![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
“Tuan turunkan aku! Aku bisa jalan sendiri” Nina memberontak karena risih dengan tatapan para pekerja dihalaman depan.
“Bisa berjalan apanya? Nyatanya kau terjatuh dan lututmu terluka” Zain memberikan isyarat pekerja yang ada disana untuk segera membuka pintu mobilnya. Detik berikutnya Zain mendudukan gadis itu di kursi menghadap keluar.
“Tuan kau mau apa?” tanya Nina saat Zain mencari sesuatu didalam mobilnya.
“Kakimu harus diobati” tubuh Zain sedikit berjongkok melihat memar di lutut gadis itu. “Tidak begitu parah dan butuh hansaplast saja”
Nina melihat wajah sedih pria didepannya. Tidak dipungkiri hatinya juga merasakan semuanya. Mendengar adiknya hamil di luar nikah, tentu membuat siapa saja orang akan merasa hancur.
“Tuan” lirih Nina membuat kepala Zain menengadah melihat wajah gadis itu dari bawah. “Aku tahu perasaanmu. Tapi, tolong jangan melakukan apapun menggunakan amarah dan cobalah untuk menggunakan kepala dingin. Mencari solusinya dengan baik-baik pasti akan membuahkan hasil yang baik pula. Kemarahan tidak akan menyelesaikan semuanya”
“Kau jangan pedulikan aku! Apapun yang kulakukan semua untuk kebaikan Aya. Aku tidak perlu diingatkan. Dengan suasana hatiku yang sering berubah-ubah, aku akan menyesailakan masalah ini tanpa ada yang mengetahuinya” jawab Zain mengobati lutut Nina.
Saat tangannya memakaikan hansaplast di salah satu lutut gadis itu, mengapa matanya begitu terpukau dengan kaki putih mulus milik Nina yang membuatnya salah fokus sampai meneguk ludahnya kasar. Siapa juga pria yang tidak tergoda jika melihat kaki putih seperti milik Nina.
“Siapa yang memilihkanmu pakaian dengan rok mini seperti ini?” tanya Zain kepada Nina yang memang memakai pakaian dengan rok diatas lutut.
“Aku yang memilihnya”
“Kau senang sekali pahamu dilihat orang ya! Jangan mempertontonkan tubuhmu kepada pria yang bukan muhrim, sebaliknya kau akan mendapat pahala jika memperlihatkannya kepada yang muhrim” kata Zain segera mengganti posisi Nina menjadi menghadap kedepan.
“Seperti dirimu?” tanya Nina menyembulkan kepalanya keluar jendela saat pintu sudah tertutup. “Tuan, seperti dirimu?”
Nina terus menuntut untuk diberi jawaban, namun Zain hanya diam masuk kedalam mobil. Kendaraan beroda 4 itu melaju membelah jalanan.
Namun setelah mobil itu berhenti, bukan bangunan kampus yang ia lihat atau mahasiswa berlalu lalang. Melainkan sebuah butik dengan pelayan berdatangan.
“Selamat pagi, Tuan” sapa pekerja wanita tidak mengharap balasan dari pria itu. Ia sudah paham.
“Turun”
“Tap---”
“Kau mau aku menggendongmu?” tanya Zain membuat Nina gelagapan turun. Gadis itu tidak mau menjadi pusat perhatian orang lagi.
Sesampainya mereka didalam. Nina ternganga melihat banyak sekali gaun dengan brand berkelas luar negeri dengan harga yang fantastis.
“Tuan ini semua sangat mahal”
“Segera pilih yang kau suka. Tapi jangan baju yang terlihat pahanya” ucap Zain mengambil handphone, “Oh iya, jangan lama-lama atau kau akan telat masuk kampus. Aku juga ada urusan dengan orang”
Tutur Zain kembali memikirkan adiknya. Nina yang dengar hanya diam memilih, membiarkan Zain yang sudah melakukan panggilan ditelpon.
“Hallo, Ebil… datang ke perusahaan AD Company dan minta ijin temu dengan CEO mereka. Jika dia menolak, langsung masuk temui pria itu”
“Bukankah----”
“Jangan banyak tanya dan lakukan! Aku akan menyusul setelah dari butik” ucap Zain tidak mau dibantah dan menutup telponnya.
__ADS_1
“Kau sudah selesai?” tanya Zain lagi melihat kearah Nina yang hanya diam belum memilih apa-apa. “Ini sudah jam berapa, kenapa kau belum memilih sama sekali?”
“Hanya saja terlalu banyak dan aku bingung memilihnya” jawab Nina dengan jujur.
Namun berbeda dengan Zain yang segera mengambil style yang langsung menarik perhatiaannya.
“Pakai ini”
Nina yang dengar segera meraihnya. Tidak membutuhkan waktu lama gadis itu keluar setelah memakainya.
“Ini saja?” tanya Nina kepada Zain yang duduk di sofa bermain dengan ponselnya.
Gadis ini nampak imut memakai sweter abu-abu dengan rok hitam dibawah lutut, serta sepatu snikers ala-ala anak jaman now.
“Tunggu” Zain datang meraih bandana yang ada di tangan Nina. Ia membawa Nina berdiri didepan cermin lalu memakaikannya.
Lengkap sudah keimutan gadis ini.
“Aides, pilihkan beberapa pakaian seperti ini dan kirim ke kediaman Darius. Aku akan bayar sekarang” Zain memberikan black card kepada pekerja butik untuk segera menotal semuanya.
‘Semua?’ pekik Nina dalam hati. Ingin sekali dia menolak, namun ia juga tidak munafik. Seorang gadis sepertinya pasti suka jika diberi banyak baju-baju mahal.
Tidak ada pilihan lain, Nina membiarkan Zain melakukan semaunya.
“Ayo, aku akan antar kau ke kampus” ucap Zain dan Nina mengangguk dengan semangat.
Perusahaan AD Company
Setelah mengantar Nina ke kampus. Barulah Zain mendatangi perusahaan milik pria yang tidak ada hentinya mengganggu keluarga. Pengendara mobil ferarri itu menancap gasnya setelah memasuki gerbang perusahaan, seakan tidak takut jika menabrak orang.
Cittt
Zain menghentikan mobilnya secara mendadak tepat didepan pintu masuk perusahaan, tak lama ia pun segera keluar.
Para pekerja yang melihat siapa yang datang segera menunduk hormat, walau pria itu bukanlah atasan mereka. Tetap namanya telah tersohor dimana-mana.
“Bagaimana, apa pria itu bersedia menemuiku?” tanya Zain kepada Ebil yang baru selesai menemui sekertariat.
“Belum, Tuan”
“Kau sudah mencoba menerobos ruangannya?” tanya Zain masih terlihat santai.
“Kami sudah mencoba untuk menerobos ruangannya tuan. Namun sepertinya pria itu begitu takut dengan mengutus semua bodguard di sisi-sisi ruangan. Saya tidak bisa membuat keributan yang membuat nama anda tercemar” kata Ebil kepada Zain yang masih diam menahan amarah.
Dan pria itu menaikan salah satu sudut bibirnya,“Kau mau bermain petak umpet? Its ok”
Zain melenggang pergi keluar dari perusahaan Aditama. Kedua kakinya terhenti disana, melihat kearah pria yang mengintai di ruangan berlantai 10. Ia menyapa dengan senyuman miring.
Hal itu membuat Aditama yang lama mengintai merasa lega. Akhirnya pria yang ia hindari pergi juga.
__ADS_1
“Siall! Pria itu membuatku ingin jantungan” Aditama mencoba duduk dan menetralkan jantungnya, “Ada apa dengan duda itu sampai datang ke perusahaan milikku? Aku yakin tujuannya hanya jelek. Atau---”
Drett
Aditama segera merogoh ponselnya yang berdering tiba-tiba didalam saku lalu melihat namanya.
Pria itu membuang nafas, “Hallo sayangku Ayasha… putri bungsu keluarga Darius”
“Jangan banyak omong!! Kau harus datang dan melamar diriku” nada suara Aya terdengar ngegas diseberang telpon.
“Melamarmu? Aya, apa kau baru saja meminta pria yang seusia pamanmu untuk menikahimu? Ayolah sayang, kau sudah seperti anakku, namun bedanya aku bisa menyentuhmu”
“Stoppp” Aya berteriak. Ia sudah begitu malu dan marah, “Kau berjanji dimalam itu akan menikah dan menceraikan istrimu jika aku hamil”
“Aya, itu dulu…. Tapi jika aku pikir-pikir, untuk apa aku menceraikan istriku yang sudah menemaniku dari muda hanya untuk menikahi gadis ingusan seperti dirimu? Jangan mimpi Aya…”
Hati Aya begitu sakit mendengar pria yang beberapa bulan merayu kini enggan menikahinya. Bagaimana dia bisa hidup menanggung beban ini?
“Kakakku Zain akan membunuhmu… kau lihat dia datang menemuimu kan? Aku yakin dia akan menghabisimu” ancam Aya.
Aditama terdiam. Sekarang ia tahu alasan Zain datang. Lalu kenapa? memang itu yang ia inginkan.
“Bukan dia ingin mengemis di kakiku untuk menikahimu?” Aditama menyeringai lebar, membalas suara Aya dengan begitu santai namun merendahkan.
“Kau-“
“Sudahlah Aya… sebaiknya kau menasihati kakakmu untuk bersikap baik jika mau aku menikahimu” kata Aditama bermain memutar kursi kerjanya.
“Tung---”
Tut
Aditama langsung menutup telponnya, membuat Aya melempar ponselnya hingga hancur berkeping-keping. Bagai hatinya yang telah hancur akibat kecerobohannya.
Sementara Aditama merasa bahagia.
“Rencanaku membuahkan hasil. Berbulan-bulan aku menunggu saat-saat ini” Aditama kembali menyeringai.
Tidak lama ponselnya kembali berdering. Tanpa melihat, ia pun segera mengangkat.
“Hallo” jawab Aditama, bersiap suara yang akan ia dengar.
‘Assalamualaikum, Nyonya Cristina Anggita Aditama’ sapa pria yang begitu sangat Aditama kenal. Hal itu membuat rahang tegasnya mengurat marah.
To be continued
Di bab ini aku mau ngucapin makasih banget sebanyak-banyaknya buat kalian yang udah mau stay sama tulisan ecek-ecek dengan alur rendahan punyaku. Emang nggak ada apa-apanya dibanding dengan tulisan tangan kreatif milik author lain. Jadi, aku merasa bersyukur buat kalian yang masih stay nungguin bab cerita ini, walau semakin kesini semakin menurun kualitas karyaku😔 tapi karena kalian masih mau stay dan dukung membuatku semangat untuk melanjutkan cerita ini. Aku juga berusaha untuk tidak membuat alurnya kripi dan dapet feel-nya😘 hanya itu🌹
Terimakasih lop yu dari author 🙏❤️
__ADS_1