![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
“Kok bisa?” kaget Zelofia meninggikan nada bicaranya.
“Rektor itu malah menjadikan teman Nina sebagai kambing hitamnya. Jadi pria itu belum dihukum”
Bunda yang mendengar aduan Nina itu menoleh kearah putranya dengan tatapan menuntut. Ia percaya Zain akan mengurus ini dengan baik, rupanya ia malah mengecewakan dirinya.
“Jangan salahkan Mas Zain bun. Mas Zain tidak tahu apa-apa” sindir Nina terkesan halus namun menyakiti hati Zain.
‘Apa dia sekarang sedang meremehkan diriku? Sudah jelas-jelas tadi jika rector itu akan memberi hukuman yang setimpal’ protes Zain dalam hati. Jika Zelofia tidak ada, mungkin Nina sudah kena omel lagi.
Beruntung bunda Zelofia ada disini.
‘Apa sekarang dia akan marah? Jika dipikir-pikir, marahnya dia tidak sebanding dengan kesalahan Devan. Pria itu harus dihukum supaya tidak menggangguku atau orang lain akan menjadi korban nanti. Lebih baik mendapat omelnya, lagian omelnya itu cuma sebentar. Kalau Devan, aku akan bertemu dengannya berkali-kali dan dia juga bisa menyakitiku berkali-kali’ monolog Nina dalam hati.
Mata mereka bertaut penuh arti dan Nina tidak takut lagi. Gadis ini masih marah dengan perkataan Zain siang tadi, bahkan rasa itu masih membekas dalam benaknya. Dasar jahat!.
“Iya, kau benar sayang. Zain itu memang tidak tahu apa-apa!” sindir Bunda mengingat sesuatu, “Apa pria yang menyakitimu itu kaya raya?”
“Iya bun” jawab Nina tahu jika selama ini Devan merupakan seorang putra tunggal kaya raya. Kan dia ini mantan pacarnya.
Dugaan bunda Zelofia benar. Orang kaya akan melakukan apa saja untuk memanipulasi kesalahan mereka. Tapi sayangnya, mereka salah mencari korban.
“Oh, dia sedang menggunakan kekuasaan rupanya. Ya sudah sayang, besok kita datang kembali kesana! Bunda sendiri yang akan melawan rector itu. Siapa namanya?” tanya Zelofia kesal.
____
“Nouval Mahendra”
Rector tua bertubuh gendur itu langsung gemetaran mendengar namanya diucap begitu dingin oleh Nyonya keluarga Darius. Kepalanya terus menunduk takut melihat wajah Zelofia yang ada didepan matanya duduk bersama dengan sang menantu muda.
Kerongkongannya terasa kering jika melihat raut wajah wanita itu. Ia terus berusaha mengalihkan wajah supaya wanita itu berhenti menatapnya, namun sia-sia.
“Waktu itu kan---”
“Panggil orang tua dan anak itu kemari!” titah Zelofia begitu dingin dan tak terbantahkan.
__ADS_1
“Si-si-si pelaku su-sudah dikeluarkan Nyonya” jawab Nouval gugup membuat Nina membolakan matanya.
“Yakin itu pelakunya? Pak Nouval, anda sepertinya melupakan kesaksian oleh korban sendiri. Menantu saya!”
“Me-me-menantu?” gugup Nouval baru tahu kalau Nina itu menantunya. Ia pikir cuma saudara Zain saja. Iapun terbatuk saking gugupnya.
“Iya. Dia ini menantu saya. Nina sudah mengatakan kesaksiaanya kepada saya dan anda sebagai rector kampus ini belum bertindak apa-apa. Berapa uang yang anda dapat dari membela si pelaku? Anda dapat sogokan, bukan! Saya akan melaporkan ini atas dugaan pemerkosaan dan pemalsuan kasus. Untukmu, kau akan dituntut karena tidak bersikap adil dalam mengambil keputusan” kata Zelofia dengan amarah yang memuncak.
Tubuh Nouval semakin bergetar. Ia sangat takut dengan nasib pangkatnya nanti. Bagaimana kalau dia diturunkan saat ini juga?
“Yaakkkkk kenapa kau memanggilku kemari?”
Suara centil melengking dari balik pintu membuat Zelofia berbalik ingin melihat. Wanita setengah baya dengan wajah fress berkaca mata dan tas branded tergantung di pergelangan tangannya. Sungguh terlihat norak bagi Zelofia.
“Oh kau ibu dari anak mesum itu?”
Cristina yang melihat Nouval berganti melihat Zelofia yang berbicara, dan saat itu juga kaca matanya terbuka, memperlihatkan bola mata yang melebar dan mulut menganga.
Bukannya marah, wanita ini malah nampak bahagia, “Omo-omo!! Bukankah anda ini ibu dari Ankazain, pria tampan dari Arab. Umi Arab… Astaga, assalamualaikum, Umi”
“Oh, kau sekarang ingin bersikap sok manis ya?” tentu saja Zelofia berpikir demikian. Ia tidak ada pikiran menjadikan wanita tua ini menantunya.
“Sok manis?” Cristina menata helaian rambutnya, “Aku memang manis, Umi Arab”
“Berhenti memanggilku Umi. Dimana putramu itu? Dia harus memintaa maaf kepada menantuku karena sudah berniat melecehkannya”
Cristina menutup mulutnya dengan tangan, “Affah iyah? Dia melecehkan menantumu, siap---”
Mata Cristina berganti melihat kearah Nina. Dia terpukau dengan kecantikan dan keimutan gadis itu, ‘Wajahnya yang natural tanpa make up, terlihat fress dengan lip balm yang membasahi bibir tipisnya, pakaian sederhana namun nampak mewah ditubuhnya yang agak berisi, dan matanya yang lebar seperti orang india. Apa dia keturunan india? Astaga, satu keturunan Arab dan satunya lagi keturunan India? Bagaimana dengan diriku? Aku keturunan sunda dan batak’
Cristina berdecih jika memikirkannya, “Kau istri Zain ya?” ia berdeham menjabat tangan, “Perkenalkan, aku Mamah dari Devan Aditama”
Dengan polosnya karena tidak mau kualat, Nina langsung mengecup punggung tangan Cristina. Hal itu langsung di tepis Zelofia.
“Berhenti bermain-main! Dimana anakmu itu? dia harus meminta maaf dan dikeluarkan dari kampus. Saya tidak mau menantu saya sekolah di kampus tidak masuk akal seperti ini” kata Zelofia merasa lelah dengan permainan Cristina.
__ADS_1
“Anak saya sedang sakit. Nyonya, kita bicarakan ini baik-baik”
“Alasan! Saya sudah menunggu anda dan putra anda untuk datang namun kalian sudah membuat saya menunggu lama. Putra anda yang bernama Devan sudah dikeluarkan dari kampus ini” kata Zelofia dengan halus. Ia pun melihat Nouval, “Kau tidak pantas menjadi rector. Pangkatmu akan turun sebentar lagi”
Mulut tebal Cristina membola, “Umi Arab tunggu”
Cristina mengikuti Langkah Zelofia yang menggandeng menantunya meninggalkan ruangan tersebut, meninggalkan Nouval yang nampak frustasi karena pangkatnya diturunkan.
“Bagaimana ini????” Nouval menjatuhkan dirinya diatas lantai. Ia menyesal perbuatannya karena tidak bersikap adil.
Sementara wanita setengah baya itu masih mengejar dengan ala-ala centil menyincing roknya rendah.
“Umi Arab tunggu!” Cristina menahan tangan Zelofia yang langsung ditepis oleh sang pemilik.
“Jika kau ingin memohon untuk putramu supaya bisa diterima di kampus ini lagi! Mohon maaf, keputusan saya sudah bulat! Beruntunglah saya tidak membawa ini keranah hukum. Oh iya, katakan kepada putramu itu untuk segera meminta maaf dengan menantuku” jelas Zelofia ingin masuk mobil.
“Umi Arab tunggu” Cristina menahan tangan Zelofia lagi. “Aku tidak ingin memohon supaya anakku dimasukan lagi kedalam kampus ini. Iya aku terima keputusan itu, tapi… bisakah kau mintakan tanda tangan putramu Zain? Aku sangat mengaguminya”
“Kau tidak malu berbicara seperti itu didepan istrinya?” kata Zelofia dingin lalu masuk bersama dengan Nina.
Kali ini ia sudah bosan berlama-lama dengan ibu-ibu genit itu. Ia sudah tidak peduli jika Cristina ingin memohon atau memanggil-manggil dirinya.
Diperjalanan...
Mata Nina tidak bisa lepas dari wajah tegas mertuanya. Wanita ini sudah terlihat tua diusia 52 namun pikiran dan juga perilakunya sangat muda. Ia kagum dengan wanita baya ini.
“Terimakasih, Bunda”
Zelofia menggenggam tangan Nina, “Terimakasih untuk apa? sayang kau itu bukan sekedar menantu. Kau adalah putri kami! Begitu juga dengan Helena dan Bella, nak”
Nina merasa terharu, sangat. Ada rasa beruntung karena memiliki mertua seperti Zelofia yang perhatian dan baik padanya.
“Dengarkan aku! Jika kau merasa benar, maka kau harus berani bertindak. Jangan takut jika kau salah! Kesalahan akan membawa kemajuan untuk dirimu sendiri. Hari ini kau tidak berani, tapi kedepannya kau harus membawa perubahan. Begitu juga dengan menanggapi Zain suamimu. Iya sayang!”
Nina mengangguk dan membiarkan tubuhnya dipeluk. ‘Aku ingin seperti bunda Zelofia. Wanita tegas yang bersikap adil dan berani mengambil keputusannya’
__ADS_1