Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Amarah Putra Ke-3


__ADS_3

“Bagaimana jika kau pura-pura hamil, Nin?” ceplos Aya saat Nina bersiap ingin berdiri.


Wajah Nina nampak tercengang mendengar permintaan Aya yang terdengar konyol di telinganya. Sementara Aya berwajah melas dengan kedua tangan menyatu seperti memohon.


“Apa yang kau katakan?”


“A-aku tahu ini terdengar tidak masuk akal. Tapi Nin… tolong bantu aku! Jika Aku tidak boleh menggugurkan bayi ini dan aku juga tidak boleh mati. Jadi, tolong bantu aku menutupinya. Katakan kepada orang jika kau hamil anak kak Zain dan anak ini akan menjadi anak kalian. Dengan begitu aku masih bisa melihatnya” kata Aya begitu memohon pada Nina.


“Kau tidak sadar dengan apa yang sudah kau katakan? Ini bayimu dan kau harus bertanggung jawab” ucap Nina dengan nada tinggi.


“Nin… kak Zain akan mengira bahwa kau hamil anaknya”


“Mau menerima bagaimana jika aku belum melakukan apa-apa dengan Tuan Zain!!” bantah Nina dengan nada suara yang begitu tinggi. Beruntung saja pintunya tertutup.


“Apa?” Aya yang seharusnya tidak tahu harus terpaksa diberitahu. “Ba-bagaimana bisa?”


Nina memijat dahinya yang pusing, “Sudahlah lupakan itu. Aku harus bilang kepada Tuan Zain dan dia akan mencari solusinya”


“Jangan Nin!!! Aku mohon!!! Kau bilang akan merahasiakannya?” teriak Aya lagi begitu frustasi.


“Maaf Aya, tapi ini begitu penting. Kau tenang saja Tuan Zain akan membantumu berbicara dengan ayah si bayi dan kalian akan segera menikah” tutur Nina dengan yakin.


“Dia tidak akan mau menikahiku” Aya menahan salah satu kaki Nina saat gadis itu sudah berdiri. “Nin!!! Jangan!!!”


“Aya, aku akan membantumu. Aku akan menjagamu darinya” kata Nina dan Aya hanya menggeleng takut.


“Nin jang---”


Mohon Aya tidak mampu meneruskan ucapannya kala melihat sesosok pria yang ia takuti berdiri diambang pintu dengan rahang tegas yang mengurat dan kepalan tangan menguat. Pria itu akan segera menyemburkan api amarah terhadap adik bungsunya.


“Ka-kak Zain?” pekik Aya terbata-bata dengan kedua mata hampir mau lepas menatap kedepan.


Bukan hanya Aya, Nina yang melihat juga merasa takut kepada pria itu yang memiliki wajah dingin datar dan kelam. Tidak lupa dada pria itu naik turun seakan menahan amarah.


Cklek


Zain menutup pintu kamar Aya dan berjalan mendekati Aya yang masih terduduk diatas ubin menatap nanar kearahnya.


“Tu-tuan Za—”


Zain mengangkat satu tangannya kearah Nina, memberikan tanda untuk jangan menyela.


“Ka-kak…. Ay-aya”

__ADS_1


Srett


Salah satu tangan Aya ditarik keatas dengan tiba-tiba. Hal itu membuat tubuh keduanya sejejar.


“Apa kau hamil?” Zain bertanya penuh dengan tuntutan, memaksa adik perempuannya untuk menjawab.


Kedua tangan Aya menyatu seperti memohon, “Kak ma-maafkan Ay—”


Plak


Telapak tangan mengurat Zain melayang cepat disalah satu pipi Aya yang hampir terjatuh sebelum Nina menangkapnya. Ujung bibir Aya mengeluarkan darah dan tamparan tercetak jelas di pipinya.


“Tuan Zain!!” Nina pun berteriak. Ia tahu pria ini akan marah namun, menampar adiknya sendiri? sama sekali tidak terlintas dibenaknya.


“Siapa ayahnya? Siapa yang berani menghamilimu Aya, atau kau memberikan dirimu sendiri kepada pria yang kau temui di hotel beberapa minggu yang lalu?” tanya Zain dengan sorot mata membunuh seakan ingin mencabik-cabiknya.


Aya menggeleng dengan cepat.


“Aku tahu kau di hotel waktu itu” ujar Zain, “Jadi katakan, Si-a-pa a-yah-nya?” tanya Zain kembali dengan menekankan setiap abjadnya.


Dan Aya malah semakin ketakutan bersembunyi dibalik tubuh Nina.


Lama-lama Zain geram juga bertanya dengan adiknya ini, hingga ia menarik tangannya dan ia lempar keatas ranajang.


“Bunuh saja kak… aku sama sekali tidak mau hamilll” balas Aya malah setuju dengan ancaman kakaknya.


“Setelah kau menikmati hubungan panasmu dengan seorang pria, kau ingin menghilangkan bekasnya. Seperti inikah kelakuanmu? Benar dugaan kakak, apa yang kakak lihat benar jika kau datang ke hotel waktu itu kan? Kau benar-benar memalukan Aya bahkan kau meminta Aynina menutupinya”


Aya menangis histeris.


“A-ya juga tid-ak mau sep-erti ini… Aya tidak ma-u ha-mil… dan me-nanggung malu keluarga ini. Aya ti-dak… ma-u” sahut Aya tersedu-sedu.


Zain melepas cengkeraman tangannya. Tubuhnya meringsut mengacak-acak rambutnya. Kecewa, dia sangat kecewa dengan apa yang telah adiknya lakukan, bahkan ia juga kecewa dengan dirinya sendiri yang tidak bisa menjaga Aya.


Kepala Aya dielus Nina yang setia menemani gadis disebelahnya. Ia memang kecewa, namun juga tidak bisa menyalahkan Aya sepenuhnya.


Zain kembali bangkit walau tubuh dan hatinya sudah begitu rapuh, “Katakan kepada kakak bayi siapa ini?”


“Dia tidak akan mau bertanggung jawab”


“Tidak ada yang tanya!!” sentak Zain dengan amarah yang meledak-ledak. Hampir saja Nina terpelanjat.


“Dia… tuan Aditama pemilik perusahaan AD Company”

__ADS_1


Deg


Wajah pria itu berubah. Ada rasa marah dalam benaknya, namun ada juga rasa dilema. Mengingat, jika keduanya memiliki hubungaan yang buruk.


“Bagaimana kau bisa mengenal pria itu? Bagaimana kau memiliki hubungan dengannya? Dia sudah memiliki istri Aya!!” gemas Zain ingin meremat wajah menyesal adiknya.


“Kami tidak sengaja bertemu di restoran” jawab Aya tidak henti-hentinya menangis.


“Karena kau sudah menodai martabat keluarga ini, maka jangan pernah keluar dari kamar sebelum kakak mendapatkan solusinya” titah Zain melangkah keluar namun kembali lagi, “Jika ayah dan bunda tahu! Mereka akan kecewa berat, bahkan syok dan hal buruk bisa saja terjadi. Kau telah meremehkan didikan ayah dan bunda. Kakak sangat kecewa denganmu”


Beberapa detik kemudian Zain keluar dari kamar Aya.


“Kau tenang saja. Percayakan semuanya dengan kakakmu” Nina mengusap pelan puncak kepala Aya, detik berikutnya ia pergi.


_________


Zain berjalan menuju tangga dengan tergesa-gesa, disusul istrinya yang berlari menyeimbangi langkahnya yang besar.


“Tuan” pekik Nina memanggil pria itu, namun sayang dia tidak mendengar. Hal itu membuat Nina hanya focus dengan punggung Zain tanpa hati-hati.


“Tu—”


Brak


Barulah kepala Zain menoleh kearah Nina yang sudah tengkurap diatas lantai. Segera pria itu datang menolongnya.


“Aynina!” pekik Zain membantu gadis itu berdiri. Ia melihat ada luka memar di lutut yang membuatnya membuang nafas.


Nina yang takut dimarahi itu segera menggelengkan kepala, “Tidak masalah! Aku baik-baik saj-”


Ucapannya terpotong kala Zain menggendong tubuhnya di dada. Entah ini sudah keberapa kali pria ini menggendongnya, namun tetap jantungnya seakan meledak dan matanya membulat dengan rasa terkejut.


“Tanganmu”


Nina yang paham segera mengalungkan kedua tanganya, membiarkan Zain tetap menggendongnya menuruni tangga. Hal itu tentu menarik perhatian para anggota.


“Astaga lihatlah pasangan itu! Mereka sama sekali tidak memiliki malu bermesraan didepan banyak orang” sindir Bian namun Zain tidak peduli.


Zelofia dan Abrizal saling pandang dengan senyuman. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.


“Kau mau digendong seperti Nina?” goda Asad kepada Helena yang langsung menyikut dada. “Oh sakit”


“Rasakan!!”

__ADS_1


__ADS_2