![Gadis Untuk Zain [Menikahi Duda]](https://asset.asean.biz.id/gadis-untuk-zain--menikahi-duda-.webp)
Mereka mendorong brankar tersebut masuk kedalam rumah sakit, melewati Nina dan juga Zain. Tidak hanya Devan saja yang ia lihat, melainkan Aditama dan juga Cristina juga nampak mendorong brankar bersisi putranya.
“Tolong cepat panggil dokter” seru Cristina menangis sejadi-jadinya, membuat Nina penasaran ingin tahu yang sebenarnya.
“Hubby, ayo kita lihat”
“Buat apa lihat mereka? Biarin aja… kita udah nggak ada urusan dengan mereka. Kamu lupa perbuatan mereka kepada keluarga kita?” Zain menolak tegas keinginan istrinya ini.
“Hubby, aku hanya ingin tahu apa yang terjadi dengan Devan”
“Oh kamu masih ada rasa sama anak itu ya?” Zain malah menjadi kesal sendiri jika istrinya ini masih memperhatikankan Devan.
“Bukan begitu! Hanya saja, aku sangat penasaran… aku hanya ingin sekedar tahu” Nina bergelayut manja di lengan Zain serta memperlihatkan wajahnya yang melas, “Hubby, tolong sebentar saja”
Zain sudah mencoba untuk membuang panadangan supaya tidak melihat wajah memelas istrinya, tapi apa boleh buat.
“5 menit”
“Ok” Nina memberikan dua jempolnya tanda setuju.
Lantas Nina menemui sepasang suami istri yang sedang menangis duduk di kursi koridor sana. keduanya nampak terpuruk dan berantakan.
“Assalamualaikum, om sama tante” lirih Nina mendekati mereka.
“Aynina kau disini?” tanya Cristina hanya basa-basi. “Bukankah kalian harus menghadiri acara pernikahan anggota keluarga kalian?”
“Aynina pingsan dan aku membawanya ke rumah sakit. Rupanya, istriku ini sedang hamil 4 minggu… sebuah anugrah terindah untuk keluarga kami” jawab Zain terdengar pamer.
“Selamat atas kehamilanmu. Semoga lancar sampai hari H” Cristina berucap serta mengusap air matanya yang tumpah deras.
“Terimakasih”
“Hubby, mereka sedang ditimpa musibah” Nina menyenggol siku suaminya supaya berhenti bersikap ria. “Terimakasih atas doanya!. Ngomong-ngomong, apa yang terjadi dengan Devan?”
“Devan melakukan kerusuhan di kantor polisi… dia berniat ingin kabur. Tapi, napi disana lebih dulu tahu tindakan yang dia lakukan hingga mereka berniat menggagalkan rencananya. Karena tidak terima Devan berkelahi dengan napi itu dan berakhir di rumah sakit” Cristina semakin histeris saja.
“Innalillahi” balas Nina ikut bersedih.
“Sayang, ayo kita pulang saja… ngapain kita disini? Udah malem juga! Ingat kata dokter kalau kamu harus istirahat yang cukup untuk menjaga kesehatanmu… kamu kan lagi hamil” ucap Zain mencari-cari alasan pergi dari sana.
“Bentar hubby” Nina menahan lengan suaminya saat dia ingin dibawa, “Semoga cepat sembuh ya tante Devannya… Nina nggak bisa ngasih apa-apa. Cuma doa aja”
Cristina mengangguk lesu, “Nin, tolong maafkan keluarga kami ya! Kami tahu itu berat tapi tolong maafkan kami”
Nina memilih mengangguk.
“Kami pergi, assalamualaikum” Zain yang sudah merasa lelah itu segera menarik tangan Nina pergi dari sana. Jika mengingat kejadian di masa lalu, dia selalu dilanda benci dan dendam. Sangat susah untuk dilupakan.
Di perjalanan
__ADS_1
Wajah Zain masih nampak kesal. Jadi, sudah tugas Nina untuk menghiburnya.
Nina menghela nafas, “Hubby, aku nglakuin itu bukan karena masih ada rasa sama Devan. Tapi, kita sebagai sesama manusia, pernah kenal juga. Jadi rasanya itu masih ada empati, tapi bukan rasa cinta”
“Kau itu polos. Seharusnya kau biarkan saja! Kejadian yang Devan alami memang pantas untuk dia dapatkan. Ada sebab ada akibat” kata Zain membuang muka.
“Iya… hubby benar. Semoga keluarganya diberi ketabahan”
Zain hanya menghela nafas malas.
______
Kediaman Darius
Setelah perjalanan mereka yang agak jauh, keduanya sampai di rumah. Saat mereka sampai, rupanya sudah ada banyak anggota keluarga yang menunggu mereka disana. Sepertinya, acara pernikahan Alzam sudah berakhir.
“Assalamualaikum”
“Walaikumsalam” balas mereka secara bersamaan.
“Nina!!” Zelofia menjadi orang pertama yang menghampiri Nina, “Nak, kau baik-baik saja? Zain bilang jika kau pingsan tadi? Ya allah… bunda tidak jadi kesana karena tadi Zain bilang kalian sudah diperjalanan pulang”
“Bun tenang dulu… Nina nggak papa” balas Nina menenangkan Zelofia yang sepertinya sangat khawatir.
“Apa yang terjadi kepadamu Nin?” tanya Bian tidak sabaran.
“Ayn---”
“A’elah nih kakar ipar satu!! Heh, lo nggak liat nih gue udah capek mau tidur dan ini udah jam 2 malem woii” tegur Bian agak bar-bar membuat Nina tertawa.
“Baiklah!” Nina memanyun kesal, “Kalau nggak ada tebak-tebakan sebaiknya hubby sajalah yang bilang”
“Ya udah… kak Zain, Nina kenapa?” tanya Bian sangat penasaran.
“Kau sudah berani memarahi istriku dan sekarang berani mengajakku bicara?” omel Zain berkacak pinggang dan semakin membuat Nina bahagia dan Bian kesal.
“Kalian ini memang tidak jelas” Bian memilih membuang muka.
Nina yang merasa terhibur memilih untuk memberitahu, “Aynina hamil”
“Waw” pekik Bian membuka mulutnya lebar-lebar. Ia dan seluruh anggota merasa terkejut juga bahagia atas kehamilan Nina.
“Alhamdulillah” Zelofia memeluk tubuh menantunya dan mengusap kepala wanita itu. Ia sangat-sangat bersyukur dengan kabar yang telah menantunya berikan.
“Selamat ya Nin” ucap beberapa anggota secara bergantian dan Nina selalu menjawab dengan kalimat terimakasih.
“Tubuh kecil sepertimu bisa menghasilkan bayi juga ya Nin” gurau Bian mendapat pukulan dari kakaknya. Sementara para anggota hanya bersorak menanggapi Bian.
“Jangan didengarkan kata Bian. Dia memang seperti itu” kata Helena menepuk *4**** Neha yang tidur digendongan Asad, “Jika Neha dengar… dia akan sangat bahagia”
__ADS_1
Nina tertawa malu, “Bisa jadi kak… soalnya Neha udah pernah mesan beberapa bulan yang lalu”
Langsung terdengar suara tawa renyah dari mereka semua. Tiba-tiba atensi Bian terganti melihat satu pasangan baru yang belum di ejek.
“Shuttt coba lihat pasangan pengantin baru yang ada disana! Aku yakin beberapa minggu lagi akan ada kabar kehamilannya” goda Bian.
“Itu tentu” balas Nensi membuat Alzam sangat malu dan hanya mengangguk singkat.
“Jaga kesehatan ya sayang! Dengarkan kata dokter… harus makan makanan bergizi juga” ucap Zelofia mengusap sayang rambut menantunya.
“Iya bunda”
“Ya sudah! Ayo kita semua istirahat… menantu yang sedang hamil tidak boleh tidur terlalu larut” Zelofia teramat sangat senang hingga tidak henti-hentinya mengusap kepala Nina.
“Ok”
Dibalik kebahagiaan itu, tentu ada sebuah kesedihan yang menggumpal membentuk sebuah dendam. Wanita yang merupakan menantu kedua keluarga mereka tentu merasa tidak senang. Ia meremat dress nya kuat-kuat.
‘Anak kecil siallan’
_____
Meninggalkan sifat dengki wanita itu, kita beralih menuju ke pengantin baru. Setelah menikah tentu Nensi harus ikut suami, jadi sekarang dia berada di rumah Darius tepat di kamar Alzam.
“Ehem, kamarmu terlihat cool dengan nuansa hitam dan mewah” Nensi menilai setelah mengamati semuanya.
Alzam melepas jasnya, “Aku menyukainya”
“Aku tidak tanya karena aku sudah tahu warna kesukaanmu” Nensi menoleh melihat Alzam yang sudah menanggalkan kemejanya, menyisakan celana panjangnya saja.
Nensi yang bar-bar tentu merasa tertarik ingin mendekat dan pria itu langsung paham.
“Besok saja ya! Malam ini kita mandi terus sholat terus tidur” Alzam langsung melengos pergi masuk kedalam kamar mandi.
Nensi meninju angin kearah punggung Alzam, “Benarkah kau sudah menerima diriku? Sepertinya semuanya hanya terpaksa”
Alzam langsung diam tanpa pergerakan, bahkan langkahnya juga terhenti seketika. Pria itu kembali menoleh.
“Kalau kau hanya berpura-pura. Kenapa harus sampai menikah? Dasar jahat”
Alzam mendekat dan mengusap pipi Nensi, “Kita bersih-bersih dulu terus sholat pengantin baru, lalu melakukan yang lain”
“Yang lain itu seperti apa?”
“Apa yang kau mau?”
Nensi berpikir sejenak lalu tersenyum misterius, “Melakukan itu?”
Alzam mengangguk begitu saja. Nensi yang bahagia segera melepas gaun pengantinnya dan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Meninggalkan Alzam yang menggeleng heran.
__ADS_1
"Dia memang berbeda dengan wanita pada umumnya"
To be continued