Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kelewat Bahagia


__ADS_3

Perlahan tangan Nina meraih surat dengan kertas merah muda bergambar hati dari suaminya. Tentu saja hati Nina semakin berbunga-bunga. Ia pun membacanya.


...‘Dear Aynina ...


...Sejujurnya mengirim surat seperti ini bukanlah karakterku! Aku dipaksa oleh ibu menulis surat untukmu. Sebenarnya untuk apa? Jaman sudah modern dan juga ada handphone. Kenapa harus menulis surat? Jangan menertawaiku’...


Tepat kalimat terakhir itu terbaca, Nina langsung menahan tawanya. Suaminya ini memang taahu jika kalimat itu dapat menggelitik istrinya.


“Aku tidak akan tertawa” monolog Nina kembali membaca.


...‘Aku tidak ingin menulis apa-apa. Hanya ingin mengatakan kalau gaun itu aku yang pilihkan dan akan ada pekerja yang datang untuk meriasmu. Jangan lupa, aku akan menjemputmu sebentar lagi’...


“Hanya ini?” Nina membolak-balikan surat itu dengan harapan suaminya akan menulis lebih banyak, beberapa detik ia memukul kepalanya sendiri, “Suamimu itu kan memang dingin”


Tidak ia sadari telah tertawa oleh sikap aneh suaminya. Detik berikutnya perempuan itu bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Perempuan itu mandi dengan sangat cepat, lalu ada pekerja datang untuk merias Nina. Merias Nina yang notabennya sudah cantik mau selama apapun tetap akan cantik. Dalam hitungan menit para pekerja sudah selesai merias Nina.


“Sudah selesai Nyonya! Kami permisi dulu” pekerja itu menunduk hormat lalu pergi setelah Nina mengucapkan terima kasih.


_______


Beberapa jam berlalu akhirnya Zain datang ke rumah. Niatnya ingin menjemput permaisuri di istana kekaisaran miliknya. Menit-menit berlalu saat pria itu tidak kunjung melihat istrinya, hanya pria tua yang sudah menunggu Aya.


“Selamat malam” singkat Aditama menyapa Zain.


Zain tidak menjawab, sebaliknya ia hanya mengangguk dan membuang muka. Tidak memperdulikan pria itu mau apa.


“Selamat datang, Tuan Aditama. Duduklah” Abrizal mempersilahkan Aditama untuk bergabung dengan mereka.


Detik selanjutnya mata mereka tertuju kearah lantai dua yang menampilkan wanita cantik dengan dress merah menyala. Pakaian yang sexy dengan rambut tertata diatas, membuat Aya tampak menawan.


Sebaliknya, wajah Aya tidak terlihat menawan sama sekali. Dia terus membuang nafas dan tidak ada senyum sampai menuruni tangga.


“Ayo pergi!” ajak Aya meninggikan suaranya.


“Tunggu Nina dulu, Aya”


Aya kembali membuang nafas, “Restoran yang sama, namun ruangan berbeda. Ayo pergi!!”


“Sepertinya Aya sudah tidak sabar ingin makan malam dengan saya” Aditama menanggapi sikap Aya dengan santai.

__ADS_1


Aya berdecih dan melenggang pergi begitu saja, meninggalkan Aditama disana.


“Saya pergi dulu” Aditama pamit undur diri dan menyusul Aya.


Tepat setelah Aditama keluar, terlihatlah wanita cantik yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh Zain. Perempuan itu menuruni tangga seraya memandang wajah terpukau suaminya.


“Nina sangat cantik” puji Zelofia yang baru datang.


Penampilannya yang berkelas membuat Nina tidak imut lagi, melainkan wanita dewasa dengan hels dan tas kecil di pergelangan tangannya, tidak lupa dengan dress hitam membalut tubuhnya yang langsing. Pilihan Zain memang pas di tubuh Nina.


“Zain” Zelofia menyentuh bahu Zain yang langsung sadar dari lamunannya, “Istrimu sudah lama menunggumu. Hampir 1 jam lebih”


Nina menundukan wajahnya yang tertawa. Tidak lama Zain mengulurkan telapak tangannya minta digenggam.


“Cepat berangkat”


“Kami berangkat dulu, bu. Assalamualaikum” Nina segera menggenggam telapak tangan Zain dan meninggalkan rumah.


______


30 menit kemudian


Kendaraan berkarakter mewah telah sampai di sebuah restoran dengan kelas orang kaya. Dari mobil itu turunlah dua manusia berlawan jenis. Pria bertoxedo hitam dan istrinya dengan gaun yang senada.


“Ayo masuk”


“Ini bener dari ayah untuk kita?” Nina masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat. “Kau tahu Hubby, aku pernah lewat depan restoran ini”


Zain sedikit tertawa, “Untuk apa?”


“Aku dan temanku sewaktu pulang sekolah lewat depan restoran ini. kami menggosip tentang pemilik restoran ini. Kapan bisa datang kemari, kapan bisa memboxing meja mereka. Itu adalah mimpi-mimpi kecil seorang siswa” cerosos Nina tidak berhenti tertawa.


Dan Zain pun sama. Pria ini terlihat tertawa mendengar cerita istrinya.


“Sekarang impianmu telah terwujud” Zain mencium dahi Nina lalu bergandengan tangan dan masuk kedalam mengikuti waiter restotan.


Saat keduanya masuk kedalam, mereka akan disuguhkan dengan keindahan ruangan yang memiliki nuansa gelap dengan lilin-lilin beraroma disetiap meja. Disana Nina melihat meja Aya dan Tuan Aditama. Keduanya terlihat seperti bukan pasangan karena Aya terus mengomel dan pria tua itu hanya diam menerima.


Nina membiarkannya. Ia tidak mau makan romantic ini terganggu oleh apapun.


“Mari, tuan dan nyonya”

__ADS_1


Waiter kembali menuntun dua insan itu menaiki tangga kelantai 10 dengan kaca menembus pandang kota. Dipenuhi dengan lampu kerlap-kerlip disertai suasana romantic yang membuat jantung Nina ingin meledak kesenangan.


“Ini ruangan anda dan silahkan duduk. Kami akan menyiapkan beberapa hidangan ke meja tuan dan nyonya”


“Terimakasih” jawab Nina dengan singkat lalu membiarkan waiter itu melenggang pergi. Meninggalkan Nina yang gila berlari kecil mendempel di kaca sana. “Hubby!!”


Berbeda dengan Zain yang berjalan pelan menemui perempuan itu. Bagaimanapun ia harus tetap mempertahankan citranya, ada cctv yang memantau kegiatan mereka.


Cukup Nina saja yang kegirangan seperti itu, dia jangan!.


“Coba lihat” Nina menunjuk jalanan yang padat kendaraan, “Dari sini aku bisa melihat penyebab kemacetan itu terjadi. Aku pernah terjebak macet diantara kendaraan itu dan aku terus mengomel ingin tahu penyebabnya”


“Kau mau aku melemparmu kesana”


Nina mengernyitkan dahinya, “Untuk apa?”


“Untuk memberi tahu penyebab kemacetan itu terjadi” balas Zain hanya bercanda, namun perempuan itu malah menanggapinya dengan serius.


“Bisa aku buka jendela ini?”


Zain memberikan isyarat waiter untuk segera membuka pintu tersebut, dan terbukalah. Nina bergegas keluar merapat ke balkon. Pria itu tidak paham denga napa yang ingin Nina lakukan tapi dia juga membiarkan. Detik berikutnya…


“HAIIIII KALIANNNNN”


Wajah Zain nampak terkejut mendengar suara istrinya yang bagai toak dari lantai 10 restoran ini. Zain mengedarkan pandangannya cepat, menoleh kearah belakang yang terdapat waiter disana. Waiter itu tersenyum kikuk melihat kelakuan nyonya Darius.


“Aynina pelankan suaramu” Zain mendekat menyenggol bahu perempuan itu.


Nina mengurung mulutnya dengan kedua telapak tangan, membentuk seperti toak.


“ADA BUS BESAR SEDANG PUTAR BALIKKK JADI AGAK LAMA. MAMPIRLAH DI RESTORAN INI BERSAMAKU”


Bukannya malu perempuan ini malah tertawa ngakak karena bisa meluapkan semua yang ada didalam hatinya. Seperti ada rasa kelegaan.


Zain berdeham membiarkan. Namun yakin jika pria ini kelewat malu.


Bukan orang-orang disana yang dengar tapi dua insan yang ada dilantai satu telah mendengarkan. Kedua insan itu sibuk berperang kecil melempar makanan.


“Kakak iparmu terdengar bahagia. Kau tersenyumlah sedikit” ucap Aditama meminta Aya untuk tersenyum.


Aya tersenyum, tapi tersenyum terpaksa lalu luntur begitu saja.

__ADS_1


“Jangan mimpi”


Aditama membuang nafasnya sabar menanggapi sikap Aya. Namun sampai kapan? Bisa-bisa pria ini akan menua dulu baru Aya menerima.


__ADS_2