Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kemana Aynina?


__ADS_3

Wajah Nina terpaku memperhatikan suaminya yang begitu khawatir dengan darah yang keluar dari hidungnya. Pria ini bersegera mencari lap untuk mengelap darah tersebut tanpa rasa jijik sedikitpun. Jujur saja, saat seperti ini tidak ada yang Nina rasakan selain bahagia dengan perhatian suaminya.


“Lihat keatas” pinta Zain dan Nina melakukannya. Namun mata Nina tidak bisa lepas dari wajah suaminya.


“Jangan terlalu khawatir. Mungkin ini karena efek kelelahan” ujar Nina tersenyum tidak mau membuat Zain khawatir.


“Ayo kita ke dokter saja” Zain sudah membopong tubuh Nina di dadanya, hanya tinggal melangkah keluar.


“Tidak usah ke dokter karena aku tidak apa-apa. Hanya kelelahan saja… aku ingin tidur boleh?” pinta Nina tersenyum.


Tanpa basa-basi kepala Zain langsung mengangguk, “Tidurlah”


Tidak membutuhkan waktu lama terdengar suara dengkuran halus dari gadis yang ia gendong. Pria ini segera melangkah lebar keluar dari ruang gym pribadi keluarga Darius.


Mereka melewati ruang tamu yang ada Maya disana.


“Maya buatkan teh” perintah Zain menaiki tangga dengan segera.


“Baik, Tuan” Maya menutup mulutnya dengan tangan. Ia tidak menyangka Zain berbicara dengannya, mengingat jika pria itu sangat cuek.


Maya bersegera membuatkan teh.


Sesampainya di kamar Zain membaringkan tubuh gadis itu diatas ranjang, tidak lupa ia juga melepas sepatu Nina sampai menyelimuti tubuhnya dengan selimut.


“Istirahatlah… aku tidak akan mengganggumu” Zain mengusap dahi gadis itu serta meninggalkan kecupan sayang disana.


“Tuan Zain” lirih Maya masuk kedalam kamar saat pintunya belum sempat Zain tutup. “Ini tehnya”


“Taruh diatas nakas” titah Zain bersimpuh lutut disamping ranjang melihat Nina bahkan memainkan tangannya di pipi gadis itu.


“Apa yang terjadi dengan Non Nina, Tuan?”


“Dia kelelahan karena aku terus memintanya berolahraga” jawab Zain atas pertanyaan Maya, “Apa sebelumnya Aynina pernah mimisan?”


Maya mencoba berpikir mengenai pertanyaan atasannya, “Saya tidak pernah melihat Non Nina mimisan sebelumnya”


“Apa Alzam sudah pulang?”


“Tuan Alzam belum pulang” kepala Maya menggeleng dengan matanya yang melihat nanar gadis itu. Ia malah menjadi khawatir dengan kondisinya.


“Kau bisa keluar sekarang”

__ADS_1


“Baik Tuan. Tapi, jika seandainya non Nina sudah bangun tolong kabari saya Tuan” ucap Maya memberi pesan kepada Zain.


“Baiklah. Untuk sekarang biar dia istirahat terlebih dahulu” kata Zain dan Maya pamit undur diri.


Lantas Zain masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Ia membiarkan Nina yang sedang tidur karena itu permintaannya sendiri.


_____


Kediaman Aditama


Sesuai dengan apa yang telah Aditama sampaikan kepada pihak keluarga Darius bahwa ia akan menikahi anak bungsu mereka. Dari itu ia meminta ijin kepada istri pertamanya untuk bersedia di madu.


Namun, sikap Cristina saat ini sesuai dengan ketakutan Aditama terhadapnya. Wanita setengah baya itu marah-marah dengan sangat hebat dan melempari semua barang-barang yang ada di kamar bahkan ia memaki Aditama dengan kata-kata yang kasar.


“Mah, dengar penjelasan papah dulu. Papah akan menjelaskan semuanya mah” ucap Aditama mencoba menurunkan amarah istrinya.


Cristina terkekeh lirih, “Omo omo… suamiku yang tampan!! Yang sok tampan… kau merasa tampan karena disukai oleh gadis muda seusia anakmu kan, hah?”


Ctak


Hairdryer terlempar mengenai dahi Aditama dengan sangat keras saat Cristina yang geram dengan wajahnya itu. Jika bisa, ia ingin mencabik-cabik wajahnya.


Kedua tangan Aditama segera memegangi alat kejantanannya yang menunduk takut.


“Mah!! Jangan seperti ini mah… papah bisa jelaskan” Aditama mendekati istrinya yang cerewet ini.


“Sudah jelas tua bangka kurang belaian” maki Cristina lagi. “Apa kurangnya aku? Aku sudah sexy bahkan p*nyudaraku lebih montok daripada dia! Memang aku kurang muda tapi mulutku lebih berpengalaman daripada mulut si anak baru lahir itu. kurang apa!!”


Cristina lagi-lagi membanting barang-barang yang ada di kamar ini. Wanita cerewet dan lebay ini tidak bisa begitu saja memaafkan suaminya.


“Mah, ini demi Devan”


“Demi Devan?” Cristina kembali menodongkan tusuk kondenya kearah Aditama, “Jangan kau bawa-bawa putraku yang tampan itu ya!! Oh… pasti putraku suka sek karena menurun dari papahnya”


“Mah, papah janji menikah dengannya supaya polisi tidak mengejar Devan lagi”


“Omong kos---” Cristina tidak lagi melanjutkan kalimatnya. Telinganya menangkap sebuah alasa Aditama yang radak masuk akal.


“Papah bersedia menikahinya, namun dengan syarat mereka menjabut tuntutannya. Mah, Devan bisa bebas dan leluasa pergi kemanapun tanpa ada polisi mengincarnya”


Cristina menirunkan tusuk kondenya dengan wajah yang berubah biasa, agak sedikit tenang. Memiliki kesempatan Aditama segera mendekat.

__ADS_1


“Mah, papah akan menikahinya secara agama dan negara tapi hanya disaksikan oleh beberapa orang saja. Mamah jangan khawatir karena istri yang diakui masyarakat hanya Cristina Aditama saja” Aditama merayu mencoel dagu istrinya.


Aditama tahu jika istrinya ini akan luluh jika sudah menyangkut anaknya. Makanya dia menggunakan Devan untuk membujuk istri lebaynya ini.


Wanita ini juga termasuk mudah luluh, nyatanya dia segera tersenyum mendengar rayuan suaminya ini.


“Terus, mereka akan membebaskan Devan dengan segera kan pah?” tanya Cristina memastikan.


“Tentu saja! Mamah tinggal telpon Devan untuk segera pulang” Aditama masih menggunakan nada merayu, “Kita bisa sekolahkan devan dengan rasa tenang”


“Devan bisa tetap di Indonesia?” antusias Cristina berharap.


“Tentu saja mah” Aditama mengangguk saat Cristina tertawa senang, “Namun, keluarga mereka meminta kita untuk mengirim Devan ke luar negeri”


“Loh gimana sih?”


“Mereka takut kalau Devan melakukan hal yang diluar batas lagi” Aditama kembali waspada melihat wajah istrinya yang agak berubah. “Udahlah mah nggak papa asal polisi nggak ngejar Devan lagi”


“Begitu?” Crsitina mendengus kesal namun detik berikutnya dia mengangguk. Namun sesuatu baru saja ia ingat.


Plak


Cristina memukul barang kejantanan suaminya, “Kau sudah tua tapi masih bisa kuat juga ya?”


Karena pukulan itu membuat Aditama tersenyum miring, “Kenapa mah? Kau ingin mencoba batang lato-lato milik papah?”


“Tentu saja” Cristina mencubit kedua pipi Aditama dengan gemas.


Keduanya mulai gila di ruangan ini.


Author : Sudah lupakan saja dua orang yang sudah tua itu!!


____


Matahari sudah semakin terik menyelimuti kediaman Darius yang memiliki rumah besar dan ruangan yang begitu banyak. Salah satu ruangan disana menyuguhkan seorang pria sedang tidur siang dibawah selimutnya seorang diri.


Zain membuka kedua matanya yang sempat mengantuk saat menemani istrinya. Pria ini mengedarkan pandangannya saat tidak melihat sang istri disebelahnya.


“Kemana Aynina?” Zain turun dari ranjang mencari di kamar mandi, namun hasilnya nihil. Gadis itu tidak ada disana.


Pria itu semakin cemas. Ia menautkan kancing kemejanya yang sempat terbuka lalu keluar dari kamar. Takutnya gadis itu melakukan pekerjaan yang berat saat tubuhnya masih belum sehat.

__ADS_1


__ADS_2