![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mata seluruh anggota keluarga menatap tajam Bian yang tiba-tiba memuji dan memberi tepukan untuk pekerja baru yang menunduk malu disana.
Nyonya Zelofia tersenyum kecut, "Sayangku Bian. Bunda sangat menghargai tepuk tanganmu itu tapi ini sedang ada di ruang makan. Sebaiknya kau kurangi bersikap liar"
"Aku hanya memberi selamat kepadanya. Aah bunda" desah Bian ingin membantah namun keduluan melihat senyum manis bundanya, seakan memintanya untuk duduk.
Bian mendapat lirikan tajam dari pria duda yang ada disebelah bunda Zelofia. Pria itu seakan dapat membunuh Bian lewat tatapan matanya.
'Dasar duda karatan' ketus Bian dalam hatinya seraya pandangan melengos lalu duduk.
Sementara pria yang ada disebelahnya, pria itu nampak tersenyum melihat perilaku Nina yang menggemaskan. Bian yang melihat itu langsung membenturkan bahunya ke bahu Alzam.
"Kau menyukainya? Dia memang cantik tapi aku tidak setuju jika dia menjadi kakak iparku" Bian berbisik di telinga Alzam.
Alzam hanya tersenyum mengusap kasar rambut Bian. Ia terhibur. Dokter satu ini memang terlihat sangat tampan jika memperlihatkan senyumnya.
Mata anggota keluarga Darius masih menatap kearah Nina yang didatangi cucu perempuan keluarga tersebut. Neha kecil nan imut itu mendatangi Nina, merasa suka dan ingin bermain dengannya.
Neha mengulurkan tangannya, "Hai kakak, apa kau mau menjadi temanku?"
Rasa malu Nina seketika hilang. Ia merasa melihat adik laki-laki nya Artur. Iapun berjongkok didepannya dan menjabat tangan Neha.
"Hai, aku Nina. Aku mau menjadi temanmu. Kapan-kapan kita bisa main di taman ya" Nina tersenyum dan Neha juga membalasnya.
"Heii gadis kecil. Kau melupakan diriku?" pekik gadis SMA yang merupakan putri bungsu keluarga Darius. Ia sedang protes dengan keponakannya.
"Tidak! Anggota grup kami sudah penuh. Iya kan kak Nina" Neha meminta bantuan Nina supaya gadis ini mau membantunya. Tapi mana Nina berani.
Ia hanya tersenyum.
Aya hanya memanyun sesal lalu Bian mencoba menawarkan.
"Apa paman boleh bergabung di grup kalian?" Bian mengangkat tangan kanannya.
"Iyaa!" jawab Neha tersenyum menciptakan kecemburuan untuk gadis bungsu keluarga ini. Hanya bercanda saja, jangan khawatir.
"Tadi kamu bilang sudah pas" protes Aya tidak mau terima saat keponakannya ini pilih kasih. Namun gadis kecil itu hanya mengeluarkan lidahnya mengejek.
Alzam tertawa dan juga ingin menawarkan diri, "Paman juga ingin ikut, Neha"
"Tentu saja paman Alzam. Neha akan memasukan kalian di grup chat" Neha nampak tersenyum bahagia mendapati banyak sekali orang yang mau mendaftar.
Namun ia enggan menerima Aya menjadi salah satu anggotanya, karena Aya hanya sering menggoda Neha dengan cubitan-cubitan gemas kepadanya. Menyebalkan!.
Neha selalu sukses membuat mereka semua tertawa oleh tingkah lucunya. Walau tidak semua. Ada satu anggota keluarga Darius yang tidak pernah tertarik dengan gurauan apapun. Dia, Bella Urza, wanita ini hanya terus menatap Zain dari samping suaminya.
__ADS_1
Saat para anggota keluarga Darius tertawa wania ini menyela, "Di keluarga ini para pekerja dianjurkan untuk mengikat rambutnya atau kami akan memotongnya. Untaian sangat menjijikan jika tercampur dengan makanan"
Bella tersenyum sinis lalu meneguk secangkir kopi yang ada didepannya, mengacuhkan Nina yang merasa tersindir saat ia memiliki rambut panjang dan tergerai. Nina malu.
Sejenak ruangan makan ini menjadi hening tak bersuara. Namun Zelofia segera menepis nya.
"Nina juga sudah disiapkan seragam pekerja. Dia akan memakainya besok dan pasti rambutnya akan diikat. Jika tidak, itu hanya akan mengundang sifat buruk orang-orang"
Mata tajam Bella melihat kearah mertuanya. Ia merasa jika ucapan mertuanya itu seperti sindiran untuknya. Namun ia tidak mampu untuk membantah dan memilih diam.
"Sepertinya makanan sudah hampir dingin. Sebaiknya kita segera makan"
Mereka segera menyantap makanan yang ada diatas meja setelah Abrizal yang merupakan kepala keluarga sudah mengijinkan.
_______
23:00
Malam hari ini begitu sunyi, dimana kediaman Darius akan terlihat gelap dengan sedikit penerang ruangan. Para anggota sudah terlelap dibawa ke alam mimpi, namun pria satu ini tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan menuruni tangga.
Alzam yang merasa haus ingin pergi ke dapur. Disana ia melihat gadis memakai dress selutut persis dengan pekerja baru yang ada di kediaman ini. Gadis itu terlihat imut dengan rambut di cepol keatas.
Gadis itu masih sibuk mencuci alat makan keluarga.
"Nina?"
Nina terpelanjat menoleh kearah Alzam. Melihat keberadaan Tuannya, membuat Nina segera menundukkan kepalanya kebawah.
"Ma-maaf Tuan karena mengganggu istirahat anda"
"Eh ganggu darimana coba? Aku hanya ingin mengambil air dingin" Alzam mendekat saat Nina mulai melangkah mundur. Ia hanya ingin mengambil satu botol air dingin di lemari es yang ada disamping tubuh Nina.
Alzam meminumnya dan Nina masih tidak bergerak.
"Kenapa kau masih bekerja, bukankah para pekerja lainnya sudah tidur? Kau terlalu giat Nina" Alzam terkekeh pelan seraya meneguk kembali botol air minumnya. Alzam bersandar di meja bar.
"Hm, gak papa Tuan. Lagian kak Maya sama yang lain juga udah bekerja keras. Kayaknya cuma saya yang belum kerja" cicit Nina masih tidak beranjak dari tempatnya.
Alzam menaikan satu alisnya lalu menaruh botol air minumnya diatas meja. Nina merasa heran.
"Tuan, inikan sudah malam. Kenapa malah minum air putih yang dingin?"
Alzam terkekeh geli, "Aku sudah biasa. Malam hari terasa panas dan aku harus turun untuk mengambil air minum. Aku menyukai air dingin"
Nina mengangguk menerima lalu ia kembali mencuci alat makan keluarga ini. Alzam melihat dan merasa iba jika harus meninggalkan Nina sendiri di dapur seluas ini.
__ADS_1
"Biar aku ban----"
"Tuan" pekik Nina menjauh saat Alzam muncul dari belakang. Nina terkejut, membuat wajah Nina menoleh melihat Alzam. Keduanya bersitatap.
Hening...
"Ma-maaf Tuan" Nina segera menjauh dan Alzam langsung berdeham canggung.
"Aku akan membantu dirimu supaya kau bisa kembali istirahat. Ini sudah malam Nina dan tidak baik kau masih begadang mengerjakan pekerjaan" Alzam langsung merampas spon cuci piring yang ada ditangan Nina.
"Biar saya saja, Tuan" Nina berusaha meraih saat Alzam menjauhkannya.
Apa Nina membiarkan Alzam membantunya saja? Toh cucian piring nya sangat banyak. Keluarga ini memang menggunakan semua piringnya.
"Ta-tapi bagaimana kalau ada yang melihat?"
"Apa kau melihat ada orang disini?"
Nina menggeleng. Memang tidak ada orang selain mereka berdua di dapur ini. Namun Nina masih takut.
"Inikan pekerjaan saya, Tuan"
Alzam menghela nafas.
"Saya juga tidak meminta dirimu untuk menganggur! Kau juga bantu tapi hanya membilas dan menaruhnya ke tempat semula, kalau urusan mencuci biar aku. Begitu Aynina" jelas Alzam menoleh menghadap Nina yang menggigit bibir bawahnya karena malu. Alzam jadi gemas dengan gadis muda ini.
"Iya Tuan"
Nina segera membantu Alzam dalam menyelesaikan pekerjaan ini.
20 menit kemudian
"Hufttt akhirnya pekerjaan mu selesai juga, Nina" pekik Alzam duduk di kursi bar seraya meneguk kembali air dingin.
"Terimakasih, Tuan"
Alzam hanya mengangguk lalu beranjak.
"Cepatlah kau istirahat, ini sudah hampir larut. Bukankah kau harus bekerja? Aku juga harus bekerja besok. Selamat malam Nina "
"Selamat malam Tuan. Terimakasih"
Nina menundukkan kepalanya saat Alzam melambaikan tangannya lalu pergi meninggalkan Nina. Nina bahagia karena pekerjaannya selesai dengan cepat. Ia bisa kembali tidur.
"Dia memang pria yang baik"
__ADS_1
...To be continued...
Jangan lupa Vote bebsss 😘