Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Tidak Bisa Lari


__ADS_3

"Sekarang saja kalian pergi ke KUA dan menikah... aku ikhlas"


Lagi-lagi Alzam menganga mendengar kalimat seperti itu dari kakaknya yang tentu itu membuat Nina kecewa.


Alzam sudah sangat marah bahkan matanya mulai memerah, apalagi melihat raut wajah Nina yang berubah. Gadis itu pasti sedih mendengar suaminya mengatakan demikian.


Alzam menarik kerah Zain dengan berani, "Kenapa ku tega mengatakan itu kepada Nina, kak? Setidaknya sedikit saja tolong kau hargai istrimu ini"


"Jangan terlalu naif, Zam!! Kau menunggu saat-saat aku mengatakan itu, kan... bagaimana sekarang, kau suka?" Zain tersenyum dingin melihat Alzam dan berganti melihat Nina yang nampak kebingungan.


Gadis itu nampak diam memperhatikan, tapi yakin jika hatinya rapuh mendengar hinaan.


"Nina, jangan dengarkan kata kak Zain... ayo kita berangkat saja. Kau harus kuliah!! Nanti telat lagi" ajak Alzam hendak menggandeng lengan Nina tapi ia menepisnya.


"Tolong Mas Alzam jangan dekati Nina dulu... Nina nggak mau menambah marah Tuan Zain. Tolong beri kesempatan Nina untuk membuat Tuan Zain setidaknya mau menerima Nina! Tolong jangan buat suami Nina semakin membenci Nina. Nina hanya ingin memiliki rumah tangga normal tanpa ada pertengkaran, jadi tolong... jauhi Nina dulu, Mas"


Selepas mengatakan itu Nina pergi meninggalkan keduanya.


"Nina!! Nin!!!" Alzam ingin mengejar namun gadis itu buru-buru lari dan menghentikan angkot didepan gerbang.


Ia tidak mau ikut mobil Alzam ataupun Zain. Jika ikut mobil Alzam maka suaminya akan bertambah marah! Ikut mobil suaminya? Maka Zain akan memarahinya habis-habisan.


Dimana pun Nina berada, ia akan terus melihat kemurkaan sang suami. Hanya angkot yang menjadi pilihan utama untuk menenangkan semua.


"Nak, kok nangis kenapa? Anak gadis kok nangis!! Lagi berantem sama pacarnya ya?" tanya Ibu-ibu yang kebetulan duduk disebelah Nina.


"Ng-nggak pu-punya pacar Bu" Nina menjawabnya dengan suara agak tersendat-sendat karena menangis.


"Loh masak nggak punya pacar sih! Padahal cantik terus anak-anak remaja sekarang sudah jarang yang namanya jomblo" kata ibu-ibu itu lagi dan Nina enggan untuk mendengarkan.


"Berarti jomblo ya?" ibu-ibu itu kembali bersuara padahal Nina ingin mencari ketenangan tanpa ada yang mengajaknya bicara.


Mau tidak mau Nina harus menjawab pertanyaan itu. Tidak sopan jika mengabaikan pertanyaan orang tua.


Namun Nina hanya menjawabnya dengan menggeleng saja.


"Nggak jomblo, nggak punya pacar juga!! Jangan-jangan..."


Kedua mata Nina menajam melihat ibu itu yang seakan ingin menerawang statusnya.


"Janda..."


Blush. Ia memang kadang jengkel dengan temperamen Zain tapi tidak pernah terpikirkan ingin menjadi seorang janda. Tentu saja dugaan ibu itu membuat Nina membulatkan kedua mata sempurna.


Mata Nina liar mengamati penampilan ibu itu dari atas sampai bawah dan sendal tidak senada dan pakaian compang camping itu membuat Nina menganggukkan kepala.


"Ibu bisa meramal status orang ya?" tanya Nina seakan-akan membenarkan dugaan ibu itu.

__ADS_1


"Tentu saja!! Ibu ini..." ibu itu sedikit mendekatkan bibirnya di telinga Nina, berbisik. " Dukun"


Waw, mulut Nina seketika melebar namun bukan karena kagum melainkan sesuatu yang lain.


"Ibu beneran... dukun?" lirih Nina di kata terakhirnya supaya tidak ada yang mendengar.


"Iya dong! Makanya ibu tahu status mu saat ini, ibu juga tahu kalau kamu mau melamar kerja kan? Gimana, benar kan?"


"Salah!"


Skak, ibu itu seketika membisu. Kata dukun yang ia bangga-banggakan itu seketika musnah tertelan oleh jawaban Nina.


Lumayan lah, berkat obrolan ini Nina sedikit lebih tenang.


"Kiri pak" seru Nina memberikan sinyal supir untuk segera menghentikan angkotnya karena ia sudah sampai.


"Berapa pak?" tanya Nina merogoh dompetnya.


"Biasa neng, 50 ribu" jawab supir angkot itu karena Nina pelanggan setianya.


"Ini pak 100 ribu nggak usah dibalikin kembaliannya, buat bayar ibu-ibu itu aja" Nina menunjuk ibu-ibu yang tadi sudah menemaninya mengobrol.


"Siap neng, makasih ya"


Saat angkot itu menjauh Nina melihat kepala ibu-ibu itu menyembul keluar kaca dan melambaikan satu tangannya kepada Nina.


"Selamat pagi, Nina"


Pemuda memakai seragam yang sama itu mengejutkan Nina dari belakang. Hampir saja Nina terpelanjat dan jantungan.


"Eh Argan... selamat pagi" Nina tersenyum dan menganggukkan kepalanya hormat.


"Tadi kamu naik angkot? Nggak dianterin sama bos kamu lagi?" tanya Argan penasaran karena tadi ia melihat Nina turun dari angkot.


"Nggak..." singkat Nina tidak mau menjawab lebih.


"Kenapa?"


"Males bareng dia... suka marah-marah!" maki Nina hanya didepan Argan. Ia pasti tidak akan berani mengatakan itu di depan Zain langsung.


"Oalah hahaha" Argan menertawai Nina. " Oh iya, Nin... kamu masih ada niatan buat mulung nggak?"


Mata Nina seketika langsung fresh. Ia sangat menantikan pekerjaan itu.


"Tentu saja!! Kenapa, apa teman-teman mu memberikanku ijin?" Nina sudah tidak sabar dengan jawaban Argan.


"Boleh sih!! Tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?" tanya Nina berubah ekspresi.


"Anak baru biasanya dikasih gaji 50% aja Nin... gimana dong?" sesal Argan.


"Oh gitu... boleh-boleh. Nggak masalah kalau kayak gitu mah! Daripada aku nggak dapet tambahan uang" Nina menyeringai sedikit.


"Tapi kamu udah ijin sama bos kamu kan?"


"Udah" jawab Nina bohong. Lagian Zain tidak peduli dengannya.


"Oke kalau begitu. Hari Sabtu sama Minggu aku tunggu di jembatan perbatasan desa Kinangan dan desa Rajasan. Ok?"


"Ok" Nina memberikan satu jempolnya tanda menerima.


Tidak lama Nina merasa jika tali sepatunya lepas, ia pun berlutut untuk mengikatnya dan Argan pun tidak sadar telah meninggalkan Nina.


Dari depan Nina melihat sepatu mewah berada didepannya. Ia pun segera menengadahkan kepala.


"Hai"


"Devan?" Nina terkejut.


"Ikut aku"


"Nggak mau!!" Nina mencoba menepis tangan Devan yang menariknya ke sebuah tempat yang sepi dan jarang dilalui.


Devan menarik Nina ke belakang bangunan kelas yang sudah tidak terpakai lagi. Disana benar-benar sepi dan tidak ada orang sama sekali.


Tubuh Nina gemetaran saat dirinya di lempar hingga menabrak dinding usang dibelakangnya.


"Devan kamu mau apa?" tanya Nina mengapit dinding.


"Nina, aku ingin kita kembali seperti dulu... ayo kita balikan" ajak Devan mendekat dan Nina semakin menjauh.


"Aku nggak mau balikan sama kamu. Jangan mimpi... tidak ada niat sama sekali untuk kembali kepadamu" jawab Nina tidak mau dibantah lagi.


Dan itu membangkitkan amarah Devan.


"Nin... kamu beneran nggak mau balikan sama aku?" tanya Devan sekali lagi namun Nina tidak menjawab. Ia menduga diamnya Nina pertanda membenarkan.


"Oke... guys" seru Devan memanggil teman-temannya.


Tak lama dari arah belakang Devan munculah teman-temannya dengan seringaian mengerikan dan tawa menggelegar.


Nina menelan ludahnya kasar. Ia sangat takut melihat mereka.


"Karena kau tidak mau balikan denganku, maka tidak ada alasan aku tetap menjagamu..." kata Devan melepas kemejanya, "Kau tidak akan bisa lari lagi, Nina"

__ADS_1


"Apa maksudnya?"


__ADS_2