![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
“Astaga!!” pekik Alzam saat matanya melihat beberapa orang berwajah pucat mengintip didepan pintu. “Apa yang kalian lakukan disini?”
Para pasien itu menyeringai lebar setelah mereka kepergok mengintip ruangan kakaknya. Alzam yang penasaran hanya bersandar dan bersidekap saja.
“Oh jadi kalian yang selalu mengintip ruangan Tuan Adiyaksa! Mengganggunya dengan pujian-pujian sehingga membuat tuan itu tidak nyaman” tuduh Alzam tersenyum miring. Ia menduga mereka mengintip ruangan pengusaha tampan disana.
“Tidak!!”
Serentak mereka menjawab. Sepertinya mereka sudah dilatih untuk bekerja sama jika mereka ketahuan mengintip.
“Aku akan memindahkan kalian jika melakukan ini lagi. Bu Karmila, Bu Endang, Bu Astuti, Bu Diana, kalian akan dipindahkan ke rumah sakit di Surabaya” gurau Alzam melenggang pergi.
“Jangan!”
Sahut mereka serentak mengekori Alzam seperti penggemar saja. Namun Alzam malah berlari sehingga ke-empat pasien itu harus mengejarnya.
_______
“Makan malam”
Nada lembut perawat memasuki ruangan Zain dan Nina yang sudah duduk untuk menerima makanannya.
“Ini Tuan dan ini Nona” perawat memberikan piring makanan dan mereka menerimanya. “Selamat makan!! Saya permisi terlebih dahulu”
Setelah perawat itu pergi Zain menaruh makanan itu diatas pahanya dan menghubungi seseorang lewat pesan, sementara Nina memilih makan.
“Saat kau berangkat dengan Aya. Dia bilang apa?” tanya Zain bersiap makan.
“Dia hanya bertanya kenapa waktu itu aku tidak mengikuti ospek dan malah pulang bersamamu” jawab Nina berbohong sambil makan supaya terlihat natural.
“Oh”
“Hem, Devan berkata kepadaku jika dia di blacklist dari semua kampus di Indonesia. Siapa yang melakukannya? Apa…” Nina menoleh melihat Zain yang hanya diam menyantap makanan.
“Jangan menuduh orang. Lagipula aku tidak ada waktu mengurusi masalahmu” pria ini nampak acuh tidak terusik sama sekali.
“Tidak ada yang menuduhmu, kenapa kau merasa tersinggung. Hanya orang yang melakukan itu yang merasa tersinggung” sindir Nina melanjutkan makan dengan pandangan kearah lain. Ia takut melihat wajah dingin menyeramkan Zain yang sudah menghunus kearahnya.
“Assalamualaikum”
Datanglah Zelofia beserta Helena membawa beberapa buah dan Neha yang langsung berlari mendatangi Nina, membuat Helena harus mengingatkan gadis kecil itu.
“Hati-hati say---”
“Kakak Nina!!”
Nina yang melihat kedatangan Neha segera menaruh piring makanannya keatas nakas sebelum gadis itu mendusel di pelukannya yang hangat.
“Oh sayang pelan-pelan… kaki kakak” ringis Nina saat kakinya yang luka tersenggol Neha yang antusias di pangkuannya.
“Maaf kakak” Neha memanyunkan bibirnya dan memperlihatkan mata berbinar menyesal.
__ADS_1
“Tidak apa! Itu tandanya Neha rindu dengan kakak, kan?”
“Betul sekali” Neha kembali bahagia dan memeluk Nina. Ia tidak mau melepas Nina walau sedetik saja. “Apa sangat sakit kak?”
“Tidak, akan segera sembuh” jawab Nina tersenyum.
“Kami langsung datang kemari mengetahui kalian terluka. Bagaimana, apa pria itu sudah di tangkap?” tanya Zelofia menaruh buah tangan diatas nakas.
“Masih dalam proses pencarian” jawab Zain.
“Bunda kok geram dengan pemuda itu! Dibiarkan malah semakin menjadi-jadi. Bunda harap pemuda itu segera tertangkap dan masuk kedalam penjara”
“Sabar Bun” Helena mengusap sopan lengan mertuanya, “Bagaimana dengan luka kalian, apa ada yang serius?”
“Tidak kak…hanya luka kecil di kaki dan Tuan Zain terkena tembakan di punggung. Tapi dia bilang tidak masalah! Katanya mantan tentara” kata Nina mengadukan semuanya.
Dan Zelofia dan Helena tertawa.
Helena ingat betul masa-masa itu, “Iya, Zain memang mantan tentara dulunya. Hanya mendapat dua tahun… Zain memilih keluar dari tentara karena selalu mendapat tugas di luar kota sehingga jauh dari istrinya. Dia tidak mau dan memilih keluar saja”
Raut wajah Nina tetap sama, tersenyum. Namun senyumnya terasa sangat hambar. Lagian, siapa juga istri yang rela seseorang berbicara tentang masa lalu suaminya yang telah tiada.
“Helen kok kamu ngomong gitu?” tegur Zelofia mencubit lengan menantu paling tua.
“Oh maaf… aku nggak bermaksud kayak gitu”
“Kenapa kak? Aku nggak papa kok” jawab Nina tersenyum seakan tidak merasakan apa-apa.
“Besok pagi, Bu” singkat Zain.
“Syukurlah!! Oh iya, bunda bawakan buah kesukaan kamu Zain, buah Kiwi” antusias Zelofia mengambil buah kiwi nya.
“Berikan saja buah itu kepadanya! Dia kekurangan vitamin K” kata Zain merebahkan tubuhnya setelah selesai makan.
Zelofia dan Helena hanya saling melihat penuh tanda tanya. Mereka seperti merasa ada sesuatu yang berbeda di hati Zain.
“Baiklah” Zelofia tersenyum misteri dan memberikannya kepada Nina, “Ini untukmu sayang!! Wah suami kamu perhatian sekali sampai tahu kalau kamu kekurangan vitamin K”
“Iya, ya! Nina tak kasih tahu. Dulu Zain tidak pernah mau membagi buah kesukaannya kepada siapapun. Mereka yang nekat mengambil akan mendapatkan marahnya, bahkan istrinya dulu dimarahi karena mengambil buah kiwi. Tapi dia memberikannya kepadamu sekarang!” bisik Helena.
Mereka bertiga bergerombol membelakangi Zain yang berbaring, seakan pria itu tidak boleh tahu pembicaraan para wanita.
“Wanita memang suka bergosip” sindir Zain di abaikan mereka.
________
Satu hari berlalu
Mereka akhirnya kembali ke rumah karena Zain sudah tidak betah berada di ruangan berbau obat-obatan tersebut.
Zelofia membantu Nina menata obat-obatan sesuai resep Dokter. Mereka berdua duduk di sofa dan Zain duduk didepan cermin merasa tidak nyaman dengan perban di bagian punggungnya.
__ADS_1
“Bu, perban Zain seperti harus diganti”
“Eh iya sayang, bun---” Zelofia berhenti berucap saat teringat sesuatu. “Sayangku Nina, kau bisa mengganti perban Zain kan! Tolong kau ganti perbannya yaa! Bunda ada arisan dadakan hari ini”
“Arisannya diwakilkan saja Bu!" Zain kurang terima.
“Nggak bisa sayang” Zelofia sudah siap mengambil tas nya. “Bunda pamit dulu, assalamualaikum”
Setelah Nina menyalami telapak tangan Zelofia, kini ia tidak melihat wanita baya itu lagi. Pintu kamarnya juga sudah tertutup.
Zain berbalik kearah cermin, “Kau bisa mengganti perban?”
“Aku pernah ikut PMR di sekolahku dan aku giat ikut organisasi itu jadi aku bisa mengganti perbanmu” jawab Nina tersenyum canggung.
“Kemarilah”
Nina segera datang membawa perban dan obat-obat yang dibutuhkan. Gadis ini berdiri dibelakang Zain yang duduk didepan cermin.
Dari situ Zain dapat melihat pantulan gadis itu yang memiliki tubuh pendek, bahkan tingginya tidak sebanding dengan Zain yang duduk. Zain menyadari telah menikahi anak-anak.
“Kurcaci” maki Zain didengar Nina.
“Kau mengatakan sesuatu, Tuan?” wajah Nina terlihat disamping kanannya Zain yang langsung menjauh, takutnya berbenturan.
“Jangan banyak omong jika kau memang bisa mengganti perbannya ya lakukan” kata Zain begitu angkuh dan dingin.
Nina hanya membuang nafasnya kesal, “Bisa kau buka kemejanya?”
“Tidak bisa. Kau yang akan mengganti perbannya jadi kau yang harus melepas kemejaku” Zain berkata dan tidak mau dibantah siapa-siapa.
“Tidak masalah jika aku yang membukanya?”
“Hm”
Setelah pria ini merasa yakin barulah wajah Nina terlihat didepannya. Gadis ini membawa kedua tangannya melepas tautan kancing dan kemeja.
Deg
Baru saja Zain melihat wajah gadis itu namun jantungnya sudah ingin keluar. Rasanya panas dingin merasakan tangan Nina menyenggol otot-otot perutnya.
“Lepas! Kau sangat lelet!! Biar aku sendiri” maki Zain menepis kasar tangan Nina dari kemejanya.
Tidak masalah! Lagipula Nina juga tidak begitu penasaran dengan roti sobek berbulu milik suaminya. Yah sepertinya, karena saat ini mata Nina sudah curi-curi pandang.
Zain memiliki tubuh yang atletis. Dengan sedikit bulu melengkapi otot-otot perut yang begitu kotak dan gagah. Lengannya yang besar, panjang dan mengurat. Nina melihat semuanya kecuali bagian bawah saja.
Hal itu sudah cukup membuat Nina menelan air liurnya.
“Aku ingin menyentuhnya”
Vote and like dulu bebsss😘
__ADS_1