Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Dengan Gadis Ingusan


__ADS_3

Sebelumnya, waktu Aditama menolak kedatangan Zain. Pria ini sudah memiliki rencana untuk menemui istri Aditama secara langsung. Zain tahu jika istri Aditama begitu mengidolakannya, karena ia selalu mendapat hadiah atas nama wanita itu. Ia juga tahu jika Aditama tidak akan bisa membiarkan istrinya tahu tentang perselingkuhannya.


Karena itu semua membuat Zain tertarik ingin berkunjung dan menelpon target tanpa sepengetahuan Cristina sendiri.


“Assalamualaikum, Nyonya Cristina Anggita Aditama” sapa Zain dingin namun mampu membuat Cristina berteriak histeris terpukau dengan wajah tampannya.


Dan Aditama yang mendengar langsung terkejut.


“Walaikumsalam… omo… omo…” Cristina menutup mulutnya tidak menduga kedatangan pria dari Arab. Tentu Cristina harus mengambil kesempatan ini. “Masuklah, jangan terus diluar”


Tangan Zain segera ia jauhkan dari Cristina yang ingin menggandengnya. Pria itu langsung masuk begitu saja.


“Omo… Kantini!! Cepat buatkan minuman yang special untuk tamu special kita” teriak Cristina duduk disebelah Zain yang angkuh tanpa menoleh, “Omo… kau tampan sekali. Hatiku langsung sakit tahu kau menikah lagi”


Cristina memanyun kesal melihat Zain yang hanya diam.


“Kedatanganku kesini ingin membicarakan hal serius”


Deg


Seketika itu mata Aditama terbuka dengan sangat lebar. Wajahnya yang semula biasa kini berubah mengurat dengan kepalan tangan yang mengurat pula.


“Mah!! Mah!! Mamah menerima tamu tanpa ada suami di rumah?”


Cristina yang mendengar itu segera mencari asal suara suaminya. Karena Aditama bersuara, Zain tidak memiliki pilihan lain selain memperlihatkan ponselnya.


“Saya menelpon Tuan Aditama!” desis Zain memilih jujur.


“Untuk apa?” tanya Cristina agak tidak suka. Ia pikir Zain ingin membuat suaminya cemburu dengan datang menelpon suaminya diam-diam.


“Saya datang kemari ingin mengobrol, namun karena anda sendiri dirumah jadi saya menelpon tuan Aditama supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman” kata Zain berbohong.


“Oh” Cristina kembali ke mode awal. “Papah nih jangan sok cemburuan deh!! Udah matiin aja”


“Zain-Zain tunggu!! Kau ingin mengobrol dengan diriku kan?” sela Aditama sangat takut jika Zain membocorkan rahasianya, “Ok, aku tunggu di restoran xxx”


“Sayangnya, aku sudah di rumahmu, Tuan Aditama” kata Zain enggan untuk berpindah tempat.


Aditama takut Zain menceritakan semuanya kepada istrinya. Bisa ditendang dia!. Bisa-bisa ia menjadi gelandangan siang ini.


“Ok. Aku pulang sekarang”


Tut


Tepat setelah Aditama menutup telponnya, ia meremat ponsel itu dengan erat, detik berikutnya ia meninju angin dan bergegas pergi.


____


Kampus

__ADS_1


Mata kuliah Nina sudah dimulai. Seorang pengajar selalu berganti disetiap jamnya, dan semua itu nyaris tidak masuk kedalam telinga gadis ini. Ia masih memikirkan suaminya.


‘Baiklah! Mata kuliah kita siang hari ini sampai disini dulu. Jika ada pertanyaan bisa chat di grup dan tandai saya. Saya akan langsung membalas. Dengan syarat, kalau saya bisa menjawab’ gurau dosen muda wanita tersebut dan dijawab gemuruh tawa para mahasiswa.


“Terimakasih!!” ucap para mahasiswa serentak, begitu juga dengan Nina yang juga bersiap untuk keluar kelas.


Nina lesu keluar dari kelas, lalu gadis ini duduk di kursi dekat gedung. Rupanya ada sebuah kegelisahan yang ia peruntukan untuk suaminya.


“Apa aku menelpon Tuan Zain saja ya?” antusias Nina, namun ia kembali manyun, “Tapi bagaimana kalau dia sedang sibuk?”


Setelah berpikir lama, Nina memutuskan untuk menelpon Zain.


Di kediaman Aditama ini ponsel Zain berdering di saku jasnya, memberikan sinyal untuk segera diangkat.


“Assalamualaikum, kenapa menelpon?” tanya Zain dalam telpon masuk kedalam tubuh meneduhkan hati Nina.


“Walaikumsalam, kau ada dimana?” tanya Nina merasa agak canggung, karena ia menelpon tanpa alasan.


“Aku ada urusan di luar kantor"


“Ohh, apa kau sedang bertemu kolegamu? Apa aku mengganggumu?” tanya Nina dan Zain terus memperhatikan ekspresi Cristina yang seakan tidak suka.


Baguslah, setidaknya wanita ini akan panas dan menjaga jarak dengan Zain.


“Aku tutup saja ya”


“Jangan ditutup” sela Zain sebelum Nina menutup telponnya. “Aku tidak bertemu dengan orang yang penting dan tidak sibuk juga. Aku mau tetap seperti ini”


“Iya” balas Zain saat Nina bertanya, “Apa kau tidak ada mata kuliah?”


“Ada. Ini tadi aku baru saja selesai mata kuliah” jawab Nina mencari posisi yang nyaman.


“Tadi dosen ngasih materi apa?”


Duarr


Matilah kau Nina. Bagaimana kau akan menjelaskan materi yang dosen itu sampaikan jika kau saja tidak mendengarkan.


Nina menelan ludahnya kasar, “Hem…anu…”


“Anu apa? yang jelas kalau bicara! Tadi dosen ngasih materi apa?” tanya Zain sekali lagi dengan penuh penekanan.


Nina yakin wajah pria ini terlihat dingin. Beruntung ia tidak bertemu Zain saat ini.


“Hem” Nina menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, “Tentang management”


“I know… di buku apa, di bab apa, sampai mana?”tanya Zain sekali lagi dengan nada menuntut. Ia benar-benar ingin membuat Nina kelabakan.


Nina menjauhkan telponnya sebentar, “Aishh pria ini” lalu ia kembali lagi, “Hem. Sebentar ya biar aku lihat dulu dibuku catatan”

__ADS_1


“Iya”


Nina sedang berbohong saat ini. Ia bukan ingin lihat buku catatan tapi ia sedang mencari catatan di internet. Tidak lama akhirnya ia dapat juga.


“Katanya disuruh baca buku yang namanya The Intelligent Investor” jawab Nina dengan percaya diri.


“Waww karya Benjamin Graham, kan?”


“Iya” balas Nina dengan asal. Menurutnya, selagi Zain yang mengatakan duluan maka itu adalah kebenaran.


Selang beberapa detik akhirnya Aditama sampai di kediamannya. Pria itu nampak tergesa-gesa menemui Zain yang masih setia berbicara dengan Nina.


“Nanti sampai di rumah kita ulas kembali materi dari dosenmu” kata Zain nyaris membuat bola mata gadis itu copot, “Sekarang aku ada urusan. Assalamualaikum”


“Walaikumsalam” balas Nina langsung menutup wajah dengan kedua telapak tangan. Ia menyesal telah berbohong. “Aku harus pergi ke perpustakaan untuk membaca"


Kembali ke Zain.


“Ankazain? Mari kita obrolkan ini di samping kolam renang” kata Aditama bergegas mengajak Zain menjauh dari istrinya.


“Pah—”


“Mah… papah mau bicara dulu sama Zain jadi tolong beri kami privasi” kata Aditama merendah didepan istrinya. Ia sedang terlihat memohon.


“Ya udah deh”


Selepas Cristina memberikan ijin, Aditama mengajak Zain berbicara di samping kolam renang. Mereka berdua sudah duduk saling berhadapan dengan tatapan mata yang begitu tajam.


“Kenapa kau mencari ku?” tanya Aditama sok polos namun membuat lawan bicaranya merasa emosi.


Zain merogoh sesuatu dan ia lempar keatas meja.


“Zain jaga sikapmu! Bagaimana kalau ada yang lihat?” pekik Aditama gelagapan menutupi kertas berisi surat kehamilan milik Aya. Ia takut jika ada orang yang melihat.


Zain yang sudah malas bersikap halus itu merasa geram juga. Ia pun bangkit, “Berdiri!!”


Tangan Zain mengayun menarik kerah kemeja pria tua bermata keranjang itu, dan…


Bugh


Di kediaman pria tua itu Zain berani melayangkan kepalan tangannya, bahkan ia tidak menyadari telah memukul pria yang jauh lebih tua. Lalu kenapa, toh Zain tidak takut dengan siapa-siapa.


“Beraninya kau menghamili adikku Aya”


Zain kembali memukul wajah kanan dan kiri Aditama. Pria itu akhirnya memperlihatkan lelehan darah yang keluar dari ujung bibirnya.


“Dengar!!” Zain mencengkeram kuat kerah Aditama, “Nikahi Ayasha”


Aditama malah tertawa, “Menikah dengan gadis ingusan sepertinya”

__ADS_1


...Author : Ingas-ingus!! Heh ingusan gitu lo juga mau kali!! Dih najong😒...


__ADS_2