Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Penjelasan Aynina


__ADS_3

Wajah keduanya menoleh kearah pria itu saat pintunya dibuka secara tiba-tiba. Mereka melihat sesosok pria dengan tubuh tegap dan rahang yang menguat memperlihatkan guratan-guratan kemarahan.


Sejak saat itu pandangan Nina berubah nanar, “Ma-mas Zain sejak kapan ada disitu?”


“Bukan sejak kapan disitu, tapi sejak kapan aku mengikuti mu” Zain masih memanah hati Nina dengan tatapan dingin miliknya. Jelas betul pria ini sedang marah.


Tadi mobil audi putih itu milik Zain yang curiga dengan notif pesan yang selalu ia dengar. Dari itu ia memutuskan untuk mengijinkan Nina pergi supaya ia tahu dimana tempat yang ingin wanita ini kunjungi.


“Mas—”


“Teruskan kemoterapi mu tanpa diriku”


Kata Zain menusuk sampai ke lerung hati Nina Lantas pria itu melenggang pergi keluar ruangan.


“Mas Zain aw” pekik Nina saat ia ingin mengejar tapi punggung tangannya sudah terpasang selang infus. Merasa terganggu, ia segera melepasnya.


“Nin kemoterapinya belum selesai!!” Aldo berteriak memanggil Nina yang sudah berlari mengejar Zain. Dokter inipun hanya membuang nafas saja.


___


“Mas Zain!!” panggil Nina kepada Zain yang berjalan sangat cepat dengan kedua kakinya yang panjang dan lebar hingga susah untuk perempuan ini mengimbanginya. “Mas aku bisa jelaskan”


Perempuan ini tidak berhenti berlari bahkan menggunakan seluruh tenaganya untuk dapat mengejar suaminya yang marah. Namun, pria itu sudah tidak terlihat lagi.


“Mas, bukan maksud ku menyembunyikan semua ini. Aku… hanya membutuhkan waktu…waktu itu aku masih syok hingga untuk memberitahu orang saja aku masih berat” tubuh Nina meringsut duduk dianak tangga.


Dadanya terasa sesak dan pernafasannya sudah mulai terganggu. Ia harus kembali istirahat untuk mengatur pernafasannya. Rasanya berat saat penyakit ini mulai menggerogoti tubuhnya.


“Mas aku bisa jelaskan!! Tolong…” lirih Nina dengan pandangan sayu. Saat itu tiba, matanya melihat telapak tangan seseorang terulur kearahnya.


“Mas Zain?”


Zain bersimpuh lutut mensejajarkan tinggi keduanya. Sebenarnya pria ini tidak pergi tapi bersembunyi.


“Mas aku ingin menjelaskan”

__ADS_1


“Sejak kapan kau di vonis kanker darah?” Zain akhirnya berbicara, walau tatapannya masih terlihat marah dan menuntut.


Nina menelan ludahnya kasar, “Mungkin… satu bulan yang lalu sebelum kau kecelakaan”


“Ada banyak waktu berdua denganku waktu itu. Kau tidak sekalipun menyinggung masalah penyakitmu! Kau sengaja tidak ingin memberitahuku”


Nina segera menggeleng cepat, “Bukan itu maksudku. Seseorang yang di vonis mengidap penyakit mematikan pasti akan merasa down. Jika aku sendiri down bagaimana aku akan menghibur orang lain yang tahu tentang penyakitku?”


“Lagi-lagi kau menomorsatukan orang lain!!!” kesal Zain meninggikan nada suaranya, “Ini tentang dirimu dan ini tentang nyawamu… jika kau mati mereka tidak akan mati”


“Tapi mereka akan merasa sedih!” sela Nina memperlihatkan mata sembab miliknya, “Dan kau juga akan sedih”


Butiran-butiran kecil terjun bebas dari kedua mata Zain yang sudah memerah. Jujur saja, pria ini sudah bersusah payah untuk tetap tegar namun perasaan tidak bisa disembunyikan.


“Aku akan sedih! Itu pasti. Tapi aku akan lebih sedih jika tidak menemanimu berjuang melawan penyakit ini” Zain mengusap air mata istrinya, “Aynina, aku sudah pernah kehilangan wanita yang aku cintai dan aku tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kali”


Nina menggeleng dengan lemas.


“Jangan menyembunyikan apapun dariku lagi aku mohon…” kata Zain dan wanita ini menggelengkan kepalanya.


“Tidak akan”


Beberapa menit keduanya saling peluk, Zain pun akhirnya menggendong tubuh ringkih istrinya di dada. Ia biarkan lehernya dililit kedua tangan Nina dan dadanya sebagai sandaran kepala. Pria ini membawanya menemui dokter Aldo lagi.


“Se-selamat siang, Tuan Zain” sapa Aldo terbata-bata membiarkan pria itu membaringkan tubuh istrinya di atas brankar.


“Lanjutkan kemoterapinya” perintah Zain tidak henti-hentinya mengamati pergerakan Nina dari jauh.


Kedua matanya menatap intens lengan Nina yang tertusuk oleh suntikan infus yang dokter Aldo berikan. Ada selang berisi air yang masuk kedalam lengannya dan senyuman indah dari wanita itu kepadanya.


Zain tersenyum tapi tidak lama lagi senyum pria itu memudar. Ia tidak bisa tersenyum melihat istrinya sedang kesakitan seperti itu.


Beberapa menit setelah kemoterapi Nina usai. Dokter Aldo meminta Nina untuk keluar dan membiarkan dirinya untuk berbicara dengan Zain.


Nina mau saja dimintai keluar. Ia duduk di kursi koridor menunggu suaminya yang masih ada didalam ruangan. Tiba-tiba dokter Alzam datang.

__ADS_1


“Nin mata kamu kok sembab? Terus kamu ngapain di luar ruangan dokter Aldo? Bukannya dia nungguin kamu terus ya” Alzam terus nyerocos seraya mengintip didalam ruangan, “Astaga!! Kak Zain udah tahu?”


Nina mengangguk membenarkan, “Mas Zain udah tahu. Dia mengikutiku sampai sini”


“Dan pasti dia sangat marah sampai kau menangis didepannya dulu baru dia mau menerimamu?” tanya Alzam dan Nina membolakan kedua matanya.


Nyaris benar, tapi jika Nina membenarkan masa iya dia tidak membela suaminya.


“Nggak sih” Nina menggelengkan kepalanya serta membiarkan pria itu duduk disebelahnya.


Alzam menaikan kedua bahunya, “Jangan menangis. Sebenarnya kak Zain itu tidak suka perempuan lemah. Dia lebih suka dengan wanita yang tangguh dan tidak mudah rapuh”


“Benarkah?”


“Iya” jawab Alzam mengangguk bohong. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu tipe wanita seperti apa yang Zain suka.


Nina nyaris tersenyum, “Berarti itu aku! Aku wanita Tangguh dan tidak mudah rapuh. Jika aku tidak tangguh pasti aku sudah berkali-kali mundur mendapat sikap dingin Mas Zain”


Alzam tertawa senang, akhirnya wanita ini kembali seperti semula, “Kau memang wanita yang percaya diri”


“Aku bukan wanita percaya diri, karena terkadang aku masih insecure jika berdampingan dengan Mas Zain yang berpangkat. Namun, aku terbilang wanita kuat” Nina tersenyum menepis wajah muram miliknya.


Alzam tertawa semakin keras mendengar pujian Nina terhadap dirinya sendiri. Perempuan ini selalu membuatnya tertawa dan sayang dia tidak bisa memilikinya.


“Oh iya… tadi dokter Aldo bilang kalau mas Alzam suka berpacaran ya?”


“Nggak” balas Alzam menggeleng cepat. “Dokter itu memang suka sekali membuat gurauan dan sering menggosip seperti ibu-ibu, bahkan dia sering ikut bergosip bersama pasien-pasien lanjut usia. Rata-rata mereka semua dikalangan ibu-ibu”


“Terus kenapa dokter Aldo bilang kalau mas Alzam itu sering pacaran dan menyusahkannya ya?” tanya Nina penasaran.


“Entah, mungkin karena ketampanan diriku hingga dia berpikir jika orang tampan seperti diriku pasti banyak yang suka, begitu pula dengan ceweknya” gurau Alzam dan Nina tertawa.


“Masak sih?”


Alzam menoleh kearah Nina yang masih nampak berpikir dengan sangat keras, “Jangan terlalu dipikir nanti kau botak”

__ADS_1


Alzam mengacak-acak rambut Nina seraya tertawa dan langsung ditepis oleh pria yang sudah lama memperhatikan interaksi mereka.


“Kak Zain”


__ADS_2