Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Perdamaian Dua Saudara


__ADS_3

“Seingatku dokter Aldo tidak pernah memberiku obat seperti itu. Itu obat apa? ” Nina ingin meraihnya namun Zain menepis.


“Obat ini sudah ada 1 minggu yang lalu, sayang” balas Zain masih sibuk dengan obat-obatannya,“Dokter Aldo menambah dosis obatmu minggu lalu, masa iya kamu nggak inget?” tambh Zain mengambil air putihnya.


“Penyakitku tambah serius ya?” lirih Nina terdengr sendu.


Zain mengusap pipi Nina, “Tidak sayang! Ini hanya tambahan vitamin dari dokter Aldo. Kau kan sering mengeluh jika nafsu makanmu kurang. Jadi, dokter Aldo memberiknmu vitamin untukmu” Zain melirik Nina yang masih diam, “Cepat habiskan sarapanmu dan minum obatnya”


“Iyaa” balas Nina.


“Setelah ini kita berangkat kemoterapi”ucap Zain mengelus rambut Nina, “Aku akan mengambilkan pakianmu di bawah. Tadi pagi aku sudah meminta Ebil untuk membeli pakaian”


Nina hanya mengangguk dan Zain bergegas keluar dari kamar.


Diperjalanan, Zain mengeluaarkn sesuatu dari dalam sakunya. Didalam telapak tangannya terlihat tablet kapsul yang tadi ia berikan kepada Nina, itu adalah pil kb.


“Bukan maksud aku menyembunyikan ini darimu! Tapi aku taakut karena ini akan membuat semangatmu menurun”


Flashback on


Waktu di rumah sakit sewaktu ia berbincang-bincang dengan dokter Aldo. Dokter itu memberitahu Zain mengenai keadaan Nina.


“Tuan Zain, jika aku lihat belakangan ini nyonya Nina sangat jarang memperhatikan kesehatannya. Karena penyakit ini bukan semakin membaik justru semakin memburuk. Sel darah putih memproduksi lebih banyak setiap harinya dibanding dengan sel darah merah. Hal itu bukanlah hal yang normal, tuan” kata Aldo menjelaskan.


‘Pasti karena sibuk mengurus diriku’ batin Zain menyalahkan diri sendiri.


“Saya sudah menghubunginya untuk segera melakukan kemoterapi dan pengobatan lainnya. Namun, beliau tidak kunjung datang dan mengabaikan semua prosedur yang telah saya berikan” tambah Aldo.


“Lalu, apa yang harus saya lakukan?” tanya Zain semakin khawatir.


“Untuk itu! Anda sebagai seorang suami yang selalu mendampinginya, tolong untuk mengatur pola hidup sehat Nyonya Nina… beliau harus makan makanan bergizi, tidur yang cukup, jangan terlalu lelah” ucap Dokter Aldo kembali menjelaskan.


“Aku pasti akan menjaganya”


“Dan, karena status Nyonya Nina sudah menikah. Jadi aku akan memberitahu anda. Jika bisa tolong tunda dulu hamil. Jika Nyonya Nina dikabarkan hamil sebelum penyakitnya sembuh, maka kemoterapi yang akan dijalani harus terpaksa ditunda dan menunggu sampai melahirkan dan jika itu terpaksa dilakukan maka kami terpaksa harus melakukan tindakan cecar untuk bayinya. Hal itu pasti juga berpengaruh terhadap bayinya, bisa jadi ada kecacatan dalam tubuh”


Zain diam mendengarkan penjelasan dokter Aldo. Pria ini hanya bingung harus memberitahu Nina atau nggak.

__ADS_1


Flashback off


_______


Jalan raya berselimut kendaraan dengan jenis yang berbeda-beda. Mereka semua hendak bepergian sesuai dengan tujuannya masing-masing. Seperti halnya penumpang di mobil ini.


“Assalamualaikum Bunda” ucap Nina melakukan video call dengan mertuanya didalam mobil.


“Walaikumsalam, kalian itu kemana sampai nggak pulang semalaman? Bunda khawatir dengan kalian tahu tidak” omel Bunda sedikit memanyun kesal.


“Maaf ibu… kami lupa memberitahu ibu tentang kepergian kami ke luar rumah. Kami akan sekalian ke rumah sakit untuk kemoterapi Aynina bu” balas Zain saat Nina mengarahkan kameranya kearah Zain yang sibuk berkendara.


“Lain kali kalau pergi itu bilang, jangan buat kami sekeluarga menjadi khawatir” ucap bunda memberi nasehat saat kameranya berganti ke wajah Nina.


“Omeli saja Mas Zain bun…dia menculikku dan membawaku jauh dari mansion” gurau Nina tertawa malu saat melihat wajah dingin pria itu.


“Bunda akan mengomelinya jika sudah sampai di rumah nanti. Lihat saja… aku akan menjitak palanya dengan gagang sapu”


“Oh itu terlalu kejam bu” kata Nina menyayangkan.


“Terimakasih bun”


“Bunda tutup dulu… assalamualaikum” ucap Zelofia menutup ponselnya setelah mendengar jawaban salam dari mennatunya.


Zain tersenyum meraih pergelangan tangan Nina lalu menciumnya lama. Pria ini selalu melakukan itu saat mengendarai mobil.


_______


Ruangan dokter Aldo.


Nina kembali melakukan kemoterapi bersama dengan dokter Aldo. Perempuan ini kembali di tes tekanan darahnya dan diberi infus pergelangan tangannya. Sementara Zain senantiasa menunggu istrinya diluar ruangan.


Pria yang merupakan suami si pasien itu terlihat diam dengan pandangan jauh kearah anak kecil yang sedang menangis dalam gendongan ibunya. Pria itu tidak memberikan respon apa-apa, hanya diam dengan tatapan sendu kepadanya.


“Kak Zain”


Atensi Zain berganti melihat suara yang memanggil namanya. Alzam yang datang segera duduk untuk mengobrol dengan kakaknya.

__ADS_1


“Kakak lagi menunggu Nina kemoterapi ya?”


“Menurutmu?” jawab Zain memandang dingin adiknya ini, “Kau sudah tahu semuanya bahkan kau lebih tahu penyakit Aynina dibanding denganku dan kau juga ikut andil menyembunyikannya”


Alzam menghela nafas pelan, “Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikan penyakit itu kepadamu, kak. Hanya saja, aku ingin Nina sendiri yang jujur kepadamu karena aku tahu pengakuan orang terkait akan lebih melegakan dibanding orang yang tidak berhak seperti diriku”


“Apa aku harus percaya dengan dirimu?” remeh Zain tersenyum miring.


Alzam menaikan kedua bahunya, “Terserah… itu hakmu ingin percaya atau tidak”


Mata Alzam masih melihat wajah Zain yang ada disebelahnya. Pria itu menatap sendu Zain dengan pernafasan yang sesak.


“Kak, jika aku boleh jujur. Tentang masalah kak Anita 5 tahun yang lalu…”


“Tidak usah mengungkitnya karena aku sudah melupakan itu” sela Zain enggan untuk mengingat kejadian itu lagi. Sudah cukup ia kecewa dan ia tidak ingin kecewa untuk yang kedua kali.


“Hanya saja, aku ingin meluruskan… dulu aku sudah sempat ingin mengobati kak Anita. Tapi, waktu itu aku sedang ditugaskan ke rumah sakit lain kak. Aku rasa sudah dokter lain yang menggantikan kak Anita jadi, aku tidak mengobatinya waktu itu. Maafkan aku kak”


Zain menoleh melihat Alzam yang menundukan pandangannya kebawah. Kesepuluh jari-jarinya bertaut, ditambah butiran-butiran penyesalan telah jatuh membasahi jemarinya.


“Aku sudah memaafkan mu waktu itu kan. Kenapa kau masih menjelaskan masalah itu?” kata Zain memukul bahu adiknya.


“Hanya saja---”


“Diamlah! Aku sedang tidak bernafsu mendengar penjelasanmu” potong Zain yang sebenarnya tidak ingin mendengar adiknya terus dalam penyesalan.


Namun Alzam tahu maksud kakaknya, dan ia pun menyandarkan kepalanya di bahu Zain seperti pasangan yang romantic. Zain yang dingin memilih membiarkan namun semakin kesini malah banyak orang yang tersenyum ejek melihat mereka.


“Menjijikan… menjauhlah” Zain mendorong Alzam sampai jatuh keatas lantai.


Tubuh Alzam terjatuh diatas lantai koridor rumah sakit dengan posisi terduduk saat Zain menoyor kepalanya. Kedua pantatnya nyeri dan pinggangnya hampir encok.


“Astaga kakak”


“Rasakan” acuh Zain membiarkan Alzam meringis memegangi kedua pantatnya.


Atensi Zain berganti melihat istrinya yang berdiri diambang pintu ruangan dokter Aldo. Wanita itu sepertinya sudah lama melihat interaksi mereka yang membanggakan.

__ADS_1


__ADS_2