![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Fajar telah tiba disambut baik oleh lantunan adzan pertanda subuh datang. Kedua insan yang telah menghabiskan malam yang panjang juga selesai menjalankan sholat subuh berjamaah bersama.
Wajah Zain yang fresh dengan tubuh berbalut kemeja putih sibuk memakai dasi beserta Nina yang membawa toxedo hitam berdiri dibelakang. Sesekali Zain tersenyum kepada Nina yang juga membalasnya lewat pantulan cermin.
“Hari ini kau tidak usah kuliah” Zain memandang tegas kepada Nina. Wanita itu segera memakaikan toxedonya.
“Tentu aku tidak akan kuliah. Bagaimana aku bisa menutupi bekas-bekas merah di leherku seperti disengat lebah dan cara jalanku yang seperti orang bisulan” Nina mencubit perut Zain yang langsung mengaduh.
Beberapa detik pria itu langsung tertawa terbahak-bahak.
“Apa masih sakit?” Zain menarik pinggang Nina merapat, “Jika masih sakit akan aku belikan obat Pereda nyeri untukmu atau aku mintakan saja kepada kak Helena, aku yakin dia punya”
“Aish nggak, malu sama kak Helena”
“Kenapa harus malu jika kak Helena tahu kita habis mencari pahala?” rayu Zain langsung dibalas pukulan Nina diarea bahu.
“Sudahlah! Ayo kita turun pasti mereka semua menunggu kita di ruang makan”
“Tunggu aku sedang memanggil Alzam kemari dan sebentar lagi dia akan datang” Zain berulang kali melihat jam tangan beserta pintu kamarnya.
Sementara Nina nampak gelisah dengan maksud suaminya memanggil adik iparnya. Mengingat jika keduanya belum begitu akur.
“Kenapa memanggil Mas Alzam?”
“Sebentar saja”
Beberapa detik berlalu akhirnya pintu kamar mereka diketuk dari luar dan Zain segera datang untuk membukakan.
“Ada apa kakak menelpon ku untuk kemari?” tanya Alzam kurang bersemangat.
“Aku dengar dari ayah jika kau akan mengikhlaskan Aynina, jadi aku biarkan kau untuk memeriksa keadaan istriku. Dia mimisan dan wajahnya pucat, bisa kau periksa dia?” tanya Zain memberikan jalan Alzam untuk masuk.
Sepasang mata Aynina menatap waspada kearah Alzam. Dari wajah wanita itu sudah terlukis jelas jika ada kegelisahan dengan kesehatannya.
“Ayo periksa”
“Mas, kenapa aku harus diperiksa?” Nina meraih lengan Zain, “Aku kan sudah bilang tidak apa-apa. Aku hanya mimisan dan itu hal biasa… apa kau tidak percaya denganku?”
“Aynina! Bukan aku tidak percaya taapi aku ingin dengar dari dokter ini” Zain mengusap pipi Aynina lalu berganti melihat Alzam, “Dengar Alzam, aku akan memaafkan semuanya dan melupakan masalalu kita. Sebagai gantinya kau periksa Aynina dan jangan membuatku kecewa lagi”
Sebuah keberuntungan untuk Alzam mendapatkan maaf dari kakaknya, tapi apa ia harus jujur tentang penyakit istrinya? Pria itu pasti akan terluka untuk yang kedua kalinya.
“Aynina, kau duduklah biar Alzam memeriksa dirimu”
__ADS_1
Mau tidak mau Nina menuruti kemauan suaminya dan menerima pemeriksaan dari Alzam. Bukan dia ingin menyembunyikan tapi ia membutuhkan waktu.
Alzam bersama dengan alat medis seadanya kini memeriksa kondisi Aynina. Pria itu sesekali mengedarkan pandangannya ke wajah turun ke area leher yang nampak dengan bekas kissmark.
Jujur saja hati Alzam membara saat ini, namun ia sudah mencoba untuk ikhlas.
“Bagaimana Alzam? Aynina bilang dia pernah mimisan 4 kali” Zain begitu menunggu jawaban dari adiknya.
“Tidak ada yang serius. Kak, Aynina hanya kelelahan dan membutuhkan istirahat. Aku akan memberikan vitamin untuk Aynina nanti” sejenak Alzam melirik wajah membeku Aynina lalu mengemas alat medisnya.
“Syukurlah kalau begitu” Zain bersimpuh lutut didepan istrinya. “Aku tidak mau kau sakit dan jangan menyembunyikan apa-apa dariku”
Aynina terdiam sebentar lalu tersenyum mengusap kepala Zain yang segera mencium punggung tangannya.
“Kau istirahat saja dan jangan keluar kamar. Nanti aku akan minta Maya untuk mengantarkan makanan untukmu” Zain tersenyum mengusap wajah wanita itu.
“Iya. Aku tidak akan keluar dari kamar barang selangkah pun” balas Nina tersenyum.
“Kalau begitu aku akan berangkat ke kantor”
“Baiklah” balas Nina membiarkan suaminya mencium dahinya penuh sayang dan kelembutan.
Setelah mengucapkan salam, mereka keluar dan pergi. Meninggalkan Aynina yang sedang membaca notif pesan dari ponsel.
Ada pesan dari Alzam.
‘Aku membutuhkan waktu’
Hanya itu pesan yang dapat Nina kirimkan untuk sang adik ipar. Detik berikutnya tidak ada balasan dari Alzam karena dia tidak membalasnya.
Beberapa menit berlalu.
Saat ini sedang siap-siap untuk mengantarkan Aya memeriksakan kehamilannya ke dokter. Tadi dia sudah bilang dengan Zain dan pria itu mengijinkan, walau sebelumnya harus ada drama penolakan karena awalnya Zain melarang keras Nina untuk pergi.
Saat ini dia sudah siap memakai pakaian rapi serta tas pinggangnya. Ia gerai rambutnya supaya bekas merah itu tidak terlihat.
Setelah siap wanita ini keluar dari kamar menuju Ayasya yang sudah menunggu di ruang tamu sendirian.
"Ayo Aya, aku sudah siap" Nina merapikan lagi rambutnya.
Tanpa basa-basi Aya menerima tangan Nina yang ingin menggandengnya.
"Sepertinya kalian sudah melakukan hubungan badan tadi malam" Aya tidak membuang muka melihat wajah Nina yang terkejut.
__ADS_1
"Kok tahu?" tanya Nina karena ia pikir sudah menutupi bekas itu sepenuhnya.
"Kau sudah menutupi bekas merah itu tapi tidak dengan cara berjalan mu" Aya mendengus kesal melihat wanita ini berjalan mengangkang. "Rapatkan sedikit kakimu ini, memalukan"
Nina menyengir menyadari kedua kakinya agak terbuka sedikit. Astaga kenapa anak ini malah terlihat memalukan didepan adik iparnya.
"Jika kau seperti itu aku jadi malu pergi bersamamu" ejek Aya bercanda.
"Kalau begitu pergilah sendiri sana" usir Aynina bercanda.
"Aku akan adukan dirimu dengan bunda atau kak Zain nanti" ancam Aya dan Nina hanya tertawa menanggapinya.
"Iya-iya" Nina akhirnya menggandeng lengan Aya, "Gitu aja marah" ia mendorong pelan bahu Aya hingga maju kedepan.
Aya tercengang saat kakak iparnya ini berani mendorongnya. Tidak lama Aya juga balik mendorong sampai tubuh Nina hampir jatuh.
Namun Aya malah tertawa, "Hahaha rasain kau! Siapa suruh dorong-dorong aku"
"Aku hampir nyungsep loh Aya" Nina segera meraih lengan Aya dan keduanya berjalan dipenuhi tawa.
Sepertinya gurauan di pagi hari cocok untuk menghibur hati Nina dan menenangkan adik iparnya yang akan segera menikah dengan pria tua.
Setelah kejadian beberapa hari yang lalu keduanya semakin dekat dan Aya mulai menerima Nina sebagai kakak iparnya.
_______
Sesampainya di rumah sakit Nina dan Aya bergegas masuk kedalam dan menemui perawat yang bertugas di resepsionis melayani keluarga pasien.
"Kami ingin bertemu dengan dokter Iriana. Apa dokter Iriana ada di ruangannya sekarang?" tanya Aya kepada perawat itu.
"Sebentar saya telpon dulu"
"Baiklah" jawab Aya dengan kepala mengangguk. Tadi Aya lupa menghubungi dokter kandungan itu jadi ia harus bertanya.
Beberapa menit setelah menelpon.
"Dokter Iriana ada di ruangannya. Katanya beliau sudah menunggu Nona disana" ucap perawat itu dengan ramah.
"Baiklah terimakasih" Aya menoleh melihat Nina, "Ayo Nin"
Hampir saja keduanya menuju ruangan dokter itu, namun tiba-tiba seseorang menahan tangan Aya, membuat Aya kesal dan segera menepisnya.
"Jangan sentuh aku" tolak Aya membuang muka dari Aditama.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak menghubungi diriku jika mau ke dokter? Aku kan bisa mengantarkan dirimu" Aditama merangkul bahu Aya, "Sebentar lagi kitakan menjadi suami istri"
"Dasar pria tua menjengkelkan"