![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mata Nina terlihat fokus menatap wajah Zain yang terus mengalihkan pandangan. Nina yakin jika pria itu sedang tersenyum dengan malu-malu. Saking fokusnya, membuat Nina tidak sadar dengan motor yang melaju dari samping.
Dan…
Bruk
Tubuh Nina jatuh terjungkal dengan manisan miliknya berhamburan pecah dijalanan. Hal itu menarik perhatian banyak orang.
“AYNINAA” pekik Zain berlari menemui istrinya yang terduduk ditengah jalan sana. “Kau baik-baik saja?”
“Hm” kepala Nina mengangguk lemas. Ia melihat kedua telapak tangannya tergores saat menjadi penyangga tubuhnya tadi.
Beruntung saja Nina hanya terserempet oleh motor pria memakai helm itu. Pria itu tidak turun atau memberikan embel-embel permintaan maaf. Dia hanya berhenti dan melihat.
“Siall kalau naik motor hati-hati bocah” maki Zain menemui pemuda yang langsung menaikan gigi motornya dan gas. “Dia ingin balapan dengan diriku ya?”
“Tuan!” panggil Nina menghalangi Zain yang ingin mengejar menggunakan mobil yang ia bawa.
Karena panggilan Nina, membuat Zain mengurungkan niat dan kembali menemui istrinya.
“Nggak usah dikejar. Mungkin dia nggak sengaja! Nyatanya waktu dia mau nabrak langsung dibelokin sedikit stir nya” ucap Nina berpositif thinking.
“Ayo aku bantu” Zain menuntun gadis itu yang berjalan dengan sangat lambat hingga pria ini tidak sabar dan berakhir menggendong Nina.
“Tuan, ada banyak orang”
Zain tidak peduli. Ia terus membawanya menuju mobil.
“Buka pintu mobilnya” pinta Zain kepada Nina yang langsung membukanya. Pria itu pun mendudukkan Nina di kursi mobil. “Mana yang luka?”
Nina memperlihatkan kedua telapak tangannya yang tergores aspal menghitam. Zain meraih lalu meniup-niup luka itu.
“Sela---” ucapan Zain terpotong saat melihat mata Nina yang terpaku kearahnya. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Seperti melihat hantu saja”
“Hantu tidak setampan kau” desis Nina membuat mata pria itu semakin fokus melihat wajah polos yang meniup lukanya sendiri.
Hanya beberapa detik saja, “Ayo kita pulang”
“Jika kita pulang bagaimana dengan manisannya? Seblakku? Aya akan kecewa jika dia tidak memakan manisan karena dia kan sedang ngidam” kata Nina menahan tangan Zain yang ingin masuk kedalam mobil.
__ADS_1
“Ya sudah. Kau masuk saja biar aku yang belikan manisan dan mengambil seblak yang tadi sudah sempat aku pesan”
Nina mengangguk lalu membiarkan suaminya ini menutup pintu mobil dan membeli makanan untuk dirinya dan Aya.
Sebaliknya, pengendara motor yang tadi sempat menyerempet tubuh Nina menghentikan laju kendaraannya disebuah jembatan yang dipenuhi dengan lampu penerang.
Pria itu melepas helm nya, memperlihatkan wajah tampan namun mengerikan, “Enak sekali dirimu Nin! Aku harus bersembunyi dari polisi dan kau malah menikmati jajanan di pinggir jalan”
_______
Setelah selesai dari luar untuk jajan, mereka berdua kembali ke rumah hingga menemui Aya yang sudah menunggu manisannya.
Zain membuka pintu kamar Aya yang sedang duduk bermain dengan ponselnya. Wajahnya yang muram pasti sedang memikirkan sesuatu. Namun karena kedatangan kakak nya membuat Aya sedikit tersenyum.
“Ini manisan untukmu” Zain memberikan satu kresek kepada Aya yang langsung menerimanya.
“Tapi aku mintanya cuma satu kak”
“Itu milikku satu” sela Nina yang baru saja dari dapur untuk mengambil beberapa mangkuk kedalam kamar Aya.
“Terus rujak buahku mana?” tanya Aya kepada Zain yang duduk di depannya.
“Kakak lupa membelinya” Zain memilih jujur lalu mengusap kepala Aya sejenak, “Besok kakak belikan”
Gadis itu nampak sibuk dengan makanannya, membuat Aya sedikit mengernyitkan dahinya iri.
“Sepertinya disini kau yang ngidam. Lihatlah, kau beli banyak sekali makanan” sindir Aya menghentikan Nina yang sudah menyendoknya.
Nina hanya menyeringai sungkan, “Kau mau seblak, Aya?”
“Aku tidak suka seblak” Aya membuang muka lalu memakan manisannya setelah ia menuangnya kedalam mangkok.
“Kalau begitu seblaknya untuk kau saja, Tuan. Aku sengaja membeli dua karena aku tidak bisa makan sendirian. Apa kau mau?” tanya Nina seperti memohon kepada Zain yang tergoda segera datang.
Alhasil pria ini duduk disamping Nina dan gadis itu memberikan mangkok berisi seblak yang tidak terlalu pedas kepada suaminya.
“Aku tahu kau tidak bisa makan pedas, jadi tadi aku meminta yang sedang untuk dirimu”
Alis Zain terangkat satu, “Bagaimana kau tahu aku tidak bisa makan pedas?”
__ADS_1
Nina mendekatkan dirinya saat mengingat perkataan Maya beberapa minggu yang lalu, “Hem, kak Maya pernah bilang kalau kau suka dengan kakak saus padang. Tapi, karena kau tidak bisa makan pedas maka kau minta untuk jangan diberi saus dan cabe”
“Iya. Jadi kenapa kau memberikan makanan ini kepadaku?”
“Aku rasa karena kau belum terbiasa makan pedas, jadi hari ini aku mau kau mencobanya. Setelah mencoba dan kau tahu rasanya pasti akan ketagihan” kata Nina dengan sombong.
Mata Zain menatap intens visual yang ada dalam mangkok itu. Seblak dengan kuah yang minim akibat terserap oleh banyaknya toping serta memiliki banyak minyak dan kelihatan pedas.
“Seblak mengandung 262 kalori terdiri dari 45% karbohidrat setara dengan 31,15 gram, 43% lemak setara dengan 13,31 gram, 12% protein setara dengan 8,15 gram. Makanan ini akan membuat berat badanku naik” tolak Zain dengan tangan bersidekap di dada.
Nina yang sudah menikmati makanan itu segera menelannya, “Ayolah Tuan. Makanan itu tidak akan membuatmu gendut”
“Kau saja. Jika aku lihat sepertinya kau semakin kurus” kata Zain setelah memperhatikan tubuh Nina.
“Makan seblak satu kali tidak akan membuat berat badanmu naik, percayalah”
“Kau yakin?” tanya Zain dan Nina memutar bola matanya berpikir.
Sebenarnya ia juga tidak yakin dengan ucapannya karena memang toping itu terlihat dapat memicu kenaikan berat badan. Tapi supaya pria ini mau, Nina pun milih mengangguk.
“Jika berat badanku naik. Kau harus bertanggung jawab” kata Zain menggulung lengan kemejanya keatas. Ia sudah siap menyantap seblaknya.
Baru saja Zain mencicipi kuah seblaknya, pria itu sudah heboh mengambil air minum karena kepedesan.
“Hahhh pedas” mata Zain seketika memerah dengan genangan air mengalir begitu cepat.
“Jika tidak bisa makan pedas, ya jangan dipaksa kak” tegur Aya yang sedari tadi menguping obrolan mereka berdua.
“Padahal itu level sedang” ucap Nina merasa khawatir melihat Zain menahan rasa panas pedas dari ujung lidahnya. “Ya sudah tidak usah dimakan”
“Jangan!” Zain menahan tangan Nina, “Aku akan memakan seblak itu. Aku akan tunjukan jika bisa memakan makanan pedas”
Zain yang gigih dengan keputusannya segera meminum air banyak-banyak serta menggulung lengan kemejanya semakin keatas. Ia mencoba memakan kerupuknya dan rasanya…
“Hm” Zain menahan pedas dengan mengepalkan satu tangan dan menutup kedua matanya. Ia kunyah dan ia telan. “Tidak begitu buruk. Mungkin, hanya kuahnya saja yang pedas”
Zain mengambil toping yang lain dan memakannya. Nina yang melihat ikut senang dan bersemangat makan.
Aya yang melihat interaksi keduanya begitu amat penasaran. Perkataan Nina waktu itu masih membayang dalam otaknya.
__ADS_1
Ia pun mencoba bertanya, “Kalian belum melakukan hubungan suami istri ya?”
Mereka langsung terbatuk secara bersamaan.