Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Aku Bisa Hamil?


__ADS_3

Pria yang baru kehilangan istrinya itu kelabaan menuruni tangga mencari gadis itu, membuat orang-orang yang melihat merasa sedikit terkejut.


“Zain, kenapa kau terlihat cemas?” tanya Zelofia yang sedang duduk di ruang tengah melihat Zain berlarian tanpa takut jatuh.


“Bu, aku sedang mencari Aynina” jawab Zain terdengar menyentak.


“Tenanglah Zain! Kau itu seperti kehilangan apa… Aynina ada di dapur bersama Maya” kata Zelofia sedikit tersnyum senang mendapati sikap Zain yang sudah berubah.


Pria ini menghela nafas lega.


“Jangan terlalu bucin seperti itu… bunda jadi malu melihatmu seperti ini” goda Zelofia agak mengejek Zain yang segera mengusap kepala bagian bawahnya risih.


Mendengar itu Zain kembali ke mode dingin lagi.


“Sudahlah, jangan kau ambil hati omongan ibu. Sana temui istrimu”


“Zain temui Aynina dulu, bu” ucap Zain melenggang pergi setelah memberikan tundukan hormat serta santun.


Sesampainya di dapur pria itu tidak melihat istrinya di dapur. Ia sempat kembaali cemas namun sayang kedua matanya sudah lebih dulu melihat sosok gadis yang ia cari bermain dihalaman belakang rumah.


Gadis itu terlihat sudah lebih baikan dengan memasukan keduaa kakinya kedalam kolam ikan bersama dengan beberaapa pelayan. Disamping perkebunan Darius ada kolam ikan koi dan Nina ada disana.


“Aynina” geram Zain kepada gadis yang sudah membuatnya cemas.


Nina langsung menoleh kesumber suara, bahkan para pelayan juga.


“Aku mencarimu kemana-mana dan kau malah ada disini? Kau masih belum sehat” omel Zain berjalan mendekat.


“Aku sudah baikan… kau tidak lihat wajahku yang kembali cantik dan imut?” Nina tersenyum. Gadis ini mulai merasa sombong dengan wajahnya.


Zain akui wajah Nina sudah lebih fresh dibanding waktu ia melihatnya di gym. Baiklah, kali ini Zain akan menerima.


Pria itu melepas sendalnya dan menyincing celana panjangnya lalu ia masukan kedalam kolam dan duduk disamping Nina.


“Tadi waktu aku sudah agak baikan, aku membantu kak Maya memanen sayuran” ucap Nina berhasil membuat mata pria itu melongo, “Kedua kakiku kotor dan aku mencucinya, tapi sepertinya kurang bersih jadi aku minta ikan ini untuk membersihkannya”


Wajah Zain memanas melihat wajah Nina yang terus tersenyum seakan sedang memamerkan wajah imutnya.


Zain menatap para pelayan bergantian. Lebih tepatnya pria ini sedang menuntut penjelasan.


“Maaf tuan. Saya sudah menolak tapi dia kekeh ingin membantu saya” kata Maya merasa menyesal.


“Jangan kau salahkan kakakku, dia tidak salah apa-apa. Aku hanya ingin membantunya sebagai seorang adik” balas Nina merasa bangga bisa membantu Maya.

__ADS_1


“Aynina, kau tahu tidak jika aku sangat khawatir melihat kau mimisan tadi” ucap Zain dengan wajah gelisah.


“Aku tahu. Tapi mimisan itu sudah berhenti… lihat, hidungku tidak keluaar darah lagi” balas Nina menunjuk hidungnya yang bersih.


“Apa kau sering mimisan?”


Nina menggeleng, “Waktu mengerjakan ujian aku sempat mimisan dan saat aku ingin menjadi makmum sholatmu untuk yang pertama kali, aku justru malah mimisan dan batal menjadi makmum”


Ada sedikit penyesalan tapi Nina tidak mempermasalahkannya.


“Aku juga pernah mimisan saat Devan melukaiku di belakang kampus. Tapi aku rasa itu karena efek tamparannya” ujar Nina.


“Kita ke dokter” Zain sempat ingin menarik tangan Nina, namun gadis itu segera menepisnya.


“Aku tidak mau ke dokter. Aku tidak apa-apa… mimisan saat kelelahan itu sudah biasa” kata Nina menolak keras.


“Aynina!!!”


“Tidak apa-apa” bantah Nina sedikit memasang wajah kesal, “Aku tidak apa-apa… jangan kau berpikir yang tidak-tidak. Sungguh, temanku juga pernah mimisan dan dia baik-baik saja”


Nina menurunkan pandangannya, “Terimakasih kau sudah perhatian kepadaku bahkan kau merasa sangat cemas. Tapi, kau jangan khawatir karena aku baik-baik saja”


Tidak Zain sadari telah menarik tubuh gadis itu merapat di dadanya. Pria itu memeluk Nina dan menyandarkan kepala gadis itu di dadanya.


“Iya” desis Nina


Dretttt


Sayangnya pelukan mereka harus terpaksa dihentikan karena ponsel Zain berdering dalam sakunya. Ia harus cepat-cepat mengangkat.


“Hallo Ebil” jawab Zain setelah mengangkatnya.


“Tuan, pemilik mansion itu datang ingin bernegosiasi dengan anda. Jika ada waktu tolong sempatkan untuk menemui pemilik mansion tersebut” kata Ebil di seberang telpon.


“Baiklah aku akan segera kesana”


“Baik tuan, selamat siang” ucap Ebil tanpa mendapat balasan.


“Aynina, aku harus pergi siang ini untuk menemui seseorang. Jadi tolong kau istirahat dulu supaya tubuhmu agak baikan dan, “ Zain menoleh kearah Maya, “Maya tolong sering-sering untuk membuatkan jus tomat, kiwi dan alpukat untuk Aynina”


“Baik tuan”


“Aku pergi dulu” Zain memberikan punggung tangannya kepada Nina yang segera menciumnya, “Assalamualaikum”

__ADS_1


“Walaikumsalam” jawab Nina membiarkan Zain pergi.


Selang beberapa menit setelah kepergian suaminya, datanglah Alzam menemui Aynina. Raut wajah pria itu terlihat tidak bersahabat. Dadanya naik turun menatap Aynina yang bingung kepada pria itu.


“Nina aku ingin bicara” kata pria itu terdengar dingin.


Namun Nina hanya membuang muka. Ia merasa jika pria itu akan kembali membual untuk melulukan kembali hatinya.


Beruntung sekali para pelayan sudah pergi. Jadi tidak aka nada yang mendengar jika itu terjadi.


“Aku tidak mau”


Alzam tidak mengindahkan dngan menarik paksa salah satu tangan Nina hingga gadis itu sejajar dengan tubuhnya, walau tinggi mereka tak sama.


“Tuan Alzam, waktu itu sudah aku katakan jika aku tidak mau bertemu dengan dirimu lagi… tapi kenapa kau masih lancang bertemu denganmu, bahkan menyentuh tanganku” kata Nina membuang muka.


Alzam mengulurkan sebuah surat kepada gadis itu.


“Apa itu?”


“Kenapa kau tidak membukanya sendiri?” kata Alzam membuat tangan Nina terulur meraih surat tersebut.


Karena penasaran Nina segera membuka dan membacanya. Mata Nina menelusuri setiap kata perkata yang tertulis disana, dan seketika itu air matanya luruh begitu saja.


“Kanker darah!”


Julukan penyakit yang ia derita sukses membuat hatinya begitu sakit dan menyesakkan dada. Ia begitu amat terpukul dengan apa yang sudah menimpanya.


“Sejak kapan penyakit itu bersarang di tubuhmu?” kata Alzam yang sudah tidak mampu membendung rasa sakitnya.


Nina masih diam. Kemungkinan wanita ini masih syok.


“Nina jawab aku” sentak Alzam mencengkeram kedua bahu gadis itu supaya sadar, “Kapan penyakit itu ada disana… jika sudah lama kenapa kau diam dan tidak melakukan pengobatan? Kanker darah itu bisa menggerogoti dirimu serta nyawa Nin!!!”


Begitu mendengar kalimat Alzam, Nina langsung terisak dengan tubuhnya yang meringsut kebawah. Sungguh, penyakit itu telah mematahkan semua harapan Nina.


Alzam mencoba untuk tetap tenang dan mencoba berbicara baik-baik dengan gadis ini, “Apa, kak Zain sudah tahu tentang ini?”


Nina hanya menggeleng lemas. Ia meremat surat tersebut dengan sangat kuat, sekuat berita itu mematahkan hatinya.


“Kau jangan khawatir. Kau akan sembuh jika melakukan berbagai pengobatan” kata Alzam menenangkan Nina.


“Apa aku bisa hamil?”

__ADS_1


__ADS_2