![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Raut wajah Alzam berubah datar saat telinganya menangkap kalimat pertanyaan yang terdengar aneh. ‘Apa aku bisa hamil?’ benarkah gadis ini sudah gila? Sepertinya iya.
Alzam mengangguk, “Kau bisa hamil tapi untuk saat ini kau harus fokus menyembuhkan penyakitmu dulu. Jangan memikirkan hal yang tidak-tidak sebelum kau sembuh”
“Apa penyakit itu berbahaya? Apa aku akan segera mati? Apa umurku tidak akan lama lagi?” cerocos Nina bertanya panjang lebar.
“Kau tidak akan mati. Kau akan sembuh jika mau melakukan pengobatan” kata Alzam namun Nina masih terlihat tidak percaya.
“Aku pernah dengar tetanggaku mengidap penyakit ini. Beberapa bulan di vonis dan dirawat di rumah sakit dan menghabiskan uang banyak untuk cuci darah. Tetanggaku itu meninggal” Nina menoleh melihat Alzam, “Apa aku juga akan seperti tetanggaku? Apa aku akan meninggal sebelum menjadi istri dan ibu seutuhnya?”
Nina kembali menangis.
“Tuan, mbak Anita juga tiada karena sakit bahkan belum sempat memberikan momongan untuk suaminya. Aku tidak mau seperti itu, setidaknya aku ingin memberikan seorang gadis kecil yang memanggil Mas Zain ayah” lirih Nina begitu menyayat hati Alzam.
“Kau akan sembuh Nin…” ucap Alzam dengan tegas, “Kau akan memberikan kakakku seorang gadis kecil yang akan memanggilku paman”
Nina mengusap air matanya, “Tolong bantu aku”
“Tanpa kau suruh pasti aku akan membantumu” ucap Alzam meyakinkan.
_____
Lembaran-lembaran kertas tersikap saat jari-jari Zain menyikapnya. Kedua matanya yang nampak fokus dengan gambar-gambar yang buku itu tampilkan, sementara satu pria diam memperhatikan.
“Tuan Lukman, ada satu tempat yang ingin coba aku tanyakan” kata Zain memperlihatkan gambar sebuah ruangan yang agak sempit di bagian atap mansion. “Ini tempat apa?”
“Oh itu, Tuan Zain… anda ini memang kurang teliti. Disitu lengkap dengan kasur yang empuk dan atap kaca yang langsung menatap kearah langit. Anda bisa menggunakannya bersama dengan nyonya Darius untuk menikmati malam disana. Kalian akan tidur berpelukan dan menghitung bintang bersama”
“Waw, nice” puji Zain datar, namun hatinya begitu senang. “Lalu ini apa?”
Lukman melihat gambar yang Zain perlihatkan. Gambar itu seperti sebuah kolam namun tertutup, “Itu kolam renang yang didesain untuk seorang pasangan”
“What”
Mata Lukman kekanan ke kiri dengan waspada lalu tubuhnya mencondong, “Pasangan bisa berenang bersama dan melaakukan hem… disana tanpa takut ada orang yang tahu”
__ADS_1
Salah satu alis Zain terangkat keatas, “Untuk apa melakukan itu di dalam kolam jika ada kamar”
Lukman membungkam mulutnya dengan tangan. Ia merasa malu telah berbicara blak-blakan.
“Jadi, Tuan. anda jadi membelinya atau tidak?”
“Awalnya sih iya… tapi setelah aku melihat fasilitas yang ada di mansion itu, membuatku ingin membatalkannya”
“Hah” pekik Lukman tidak menyangka, “Tuan, anda adalah satu-satunya orang yang menolak mansion itu. Sebenarnya mansion itu sudah saya berikan kepada orang lain, tapi saat saya mendengar anda ingin membelinya, maka saya membatalkan perjanjian itu demi anda”
“Lalu kenapa kau tidak kembalikan kepadanya saja?” balas Zain santai bersidekap di dada.
“Karena saya menghargai anda, Tuan” Lukman membantah.
Tanpa berkata-kata Zain bangkit dari duduknya, membuat Lukman sedikit resah. Takutnya Zain membatalkan perjanjian ini.
“Tuan say---”
“Asistenku akan mentransfer uangnya” singkat Zain melenggang pergi setelah memperbaiki jasnya.
______
Malam ini Zain kembali ke rumah dengan sangat larut. Ia berulang kali memijat pelipisnya yang teramat pegal karena kebanyakan membaca laporan.
Zain melihat jam yang ada di pergelangan tangannya, “Jam 12 malam. Aku yakin Aynina sudah tidur”
Sesampainya di lantai dua, pria itu membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati. Ia takut jika suara derit pintu membangunkan istrinya.
“Kau sudah pulang?”
Ternyata, gadis itu belum juga tidur. Nina menunggu dengan duduk diatas ranjang mengenakan mukena putih. Nyaris membuat Zain terkejut.
“Kau sudah tidak datang bulan lagi?” tanya Zain menaruh jasnya diatas ranjang.
Nina mengangguk, “Tadi aku sudah mendi besar dan sekarang aku menunggumu untuk sholat isya berjamaah. Kau belum sholat isya kan?”
__ADS_1
“Kebetulan belum. Aku mandi dulu dan setelah itu kita bisa sholat berjamaah bersama” kata Zain buru-buru masuk kamar mandi.
Beberapa menit sesudahnya, Zain kembali dari kamar mandi memakai jubah putih seperti kebanyakan pria Arab, serta peci hitam. Keduanya melakukan sholat berjamaah bersama, dimana Zain adalah imamnya dan Nina adalah makmum.
Jamaah keduanya selesai dalam waktu hampir 10 menit, karena Zain menggunakan bacaan surat yang terbilang panjang. Sehabis sholat Zain memimpin doa dan Nina mengamini doa suaminya. Barulah Nina meminta sebuah berkat dari sang suami dengan mencium punggung tangan Zain, dan Zain mencium dahi istrinya.
“Jika kau ingin tidur ya tidurlah… aku ingin mengecek berkas kantorku dulu” kata Zain ingin bangkit namun Nina menariknya hingga tubuhnya kembali menghadap wajahnya.
“Aku sudah selesai datang bulan. Apa kau…” Nina tidak melanjutkan ucapanya dan menggantinya dengan sebuah senyuman yang terbilang sangat manis.
Jujur saja, wajah Nina begitu berbeda. Wajahnya yang nampak putih terpoles bedak tapi tidak tebal, ada sedikit warna merah di kedua pipinya yang nampak natural, bibirnya yang licin dan sedikit merah. Sepertinya Nina berdandan untuk Zain malam ini.
“Apa maksudmu, Aynina?” namun Zain malah tidak mengerti. Mungkin efek kelamaan menduda.
Nina mencoba berpikir. Bagaimana ia bisa berhasil mengajak suaminya yang sudah jarang melakukan hal itu setelah kematian istri pertamanya.
Gadis itu memilih untuk mengecup bibir Zain terlebih dahulu. Ini terlihat memalukan tapi tidak masalah, lagipula setelah ini Zain paham dengan maksudnya.
Tentu saja pria itu sudah paham. Zain memposisikan kedua kakinya bersila memanjatkan doa. Hanya beberapa menit saja keduanya sudah berakhir diatas ranjang berdua.
Kedua pasang mata saling tatap dengan jantung yang berdebar sesaat setelah menyadari keduanya tanpa sehelai benangpun, selain selimut merah menyala sebagai penutup diantara mereka sekaligus saksi bisu penyatuan dua cinta diantara mereka.
Entah dari kapan keduanya seperti itu, hanya mereka yang tahu.
Detik demi detik berlalu mengiringi sapuan bibir Zain menyapu bersih kulit terbuka Aynina. Tanpa sejengkal ada yang tersisa, meninggalkan warna merah tanda kepemilikan dari si pria.
Ia berikan kehormatan yang selama ini dijaga untuk suaminya yang senantiasa menerima. Malam-malam panjang dengan atmosfer yang berubah-ubah didalam ruangan dengan sinar lampu tanpa terang.
Derit ranjang melengking memberikan tanda kegiatan panas yang mereka lakukan. Menghujani tubuh keduanya dengan gairah yang menantang sampai waktu fajar datang.
To be continued
Cukup sekian penjelasan author semoga kalian paham dan mereka bisa melanjutkan tanpa kita ketahui. Masa iya kita jadi saksi iya iya mereka🤣🙏
Ayoooo mana suaranya jangan lupa dukungannya dengan like sekuntum bunga buat Aynina dan Zain 😘 Serta tinggalkan komentar sebagai tanda mendukung 🙏
__ADS_1