Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Lamaran Keluarga Darius


__ADS_3

"Aku tidak perlu mengulang ucapanku" Zain melenggang pergi dan Alzam kembali mengikuti.


"Kak, kau sangat keterlaluan... umur Nina jauh dibawah mu. Apa kau tidak memikirkan bagaimana hancurnya gadis itu jika dia tahu kau akan menikahinya? Pria yang jauh lebih tua dan juga dud---"


Alzam diam. Ia menghargai Zain dan ia tidak akan berkata kelewat batas hingga menyinggung masalah statusnya saat ini.


"Katakan kau tidak menginginkan Nina... katakan jika kau masih tidak bisa lupa dengan kak Anita. Ka----"


"Itu salahmu"


Nada Zain menyentak sampai menoleh melihat Alzam yang terus mengikutinya dari belakang. Ia marah, sangat merah karena Adiknya ini terus mengikutinya, terlebih tentang perjodohan ini.


"Dan, jangan sekalipun mulutmu mengatakan nama Anita atau aku akan menghajar mu"


"Kau memang tidak akan pernah melupakan kak Anita jadi jangan permainkan Aynina dengan menikahi dia. Aku orang paling depan yang akan menghajar mu, terlepas dari statusmu saat ini"


Zain mendekat mensejajarkan tubuh keduanya yang memiliki tinggi hampir sama namun Zain masih unggul dari Alzam, walau Alzam juga memiliki tubuh yang tinggi.


Mata mereka bersitatap.


"Kau menyukainya? Kalau begitu kenapa kau tidak bisa menang dalam mempertahankannya sehingga, ayah meminta pendapatku" Zain menyipitkan kedua matanya rendah.


Waktu itu Zain yakin jika Alzam mampu mengatasinya sehingga ia tidak perlu berucap apa-apa. Namun dugaannya salah dengan percaya pada adiknya itu, nyatanya ayah Abrizal justru malah meminta pendapatnya. Dia kecewa, sungguh kecewa.


Mengenai perasaan Alzam! Entah ini suka atau tidak ia juga tak tahu. Ia hanya suka melihat wajah Nina yang tertawa. Wajahnya membuat hatinya penuh damai. Dari itu Alzam ingin membuat Nina selalu bahagia.


"Ayasya! Dia seumuran dengan Nina. Apa kau tidak tahu itu? Seperti apa tingkahnya saat ini, begitu juga dengan tingkah Nina. Gadis itu masih belum tahu apa-apa!"


"Semua itu adalah salahmu dan jangan pernah sekali lagi kau mengucap nama Anita"


Setelah meninggalkan Alzam dengan tatapan dingin, ia segera pergi. Sementara Alzam ingin kembali menyusul namun ponselnya berdering.


Dengan perasaan kesal Alzam mengangkat panggilan tersebut, "Iya hallo"


"Selamat siang Dokter Alzam. Begini mengenai pendaftaran yang anda ajukan di kampus kami atas nama Aynina Munada Shofa dan Ayasya Hasna binti. Darius, betul?" tanya direktur kampus disana.


Alzam jadi ingat jika ia sempat menelpon direktur kampus tempatnya diajar dulu dan mendaftarkan Nina untuk dapat meneruskan masa studinya. Menurut Alzam, pendidikan jauh lebih penting dibanding apapun. Jika Alzam memang ingin menikah dengan Nina, maka ia akan meminta Nina untuk meneruskan studi dan menikahinya jika sudah siap. Namun semua itu musnah saat Zain akan menikahinya.


"Iya, betul"

__ADS_1


"Begini Dokter. Kampus kami sementara akan menahan dulu permintaan anda karena ini masih tahap ujian sekolah. Tapi kami juga ingin meminta biodata milik siswa tersebut. Jadi, kapan Dokter akan mengirimkannya?"


Mereka sudah banyak mengenal Alzam yang merupakan Dokter berpengaruh di kampus tersebut. Dari itu sangat mudah untuk Alzam mendaftarkan kedua gadis itu.


"Bagaimana Dokter?" tanya direktur kampus tersebut saat Alzam belum menjawab pertanyaannya.


"Secepatnya kalian akan mendapatkan biodata mereka"


Alzam yakin jika ia akan mendapatkan biodata Nina, walau sebenarnya ia juga tidak tahu kapan itu akan terjadi.


_______


Kediaman Fulan


Setelah Zain memutuskan untuk menerima perjodohan ini. Abrizal dan Zelofia datang menemui keluarga Fulan bersama dengan Nina dan juga putra pertama mereka.


Sempat Fulan berpikir jika kedatangan mereka membawa Nina karena Nina melakukan kesalahan. Rupanya kedatangan mereka datang untuk mempererat hubungan dengan aliansi pernikahan. Tentu itu membuat Fulan bahagia karena ini yang sangat mereka harapkan. Dapat menjadi besan dan meninggikan derajat mereka. Sungguh keinginan yang cepat untuk dikabulkan.


"Bagaimana, pak Fulan?" Zelofia kembali bertanya karena sudah lama ia menunggu, mereka tidak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Kami akan menunggu Nina lulus sekolah terlebih dahulu, setelah itu menikah" Asad memberi solusi seandainya jika keluarga Nina merasa keberatan karena dia belum lulus sekolah.


Mata Fulan dan Merta melihat Zelofia lalu berganti melihat putrinya yang berdiri didekat tembok. Gadis itu terlihat gelisah dengan pandangan lurus kebawah. Ibu Marta dapat melihatnya, namun tidak dengan sang suami.


"Kami setuju, Nyonya Zelofia"


Refleks Marta dan Nina melihat kearah Fulan karena pria itu malah langsung menyetujuinya. Ia belum bertanya kepada Nina, bahkan juga belum bertanya putra mereka yang mana tapi langsung menerima begitu saja. Sungguh Nina ingin menangis rasanya.


Nina berlari masuk kedalam kamarnya. Sementara Marta menarik tangan Fulan untuk menjauh dari keluarga Darius yang nampak bahagia.


"Mas, kamu ini gimana sih kok malah langsung nerima. Emang kamu dah tahu siapa yang mau dijodohin sama Nina? Anak mereka kan ada banyak. Dua diantaranya sudah menikah, satu duda dan dua lainnya belum menikah. Siapa yang mau dinikahin sama Nina?" tanya Marta dengan nada berbisik sambil memukul bahu Fulan pelan.


"Eh Marta, kamu tuh gak usah mikirin siapa yang mau jadi suami Nina. Yang penting Nina nikah sama anak mereka. Tajir kita Taaaa. Bayangin Nina bahagia disana"


"Mas----"


"Udah udah... aku gak mau denger" Fulan kembali menemui keluarga Darius, mengabaikan istrinya yang terus protes.


Sebenarnya Marta tahu perasaan Nina. Ia kasian melihat Nina yang sudah dilamar sebelum usianya genap 20 tahun. Tapi apa yang bisa seorang ibu lakukan? Ia hanya ingin melihat putrinya hidup enak dan bahagia tanpa memikirkan uang.

__ADS_1


🌹


🌹


Setelah mendengar persetujuan dari pihak wanita. Keluarga Darius memilih untuk kembali ke rumah dengan perasaan yang bahagia karena lamaran mereka akhirnya diterima.


Sementara di kediaman Fulan. Marta terlihat mengeluarkan air mata saat memasuki kamar dan melihat Nina meringkuk dengan isak tangis yang tidak terbendung. Gadis itu nampak rapuh mendapati kehidupannya yang amat sengsara.


Marta mendekati Nina sampai duduk dan mengusap kepala putrinya, "Jangan menangis... ibu yakin akan ada kebahagiaan yang akan datang padamu"


Wajah Nina menengadah, pipinya yang terus basah akibat guyuran air matanya. Marta dapat melihat kesedihan di wajah putrinya.


"Bu, apa ibu tahu siapa yang akan menikahi Nina? Dia putra ketiga keluarga Darius... Tuan Ankazain yang sudah menduda selama 5 tahun, Bu"


Marta menggeleng lemas akan ucapan Nina. Astaghfirullah putri gadisnya akan menikah dengan seorang duda. Marta tidak pernah membayangkan jika putrinya akan mendapatkan seorang Duda. Mata wanita setengah baya itu menangis deras.


Tiba-tiba Fulan datang dengan santainya, "Gimana pria itu bisa memilihmu menjadi istrinya, Nin?"


Nina menggeleng lemas tidak kuat untuk menjawab. Ia benar-benar tidak tahu kenapa mereka melamar dirinya untuk putranya. Sungguh tidak terduga.


Marta tidak tega melihat putrinya yang terus menangis. Iya, dia tidak bisa diam saja.


"Mas, ayo kita batalkan saja. Ibu akan cari uang buat membayar hutang kita tapi jangan korbankan Nina. Kasian Nina mas"


"Apaan sih kamu Taaa. Udah terlanjur jangan buat malu deh" emosi Fulan menepis tangan istrinya yang bergelantung lembut di lengannya. Ia tidak mau membatalkan perjodohan ini. Sangat disayangkan jika kesempatan seperti ini dilewatkan.


"Mas---- "


"Diemmm"


Ibu Marta dan Fulan kembali berdebat hebat. Pendapat yang berbeda kembali menyalakan api pertengkaran didalam keluarga mereka. Hinaan kata-kata kasar dan kata hewan keluar dari mulut keduanya. Sementara Nina semakin menangis didalam ringkukan tubuhnya.


'Kenapa mereka tidak pernah bisa berbicara dengan kepala dingin?'


Nina frustasi! Sungguh. Ia ingin melempar apapun ke wajah Fulan dan marta supaya mereka berhenti bertengkar karena Nina sudah sangat lelah.


"Diamm. Nina akan menikah dengan Tuan Zain"


To be continued

__ADS_1


__ADS_2