Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kita Akan Pulang


__ADS_3

"Aku jadi pengen mulung..." mata Nina berbinar akan keputusannya yang menurutnya benar itu.


Nina sudah lulus sekolah dan ia harus mencari uang untuk kebutuhan. Bukan Nina tidak mendapatkan uang dari keluarga Darius, tapi Nina ingin mencari uang dari hasil jerih payahnya sendiri.


"Aku akan menunggu Argan saja. Aku akan bilang kalau mau ikut mulung... 200k itu lumayan lohh" gumam Nina malah ketawa-ketiwi.


Beberapa menit berlalu Argan benar-benar kembali. Kali ini ia tidak berjalan kaki, namun menggunakan sepeda onthel kuno yang sudah jarang ditemui di zaman ini.


"Loh... kamu masih disini toh" tanya Argan sedikit terkejut karena ia pikir Nina akan meninggalkan nya dengan masuk kedalam.


Nina hanya tersenyum canggung.


Tidak lama Nina membantu Argan menaruh karung sampah di sepeda bagian depan dan belakang.


"Kalau begitu aku pergi dulu ya..."


"Ar-argan... " sela Nina menautkan kesepuluh jarinya agak canggung.


"Iya?"


"Aku pengen ikutan mulung juga, apa boleh?" cicit Nina mengubah raut ekspresi Argan padanya.


Argan menggaruk kepalanya agak bingung. Ia bingung mau menjawab apa karena pekerjaan mulungnya ini tidak bersifat individu melainkan kelompok. Jadi Argan harus berdiskusi terlebih dahulu dengan rekan-rekannya.


"Hem, gini... kayaknya untuk sementara waktu aku gak bisa jawab dulu... soalnya ini aku ngikut orang, mungkin kamu bisa nunggu dulu ya... aku juga harus berdiskusi dengan mereka, membutuhkan waktu sedikit lama untuk membujuk mereka" jelas Argan merasa tidak enak.


"Oh gitu... tidak masalah" Nina kembali tersenyum dengan perasaan terima.


"Ya udah kalau gitu aku pamit dulu ya... makasih udah bantu aku... Assalamu'alaikum"


"Walaikumsalam " jawab Nina memberikan Argan peluang untuk menggowes sepedanya.


Lama-kelamaan Nina sudah tidak melihat punggung Argan lagi dan Nina pun masuk.


Diperjalanan Nina berhenti tepat disamping pendopo. Ia baru sadar jika suaminya sudah lama ada di sana dan pria itu tengah tertidur dengan posisi duduk dan lengan di atas dahinya.


'Sejak kapan dia disana?' pikir Nina dalam hati, 'Oh astaga... apa dia melihatku berbicara dengan Argan? Bagaimana kalau dia tambah marah? Tunggu-tunggu, memangnya dia peduli denganku? Ah sudahlah... aku yakin dia sudah lihat dan bersikap acuh'

__ADS_1


Nina membuang semua pikiran cemasnya. Ia ingin masuk namun wajah tenang Zain menarik perhatian Nina untuk memandang.


Tap


Zain membuka kedua matanya langsung menghadap Nina yang gelagapan mencari-cari kesibukan. Biar dikira tidak mencuri-curi pandang.


Ia melihat selang air dan sepertinya tanaman dibelakangnya agak kering. Iapun segera menyiramnya.


Nina rasa Zain masih melihat kearahnya, iapun memilih untuk tersenyum kecil tapi Zain tidak membalasnya. Ia hanya menatap Nina dengan tatapan datar lagi dingin.


'Biarlah... aku mau menyiram saja ' acuh Nina dalam hatinya. Ia mencoba untuk tidak terusik oleh tatapan Zain yang mengerikan.


Drettt


Ponsel Zain berdering dan iapun segera mengangkatnya.


"Assalamu'alaikum, kak Asad?" salam Zain bersiap mendapat semprot dari kakak pertamanya ini.


"Zain... kenapa kau belum mengirim riwayat pemasukan perusahaan kita? Zain kau tahu kakak menunggu laporan itu..." ucap Asad di seberang telpon.


"Iya... kakak tunggu beberapa menit saja" ngeles Zain datar. Ia memang merasa cemas tapi hanya didalam hati, bukan wajahnya.


"Hari ini aku akan kembali" jawab Zain melebarkan kedua mata Nina.


Nina yang mendengar itu ada rasa senang dan sedih. Senangnya, ia tidak akan kesepian lagi dan sedihnya...


'Apa aku gagal jadi pemulung? Ah sayang sekali padahal gajinya lumayan besar' sesalnya dalam hati melirik Zain sebentar.


"Jika kau kembali sekarang apa bunda sudah tahu? Tidak masalah kah? Kau itu penganten baru... kau bisa menghabiskan waktu berduaan dengan istrimu. Jangan buru-buru" goda Asad menyalakan api amarah Zain.


"Tadi kakak bertanya kapan Zain pulang... sekarang kok beda ucapannya?" sindir Zain membuat Asad terkikik.


"Kakak hanya menggoda dirimu... Zain, mumpung gak ada yang ganggu kamu bisa sepuasnya main sama Nina. Kalau kamu sudah di rumah, jangankan main coel dikit langsung datang pengganggunya" gurau Asad.


"Kakak kok ngomongnya udah ngelantur sih?" kesal Zain dengan kening menyerngit.


"Gak gitu Zain... ini pengalaman kakak sendiri loh... waktu kakak pengantin baru, di puncak bahagia banget bisa sepuasnya sama kak Helen. Tapi pas udah pulang beda cerita, apalagi sekarang udah ada Neha yang dempel kak Helen muluk... jadi Zai----"

__ADS_1


Tut Tut Tut panggilan tiba-tiba terputus. Zain malas dan memilih untuk mengakhiri percakapan itu.


"Zain... kok mati panggilannya? Dasar duda akuttt eh... kan udah gak duda lagi" gumam Asad lupa lalu tertawa menggelegar.


Sebaliknya Zain.


Mata Zain menangkap sosok gadis yang masih menyirami tanaman. Ia tahu gadis itu dari tadi sering melirik kearahnya dan pasti dia juga menguping. Ia pun semakin kesal.


"Kau sudah menguping dari tadi kan? Lalu apa yang kau tunggu... cepat berkemas, kita akan kembali ke rumah"


Nina agak terkejut saat Zain menggunakan nada tinggi dan langsung pergi. Dari ini Nina merasa bahwa hati Zain sedang tidak baik.


'Aku harus cepet-cepet masuk nih...' batinnya berlari mengikuti Zain dari belakang.


______


Betul yang Nina rasakan jika mood Zain sedang tidak baik. Nyatanya pria ini menarik kasar kopernya dan menaruh asal kedalam bagasi mobil, sebelum menutupnya Nina segera menaruh kopernya diatas koper Zain.


"A-apa kita tidak menunggu Tuan Ebil dahulu? Apa anda sendiri yang akan menyetir mobilnya?" tanya Nina dengan hati-hati dan Zain tidak menjawabnya.


Zain memakai jasnya lalu masuk kedalam mobil di kursi supir. Mengabaikan Nina.


'Baiklah, sepertinya dia akan menyetir sendiri ' gumam Nina masuk ke kursi penumpang dan Zain langsung menoleh kebelakang.


"Apa kau pikir sedang memesan grab car?" sindir Zain dengan wajah yang dingin saat istrinya berada duduk di kursi belakang.


"Ma-maksudnya naik motor?" tanya Nina tidak paham. Ia hanya tahu apapun yang namanya 'Grab' itu cuma motor saja.


Nina masih bingung dan suaminya ini bukan memberi penjelasan malah mengabaikan Nina. Sayang banget Nina tidak dapat materi tambahan.


Mobil melaju.


Nina diam dan mengingat seseorang. Ia pun segera Menyembulkan kepalanya keluar jendela mobil.


"Bibi Aysil... Nina pamit dulu... bye-bye" teriak Nina melambaikan satu tangannya dan Aysil melihatnya namun hanya diam.


Ia kembali duduk. Sementara Zain memaki cara berpamitan Nina yang kurang sopan, dimana ia tidak mengucapkan salam dan malah kalimat 'bye-bye'.

__ADS_1


'Anak muda jaman sekarang memang sudah lupa cara bersikap sopan... budaya aneh terus dibangga-banggakan, Cih' batin Zain menahan amarah.


Tapi ia enggan untuk mengingatkan Nina.


__ADS_2