Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Jangan Lupa Beritahu


__ADS_3

“Dasar pria tua menjengkelkan” maki Aya kembali menepis tangan Aditama dari bahunya dan kali ini temponya lebih cepat dan kasar.


“Hei-hei ini juga bayiku, Aya sayang” Aditama menoel dagu Aya danlagi-lagi wanita itu menepisnya.


“Aku masih ingat penolakanmu beberapa hari yang lalu dan itu sudah cukup membuat hatiku sakit hati. Jika kau tidak mau bayiku dan juga tidak mau tanggung jawab ya sudah… aku juga tidak berniat untuk menikah dengan pria tua seperti dirimu”


Aditama memanas. Ia sebenarnya sudah jengkel menghadapi sifat arogan anak ini tapi karena bayi Aya membuatnya harus menahan emosinya.


“Dengar Aya…aku tahu aku salah waktu itu, tapi kan itu sudah berlalu dan sekarang aku ingin memperbaikinya Aya” bujuk Aditama kembali.


“Aya, sepertinya Tuan Aditama bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Kenapa kau tidak memberikan kesempatan dia untuk mengantarkan dirimu untuk cek kandungan” Nina mencoba membujuk dengan nada rendah. Takut ke singgung.


“Betul, dengarkan kakak iparmu ini” ucap Aditama setuju dengan pendapat Nina.


“Kok kamu jadi belain dia ya?” tetap saja amarah telah mendominasi otak Aya. “Kalau kamu nggak mau nganterin ya aku nggak masalah. Aku bisa cek sendiri kok”


“Aya bukan begitu maksudku” Nina meraih lengan Aya yang kesal ingin pergi.


“Kalau begitu nggak usah belain dia”


“Tapi dia itu tetap ayah bayi kamu. Setidaknya berikan dia kesempatan untuk menemanimu cek kandungan!” bujuk Nina sekali lagi.


“Nin di aitu---”


“Aku tahu. Tapi hubungan darah tidak bisa lepas. Aya, di aitu ayah bayimu dan adahak dia juga sebagai ayah untuk menemanimu ke rumah sakit. Kamu mau yah?” tanya Nina penuh harap.


Aya membuang nafas. Ia diam tanpa menjawab sepatah kata, membuat pria itu menduga jika Aya benar-benar menerima.


Aditama kelewat bahagia, “Oh bayiku” tangannya terulur ingin menyentuh perut Aya tapi anak ini menepisnya.


“Jangan sentuh-sentuh! Masih mending dibolehin nemenin” sentak Aya melenggang pergi dan Nina segera mengejarnya.


“Anak itu membuatku darah tinggi. Bagaimana bisa aku terjerat hubungan seperti ini” monolog Aditama mengejar mereka.


_____


Ruang dokter Iriana


Wanita hamil itu terbaring diatas brankar dengan perut yang agak membesar. Dokter wanita itu sedang menempelkan alat pendeteksi jantung si bayi dan Aditama beserta Aynina duduk di sofa ruangan itu.


“Oh ini ada suara detak jantungnya, nyonya” kata dokter itu, “Anda dengar?”


“Mana?” antusias Aditama secara tidak sadar mencondongkan tubuhnya mendekat.

__ADS_1


Selepas mendekat Aditama baru saja menangkap suara detak jantung bayinya yang normal dan menuntun. Hampir saja Aditama terharu.


“Aya suaranya seperti tendangan-tendaangan kecil. Dug… dug… dug!”


“Apaansih lebay” Aya acuh menepis lagi tangan Aditama yang berniat ingin mengusap kepalanya. lama-lama pria tua ini malah terkesan alay dan membuat Aya malu saja.


Sementara Nina tidak berhenti membalas pesan suaminya yang terkesan posesif dengan puluhan pertanyaan bersarang di layar ponselnya.


‘Kenapa pria tua itu ada di rumah sakit dengan kalian?’


‘Apa dia ingin membuat masalah dengan datang tiba-tiba disana? Memperlihatkan drama seakan dia begitu perhatian kepada bayinya’


Itulah sepucuk pesan yang telah Zain kirimkan untuk istrinya yang menahan tawa membaca semuanya.


Nina berikir mau membalasnya dengan jawaban apa ya! Dan akhirnya Nina membalasnya, “Itu bukti tanggung jawabnya kepada Aya”


‘Nikah sama dia aja sana!’ pesan Zain nyaris membuat Nina tertawa ngakak di ruangan ini. Rupanya emosi Aya menurun dari kakaknya.


“11, 12 sama adiknya” monolog Nina tertawa.


Ting


Ada notifikasi pesan yang dari seseorang yang layar ponsel itu tampilkan. Entah pesan apa itu, tapi sukses membuat tawa Nina memudar.


“Mau kemana?” tanya Aya terdengar ngegas.


“Mau ke kamar mandi sebentar” ucap Nina dan wanita itu mengangguk.


Karena sudah mendapatkan pesetujuan dari adik iparnya, barulah Nina keluar menemui seseorang yang sudah mengirimkan pesan itu. Wanita ini nampak mengedarkan pandangannya mencari nama ruangan yang telah disebutkan.


Tidak membutuhkan waktu lama Nina berhasil menemukannya lalu ia buka.


“Mas Alzam” panggil Nina setelah masuk kedalam ruangan Alzam. Disana tidak hanya Alzam saja, tapi ada dokter Aldo dan perawat Nensi juga.


“Selamat datang, nyonya Darius” dokter Aldo berdiri dan menyapa Nina yang segera mengangguk hormat. “Silahkan duduk”


“Terimakasih” jawab Nina atas permintaan dokter Aldo.


“Nin, perkenalkan ini dokter Aldo yang akan menemanimu selama menjalani pengobatan. Dia itu dokter handal yang mendapat penghargaan dokter muda terbaik di Asia. Iya kan” puji Alzam membuat Aldo malu dan memukul bahu Alzam.


“Gitu amat ngerendahinnya” balas Aldo merasa jika Alzam sedang mengejeknya.


Nina tersenyum. Tidak masalah! Sedikit gurauan dapat meredakan rasa gugup dalam dirinya. Detik selanjutnya Alzam dan Nensi keluar untuk membiarkan Nina mengobrol dengan dokter Aldo.

__ADS_1


“Baiklah nyonya Darius kita mulai konsultasinya! Sebelumnya maaf ya ini di ruangan dokter Alzam karena ruangan saya sedang dibersihkan” dokter Aldo sudah memposisikan diri dengan nyaman menyerong supaya kesannya tidak sedang mengintimidasi.


Nina mengangguk lalu teringat sesuatu, “Sebenarnya dokter… ada yang ingin aku tanyakan tentang penyakit ini. Bagaimana aku bisa terserang penyakit ini? Diperjalanan tadi aku mencari di internet tentang gejala penyakit kanker darah tapi banyak gejala yang tidak aku rasakan, dokter” tanya Nina merasa agak mengganjal saja.


“Anda harus merasa beruntung nyonya, itu berarti penyakit anda lambat berkembang di tubuh anda”


“Hem” Nina mengangguk lesu, “Tapi aku tidak sering demam, tidak sesak nafas juga, tidak ada rasa ingin muntah juga. Mungkin saja, diagnosa itu salah dokter… mu-mungkin ketukar”


“Tidak semua gejala kanker darah dapat anda alami nyonya. Ada beberpa gejala yang umum sering terjadi seperti kelelahan, sering memar, pendarahan seperti mimisan, penurunan berat badan, hilng nafsu makan, sakit kepala”


“Iya… aku mengalami semuanya” balas Nina lesu. Tadinya ia pikir bisa membantah diagnosa dokter Aldo tentang penyakit yang diderita, ternyata hasilnya tetap sama.


“Jika saya boleh tanya! Apa sebelumnya, mungkin beberapa bulan yang lalu atau satu tahun yang lalu anda sering demam?”


Nina mencoba berpikir. Kenangan masa lalu saat dia demam, memang ada dan kedua orang tuanya bertengkar memarahi Nina saat itu.


“Iya… aku sering demam saat aku SMA. Aku sampai berpikir tidak lulus sekolah waktu itu karena keseringan ijin” jawab Nina masih bisa tersenyum.


Aldo mengangguk dan mencatat semua yang Nina ucapkan. Sesekali ia melirik Nina yang nampak gelisah memijat punggung tangannya.


“Jangan khawatir Nyonya… pengobatan sekarang sangat canggih dan sudah ada 75 persen pengidap kanker yang berpotensi sembuh. Bagaimana dengan 25 % itu dokter? Jangan khawatir dan tetap berpositif thinking. Segalanya hanya Allah yang mengaturnya nyonya, kita hanya perlu usaha” ujar Dokter Aldo.


Nina membalasnya dengan senyuman saja. Ia tahu dokter ini hanya menghibur saja.


“Untuk sementara ini saya akan menulis resep obat yang harus anda minum selagi saya atur jadwal terapi untuk anda. Saya akan menghubungi anda dengan segera nyonya…” ucap Dokter Aldo seraya menulis kilat lalu memberikannya kepada Nina.


“Terimakasih dokter”


“Oh iya… jangan makan makanan berminyak, jangan terlalu banyak makan gula, panas dan dingin” ucap Dokter Aldo mewanti-wanti.


“Iya dokter. Terimakasih” setelah berpamitan Nina keluar dari ruangan itu menemui Alzam yang menunggu di luar.


“Nin, bagaimana?”


Baru saja Nina merasa lega setelah terbebas dari pertanyaan Dokter Aldo, namun Alzam malah kembali menyerangnya dengan pertanyaan.


“Dokter Aldo memberikan aku resep obat dan akan segera mengatur jadwal terapi yang akan aku lakukan” Nina mengecek jam di tangannya. Ia lupa jika datang bersama Aya, “Mas aku harus segera pergi, soalnya tadi aku sama Aya”


“Tunggu Nin” cegah Alzam menahan tangan Nina, “Jangan lupa untuk memberitahu kak Zain”


To be continued


Kalau seandainya ada kesalahan penjelasan mengenai penyakit itu mohon dimaafkan ya karena ilmu author masih kurang dan baru mendalami sampai di situ saja!. 🙏😊

__ADS_1


Jangan lupa untuk sekuntum bungan mawarnya untuk Abang Zain sama dek Nina 🤣 inikan hari Senin dan vote nya pasti udah cair nih!! Tampolin ke novel ini bisalah🤭🙏 terimakasih atas dukungannya 🙏🤗


__ADS_2