Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Suamiku Mantan Tentara


__ADS_3

“Tanganmu”


Nina hanya melihatnya bingung mau melakukan apa. Suaminya ini sangat irit bicara membuat Nina bingung mencerna kata-katanya.


“Apa kau ingin jatuh?” Zain kembali bersuara dan Nina hanya menggeleng saja. “Lingkarkan tanganmu di leherku”


Grep


Tanpa menjawab atau berpikir lama Nina langsung melingkarkan kedua tangannya di leher Zain. Jangan banyak bicara Nina karena nafasmu bau.


Saat Nina tidak sengaja melihat Devan. Pria itu terlihat aneh, tubuhnya masih diam dan matanya juga memejam seakan pingsan, namun tangannya bergerak ke pinggang bagian belakang.


Rupanya Devan hanya berpura-pura saja. Nyatanya pria itu bangkit dan mengeluarkan sesuatu dari balik pinggang ia arahkan ke mereka.


“Tuan!!!”


Dor


Blush


Seringaian muncul di wajah Devan melihat peluru miliknya menancap di punggung kokoh bagian kanan sang target. Setelah itu Devan melarikan diri.


“Tu-tuan” pekik Nina termangu melihat Zain diam dengan pandangan kosong kearah depan. Ia takut tiba-tiba pria ini terjatuh dan pingsan.


“Tuan!!”


“Sudah kubilang tutup mulutmu!! bau” kata Zain seakan tidak terkena luka tembakan. Ia tetap berjalan membawa Nina dalam gendongan.


“Apa sekarang nafasku itu penting? Anda terluka dan bisa pingsan kapan saja” Nina mencoba turun saat Zain mengeratkan gendongannya.


“Aku mantan tentara”


“Hah?” lagi-lagi pria ini sukses membuat mulut Nina terbuka. Namun tidak lama ia harus menutupnya.


'Jadi, selain mantan duda, suamiku mantan tentara?' gumam Nina dalam hati.


Tandanya, Zain sudah dilatih untuk dapat menahan rasa nyeri akibat tembakan, dan terkena peluru itu sudah biasa bagi Zain.


"Tentara?"


“Angkatan darat” kata Zain menambahi.


Pantas saja suaminya ini memiliki tubuh tinggi besar, otot-ototnya terasa bergeronjal dan keras. Rupanya dia ini mantan TNI Angkatan darat. Sangat keren.


“Tuan Zain!!”


Ebil yang sudah mendapat telpon itu telah melaksanakan tugasnya dan datang membawa polisi dan beberapa anggota medis untuk mereka.


“Anak psikopat itu melarikan diri kearah perbatasan hutan XXX. Sana kejar!” kata Zain dan para polisi segera melaksanakan perintahnya.

__ADS_1


“Anda baik-baik saja, Tuan?”


“Hanya luka sedikit. Kau bawa mobilku karena aku akan ikut mobil ambulan bersamanya” titah Zain yang ia maksud bersama Nina.


“Baik, Tuan”


____


Sementara itu Devaan yang sudah berhasil menembak seseorang. Ia segera melarikan diri mengobrak-abrik tumbuh-tumbuhan yang menghalangi jalan.


“Aku yakin setelah ini akan dipenjara! Itu tidak akan terjadi kepadaku. Aku tidak boleh dipenjara… gadis itu masih belum terluka” kata Devan mencari jalan dan pistol ada digenggaman.


______


Didalam mobil ambulan bagian belakang ada Nina dan Zain yang sedang diobati oleh pihak rumah sakit. Sementara Ebil mengikuti dari belakang.


“Kau kurang mengonsumsi vitamin K. Perbanyak makan tomat, alpukat, kiwi” kata Zain dengan mata yang tertutup. Tidak tahu untuk siapa.


Dengan tubuh yang masih kokoh pria itu sedang menyindir Nina yang juga diobati oleh anggota medis.


Nina sadar jika darah di lukanya belum juga berhenti. Tandanya ia harus banyak mengonsumsi vitamin K.


“Ahh iya-iya… aku memang jarang makan tomat, alpukat dan juga kiwi. Aku tidak punya uang untuk membeli semua itu” sindir Nina mengambil kesempatan. Siapa tahu Zain memberinya uang.


Namun bukannya uang yang Nina dapat malah lirikan tajam Zain kepadanya.


“Kartu kredit yang ibu berikan kepadamu. Apa kau menghabiskannya?”


“Lalu kenapa kau tidak menggunakannya untuk membeli buah yang mengandung vitamin K?” tanya Zain sembari diobati.


Jika dia menggunakannya, bagaimana dia bisa memberikan uang untuk ayahnya? Bahkan ia saja memikir-mikir untuk membeli handphone, padahal benda itu penting.


“Mubazir. Aku akan memetic tomat yang ada dihalaman belakang saja. kebetulan buah tomat disana merah-merah dan terlihat menggiurkan, bentuknya yang besar pasti akan penuh di mulutku. Selain menimbulkan vitamin K aku akan kenyang juga. Mungkin itu bisa membuatku puasa 3 hari. Beras di rumahpun pasti akan irit juga” kata Nina tersenyum sok manis.


Para anggota medis yang memeriksa merasa terhibur dan tertawa, lain halnya dengan Zain yang membuang muka tidak ingin mendengarnya.


“Aku juga pernah kekurangan vitamin K, nona!” sahut perawat wanita yang mengobati kaki Nina.


“Oh iya? lalu apa yang kau makan?”


“Aku mengonsumsi Tomat. Aku menanam tomat di belakang rumah dan setelah berbuah dan masak, lalu giliranku untuk memetiknya” kata perawat itu dengan bangga.


“Oh begitu! Lal---”


“Kau berhutang nyawa denganku” sela Zain setelah merasa lelah mendengar obrolan Nina dengan perawat wanita itu.


“Menyelamatkan orang itu menjadi sebuah hutang? Kalau uang dibayar dengan uang, lalu nyawa dibayar dengan apa”


“Nyawamu!” balas Zain dengan wajah dingin.

__ADS_1


Nina berpikir sejenak, “Lalu apa nyawaku itu penting? Aku rasa nyawaku ini banyak melakukan hal-hal yang kurang penting. Kau hanya akan kesusahan jika memiliki nyawaku”


“Setidaknya, berikan aku jantungmu, paru-parumu… semua organ yang hanya ada satu” katanya menakut-nakuti Nina, namun wajahnya terlihat bengis.


Nina menelan ludahnya seraya kedua tangan memegang dada. Ia sangat takut yang Zain katakan itu nyata. Bisa mati beneran dia!.


“Ehem” Nina berdeham gugup, “Aduh-aduh sakitttt” Nina mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Maafkan saya!!” perawat itu langsung berhenti mengobati saat Nina mengangguk membenarkan.


“Hem, pelan-pelan saja. Luka kecil seperti ini sudah membuatku kesakitan dan ketakutan. Aku tidak akan kuat jika mendapati luka yang lebih besar” sindir Nina tersenyum polos kearah Zain yang masih datar tanpa ekspresi apapun.


Nina menjadi menyesal sudah mendapat pertolongan Zain. Tahu begitu tadi dia berusaha sendiri saja. Beruntung pertolongan yang ia lakukan hanya sekali, sesuai dengan jumlah jantung dan paru-parunya.


Ambulan itu pun membawa mereka berdua ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan lebih serius.


_______


Kediaman Aditama


Drettt


“Hallo, apa kau sudah menemukan keberadaan bocah kurang ajar itu?” Aditama mengangkat telponnya saat ia melihat jika itu anak buahnya.


Setelah Devan diberi tahu jika ia dikeluarkan dari kampus, sebenarnya ia sudah menerima itu. Namun rupanya seseorang telah membuat Devan di blacklist dari seluruh kampus di Indonesia. Hal itu membuat Devan murka dan mencari Nina.


“Belum Tuan! Kami belum menemukan Tuan muda Devan… kami sudah mencoba untuk mencarinya di kampus tapi teman-temannya bilang tidak melihat” jawab salah satu bodyguard yang diutus Aditama untuk mencari sang anak.


“Siall” Aditama langsung membanting handphone nya kesembarang arah. Ia begitu murka takut jika anaknya bertindak diluar rencana.


“Pah!!! Gimana ini? Bagaimana kalau Devan mencelakai Nina lagi!! Ah Mamah malu sama Zain, sama Umi Arab juga!!” rengek Cristina kepada suaminya yang meraup kasar wajahnya sendiri.


“Kau itu cuma mikirin citramu didepan keluarga Darius!! Anak mu itu bertindak gegabah karena didikanmu!! Seharusnya kau bujuk dia, kau haluskan hatinya, bukan malah diam saja!!”


“Mamah bukan diam saja. Kita kan punya uang dan niatnya mamah mau menyekolahkan Devan di luar negeri saja. Jadi mamah santai. Tapi anak itu malah kabur!” sahut Cristina dengaan wajah yang gelisah.


Drettt


Ponsel Aditama kembali berdering, membuat Ia segera mengangkat setelah bersebunyi dari istrinya.


“Sudah kubilang jangan menghubungiku jika aku belum menelponmu! Kau tidak tahu anakku sedang kabur saat ini dan kemungkinan dia akan kembali membawa penghinaan untuk diriku. Jadi saat ini aku sedang pusing. Aku tutup---”


“Tunggu” suara lembut dari balik telpon itu menggema di telinga Aditama, “Tunggu Mas! Tolong jangan tutup telponnya aku mohon. Aku sedang mengandung bayimu"


“Diamlah atau ada yang mendengar”


To be continued


Apa sifat Devan ini menurun dari bapaknya?🤔

__ADS_1


Terus ikutin dan kasih dukungan lebih ya bebsss 🤗🙏 jangan lupa jejak kaki!! biar aku tambah semangat


__ADS_2