![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Nina beserta Aya berjalan masuk melewati gerbang. Tiba-tiba dari arah kanan datanglah seorang remaja laki-laki yang memakai pakaian sama sepertinya.
"Hai... kau kuliah disini juga?" tanya remaja laki-laki yang membuat mata Nina membulat sempurna.
"Eh Argan... kau juga kuliah disini ya! Astaga sepertinya Indonesia sangat sempit ya" gurau Nina tertawa.
"Aku masuk dulu deh" Aya yang tidak mau mendengar obrolan tak penting itu pun memilih masuk.
"Iya Aya..." jawab Nina tersenyum.
Pertemuan kedua mereka membuat Argan merasa canggung. Ia tidak tahu harus berbicara apa.
"Hem... kayaknya aku belum tahu namamu deh" gugup Argan menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Eh iya... namaku Nina" menjabat tangan Argan.
Tidak sengaja Nina melihat Zain masih berdiri memperhatikan mereka. Pria itu masih belum pergi.
'Ada apa dengannya?' gumam Nina dalam hati serta mengerutkan dahinya. Tidak tahu harus berbuat apa, ia pun memberikan senyuman kecil untuk Zain.
Namun apa yang Nina dapat? Pria itu sangat sombong dengan melengos memakai kaca mata hitam lalu masuk kedalam mobil.
'Aih kenapa tadi aku tersenyum? Dia itu benar-benar membuatku malu' gumam Nina dalam hati seraya melihat mobil Zain melaju membelah jalan.
Karena bingung, Argan mencoba memastikan arah mata Nina. Alhasil ia juga melihat mobil Zain pergi.
"Siapa dia, Nina? Majikan mu ya?"
"Hah" pekik Nina membulatkan matanya. Ia tidak habis pikir jika Argan mengira Nina seorang pembantu.
Nina pun memilih mengangguk. Yah, dibilang istri juga Zain tidak menganggapnya. Pembantu lebih menyenangkan.
"Wah majikan mu baik sekali membiarkanmu kuliah, dia juga mengantar dirimu... salut sih majikan kayak gitu" puji Argan mulai berjalan berdampingan.
"Tapi majikanku itu saaaaaaangat dingin. Sedingin es yang ada di kutub Utara... dia tidak pernah berbicara dengan seorang wanita, katanya!!. Cuma aku gak percaya, soalnya dia itu banyak omong kalau udah sama aku" ucap Nina begitu percaya diri.
Tapi memang benar ucapan Nina. Akhir-akhir ini Zain banyak bicara jika dengan Nina.
Argan pun tertawa, "Terus!! Maksudnya jalan ceritanya kayak di novel-novel gitu!! Majikanku suamiku"
Nina hanya tersenyum sinis. Ah sudahlah, jika di teruskan membuat Nina bingung menjawabnya.
Atensi Nina tiba-tiba berganti. Ia melihat seorang pria yang pernah singgah didalam hatinya. Pria itu nampak memakai seragam seperti Nina, membuat gadis itu semakin tidak percaya.
'Astaga Devan!! Apa pria itu juga melanjutkan studinya di kampus ini?' monolog Nina begitu sakit rasanya.
__ADS_1
"Nina kamu kenapa?" Argan menepuk bahu Nina, takutnya gadis ini kenapa-napa karena diam.
"Ak-aku ba-baik aja kok" gugup Nina menundukkan kepalanya takut jika pria itu menyadari kehadirannya.
Namun Devan memiliki daya ingat yang tinggi, apalagi tubuh Nina begitu mencolok menggoda mata Devan untuk mendekat.
Tiba-tiba Devan menghadang langkah Nina, Nina pun melangkah lewat kiri namun pria mesum ini terus mengikutinya.
"Hai Nina... aku tahu itu kau" ucap Devan percaya diri.
Nina membuang nafasnya dan menghadap wajah pria itu. Kedua mata mereka saling tatap sinis.
"Apa maumu?" Nina mencoba memberanikan diri.
"Heii santai!! Bahkan aku tidak melakukan apa-apa tapi wajahmu terlihat marah" Devan menyeringai bahagia melihat Nina.
"Kau kenal dengan dia, Nina?" tanya Argan penasaran.
"Dia kekasih barumu, Nina?" Devan melirik Argan dari atas sampai bawah. Oh astaga pria ini sangat cocok dengan Nina, begitu norak.
"Tolong ya Van... kau jangan mengganggu diriku ataupun dia" Nina melangkah pergi namun Devan menahannya.
Nina memberontak mencoba melepasnya.
"Santai Nina... aku tidak melakukan apa-apa!!" Devan tersenyum mendekatkan bibirnya di telinga Nina, "Ngomong-ngomong, kau terlihat semakin cantik dan dewasa... bukankah tidak masalah jika kapan-kapan kita berpesta?"
"Aku tidak ingin mengganggumu... hanya saja aku merasa terkejut melihatmu bisa kuliah di kampus elit seperti ini. Kau tidak mendapatkan beasiswa kan? Oh astaga, kau tidak... menjual diri, kan?" Lirih Devan di kalimat terakhirnya.
Hampir saja Nina melayangkan pukulan panas dari tangannya.
Devan tahu sewaktu sekolah Nina tidak mendapatkan beasiswa. Dari itu membuat Devan bingung, mengingat jika Nina orang tak punya.
"Itu bukan urusanmu!! Mau aku kuliah dimana pun tidak ada urusannya dengan dirimu, jadi jangan ganggu aku lagi"
Devan tersenyum melihat Nina meninggalkan dirinya. Namun raut wajahnya seketika berubah melihat Argan membelah miring dahi dengan jari telunjuk.
Sinting Argan bilang.
"Siall siapa pria itu? Nina, Nina... kenapa kau semakin cantik saja Hem? Padahal kau miskin, untuk membeli skincare saja kau tidak bisa. Bagaimana wajahmu bisa cantik setiap harinya? Aku harus mendapatkan dirimu lagi Nina..." racau Devan meninju angin.
__________
Di kantor Zain.
Hari ini Zain ada rapat bersama perusahaan milik Asad dan beberapa pengusaha terkenal dari Arab. Sebelum itu ia dan Ebil menyempatkan kembali ke kantor untuk mempersiapkan berkas-berkas.
__ADS_1
"Berkas yang ku minta sudah kau siapkan?" tanya Zain memasuki ruang kerjanya seraya sibuk dengan tab di tangan.
"Tentu saja, Tuan" jawab Ebil mengikuti Zain dari belakang.
"Oh iya... bukankah meeting ini nanti, ada Aditama itu?" Zain menduga saja.
"Betul, Tuan. Tuan Aditama bekerja sama dengan perusahaan milik Tuan Asad jadi secara pribadi Tuan Asad mengundang Tuan Aditama untuk datang ke rapat tersebut" jelas Ebil memasukan berkas-berkas kedalam tas.
Atensi Zain berganti melihat sebuah benda indah yang baru ia lihat. Bentuknya yang indah membuat Zain penasaran dengan asalnya.
"Siapa yang memberikan bunga mawar berwarna oranye itu diatas meja kerjaku, mengotori saja... singkirkan" acuh Zain tidak suka.
"Baik, Tuan" Ebil segera meraihnya.
Sudah ribuan hadiah yang sering Zain terima dan ia selalu membuangnya. Ia tidak suka menerima barang seperti itu karena menurutnya hanya rayuan menjijikan saja.
Memang, banyak orang dari kalangan atas dan bawah yang masih mengincar Zain.
"Tuan, ada surat di mawar ini?" ucap Ebil memberitahu Zain.
"Aku tidak peduli... kau buang semua benda-benda yang terkirim di ruangan ku. Mulai besok aku tidak mau ada barang-barang tak berguna ada di atas meja..." Zain acuh.
"Sepertinya aku harus memblokir akses petugas pos datang kemari supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi" monolog Zain mengecek komputernya.
"Tapi Tuan... di surat ini tidak ada namanya" ucap Ebil lagi dan menarik perhatian Zain.
Pasalnya setiap surat yang di kirimkan ke ruangan Zain, rata-rata semuanya telah meninggalkan nama. Dari itu Zain tahu siapa nama pengirim yang memberikannya. Tapi berbeda dengan kiriman yang satu ini.
"Kemarikan"
Ebil membawa buket bunga mawar oranye itu beserta surat yang masih terselip di kelopak bunganya.
Tangan Zain mengulur membuka surat tersebut, isinya.
...'Selamat pag!! Saya membawakan anda sebuah bunga mawar merah oranye. Saya tidak tahu benda apa yang membuat anda semangat mengawali pagi ini, tapi setelah saya mencarinya di google... rupanya bunga mawar oranye sangat cocok untuk meningkatkan semangat didalam diri anda. Semangat :)'...
Setelah membacanya Zain melipat kertas pink itu lagi dan menyelipkan di kelopaknya.
"Apa harus saya buang, Tuan?" tanya Ebil dengan sangat hati-hati.
"Ganti bunga yang ada di vas itu dengan bunga yang baru" ucap Zain keluar dari ruangan dengan begitu gagah dan wibawa.
"Jangan dibuang Ebil!! Apa susahnya bilang seperti itu sih? Bikin bingung saja" monolog Ebil saat Zain sudah tidak ada di ruang kerjanya.
To be continued
__ADS_1
Jangan lupa lohh bebsss buat vote, like and komen 😘