![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Kedua ujung bibirnya terangkat naik membentuk senyuman sayu di wajah putihnya yang polos tanpa make up. Kedua matanya melihat binar suaminya yang segera menghampiri.
“Sayang, sejak kapan kemoterapimu selesai?” tanya Zain yang sebenarnya malu jika istrinya ini melihat perilaku lebay Alzam tadi.
“Sejak kau bermesraan dengan adikmu?” balas Nina dengan kedua tangan bersidekap di dada. Perempuan ini terlihat tersenyum namun mengejek.
Zain membuang nafasnya lelah, “Ayolah sayang jangan menggodaku seperti itu. Coba ceritakan kemoterapimu saja”
“Mau diceritakan bagaimana? Apa kemoterapiku sepenting itu jika dibandingkan dengan keromantisan kalian berdua?” gurau Nina menertawai kedua pria yang berdiri kikuk didepannya.
Puas rasanya dia mengggoda dua pria ini.
“Nin, bukan kami bermesraan!! Wah kau tidak tahu apa-apa dan tiba-tiba datang langsung mengejek kami” balas Alzam membuang muka. Pria ini berkali-kali mengusap pantatnya yang masih nyeri dan membenarkan seragam medisnya.
Zain melihat Alzam dan Nina bergantian. Alzam yang terlihat kesal dan Nina yang terlihat bahagia dirinya sukses menggoda suaminya.
“Ayo pulang saja” Zain menarik pergelangan Nina yang masih menggodanya.
____
Sesampainya di rumah, Zain meminta istrinya ini untuk segera beristirahat. Pria ini membantu Nina untuk berbaring dan menyelimutinya sebelum pergi lagi.
“Sayang, aku ada meeting kantor sebentar. Mungkin nanti malam akan pulang. Jadi, Maya akan datang dan membantu semua yang kau butuhkan” kata Zain memakai tuxedo hitamnya.
Nina mengangguk, “Kau jangan khawatirkan diriku dan pergilah ke kantor. Aku juga tidak mau pekerjaanmu terganggu hanya karena diriku”
“Tapi, sepertinya Maya akan datang agak siang. Bagaimana kalau aku panggil bunda atau nggak Aya, kak Helena untuk menemanimu saja ya?” tawar Zain seraya memakai jam di pergelangan tangannya.
“Tidak usah! Jika aku butuh sesuatu maka aku akan menelpon mereka. Lagipula, kak Helena kan sedang menjemput Neha dan Aya juga sibuk kuliah” kata Nina agak sendu jika memikirkan kuliahnya.
Perasaan keduanya bersangkutan, dimana Zain juga merasa sedih jika mengingat kuliah. Dulu ia meminta Nina untuk giat belajar supaya kedepannya ada prestasi yang bisa dibanggakan. Namun, perempuan itu harus terpaksa cuti.
Tidak terasa dahi Nina dikecup hangat oleh pria itu, “Kau merindukan kuliahmu, sayang?”
Nina mengangguk pelan.
“Jangan khawatir. Kuliahmu akan berjalan normal saat kau sembuh nanti! Untuk saat ini kau jangan banyak pikiran tentang materi kuliah karena itu akan membuatmu semakin pusing dan kelelahan”
__ADS_1
“Iya aku tahu semuanya. Aku tidak boleh ini, aku tidak boleh itu, dan aku hanya boleh tidur diatas ranjang seperti orang lumpuh” kata Nina pertanda kesal.
“Jangan mengatakan itu” Zain menggelengkan kepalanya tidak terima. Ia rasa jika istrinya ini sedang merasa bosan. Jadi, ia mulai berpikir lagi supaya istrinya tidak bosan berada di dalam rumah,
“Bagaimana jika bersantai di tepi kolam renang?”
Nina kembali menggelengkan kepala, “Aku akan istirahat saja disini. Jadi, kau bisa pergi ke kantor… “
Zain kembali membuang nafas, “Baiklah. Aku pergi dulu, Assalamualaikum”
“Walaikumsallam” balas Nina membiarkan Zain pergi setelah ia mencium punggung tangannya.
Setelah dari kamar Zain nampak berjalan cepat menuruni tangga sembari berbicara di telpon dengan koleganya. Disana ia tidak sengaja melewati kakak iparnya yang jutek bernama Bella.
Wanita itu memanggil, “Zain”
Terpaksa Zain menghentikan laju kakinya dan harus menutup telponnya untuk membalas panggilan kakak iparnya itu.
“Iya?” singkat Zain menjawab saat wanita itu berjalan menghampiri membawa segelas kopi di tangannya.
“Sebenarnya kak, aku tipe orang yang tidak suka basa-basi” sindir Zain dengan tatapan dingin dan datar, mmebuat wanita itu tersindir.
“Baiklah Zain…aku hanya ingin menawarimu segelas kopi. Sepertinya, kau terlihat berantakan karena sibuk mengurus istrimu yang sedang sakit” ucap Bella terdengar mengejek.
Zain tersenyum miring dengan lirikan yang menusuk namun wanita ini tidak sadar. Sebenarnya, pria ini sudah tahu watak angkuh dan arogan dari kakak iparnya ini.
“Kau pasti jarang diperhatikan oleh istrimu ya? Bahkan, kau jarang mendapatkan service dari istrimu, kan?”
Zain tertawa lirih menanggapi wanita ini. Namun sepertinya tanggapan Zain membuat Bella terlalu percaya diri dan bangga.
Dua langkah saja tubuh Zain sudah mendekati Bella yang terlihat senang, apalagi merasa Zain mendekatkan wajahnya di telinga. Bella bagai melayang tinggi.
“Aku tidak suka wanita seperti dirimu"
Hati Bella seketika tertusuk jarum dan hancur berkeping-keping. Wanita ini melebarkan kedua matanya serta meremat cangkir kopi yang ia pegang.
“Aku pernah dengar jika tumbuhan yang sudah tidak berbuah harus disingkirkan karena mengganggu pemandangan. Jadi, bersyukurlah kau tetap bisa tinggal dan menyandang status menantu keluarga Darius”
__ADS_1
Lantas Zain melenggang pergi meninggalkan Bella yang menahan sakit didalam dada. Air matanya tumpah tanpa wanita itu sadari. Untuk wanita seperti Bella hinaan itu sudah dapat menyentuh hatinya, mengingat jika dia memang belum dikaruniai anak selama 6 tahun lamanya.
____
Perusahaan DS Group
Siang hari ini di perusahaan Zain sedang mengadakan sebuah rapat penting dengan berbagai pengusaha di seluruh Asia. Jadi, sudah menjadi kewajiban si pemilik perusahaan untuk menghadiri rapat tersebut. Terlebih, Zain sudah lama tidak mengurus bisnis nya semenjak tahu penyakit Aynina.
Pria ini terlihat fokus memperhatikan sekertaris Antonio yang sedang melakukan presentasi didepan layar. Nampaknya otak Zain masih stay di wajah Aynina, terlihat pria ini tidak dengar saat ada yang memanggil.
“Tuan Zain”
“Hm” baru saja Zain sadar dari lamunannya saat ada yang memanggilnya dengan suara lantang.
“Tuan, bagaimana dengan pendapat anda mengenai kerja sama dengan perusahaan tuan Antonio? Setelah saya mendengarnya tadi, terdengar menguntungkan dan laba yang saya dapat juga lumayan. Lalu bagaimana dengan anda?”
Zain clingak-clinguk mencoba tetap tenang, “Anda yang akan bekerja sama. Tentu, saya sebagai rekan hanya bisa mendukung keputusan anda. Apapun pendapat anda tentu itu yang terbaik”
Pria itu mengangguk mencoba menerima.
“Mohon maaf, sepertinya saya harus pergi. Selamat siang” kata Zain berlalu pergi saat mereka mengangguk menjawabi. Daripada disana tidak fokus, lebih baik dia pulang.
Rasanya susah meninggalkan istrinya di rumah sendirian, walau sebenarnya sudah ada orang yang ia percaya untuk membantu semua kebutuhan istrinya. Tetap saja, masih terasa mengganjal jika bukan dia.
Nyatanya, setelah Zain sampai di rumah, pria ini langsung berlari melewati ruang tengah mengabaikan anggota yang ada disana untuk menaiki tangga.
“Loh Zain kok nggak ngucapin salam?” tanya bunda Zelofia. Ia baru pulang dari arisan, hanya selisih 10 menit dengan kedatangan putranya.
“Ada apa dengannya?” kata Helena agak bingung.
Entahlah, perasaan Zain tidak enak saat ini hingga yang ia pikirkan hanya keadaan istrinya.
“Aynina!” panggil Zain dengan lantang membuka pintu kamarnya.
Hal yang pertama kali ia lihat adalah istrinya yang berdiri didepan cermin memperlihatkan sebuah botol kecil kearahnya.
“Pil kb ini untukku?”
__ADS_1