![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Aditama melepas genggaman tangannya kepada Zain. Ia merasa telah salah menurunkan derajatnya hanya untuk memohon dengan pria keras seperti dia.
“Rupanya, kau benar-benar tidak mau menarik laporanmu ya! Baiklah, aku juga tidak akan menarik keputusanku” kata Aditama saat Zain sudah tidak ada bersamanya.
______
Kampus
Alzam menepikan mobilnya ditepi jalan bagian kanan, supaya adiknya ini tidak harus menyebrang.
“Ini sudah jam berapa kau baru masuk? Dasar anak pemalas” Alzam menimpuk kepala Bian dengan kertas yang sempat ia gulung.
“Santai kak… wanita itu belum datang ke kampus. Aku sedang menunggunya” kata Bian membuka kaca mobilnya. “Kau tidak segera ke rumah sakit kan?”
“Tidak sih” Alzam seperti mencari-cari seseorang, “Aku juga ingin melihat gadis yang akan menjadi adik iparku”
Bian tertawa ria, “Aku yakin kau akan memujinya cantik. Tapi aku tidak yakin jika kau akan menyetujuinya”
“Kenapa?”
Brem Brem
Akhirnya waanita yang Bian tunggu-tunggu telah datang. Wanita itu nampak seperti pria menggunkan motor gedhe milik Bian serta jaket kulit miliknya, ditambah helm yang menutupi wajahnya.
“Itu dia kak” kata Bian menunjuk wanita yang mencuri perhatian para mahasiswa.
Alzam hanya bisa geleng-geleng kepala, “Terserah kau sajalah. Asal dia menyukaimu”
“Aku tidak tahu apa dia menyukaiku atau tidak” sesal Bian.
“Kenapa?”
“Sudah kubilang tadi jika dia menganggapku seperti anak kecil” kata Bian kepada Alzam yang menoleh, “Dia dosenku”
“Hah”
Mulut Alzam membuka. Matanya melihat Bian lalu melihat wanita pencuri perhatian itu.
“Ehem, kami hanya terpaut usia 3 tahun saja” kata Bian degan sangat enteng.
“Bukan begitu. Tapi kisah cinta mahasiswa dan dosen… terdengar aneh. Aku rasa cintamu akan bertepuk sebelah tangan” kata Alzam memijat dagunya.
“Memangnya kenapa?”
“Kebanyakan wanita mencari suami yang mapan. Jika dia menyukaimu, mau menunggu sampai kapan? Kau harus lulus kuliah, harus bekerja”
Bian yang kurang terima langsung membantah, “Aku bisa bekerja di perusahaan keluarga atau perusahaan kak Zain, Kak Asad, Kak Adnan. Mereka bisa membantuku”
__ADS_1
“Mereka mencari pegawai yang berkualitas. Sementara kau, mungkin hanya bisa menjadi karyawan biasa” kata Alzam meremehkan.
“Wuu, kau itu hanya Dokter!! Kau tidak paham urusan management. Kau hanya sibuk mengurusi penyakit orang” Bian yang kesal segera keluar dan menutup pintunya, “Sana berangkat!”
“Woii” panggil Alzam sebelum Bian pergi, “Salam dulu bambang” Alzam mengulurkan telapak tangannya dan adiknya segera mencium.
“Assalamualaikum kak”
“Walaikumsalam, begitu dong!” Alzam mengusap kasar puncak kepala Bian, “Belajar yang rajin biar tu dosen mau sama dirimu”
Bian langsung melenggang pergi dan ngedumel, “Helleh bukannya ngedukung malah buat adiknya down”
Sementara Alzam segera melajukan mobilnya.
______
Kembali ke Nina
Saat ini Nina sudah bersiap bersama Maya untuk pergi ke pasar. Selama hari ini tidak kuliah, Nina ingin mengisi waktu luang dengan belanja kebutuhan dapur.
“Kamu beneran mau ikut?” tanya Maya saat melihat Nina sudah siap menunggu didepan gerbang bersamanya.
“Beneran lah kak” Nina sudah siap memakai dress selutut berwarna biru muda dibalut cardigan coklat tua dan sendal jepit berhak 5 centi. Rambutnya di cebol bagai donat. Wajahnya sudah terlihat imut dan cantik.
“Kayaknya siang ini mendung. Gimana kalau hujan?”
Maya tertawa senang.
Tidak lama angkot datang dan merekapun masuk kedalam.
_____
Melepas kegiatan Maya dan juga Nina yang ingin ke pasar. Siang ini seperti yang telah Zain katakan tadi pagi jika dia harus berangkat ke kantor untuk menghadiri pertemuan dengan kolega dari Arab.
Saat ini mereka berada didalam restoran mewah bintang lima berlantai 15 dengan pemandangan kota Jakarta yang memukau nan indah.
“Assalamualaikum” sapa kolega dari arab bernama Husein Albanjari bin Muhammad Rodhli. Kolega ini memakai jubah putih khas arab dan sorban di kepala. Tidak lupa bodyguard penjaga dibelakangnya.
“Walaikumsalam, marhaban/selamat datang” jawab Zain menjabat tangan Husein dan memeluk sesuai dengan kebiasaan Arab.
“Ayolah Zain… jangan menggunakan bahasa formal dalam pertemuan kita siang ini” kata Husein yang hampir fasih berbahasa Indonesia. Beliau ini adalah murid Ustadz Syahbana.
“Aku tidak menggunakan bahasa formal. Hanya saja, aku menghargai bahasa negara kita terlebih kita dari negara yang sama” kata Zain tersenyum senang.
“Bedanya kau sudah betah berada di Indonesia sehingga lupa untuk kembali ke Dubai” gurau Husein tertawa.
“Tidak juga, beberapa bulan yang lalu aku sudah berkunjung ke Arab untuk berziarah ke makam Jaddun/kakek di Baqi” balas Zain.
__ADS_1
“Jaddatun/nenek juga perlu dikunjungi”
Tidak lama beberapa pelayan datang menghidangkan makanan khas Arab karena Zain sudah memesan restoran ini jauh-jauh hari.
________
Rerumunan masyarakat memenuhi pasar siang hari ini. Awan mendung semakin menyelimuti bangunan pasar yang nampak tinggi. Jika hujan kemungkinan tidak akan kehujanan, namun tidak luput dari kata bocor.
Nina beserta Maya baru saja melewati tempat penjualan ikan hingga dipastikan baunya menempel di bajunya. Biarkan saja, karena dia sudah memutuskan untuk ikut bersama.
“Non Aya suka tuna bumbu kuning, tuan muda Bian sama tuan muda Alzam suka ikan kembung tapi beda olahan, satu kembung asam pedas yang satu di pepes”
“Keturunan Arab suka makanan Indonesia ya” gurau Nina membuat Maya tertawa.
“Kalau Tuan Zain suka kakap saus padang”
“Wihh enak tuh. Aku juga mau kak! Nanti buatnya dibikin pedes ya” antusias Nina memberi jempol.
“Eh nggak! Tuan Zain tidak kuat makan pedas. Tuan Zain saja minta jangan diberi saus sama cabe”
Nina menjauhkan wajahnya bingung, “Dih rasanya kayak apa coba?”
“Ya itu Tuan Zain yang menikmati”
“Ini jenis ikannya dibeli semua?” tanya Nina memastikan dan Maya segera mengangguk. “Astagfirullah! Ini bisa dibilang rakus nggak sih?”
“Ya nggak lah. Nanti kalau nggak habis bisa dimasukin ke kulkas” kata Maya dan Nina hanya meringis bahagia.
Kembali ke restoran
Di restoran ini Zain dan Husein menikmati hidangan khas Arab. Ada makanan jenis hummus yang terbuat dari buncis, pasta wijen dan bawang putih dan makanan lainnya.
“Jaddatun/nenek juga perlu dikunjungi, Zain”
“Sebelum kembali ke Indonesia, aku juga sudah berkunjung ke sana” kata Zain menyaksikan hujan yang mulai membasahi kota Jakarta dari jendela kaca.
“Aku dengar jika kau sudah menikah lagi. Selamat” kata Husein kepada Zain.
“Terimakasih” jawab Zain singkat tersenyum kecil dan melanjutkan makannya. Matanya masih menikmati rintihan hujan.
“Oh iya Zain… kebetulan waktu itu aku tidak bisa datang ke acara pernikahanmu. Bagaimana jika aku mengundangmu makan malam? Istriku akan senang jika apartemennya dikunjungi seorang wanita”
Zain tidak menjawab. Bukan apa-apa, namun sepertinya ia melihat seorang gadis yang ia kenal dari atas gedung restoran ini. Gadis itu mampu mengalihkan perhatian Zain dari Husein kolega Arab yang begitu terhormat.
To be continued
Terimakasih untuk dukungannya 🙏 Jangan lupa untuk meninggalkan jejak😊
__ADS_1