Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]

Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]
Kau Mawar Oranye?


__ADS_3

“Aku hanya tidak ingin kak Adnan merasa dihina oleh perempuan itu” Zain mengusap bahu Adnan seperti seorang teman.


“Apa yang Zain katakan itu benar, nak?” Zelofia yang sebagai ibu juga tidak bisa membiarkan itu terjadi kepada putranya. Lagi-lagi Zelofia lupa dengan perasaan anaknya.


Tanpa menjawabnya, Adnan melangkah pergi keluar pintu mansion milik adiknya. Ia pergi dengan maksud menenangkan hati dan juga pikirannya. Mungkin berat untuk dirinya menerima kenyataan harus melupakan wanita itu. Tapi, mau bagaimana lagi saat wanita itu tidak mencintainya


___


Suasana kantor yang semakin menyenangkan, ditambah kabar bahwa istrinya akan melahirkan bulan ini membuat Zain semakin semangat menyambut buah hatinya. Namun, tentu saja pria ini tetap memperhatikan kondisi istrinya.


Seperti saat ini, setiap lima menit sekali pria itu menelpon istrinya untuk memastikan keadaannya.


“Hai sayang! Aku ingin lihat tendangan kehidupan anak kita” pinta Zain dan Nina segera memperlihatkan perutnya di kamera.


“Yah hubby!! Dia ngambek nggak mau ngelihatin ke kamu” jawab Nina memanyun sesal.


Zain tertawa lebar, “Nanti di rumah, Abi ingin kamu menendang umi ya”


“Hih mana ada! Anakku ini sayang banget sama uminya. Iyakan sayang” ucap Nina. Jika bisa ia ingin mencium perutnya itu, tapi pasti tidak akan sampai.


“Dia juga sayang dengan abinya. Iya kan?”


Tok tok tok


“Masuk” jawab Zain membuat pekerja yang ada didepan pintu membukanya.


Pekerja itu tidak lain adalah Ebil yang kembali membawakan bunga mawar berwarna oranye tanpa nama.


“Tuan, anda mendapat kiriman bunga mawar oranye lagi” ucap Ebil didengar Nina diseberang telpon. Wanita itu langsung membulatkan mulutnya.


“Dari siapa?” tanya Nina jengkel.


Zain menghela nafasnya dalam-dalam dengan kelakuan bawahannya yang tidak melihat-lihat kondisi. Dia kan lagi ngobrol sama istrinya! apa dia tidak paham.


Ebil yang menahan takut itu segera menjawab, “Saya juga tidak tahu. Selalu tidak ada namanya dan kirimannya selalu sama, ups”


“Siallan” maki Zain dengan nada lirih nyaris tidak ada yang mendengar. Hancur sudah rumah tangganya gara-gara bunga mawar oranye yang muncul kembali.

__ADS_1


“Selalu!! Ada kata selalu pasti itu sering ke kirim ke kantormu ya hubby!” pekik Nina marah, “Urus dulu itu bunga mawar oranye mu sana”


Tut


“Say—” ucapan Zain terpotong kala wajah istrinya tidak lagi ada di layar ponsel. Ini semua gara-gara Ebil. “Aku tidak akan merasakan tendangan anakku gara-gara dirimu Ebil!! Aynina akan melarang diriku nanti”


“Ma-maaf tuan” Ebil menundukan wajahnya takut.


“Buang saja bunga itu!!! Buat apa!! Membuat emosi saja” marah Zain memijat pelipisnya yang pusing.


Ebil ingin membuangnya, namun sangat disayangkan. “Tuan, orang yang memberi bunga ini minta bertemu”


Zain bertambah emosi saja. Seharusnya ia sudah membogem mulut bawahannya supaya berhenti berbicara. Ebil benar-benar mmebuat dirinya murka.


“Tidak usah basa-basi kau mau minta pesangon berapa?” ancam Zain terdengar mengerikan.


Ebil menggelengkan kepalanya, “Tidak tuan! Saya belum ingin risign”


Ebil yang ketakutan terpaksa membawa buket bunga mawar oranye ke tempat sampah dan membuangnya. Ini kali pertama Zain membuang bunga tersebut.


Setelah selesai dari kantor Zain memutuskan untuk pulang dan dugaannya benar dimana sang istri ngambek tidak mau disentuh, bahkan saat Zain pulang wanita itu hanya menyambutnya dengan wajah cuek lalu melenggang pergi.


Jadi, Zain harus ekstra sabar untuk menghadapi istrinya ini.


“Sayang! Aku sebenarnya juga tidak tahu itu bunga darimana. Aku hanya menerima karena dia tidak membutuhkan balasan atau mencantumkan nama seperti hadiah-hadiah yang lain” lirih Zain menjelaskan.


“Oh jadi hubby sering dapat hadiah ya” tanya Nina masih ngegas.


Zain mengangguk, “Aku membuangnya karena aku tidak suka. Biarkan saja mereka terus memberikanku hadiah, tapi aku berikan semuanya kepada karyawanku”


“Terus! Bunga mawar itu hubby buang?”


“Iya aku buang!” jawab Zain mengangguk tanpa ia sadari. “Aku juga sebenarnya sudah tidak mendapat kiriman bung aitu lagi, karena aku pikir dia bosan. Tapi ternyata tadi pagi, bung aitu kembali lagi”


Nina menghela nafasnya jengah, “Baiklah! Aku mau tidur”


Tanpa mendengar penjelasan suaminya lagi, Nina langsung merebahkan dirinya didalam selimut. Merasa Nina tidak marah lagi, membuat pria itu juga ikut tidur disebelahnya.

__ADS_1


“Apa perutnya kadang suka nyeri, sayang?” tanya Zain memeluknya dari belakang. Ia berkali-kali mengusap perut Nina yang semakin membesar.


“Sedikit” balas Nina membiarkan tangan suaminya mengelus perutnya yang terus bergerak karena tendangan si bayi.


Zain kembali tersenyum, “Dia aktif sekali ya”


Pagi harinya saat Zain berangkat lagi ke kantor, hal yang pertama ia lihat adalah buket bunga mawar itu lagi. Zain yang tidak mau membuat istrinya marah itu segera membuangnya.


“Buang-buang waktu”


Namun, hari berikutnya setelah Zain kembali dari meeting, ia melihat bunga itu tergeletak diatas meja kerjanya dan lagi-lagi Zain mmbuangnya.


Bunga itu terkirim bersamaan dengan sebuah surat yang meminta sebuah pertemuan dengannya. Maka dari itu Zain selalu menolaknya. Namun jika dibiarkan terus, kenapa bunga itu masih juga ada di ruang kerjanya.


Zain menelpon seseorang, “Ebil, tunda semua jadwal pertemuanku dengan kolega luar. Aku ingin memberi oraang pelajaran terlebih dahulu”


Selepas itu, Zain langsung menutup telponnya. Ia akan menemui orang itu langsung untuk berhenti mengirimkannya bunga.


Jam 19:00 tepat tertulis didalam surat tersebut dan Zain akan bertemu orang yang selalu ada dan menunggu dirinya di taman dekat air mancur kota.


“Memberi peringatan lalu pulang” monolog Zain menegaskan dirinya sendiri.


Cittt


Suara gradasi mobil milik Zain berhenti diparkiran masih kawasan taman. Ia langsung turun melangkah mencari-cari orang itu disana. Kedua mata Zain fokus dengan denah lokasi yang ada di surat itu.


Mulai dari kekanan maju 15 langkah, hingga berbelok ke kiri. Hampir saja Zain tidak yakin dengan tujuannya saat ini karena taman itu sangat sepi tidak seperti biasanya yang selalu ramai. Terlebih, ada banyak sekali hiasan bunga mawar oranye disepanjang jalan.


“Apa dia sedang mempermainkanku! Kurang ajar… aku akan menghajar dia nanti” maki Zain dengan wajah yang mengurat menahan amaarah.


Ia begitu semangat ingin cepat-cepat bertemu orang itu dan melampiaskan amarahnya. Lihat saja! habis dia.


Setelah lama Zain mengikuti arah jalan, akhirnya ia samapai ke ujung juga. Pria itu melihat meja berisi makanan dan dua kursi dibawah tenda yang dihias indah seperti makan malam yang romantic, selain itu juga ada wanita yang duduk membelakangi dirinya. Jadi posisinya Zain hanya melihat bagian belakangnya saja.


Kepalan tangan Zain menguat mendekat dan membalikan tubuh wanita itu, “Beraninya kau---”


Tepat saat Zain ingin melayangkan telapak tangannya, wajah wanita itu membuatnya termangu dan terdiam.

__ADS_1


“Kau mawar oranye?”


__ADS_2