![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Zain tahu jika Alzam yang akan mengobati Nina. Yah itu hal biasa untuk seorang Dokter.
Mengetahui jika Nina menghindari diri, ia pun bisa melihat itu semua. Tapi ia begitu penasaran dengan keadaan gadis sekarang.
"Baiklah, tunjukkan dimana yang luka maka aku akan segera mengobati mu" Alzam sudah duduk didekat ranjang.
"Bisakah kau saja yang mengobati luka ku?" tanya Nina mengabaikan Alzam dan memilih perawat Nensi yang mengobatinya.
"Kenapa aku jika Dokter Alzam ada disini?" tanya Nensi tersenyum namun terlihat anggun.
Gadis ini tidak menjawab, membuat Nensi menduga-duga jika ada sesuatu diantara mereka. Ya, dia memang serba tahu.
"Baiklah, aku akan mengobatimu..." jawab Nensi tersenyum menerima.
Srett
Nensi menyibak tirai di ruangan tersebut, hingga tidak ada yang melihat keduanya disana.
"Duduklah" pinta Nensi lembut dan Nina patuh.
Nensi pun segera mengobati luka di wajah si gadis yang selalu membuatnya penasaran dengan asal usulnya. Gadis ini datang dengan Zain, kakak Alzam.
Bagaimana bisa dan itu membuatnya bertanya-tanya.
"Ngomong-ngomong, kau siapanya Tuan Zain?" lirih Nensi supaya suaranya tidak didengar oleh dua pria yang ada di luar.
"Kau kenal dengannya?"
"Pelankan suaramu sedikit" tegur Nensi dengan ekspresi yang ramah namun mematikan dan mulut Nina langsung mengatup.
"Kau... kenal dengannya?"
"Tentu aku kenal. Dia duda Arab, ups... sudah menjadi mantan, soalnya aku dengar dia sudah menikah lagi walau pernikahannya tidak secara terbuka" kata Nensi menyesal karena tidak diundang.
Nina malah menjadi kesal, dia memaki dalam hatinya, 'Mereka hanya membicarakan pernikahan seorang duda, tapi tidak ada satupun orang yang membicarakan status mempelai wanitanya'
Nensi menepuk bahu Nina saat gadis ini tidak merespon dan hanya diam tergambar. "Apa yang kau pikirkan, kau belum menjawab pertanyaanku"
"Hemm Tuan Zain itu..." Nina agak kurang nyaman mengatakan jika dia ini istrinya.
"Itu?" dan Nensi sudah sangat penasaran dengan hubungan Nina dan calon kakak iparnya.
"Apa kau percaya saat aku mengatakan jika aku ini istrinya?"
Sejenak Nensi termenung dan bermonolog dalam hati, 'Pakaian hitam putih seperti mau melamar kerja, rambut dikepang dua bagai anak kecil saja. Masa iya ini istrinya?'
Sementara itu dua pria yang ada dibalik tirai. Alzam melihat Zain yang sibuk dengan ponselnya. Ia begitu penasaran dengan asal-usul luka di bibir Nina.
"Kak, kau melukai Nina lagi?"
__ADS_1
"Apa aku pernah melukainya?" dengan polosnya Zain menjawab seperti itu, tentu membuat Alzam tidak terima.
"Kau selalu menyakiti perasaannya, baik fisik maupun batin. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak tahu"
Zain membuang nafas kesal, "Lalu maksudmu apa? Kau ingin mendengar jika aku menyakitinya begitu? Iya aku melakukan itu, aku menggigit bibirnya... kau puas?"
Alzam termangu. Berarti maksud Zain itu, mereka telah berciuman? Astaga hati Alzam potek rasanya.
"Ka-kalian..."
Zain pun juga sama. Ia baru sadar dengan apa yang telah ia katakan.
Namun sepertinya pengakuan itu mampu menghasilkan hawa panas dari Alzam, membuat Zain suka.
"Iya... berciuman, bibir dengan bibir. Bukan hanya dengan bibir saja... aku juga mencium pipinya, lehernya, dan..." Zain mau mual mengatakan kebohongan itu.
"Dan... " kepalan tangan Alzam sudah mengurat dibawah sana.
Zain menatap tajam adiknya, "Tubuhnya"
Alzam begitu amat murka tahu kakaknya mempermainkan gadis muda yang telah menjelma menjadi kakak iparnya.
"Aku tidak percaya... kau tidak suka dengannya"
"Apa melakukan itu harus dua orang saling suka?" Zain tersenyum menang melihat wajah memanas adiknya.
"Jangan kau permainkan dia"
Kembali ke Nina dan Nensi.
Nensi masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan Nina.
"Are you sure?" Nensi mencoba memastikan dan Nina mengangguk.
Tapi Nensi masih belum percaya. Ia harus mencari bukti lagi jika gadis muda ini adalah istri dari putra ketiga keluarga Darius, Ankazain.
'Bisa saja Zain menabrak gadis ini, tidak mau membuat masalah! Jadi dia membawanya ke rumah sakit' monolog Nensi dalam hati.
"Berikan aku bukti"
"Kau mau bukti yang bagaimana?" Nina siap memberikan bukti kepada Nensi.
Nina tahu jika perawat ini tidak percaya dia istrinya. Apa dia seburuk itu? Ia rasa tidak. Dia sudah sempurna untuk Zain yang temperamen.
"Bukti yang kuat" Nensi berpikir sejenak lalu membisikan sesuatu yang membuat bola mata Nina ingin keluar.
"Menciumnya? Aku tidak bisa"
Nensi tersenyum miring, "Aku yakin kau tidak akan bisa melakukan itu karena kau itu bukan istrinya. Jangan mengaku-ngaku... kau bisa dituntut olehnya jika mengaku sebagai istri seorang Ankazain"
__ADS_1
Nina memincingkan matanya. Merasa kurang terima jika perawat ini belum percaya. Tapi jika dia terima permintaan perawat ini, bisa-bisa dia digoreng setelah pulang nanti.
"Lain kali jangan mengaku-ngaku sebagai istrinya... beruntung Tuan Zain tidak mendengar perkataanmu"
"Iya" singkat Nina tidak mau peduli.
"Sudah selesai" kata Nensi langsung menyibak tirai yang menutupi mereka, memperlihatkan dua orang pria saling mencengkeram kerah satu sama lain.
Mata mereka saling melotot tajam.
"Apa yang kalian lakukan di ruangan ini?" suara tinggi Nensi menggema, mencuri perhatian dua pria yang ada disana.
Mereka pun saling melepas.
“Terutama dirimu Dokter! Kau adalah Dokter di rumah sakit ini tapi perilakumu barusan sama sekali tidak mencerminkan sosok seorang Dokter” Nensi kecewa dengan Alzam.
Alzam merapikan kembali seragam medis yang sempat berantakan, begitu juga dengan Zain. Mereka pun berjauhan.
“Katakan kepadaku… hal apa yang membuat kalian bisa bertengkar seperti ini?” tanya Nensi centil namun mereka hanya diam.
‘Tuan Zain pasti memanas-manasi Mas Alzam! Aku harus membawanya pergi dari tempat ini’ resah Nina dalam hati.
“Tuan, mari kita pulang… aku sudah diobati” ajak Nina dan Zain pun langsung melenggang pergi.
Namun sebelum itu, Zain sempat mendaratkan tatapan tajam menusuk hati Alzam. Sayangnya, Alzam tak menggubrisnya.
Sepeninggal mereka, Nensi masih penasaran dengan pertengkaran mereka terlebih dengan hubungan Nina dan Zain.
“Siapa gadis itu? Zain tidak seramah itu sampai mau mengantarkan pembantu pergi ke rumah sakit” Nensi duduk bersilang kaki dan tangan menyangga dagunya.
“Aku penasaran” kata Nensi menambahi.
“Dia istri kak Zain”
“Oh” mulut tipis Nensi membuka, sedikit terkejut. Rupanya benar yang gadis itu katakan dan iapun tertawa.
“Kenapa kau tertawa?” Alzam duduk kembali ke kursinya.
“Tidak!! Hanya saja, dia gadis yang polos… sangat berbeda dengan selera Zain” Nensi menarik kursi duduk mendekat, “Pasti karena perjodohan!”
Mata Alzam memincing melihat rekan kerjanya ini menyeringai sok manis.
“Biasanya pasangan dari hasil perjodohan itu, salah satunya memiliki penampilan seperti pembantu dan seorang CEO… dan, mereka tidak saling mencintai, kan?” Nensi terus menebak dan tebakannya selalu benar.
“Iya, kau benar” singkat Alzam realistis saja.
“Ada lagi!” Nensi begitu semangat menggali berita, “Dalam perjodohan seperti itu, pasti salah satu diantara mereka ada yang tersiksa… aku lihat sepertinya si gadis itu tersiksa, iya kan?”
“Kau itu kenapa sih? Kenapa kau bertanya-tanya?”
__ADS_1
Nensi bisa menebak jika ucapannya benar dan iapun semakin memperlihatkan giginya.
“Karena kasian, kau ingin merebut gadis itu dari kakakmu, kan?”