untuk Zain, tandanya dia tidak akan ikut senam, “Enak saja! Ayo senam lagi”


Zain membuang nafas dan melakukan kembali senam mengikuti istrinya. Dia sudah sangat malu dengan posisinya saat ini, dan ternyata ada yang mengintip di jendela kaca mansion mereka.


Seluruh anggota keluarga sudah menyaksikan kegiatan mereka di luar kawasan kolam. Mereka semua mengintip dengan wajah yang menahan tawa.

__ADS_1


“Astaga!!” Zain menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Saking syoknya.


__ADS_2