Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Seperti Boneka Anabelle!.


__ADS_3

Mata Nina yang mengembun tidak bisa ia sembunyikan dari pria yang menjadi suaminya secara sah dan agama. Hari pertama menikah saja pria ini sudah membuat Nina menangis oleh tatapan matanya.


Bagaimana pernikahan harmonis yang ia harapkan akan terwujud kalau begini caranya!.


"Ak-aku... aku hanya ingin membantumu" cicit Nina menundukkan wajahnya kebawah tidak mau melihat wajah Zain yang menyeramkan.


"Dengar aku" Zain mencengkeram lengan kecil Nina yang semakin menangis histeris melihat sorot mata merahnya, "Jika aku tidak menjawab bukan berarti kau bisa seenaknya melakukan apapun yang kau mau, paham"


Zain melepas Nina dengan sedikit dorongan, membuat tubuh kecil itu terhempas duduk diatas ranjang.


Koper itu terhuyung didepan mata Nina saat Zain kembali menendangnya. Ia sangat murka.


"Aku pikir dengan menikahi gadis kecil seperti dirimu yang memiliki keberanian rendah akan membuatku terbebas dari sentuhan fisik sekaligus paksaan orangtua. Kau polos dan muda, kemungkinan kau akan menjauh dari ku yang jauh lebih tua darimu. Dari itu aku menerimamu..."


Hina Zain tidak memandang rasa belas kasih, membuat Nina menangis sadar jika dia mau menikah hanya karena keterpaksaan.


"Jangan menyentuhku dan jangan menyentuh barangku... kau tak lain hanya wanita yang berganti marga saja, jangan berharap ingin menjadi istri ku yang sesungguhnya" maki Zain untuk yang terakhir kali, sebelum akhirnya ia keluar dari kamar.


Tangis Nina semakin menggelegar di kamar berdinding bambu klasik mewah ini dan pastinya suara tangis Nina menembus sampai keluar, karena para pelayan terlihat saling pandang dengan wajah yang muram.


Kini hari-hari Nina dipenuhi dengan air mata. Ia tidak pernah berani memperlihatkan wajahnya didepan Zain.


Saat di pagi hari Nina akan menyantap sarapan paginya setelah Zain selesai, jika Zain bangun tidur maka Nina akan langsung hilang entah kemana dan jika Zain tidur, maka Nina akan muncul didalam kamar seperti hantu yang memakai dress putih khas baju malam. Nina akan tidur dilantai dengan alas kain perca yang ia punya dan tumpukan pakaian sebagai bantal.


Di Villa ini Nina hanya seperti bayangan yang tidak terlihat wujudnya, bahkan Zain tidak memperdulikannya sama sekali.


Sempat Nina frustasi dan ingin kabur, namun ini adalah keputusannya untuk menjadi istri Zain. Maka dia akan menanggung resikonya.


08:00


Tidak terasa sudah seminggu Nina dan Zain di villa ini tanpa adanya kontak fisik ataupun percakapan mereka. Para pelayan saja sampai heran dengan kedua pasangan ini, karena yang ia lihat dari pasangan terdahulunya. Mereka akan dibuat malu melihat keromantisan anggota keluarga Darius, namun berbeda dengan yang satu ini.


Mereka melihat Nina dan Zain turun secara terpisah, seakan keduanya tidak memiliki hubungan apa-apa.


Pelayan melihat Nina turun dari tangga mengenakan dress selutut dengan rambut di Cepol keatas. Sangat imut.


"Selamat pagi, Nona" sapa mereka tersenyum kepada Nina yang mendekati meja makan.


"Selamat pagi bibi Aysil!!... Bi, Tuan Zain nya udah makan kan?" bisik Nina supaya tidak ada yang mendengar.


Aysil hanya mengangguk.

__ADS_1


Nina menghela nafas lega, "Syukurlah kalau begitu... aku akan makan... aku sudah lapar sedari tadi bi... tadi Tuan Zain lama sekali makannya?"


Aysil segera mengambilkan makanan untuk Nina yang sudah siap menengadahkan piringnnya dan Aysil tertawa.


Aysil menepuk gemas kepala Nina. Semenjak disini, Nina sudah ia anggap seperti anaknya.


"Tadi Tuan Zain emang lama banget sarapannya... satu suap dia bermain handphone... satu suap lagi dia masih bermain handphone... begitulah" gurau Aysil membuat Nina tertawa senang dan begitu juga dengannya.


"Nona mau makan apa?"


"Apa aja bi... Nina udah laper bangetttt" protes Nina memanyunkan bibirnya supaya terlihat imut kepada wanita setengah baya yang sudah siap dengan lauk-pauk yang menggiurkan.


Perut Nina sudah keroncongan rasanya. Namun tiba-tiba Nina tidak bernafsu saat melihat makanan yang sering dihidangkan dan ia wajib memakannya.


"Kenapa setiap pagi selalu ada hidangan Sari Kacang Hijau Jahe, puding wortel, sup kerang, omelette udang jamur? kenapa seakan semuanya tidak pernah absen?"


"Hmm, karena keluarga Darius sangat mementingkan keturunan... makanan ini dihidangkan khusus untuk menantu mereka supaya cepat hamil"


Uhuk


uhuk


Nina tersedak oleh makanannya sendiri. Ahh Nina merasakan nasinya mengganjal di rongga hidung dan menciptakan sensasi panas, bahkan ada yang keluar dari kedua hidungnya.


"Maksudnya, aku harus cepat-cepat hamil?" mata Nina membelalak.


"Tidak harus juga Nona... karena keluarga Darius itu tidak menuntut menantunya untuk segera dikaruniai anak... mereka tidak terlalu berharap, hanya pasrah kepada rejeki yang memang Allah berikan. Nyatanya, menantu kedua mereka dibiarkan belum memiliki seorang anak" bisik Aysil mencondongkan wajahnya Karen takut ada yang melihat.


Nina mengangguk paham, "Memangnya mereka sudah berapa lama menikah?"


"Sekitar 5 tahun yang lalu..." Aysil menjawab sambil melakukan bersih-bersih. "Oh iya, anda tahu kalau Tuan Zain itu sebelumnya seorang duda kan?"


Nina mengangguk, " Kenapa, bi Aysil bertanya seperti itu?"


Aysil hanya menggeleng kecil, "Tidak ada, hanya saja! Saya pikir Nona belum tahu mengenai status Tuan Zain dulu... dilihat dari usia Nona... terlalu muda" Aysil menyeringai tawa dan sepertinya Nina menanggapinya dengan serius, terlihat wajahnya yang berubah muram.


"Kalau dipikir-pikir dulu, Tuan Zain sangat mencintai istrinya namun karena penyakit, akhirnya Nyonya Anita harus di panggil Allah. Dari itulah sifat dingin Tuan Zain! Sebenarnya kalau saya boleh jujur, saya terkejut mendengar jika Tuan Zain menikah kembali..."


Sebenarnya bi Aysil tidak boleh menceritakan mendiang istri Zain didepan istrinya yang sekarang. Hal itu dapat menimbulkan kecemburuan untuk Nina.


Namun Nina tidak merespon apa-apa selain ekspresi wajah saja yang ia rubah.

__ADS_1


Melihat raut wajah Nina yang berubah membuat Aysil merasa bersalah, "Oh Nona, maafkan bibi ya non... bibi keceplosan..."


"Hmm gak papa kok bi... bibi gak salah apa-apa jadi bibi gak perlu minta maaf seperti itu, Nina jadi merasa bersalah..." canggung Nina menyelipkan rambutnya dibelakang telinga.


"Memangnya Tuan Zain sama sekali tidak berbicara dengan Nona ya? Maaf kalau pertanyaan bibi agak menyakitkan, kalau non Nina gak mau jawab... bibi juga gak maksa kok"


Nina mengangguk, "Iya... Tuan Zain tidak mau berbicara dengan Nina bi... Nina gak tahu harus gimana"


Aysil menjadi kasian melihat wajah Nona mudanya ini hingga ia memikirkan satu rencana yang mungkin akan membuat keduanya dekat, sepertinya.


Aysil berbisik.


"Bi... kalau Tuan Zain marah gimana?"


Aysil menggeleng yakin, "Sudah sepantasnya anda melakukan itu karena anda ini istrinya. Seorang pria akan susah untuk menolak hal seperti itu"


"Apa iya?"


"Coba aja dulu non..."


Nina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia kurang yakin dengan usulan pembantu nya ini.


"Aku akan mencoba" Nina bergegas pergi dan Aysil menaikan salah satu sudut bibirnya.


22:30


Malam hari ini Zain kembali dari ruang bacanya. Sesuai dengan prediksi nya jika gadis muda itu tidak lagi ia lihat bentuknya. Entah kemana Zain tidak peduli, yang ia pikirkan hanya ketenangan dirinya sendiri.


Saat Zain melepas jasnya dan juga jam di tangan, ia merasa angin berhembus menerbangkan tirai-tirai yang ada di jendela kamarnya yang terbuka.


'Sepertinya akan turun hujan yang lebat' pikir Zain menutup jendela kamarnya.


Zain segera berbalik dan matanya langsung disuguhkan oleh seorang wanita yang memakai dress malam berwarna putih, rambutnya terurai panjang dan make up terpoles di wajahnya. Wanita itu berdiri didepan jendela yang belum sempat Zain tutup.


Kening Zain menyerngit jijik melihat Nina yang malu-malu memakai gaun malam itu. Ia tidak habis pikir wajah gadis polos itu kini berubah mirip boneka, Anabelle.


Bagaimana tidak, kedua pipinya merah bundar dan lipstik merah merona seperti darah serta maskara yang luntur. Zain yakin gadis ini tidak pernah ber-rias, dan dengan percaya dirinya ia berniat pamer?


"Memalukan"


To be continued

__ADS_1


Kalau aku bayangin Nina tuhhh cantik kok, walau agak menor🤣 Terima dong Zain!!! dia bela-belain dandan cuma buat kamu loh!!


__ADS_2